<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028</id><updated>2011-07-30T18:31:54.159-07:00</updated><category term='Kastil Hogwarts - Kebun'/><category term='Kelas PTIH Tahun Pertama'/><category term='Aula Besar - Pesta Awal Tahun 1984'/><category term='Hogwarts Express 1985'/><category term='Kastil Hogwarts - Menara - Kandang Burung Hantu'/><category term='Kastil Hogwarts - Perpustakaan'/><category term='Kontrak Sihir'/><category term='Kelas Transfigurasi kelas 2'/><category term='Surat Tahun Pertama'/><category term='Kastil Hogwarts - Dedalu Perkasa'/><category term='Diagon Alley - Toko Lelucon Gambol and Japes'/><category term='Pedofil'/><category term='Diagon Alley - Fleur de Lys'/><category term='Kastil Hogwarts - Halaman'/><category term='Hogwarts Express - Berangkat'/><category term='Kastil Hogwarts - Lapangan Quidditch'/><category term='I Want My DRAGON'/><category term='Danau 1985'/><category term='Aula Besar - Seleksi Asrama'/><category term='Diagon Alley - Florean Fortesque&apos;s Ice Cream Parlour'/><category term='Diagon Alley - Toko Tongkat Mr. Ollivander'/><category term='Danau - On a Rollercoaster Ride'/><category term='Leaky Cauldron 1986'/><category term='Kelas herbologi tahun Kedua'/><category term='Kelas Sejarah Sihir Tahun Pertama'/><category term='Kelas Herbologi tahun Pertama'/><category term='Biodata Karakter'/><category term='Kastil Hogwarts - Ruang Bawah Tanah'/><category term='Diagon Alley - Toko Hewan Sihir'/><category term='King&apos;s Cross - Peron 9 3/4'/><category term='Dear Diary'/><category term='Piecesofmemory'/><category term='FF'/><category term='Kastil Hogwarts - Klub Musik'/><category term='Kastil Hogwarts - Danau'/><title type='text'>Nabelle Marion Elsveta</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>64</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-2225954367410309786</id><published>2010-06-15T10:26:00.000-07:00</published><updated>2010-06-15T10:30:23.474-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FF'/><title type='text'>The Last Puzzle (1st Person PoV)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Elsveta Castle&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Novgorod, Russia. January 10’ 1980&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Langit sore itu sama dengan langit pada sore-sore lainnya. Didominasi dengan warna biru yang lembut bagaikan susu ditambah dengan semburat kemerahan dari cahaya matahari yang akan segera menunaikan tugasnya. Aku berbaring terlentang di atas hamparan rumput hijau yang lembut. Rok terusanku pun terbentang melebar di atasnya dengan beberapa helai rumput patah menempel di permukaan yang berenda. Aku sedang menatap lurus ke langit tepat pada satu gumpalan awan yang sejak beberapa menit lalu menggoda bola mata perakku untuk terus memandangnya. Aku tersenyum lebar dan mengangkat sebelah tanganku tinggi-tinggi dan menunjuk gumpalan awan itu dengan bersemangat. Mencoba menarik perhatian kakak sepupuku, Zeus, yang berbaring di sampingku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Lihat, Zeus! Belle menemukan beruang!” ujarku dengan nada riang. Kedua bola mataku masih terpancang kokoh menatap sang beruang putih. Tak mau repot-repot memastikan apakah Zeus menoleh ke arahku atau tidak. “Awannya benar-benar berbentuk beruang!” ujarku lagi. Tak sabar menunggu Zeus mengiyakan apa yang kulihat. Butuh waktu satu menit sampai akhirnya anak laki-laki berambut pirang platina itu bersuara.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Yang mana, sih?” tanya Zeus dengan nada penasaran lalu memandangiku dengan tatapan heran. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku tahu, Zeus sering berpikir bahwa aku adalah anak yang aneh dengan sejuta khayalan dan imajinasi yang takkan pernah tergapai olehnya. Aku tahu tentang itu dari Mum. Zeus pernah mengatakan tentang pemikiran tersebut pada Mum dan Mum mengatakannya padaku. Aku pun akhirnya melepaskan pandanganku dari si beruang putih dan menoleh untuk menatap bola mata Zeus yang sewarna dengan milikku.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Zeus payah,” ujarku sembari menurunkan tanganku dan meletakkannya di atas perut. Bibirku mengerucut ketika aku mendengus kesal menatap kakak sepupuku yang begitu minim imajinasi. Entah sudah berapa kali hal semacam ini terjadi. Seharusnya aku sudah siap dengan reaksi Zeus. Sulit sekali berbagi hal-hal yang menyenangkan jika orang yang kau ajak bicara bahkan tak paham apa yang sedang kau bahas. Berbeda dengan ayahku, Boris, yang senantiasa memahami apa yang kuucapkan. “Padahal kali ini benar-benar berbentuk beruang,” keluhku lagi. Kuangkat tubuh mungilku ke posisi duduk. Kulipat kedua kakiku untuk menjadi penopang kedua tangan dan kepalaku. Bisa kulihat dari sudut mataku kalau Zeus pun mengikuti apa yang kulakukan.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Maaf,” ujar Zeus. Dia menepuk-nepuk kepalaku dengan lembut lalu dia terbatuk. Zeus hanya satu tahun lebih tua dariku. Mum bilang, Zeus datang ke kastil tempatku tinggal ketika usiaku masih dua tahun dan tinggal bersama kami semenjak itu. Tubuh Zeus lemah sejak dulu. Dia mudah sekali terserang flu. Sekarang setelah lima tahun berlalu, aku bahkan tak pernah melihat paman dan bibiku datang menjenguk Zeus. Apakah mereka tak merindukan Zeus? Aku tak bisa membayangkan tinggal di tempat orang lain tanpa bisa bertemu kedua orangtuaku. Tapi, Zeus sendiri sudah tak ingat seperti apa wajah kedua orangtuanya. Kedua orangtuaku sudah menjadi pengganti orangtua baginya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Kau tak apa-apa, Zeus?” tanyaku cemas memandangi Zeus yang masih saja terbatuk. Aku tak suka melihat Zeus sakit dan terbaring di atas tempat tidur. Aku lebih suka Zeus yang sehat karena Zeus yang sehat tahu banyak sekali permainan yang menyenangkan. “Sebaiknya kita masuk saja ke dalam. Sebentar lagi waktu makan malam tiba,” ajakku. Kakak sepupuku tersenyum. Dia mengangguk setelah mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa meski aku tahu itu hanya untuk membuatku tenang saja. Zeus selalu begitu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-2225954367410309786?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/2225954367410309786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/06/last-puzzle-1st-person-pov.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2225954367410309786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2225954367410309786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/06/last-puzzle-1st-person-pov.html' title='The Last Puzzle (1st Person PoV)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-8982913848797540243</id><published>2010-05-16T21:13:00.000-07:00</published><updated>2010-05-26T09:43:22.318-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='FF'/><title type='text'>The Last Puzzle</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;Elsveta Castle&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;Novgorod, Russia. January 12' 1980&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;Langit sore itu sama dengan langit pada sore-sore lainnya. Didominasi dengan warna biru yang lembut bagaikan susu ditambah dengan semburat kemerahan dari cahaya matahari yang akan segera menunaikan tugasnya. Seorang gadis kecil berambut pirang panjang terlihat sedang berbaring di atas hamparan rumput hijau dengan kedua bola mata sewarna perak menatap terpaku pada segumpal awan. Kedua sudut bibirnya tertarik naik membentuk sebuah lengkung senyum yang manis ketika sebelah tangannya terangkat dan telunjuknya teracung bersemangat menunjuk-nunjuk ke langit. Gaun putihnya yang melebar terbentang di atas hamparan hijau rerumputan. Beberapa helai rumput patah terlihat menempel di permukaannya yang berenda. Namun gadis kecil itu tak peduli.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Lihat, Zeus. Belle menemukan beruang!" ujar Belle kecil ceria. Telunjuknya tetap menunjuk ke arah gumpalan awan yang sedang dipandangnya. Kedua bola mata peraknya bahkan tak repot-repot bergulir ketika bocah berambut pirang platina yang dipanggilnya segera datang dan berbaring di sisinya. "Awannya benar-benar berbentuk beruang!" ujarnya lagi. Zeus, si kakak sepupu turut menatap ke langit dengan kening berkerut. Kedua alis pirangnya bertaut dan bibirnya mengerucut. Bocah itu nampaknya tidak melihat apa yang dilihat si gadis kecil. Di matanya yang terlihat hanya segumpalan awan yang lebih terkesan seperti gula-gula daripada beruang. "Yang mana, sih?" tanya Zeus penasaran. Ia sungguh-sungguh tak melihat beruang yang ditunjuk oleh adik sepupunya itu. Terkadang bocah berambut pirang platina itu terheran-heran dengan daya imajinasi yang dimiliki oleh gadis kecil yang berbaring di sisinya tersebut. Belle seringkali terasa seperti memiliki dunianya sendiri dan tanpa sadar tenggelam di dalamnya begitu saja. Ke tempat yang tak terjangkau oleh Zeus.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Payah. Yang itu, tuh. Masa Zeus tak bisa melihatnya?" Belle menoleh dan menatap gusar pada Zeus. Ia menurunkan tangannya yang lelah menunjuk-nunjuk. Seberapa pun semangatnya ia, Zeus tetap saja tak melihat apa yang ia lihat. Selalu saja begitu. "Padahal kali ini benar-benar berbentuk beruang," keluh gadis kecil itu lagi.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-8982913848797540243?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/8982913848797540243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/05/last-puzzle.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8982913848797540243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8982913848797540243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/05/last-puzzle.html' title='The Last Puzzle'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-4089997094709571812</id><published>2010-02-20T10:01:00.000-08:00</published><updated>2010-02-20T10:02:57.813-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leaky Cauldron 1986'/><title type='text'>The Prince and The Flower Fairy; 1986</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 19px; "&gt;Usianya sekarang sudah tiga belas tahun dan dalam beberapa bulan akan menjadi empat belas. Gadis itu masih tetap gadis kecil polos yang disayangi dan dimanja semua orang. Ia tidak berubah banyak dalam hal karakter namun perubahan pada tubuh femininnya sudah mulai terlihat. Tubuh mungilnya tahun ini bertambah sekitar tiga sentimeter, pinggangnya sudah berbentuk dan dadanya sudah tidak rata lagi. Rambut pirangnya yang dulu dipotong sebahu, kini sudah tumbuh memanjang dan berkilau dengan indah ketika angin sesekali melambaikannya. Ia sudah memasuki usia remaja meski ia masih seorang Nabelle Elsveta yang polos dan menyukai hal-hal berbau fantasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle duduk di salah satu kursi di dekat jendela bar kumuh Leaky Cauldron—tempat favoritnya—sambil menyesap butterbeer. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah buku cerita bersampul biru muda yang mengisahkan tentang kisah cinta seorang pangeran pada peri bunga yang tinggal di halaman istananya. Boris, si kucing yang dipercaya sebagai jejadian naga kerdil, duduk diam di sisi meja—tertidur dan sesekali mendengkur. Tubuh kucing itu sedikit bertambah besar meski tidak terlalu kentara dan tetap tidak ada tanda-tanda bahwa Boris suatu hari akan menyemburkan api dari hidungnya. Belle tetap tak mau mengakui bahwa kucingnya adalah kucing biasa dan ia telah dibohongi oleh seorang pria yang ia suka yang memberikan kucing itu padanya tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang perak milik gadis itu menatap lurus pada teks-teks dalam buku yang sedang ia baca—tenggelam sepenuhnya dalam kisah petualangan dan cinta antara pangeran dan peri. Sesekali senyum terukir di wajahnya saat adegan dalam cerita itu menceritakan sesuatu yang manis, sesekali tawa renyah terdengar saat adegan lucu tersaji dan ia akan terdiam ketika adegan sedih yang ia baca. Melalui buku-buku yang ia baca, kebanyakan tokohnya mengalami cinta pada pandangan pertama, seperti halnya pangeran dan peri dalam buku yang sedang ia pegang sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi mengenai perasaan yang dialami oleh peri dan pangeran, kadang membuatnya berpikir dan membandingkan dengan perasaannya sendiri pada Zeus. Banyak hal yang tidak terjadi pada dirinya seperti yang terjadi pada tokoh peri dalam buku. Ia tidak pernah merasa berdebar-debar apalagi bersemu merah jika memandang Zeus atau sekedar berada di dekatnya. Ia tidak merasa gugup ketika memeluk ataupun bermanja pada Zeus. Ia tidak merasa cemburu jika Zeus sedang bersama Emmy, tidak seperti tokoh peri yang marah-marah ketika pangeran berdansa dengan putri cantik dari kerajaan tetangga. Ia menyayangi Zeus, itu benar. Sejak awal mereka adalah saudara dan hubungan mereka yang berkembang menjadi pasangan kekasih terjadi begitu saja. Hanya karena ia terbiasa dengan keberadaan Zeus di dekatnya dan karena kepolosannya ia mengiyakan kata-kata Zeus bahwa mereka sebenarnya adalah pasangan kekasih. Dan ia mulai mengerti bahwa hubungan antara dirinya dan Zeus bukan cinta. Tak seharusnya mereka berpacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu meneruskan membaca bukunya, berpikir bahwa ia harus membicarakan masalah hubungan mereka dengan Zeus nanti. Air matanya menetes ketika pada bagian akhir buku itu menceritakan pengorbanan yang dilakukan peri bunga agar pangeran tetap hidup. Belle menutup buku ceritanya, meletakkannya di atas meja. Ia masih terpesona dalam kisah yang baru saja dibacanya. Kemudian ia meraih Boris ke dalam pelukannya. Kucing itu terbangun dan mengeong pelan, menatap nonanya dengan kedua mata birunya. Belle tersenyum dan menatap mata Boris, "Boris, Belle ingin merasakan cinta seperti yang dirasakan peri bunga itu. Siapa ya yang akan jadi pangeran untuk Belle?"&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 19px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 19px; "&gt;&lt;hr /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 19px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 19px; "&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right; "&gt;&lt;small&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;Monster-monster jahat itu mulai mengobrak-abrik negeri yang dipimpin oleh Pangeran Alexei. Gedung-gedung runtuh, mobil-mobil saling bertabrakan, mayat bergelimpangan di jalan—sungguh sebuah pemandangan mengerikan yang kini tersaji pada negeri yang terkenal dengan keindahannya. Pangeran Alexei berada di tengah-tengah itu semua, sedang berusaha memerangi para monster bersama dengan pengawal-pengawalnya. Satu persatu monster berguguran begitupun dengan para pengawal. Kini hanya tersisa satu monster dan sang Pangeran. Duel satu lawan satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Monster jahat meraung keras, membuat beberapa anak-anak yang sedang berlindung bersama orangtua mereka menjerit ketakutan dalam persembunyian mereka. Monster itu dua kali lebih besar dan lebih tinggi dari Pangeran Alexei. Mereka bertarung, pedang lawan cakar besar. Pangeran Alexei terdesak, luka pada kakinya membuatnya tidak bisa berdiri, pedangnya terlempar jauh darinya. Jelas, monster jahat itu dalam posisi menang dan sang pangeran dalam posisi kalah. Monster itu kembali mengayunkan cakar besarnya sambil meraung, Pangeran Alexei sudah tak mampu lagi menghindar. Ia pasrah apabila ia memang harus mati saat itu, ia akan mati demi negerinya. Pangeran Alexei memejamkan mata.&lt;/span&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelanjutan dari kisah tersebut mungkin sudah bisa kau tebak. Saat Pangeran Alexei membuka mata, di hadapannya tergeletak peri bunga yang dicintainya. Monster jahat juga sudah lenyap dari pandangan. Luka yang diderita peri bunga teramat parah, ia melindungi sang pangeran dari serangan monster jahat dengan tubuhnya sendiri. Peri bunga itu melakukannya demi menyelamatkan pangeran yang begitu dicintai sehingga ia merelakan nyawanya sendiri. Peri bunga kemudian mati, wajahnya dideskripsikan terlihat cantik dengan senyum terukir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle kembali tenggelam dalam kisah yang tersusun dari rangkaian kata dalam buku cerita miliknya. Buku itu mungkin sudah ditutup, tapi kesan dari cerita itu masih melekat dalam hatinya. Gadis itu terharu dengan keberanian peri bunga yang bersedia mengorbankan diri untuk seseorang yang dicintai. Ia tahu, ia cengeng karena menangisi tokoh dalam buku cerita. Tapi ia tak bisa memungkiri bahwa ia tersentuh dan ia ingin mengetahui bagaimana rasanya mencintai orang lain seperti cara peri bunga mencintai Pangeran Alexei. Rasanya seperti sebuah petualangan di pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyandarkan kepalanya pada dinding di sisi kirinya, kedua tangannya memeluk Boris dan mengelus-elus bulu halus kucing itu—sesekali mengajaknya bicara. Kedua kelopak mata gadis itu terpejam, membayangkan sosok Pangeran Alexei dan peri bunga di benaknya. Sosok Pangeran Alexei yang terbayang di benaknya mirip dengan sosok Arshavin sedangkan sosok peri bunga tentu saja senior Ragnavald, kekasih Arshavin. Mereka berdua adalah pasangan paling serasi yang pernah ia lihat selama di kastil dan jangan lupa ada senior Dawne dan Maraschine yang sudah lulus tahun lalu. Saat di Pesta Akhir Tahun, senior Dawne dan Maraschine mempertontonkan kemesraannya. Ah, ngomong-ngomong soal itu, kakak-tak-berperike-kucing-an juga mesra sekali dengan Senior Janette saat itu. Juga Areski dan senior Pavarell yang berciuman di depan mata Belle. Kalau Jake, sih jangan dihitung. Ciuman antara cowok dengan cowok itu tidak bisa dikategorikan sebagai cinta. Jake juga pasti hanya becanda saat melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata banyak juga Pangeran Alexei dan peri bunga di Hogwarts. Gadis itu memikirkan kemungkinan untuk bertanya pada Arshavin tentang perasaannya setiap kali bersama dengan senior Ragnavald. Apakah Arshavin berdebar-debar dan bersemu merah? Belle sungguh ingin tahu seperti apa rasanya jatuh cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atensinya teralih ketika seorang anak laki-laki tiba-tiba meletakkan sepiring waffle di mejanya dan menarik kursi di depan gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;“I beg your pardon, I never promised you a rose garden.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Eh? Maksudnya? Apa salah orang?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu memandangnya dengan tatapan ramah dan tersenyum sehingga gadis itu pun membalas senyumannya meski dengan ekspresi bingung. Jelas saja ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba anak laki-laki itu bilang bahwa ia tak pernah menjanjikan taman mawar pada Belle. Memangnya Belle pernah bertemu dengan anak laki-laki di hadapannya itu? Sepertinya tidak. Jadi, ia memutuskan untuk menunggu anak itu melanjutkan ucapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;“Would you still be a princess if your next-prince told you that sentence?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu kemudian mendudukan dirinya, menyandarkan punggung dan salah satu lengannya pada sandaran kursi. Terlihat nyaman dengan cara duduk tersebut, tatapannya tak lepas dari wajah Belle. Gadis itu hanya terdiam, menelengkan kepalanya ke samping—mencoba mencerna maksud dari kata-kata anak itu padanya. Kalau pangerannya nanti menyakiti dirinya, apakah ia akan tetap menjadi seorang putri? Begitu maksudnya? Gadis itu tersenyum dan mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Yes. I will still be a princess. No matter what.&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;“Don’t be too imaginative. What’s in those book could kill you.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kata Teresa dan Miss Leona, orang seperti anak laki-laki di depannya itu adalah tipe orang yang suka menghancurkan mimpi. Tak bisa dibilang jahat, hanya saja cara mereka berpikir berbeda dan mereka tidak menyukai mimpi seperti halnya Belle. Mereka akan berusaha membuat orang-orang yang menyukai mimpi untuk tidak lagi mempercayainya. Belle meremas roknya di bawah meja, ia merasa tidak nyaman dengan kehadiran seseorang yang memiliki pemikiran berbeda dengan apa yang ia suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya apa yang salah dengan buku-buku cerita? Mereka takkan membunuh Belle, kok. Buku-buku itu justru memberikan cerita-cerita indah yang menghibur," ujar Belle sambil tersenyum lebar. Ia takkan kalah dengan penghancur mimpi. Kemudian seorang laki-laki lain datang, Belle tidak memperhatikan dengan seksama siapa. Yang pasti laki-laki itu pasti lebih tua, memakai baju coklat kotak-kotak dan memegang gitar. Sepertinya pengamen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;&lt;em&gt;Ku bukan superstar, kaya dan terkenal&lt;br /&gt;Ku bukan pengemis yang miskin dan melarat&lt;br /&gt;Ku bukan bangsawan tapi ku bukan gelandangan&lt;br /&gt;Ku hanyalah orang yang ingin dinistai&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle terkikik mendengar lirik lagunya yang aneh. Dan kalau mendengar nyanyian lucu seperti itu, hanya satu orang yang Belle ingat dengan jelas. Kakak tampan yang dua tahun lalu melayaninya di toko hewan sihir! Kak Raye namanya. Gadis itu mencoba memperhatikan wajah si pengamen dengan seksama, wajahnya tampan, rambutnya pirang lalu ia menyanyi dengan sangat serius meski liriknya sangat lucu. Ahhh, itu benar-benar Kak Raye! Senyum lebar pun seketika merekah di wajah mungil Belle, membuat kedua matanya terlihat semakin sipit saja. Gadis itu memutar tubuhnya menyamping lalu melambaikan tangan dan memanggil si pengamen, "Kak Raye!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak menyadari bahwa ada sosok lain yang tengah mendekatinya dari belakang, &lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"Pemuda itu menganggumu nona? Ckck, jahat sekali ya."&lt;/span&gt; Gadis itu terkejut dan terlonjak di kursinya. Tubuhnya terhuyung dan ketika itu ia menolehkan wajahnya ke arah sosok yang mengejutkannya tadi. Ia menoleh tanpa memperhitungkan jarak, tak menyangka bahwa wajah seorang laki-laki berambut pirang akan begitu dekat jaraknya dengan wajahnya sendiri. Saat ia tersadar, bibirnya dan bibir laki-laki itu telah saling bersentuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ci—ciuman?!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huaaaa!" pekik Belle cepat-cepat menarik tubuhnya. Wajahnya memerah, jantungnya berdebar-debar dan matanya terbelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Belle akan hamil... Mommy...&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 19px; "&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 19px; "&gt;&lt;em&gt;&lt;hr /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 19px; "&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"    style="font-family:Tahoma, Arial, sans-serif;font-size:100%;color:#4F4833;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-size: 11px; line-height: 19px;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right; "&gt;&lt;small&gt;Will it taste like candy?&lt;br /&gt;Will it be that sweet?&lt;br /&gt;Will our hearts be racing to a heavenly beat?&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu masih terpaku di tempatnya, kristal perak kembarnya masih menatap kedua bola mata anak laki-laki di hadapannya. Sebelah tangannya masih menyentuh bibirnya sendiri dan wajahnya masih memerah karena malu. Ia bisa merasakan degup jantungnya yang berpacu semakin cepat ketika kristal peraknya mulai bergulir menyusuri wajah tampan yang baru saja ia cium tanpa sengaja. Bibir anak laki-laki itu telah bersentuhan dengan bibirnya sendiri, persis seperti yang dilakukan pangeran Alexei dan peri bunga dalam buku ceritanya. Rasanya begitu lembut dan manis. Perlahan, Belle membasahi bibirnya dan menggigit pelan bibir bawahnya yang tipis. Waktu seolah-olah berhenti dan ia masih tidak percaya pada apa yang baru saja terjadi sampai anak laki-laki itu memecahkan keheningan dengan komentarnya tentang yang barusan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"Wah, wah berani juga kau ya nona, agresif sekali"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah Belle semakin memerah dan ia tertunduk. Ia tahu, jika dilihat sekilas, apa yang baru saja terjadi tampak seperti disengaja olehnya meski kenyataannya tidak seperti itu. Gadis kecil itu tak tahu bahwa anak laki-laki itu ada di belakangnya dan justru ia terkejut sehingga menoleh ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ciuman itu terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menelan ludah, "Maafkan Belle..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;“&lt;em&gt;You’re the one who want it—it wasn’t her.&lt;/em&gt;”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, anak laki-laki yang duduk di depan Belle berkomentar dengan tenang sambil menyuapkan waffle ke mulutnya. Kedua mata anak itu terlihat bermusuhan saat memandang anak laki-laki di belakang Belle. Gadis kecil itu mengira, mungkin mereka berdua sudah saling mengenal dan hubungannya tidak akur. Atau mungkin seperti Areski dan Jake. Entahlah. Gadis kecil itu hanya diam menatap kedua anak laki-laki itu bergantian, kemudian menatap pada Rayearth yang masih asyik bernyanyi—meminta pertolongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;“Want me to punch him?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;No, no. No need to do that. It's not his fault...&lt;/em&gt;," Belle panik ketika anak laki-laki yang sedang makan itu tiba-tiba menawarkan diri untuk menghajar anak laki-laki yang telah merebut ciuman pertamanya tanpa sengaja. Jantungnya masih berdegup kencang, masih belum sepenuhnya melupakan kejadian mengejutkan tersebut. Ia takut ciuman barusan akan menyebabkan dirinya hamil. Usianya baru tiga belas tahun, terlalu muda untuk menjadi seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;“Cup..cup..Nabelle sayang,”&lt;/span&gt; Gadis kecil itu terdiam ketika kemudian Rayearth menghampiri dan memeluk dirinya. Pemuda itu menepuk-nepuk kepala Belle, membuat gadis kecil itu sedikit lebih tenang meski jantungnya masih terus berdebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seperti saat peri bunga berciuman dengan Pangeran Alexei.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle merapatkan wajahnya di tubuh Rayearth, pandangannya kembali tertuju pada anak laki-laki pirang dengan headphone melingkar di lehernya. Lagi-lagi bayangan saat bibir mereka bersentuhan kembali muncul di benaknya.&lt;em&gt;Apakah peri bunga juga merasa seperti ini saat pertama kali berciuman dengan Pangeran?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau...," ujar Belle pada anak laki-laki itu, "Kau akan jadi Daddy dari bayi Belle nanti. Namamu siapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia harus tahu siapa nama ayah dari calon jabang bayi di perutnya, bukan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-4089997094709571812?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/4089997094709571812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/02/prince-and-flower-fairy-1986.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/4089997094709571812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/4089997094709571812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/02/prince-and-flower-fairy-1986.html' title='The Prince and The Flower Fairy; 1986'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-5309283141659374380</id><published>2010-01-10T01:44:00.001-08:00</published><updated>2010-01-10T01:44:37.828-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Piecesofmemory'/><title type='text'>Pieces of Memory (Belle's PoV)</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;big&gt;&lt;span style="font-family: papyrus;"&gt;In my memory&lt;br /&gt;I can still see that face&lt;br /&gt;In my memory&lt;br /&gt;I can still hear the voice&lt;br /&gt;I remember talkin' with you&lt;br /&gt;You were the light for me to see&lt;br /&gt;You were the sky that covered me&lt;br /&gt;In my memory, I remember you still&lt;br /&gt;...Daddy&lt;/span&gt;&lt;/big&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit sore itu terlihat cantik dengan semburat pink berpendar dari balik gumpalan awan yang serupa gulali. Seorang gadis kecil terlihat sedang bermain-main dengan seekor bayi kucing di tengah-tengah hamparan mawar putih. Rambut pirangnya diikat ke atas membentuk cepol yang manis. Musim semi memang selalu membawa suasana ceria pada semua makhluk hidup di Bumi. Tapi, lihatlah ekspresi gadis kecil itu. Senyum cerianya yang biasa seolah hilang dari wajahnya, berganti dengan senyum lesu yang keluar dari wajah mungilnya yang pucat. Air mukanya terlihat lelah, lingkaran hitam membayang di sekeliling mata sipitnya. Tubuhnya yang terbalut &lt;em&gt;sweater&lt;/em&gt; longgar merah bata dan celana jeans pendek, berbaring tengkurap di atas hamparan rumput hijau yang terpetak melingkar di tengah-tengah kebun mawar putih. Tangan kirinya menjadi bantal untuk menopang dagunya, sementara tangan kanannya sibuk mengusili bayi kucingnya. Sesekali ujung jari telunjuknya menyentuh hidung si bayi kucing yang dikiranya seekor naga jejadian. Sesekali dia tertawa saat bayi kucingnya bersin karena ulahnya—sedikit kecewa karena bayi kucingnya tidak mengeluarkan semburan api saat bersin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boris masih bayi, sih. Jadi belum keluar api dari hidungmu, ya?" ujarnya polos sembari meniup-niup hidung si bayi kucing dengan lembut—membuat si bayi kucing menggosok-gosok hidungnya kegelian. Sebelah tangan gadis kecil itu terulur dan dengan telapak tangannya, dia mengusap-usap punggung si bayi kucing. Dengkuran samar terdengar, tanda bahwa bayi kucing itu merasa senang dan nyaman dengan perlakuan si gadis kecil. Si Bayi kucing melangkah mendekati wajah mungil nonanya, mengangkat sebelah kakinya dan menempelkannya ke bibir gadis kecil itu seolah ingin berkata, &lt;span style="color: grey;"&gt;"Nona Nabelle berhentilah meniup hidungku."&lt;/span&gt; Gadis kecil itu terkekeh pelan. Perlahan dia mengangkat kepalanya, membiarkan tangan kirinya bebas lalu dengan kedua tangannya dia memegangi tubuh si bayi kucing. Gadis itu memutar tubuhnya ke posisi terlentang dan meletakkan si bayi kucing di atas dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boris, Belle kangen &lt;em&gt;Daddy&lt;/em&gt;," ujar gadis kecil itu lirih. Kristal peraknya kini menatap ke langit. Dia ingin menunggu hingga bintang-bintang mulai bermunculan di langit lalu mencari bintang yang bersinar paling terang di matanya. Konon, bintang yang paling terang itu adalah tempat tinggal orang-orang yang sudah meninggal. Gadis kecil itu merindukan ayahnya. Gadis kecil itu tak mengerti kenapa ibunya, kakek dan neneknya, bahkan Zeus, menghindar setiap kali dia menanyakan perihal kematian ayahnya. Mereka bersikeras mengatakan bahwa imaji yang muncul tentang saat-saat terakhir ayahnya itu hanya imajinasi belaka dan bukanlah sebuah kenyataan. Mereka bersikeras bahwa dia tak ada di tempat yang sama ketika ayahnya pergi untuk selamanya. Padahal, gadis kecil itu sudah cukup usia untuk mengerti bahwa ingatannya yang hilang telah berangsur-angsur kembali. Jika potongan impresi yang muncul tentang Zeus dibenarkan, lantas kenapa imaji yang timbul tentang ayahnya tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-family: papyrus;"&gt;&lt;big&gt;Daddy, I could see your face. I could feel your touch.&lt;br /&gt;And I could smell your blood.&lt;br /&gt;It was so real.&lt;br /&gt;It was a piece of my memory about you.&lt;/big&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa mereka membohongi Belle?" Gadis kecil itu mulai terisak, kedua tangannya memeluk si bayi kucing yang kini tidur dengan nyaman di dadanya. Buliran kristal bening mulai mengalir dari sudut matanya, membasahi kedua pipinya. Dia marah. Dia kesal. Tapi dia tak tahu harus berbuat apa selain menunggu potongan memorinya yang lain datang dan melengkapi susunan puzzle yang terhilang dalam ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;But when?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/8535_101292469891526_10000032321038.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Penampilan Belle&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-5309283141659374380?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/5309283141659374380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/01/pieces-of-memory-belles-pov.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5309283141659374380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5309283141659374380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/01/pieces-of-memory-belles-pov.html' title='Pieces of Memory (Belle&apos;s PoV)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-1771127981507378163</id><published>2010-01-10T01:36:00.000-08:00</published><updated>2010-01-10T01:38:21.669-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pedofil'/><title type='text'>She's a Pedophilia Virus</title><content type='html'>Paras gadis kecil itu terlihat pucat. Kilau yang biasa terlihat pada surai-surai keemasannya kini seolah redup tanpa semangat. Di bagian bawah kedua matanya terlihat bayang kehitaman karena nyaris tidak tidur selama beberapa hari sejak pertemuan pertamanya dengan Zeus, kakak sepupunya. Meski gadis kecil itu tak bilang apa-apa pada Zeus, sejak hari itu dia sulit tidur. Kesunyian malam selalu membuatnya ingin berpikir dan berpikir—menelusuri jaring-jaring ingatan dalam kepalanya yang tak lagi sempurna. Rasa ingin tahunya yang besarlah yang membuat gadis kecil itu keras kepala untuk memaksa ingatannya kembali. Hal itu selalu membuat kepalanya sakit setiap malam dan melemahkan tubuhnya hari lepas hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle, begitulah dia disapa oleh semua orang yang mengenalnya. Sore itu ia berjalan menyusuri pekarangan Hogwarts yang luas dengan kaki-kaki mungilnya yang terbalut boots putih kesayangannya. Tubuhnya terlindungi oleh sweater pink sebatas pinggul dan rok lipit putih selutut. Beberapa hari ini, kepalanya selalu dihiasi dengan topi kupluk untuk menutupi keningnya. Terlalu malu untuk menunjukkan deretan aksara sewarna darah yang tertulis di kening mungilnya. Sampai hari ini pun, Belle tetap merasa bahwa tante erumpent itu tidak adil karena telah memberinya hukuman yang kejam seperti itu padahal dia berniat untuk membantu orang lain dengan merapal mantra di luar sekolah. Jika tulisan itu hanya beberapa hari saja bertengger, Belle masih bisa terima dengan sukarela. Tapi ini, PERMANEN! Anak perempuan mana yang rela di dahinya tertulis kata-kata memalukan seumur hidup? Langkahnya kini menghentak-hentak karena kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di punggungnya, tersampir sebuah case gitar berwarna putih. Tentu saja ada gitar di dalamnya. Gitar pink kesayangannya dengan lubang berbentuk hati di tengah-tengahnya, Heart. &lt;em&gt;Yep,&lt;/em&gt; sore itu pun, Belle hendak menyegarkan pikiran dengan bersantai di pinggir danau, bermain gitar dan bernyanyi. Kegiatan yang hampir setiap hari dia lakukan sejak bersekolah di Hogwarts. Bedanya tahun ini, dia hampir selalu ditemani oleh Zeus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus panjang umur. Baru saja gadis kecil itu teringat padanya dan sekarang dia melihat kakak sepupunya itu sedang sibuk melakukan push-up di depan dua orang gadis kecil. Salah satunya dia kenali sebagai sepupu dari Silver, sedangkan yang satu lagi, yang sedang memeluk boneka itu sepertinya juniornya di Ravenclaw. Anak yang manis. Belle pun mempercepat langkahnya menghampiri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, Emmy. Masih ingat aku?" sapanya ramah dan, "Halo, adik kecil. Siapa namamu? Aku Belle. Kelas 2, Ravenclaw. Kalau tak salah kamu di Ravenclaw juga, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian gadis kecil itu berjongkok di samping Zeus yang masih push-up dengan gemetar, "Zeus sedang apa? Sudah gemetaran begitu," dan matanya terbelalak ketika melihat darah mengalir deras dari luka di lengan anak laki-laki itu. Gadis kecil itu buru-buru menarik tubuh Zeus dan jatuh terduduk ketika bobot tubuh anak laki-laki itu menimpa tubuh mungilnya, "Zeus bodoh! Luka di lenganmu terbuka dan berdarah, kenapa masih push-up! Demi Merlin! Dari dulu Zeus selalu saja meremehkan luka!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Eh? Tunggu. Tadi Belle bilang 'dari dulu'?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;******&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Gadis bersurai keemasan itu hanya terdiam ketika Emmy menceletuki kata-katanya dan Calnera mengancam tak mau mengenal Zeus lagi. Gadis kecil itu terdiam karena dia terkejut dengan sebuah impresi masa lalu yang hadir begitu saja, begitu mendadak dalam benaknya. Bukankah dia tak ingat sedikitpun tentang Zeus? Lalu, bagaimana dia bisa tahu bahwa kakak sepupunya itu sejak dulu selalu meremehkan lukanya? Darimana dia tahu bahwa kakak sepupunya itu adalah seorang anak laki-laki yang serampangan? Tanpa sadar dia mengigit jemari kanannya. Termenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya, Zeus pun menyadari keganjilan pada kata-katanya barusan karena tiba-tiba saja anak laki-laki itu mengangkat tubuhnya dan berbisik padanya. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Belle, kau sudah ingat? Kau tadi bilang dari dulu aku selalu meremehkan luka! Kau sudah ingat?"&lt;/span&gt; Anak laki-laki itu menatapnya tersenyum. Senyuman penuh harap yang nampaknya tak terkabulkan saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu menatap iris perak Zeus dengan tatapan bingung. Perlahan gadis kecil itu menggeleng. "Tidak. Belum. Belle tak ingat apa-apa. Hanya tiba-tiba tahu. Belle tak ingat apa-apa, belum." Gadis kecil itu mulai kebingungan. Namun kali itu, dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak histeris ketakutan. Dia mulai terbiasa dengan segala keganjilan yang mengerikan itu. Usapan jemari Zeus di pipinya membuatnya merasa lebih rileks. Gadis kecil itu berusaha tersenyum. "Setidaknya, sudah mulai ingat sedikit demi sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Sakitnya kurang? Mau kutambah sakitnya, eh?”&lt;/span&gt; ujar Emmy tiba-tiba sambil berdiri—Belle menggulirkan kristal perak kembarnya menatap gadis itu dengan heran. Gadis tomboy itu menggosok kedua tangannya dan melakukan stretching. Nampak siap menghajar Zeus, sepertinya.&lt;span style="color: grey;"&gt; “Sudah siap? Atau mau berhenti?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak perlu begitu, Emmy. Zeus sudah berhen—"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BRUKK&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-katanya terputus ketika Zeus tiba-tiba saja ambruk tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, terlalu banyak darah yang keluar dari luka di lengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ZEUS!! Demi Merlin!" pekik gadis kecil itu sembari mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku sweaternya dan mengusap lengan Zeus yang masih mengeluarkan darah. Dan lagi-lagi bayangan masa lalu menamparnya. Kedua telapak tangan kecilnya berlumuran darah. Bau amis darah tercium pekat dan teriakan-teriakan ilusioner mulai berdengung di telinganya. Gadis kecil itu memejamkan mata, berusaha menenangkan diri. Teriakan ibunya, teriakan almarhum ayahnya dan teriakan dirinya sendiri terdengar demikian jelas. Sosok Zeus yang pingsan kini berganti menjadi sosok ayahnya yang terkapar berlumuran darah di benaknya. Ayahnya masih hidup dan membelai wajahnya saat itu sebelum akhirnya kedua matanya tertutup untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Daddy?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristal cair bening mulai mengalir dari sudut matanya. Gadis kecil itu tahu bahwa yang barusan berkelebat di benaknya adalah kenangan saat kematian ayahnya. Dia ada disana menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat ayahnya menghembuskan nafas terakhir. Entah kenapa, Teresa dan yang lainnya membohongi dia dengan mengatakan bahwa ayahnya meninggal dalam tugas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Siapa yang bunuh Daddy?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu cepat-cepat menggigit bibirnya dengan keras ketika menyadari bahwa saat ini Zeus perlu bantuannya. Dia tak boleh tenggelam dalam ingatan yang tiba-tiba datang sekarang. Dia menggelengkan kepalanya dengan keras, berusaha mengusir segala impresi dan gambaran yang memaksanya untuk mengingat. Tidak. Tidak sekarang. Dihapusnya airmata yang membasahi wajahnya. Dia harus tegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emmy, bisa tolong bersihkan lukanya? Zeus bilang, selama ini Emmy yang merawat lukanya. Belle mau coba bangunkan dia dengan, "Belle merogoh ke dalam sakunya, mengeluarkan sebuah botol kaca berwarna pink, "minyak wangi ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Calnera, bantu aku basahi sapu tangan ini dengan air danau, ya," ujarnya lembut pada gadis kecil yang sedang menggendong boneka. Dia berusaha tenang meski jantungnya sekarang berdebar keras. Gadis kecil itu menggeser duduknya, mendekati kepala Zeus. Air matanya kembali mengalir, sosok Zeus saat ini benar-benar mengingatkannya pada hari kematian ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apakah Zeus akan mati juga?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan diangkatnya kepala Zeus dan diletakkan di pangkuannya. Gadis kecil itu cemas setengah mati. Untung saja, sebelum ini dia sudah pernah menghadapi kejadian yang hampir sama sehingga sekarang dia selalu membawa-bawa botol minyak wangi kemana-mana. Dibukanya botol minyak wangi tersebut dan didekatkannya ke hidung Zeus agar anak laki-laki itu bisa menghirup aroma pekat minyak dan terbangun. Sementara tangan kirinya memegang botol parfum, tangan kanannya mengelus-elus kening Zeus dengan lembut. "Zeus bodoh. Jangan mati karena hal konyol begini! Hiks."&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-1771127981507378163?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/1771127981507378163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/01/shes-pedophilia-virus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1771127981507378163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1771127981507378163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/01/shes-pedophilia-virus.html' title='She&apos;s a Pedophilia Virus'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-2505437289246473746</id><published>2010-01-06T05:07:00.000-08:00</published><updated>2010-01-06T05:09:08.767-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Transfigurasi kelas 2'/><title type='text'>Transfigurasi Kelas 2</title><content type='html'>Lagi-lagi gadis kecil itu melewatkan malam dengan tidur yang gelisah. Bagaimana bisa tidur jika kelebatan-kelebatan imaji masa lalu yang terpotong-potong muncul dalam benak tanpa berhenti. Membuat Belle semakin penasaran untuk terus menggali dan menggali meski hasilnya selalu nihil. Sejauh ini, dia baru teringat sedikit tentang Zeus. Itu pun terjadi secara kebetulan ketika terkejut melihat kakak sepupunya itu berdarah-darah. Impresi bahwa Zeus adalah seorang anak yang suka meremehkan luka dan potongan gambaran saat-saat terakhir kehidupan ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle duduk dalam diam di kelas. Memperhatikan Profesor McGonagall menjelaskan pelajaran mereka hari itu. Transfigurasi selalu menjadi pelajaran yang dia sukai karena dia bisa merasakan sihir secara langsung bukan hanya melalui buku. Kedua matanya terbuka lebar—tertarik mendengarkan kata-kata yang diucapkan profesornya. Kali ini mereka akan mengubah tikus menjadi cangkir dengan mantra Vera Verto yang akan mengubah hewan apa saja menjadi benda mati. Katanya, inti dari transfigurasi kali ini adalah konsentrasi. Hal yang mudah bagi gadis kecil itu bila saja kondisi tubuhnya tidak sedang dalam keadaan drop seperti saat ini. Kepalanya cukup pusing karena rasa lelah dan kantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu menggosok-gosok matanya lalu mengambil tikus yang diletakkan di bawah mejanya. Belle tidak takut pada tikus, apalagi tikus putih yang cantik seperti yang sekarang ada dalam genggaman tangannya. Wajah tikus itu imut, Belle jadi tidak tega mengubahnya menjadi cangkir. Apakah tikus itu akan mati jika nanti diubah menjadi cangkir? Apakah ada cara supaya tikus itu tetap hidup? &lt;em&gt;Heu—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuan tikus, maafkan Belle ya. Ini tugas sekolah, sih," ujar gadis kecil itu seraya meletakkan tikus putihnya di atas meja. Gadis kecil itu menarik nafas dan mengeluarkan tongkat sihirnya dari dalam saku jubahnya. Konsentrasi. Bayangkan tikus itu menjadi cangkir putih yang cantik. Cangkir putih yang memiliki pegangan antik dengan ukiran bunga-bunga di permukaannya. Konsentrasi. Pusatkan pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Vera Verto!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.......&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Plop!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yes!&lt;/em&gt; Tikus putih itu berubah persis seperti cangkir yang ada dalam bayangan Belle. Cangkir yang cantik. Gadis kecil itu mengangkat cangkir yang terbuat dari tikus putih itu dan terkejut setengah mati ketika didapatinya ekor si tikus masih bergerak-gerak di salah satu permukaan cangkir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Euh. Cuma berhasil 90%."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-2505437289246473746?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/2505437289246473746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/01/transfigurasi-kelas-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2505437289246473746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2505437289246473746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/01/transfigurasi-kelas-2.html' title='Transfigurasi Kelas 2'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-2880137312975671939</id><published>2010-01-06T04:43:00.001-08:00</published><updated>2010-01-06T04:43:51.629-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas herbologi tahun Kedua'/><title type='text'>Herbologi kelas 2</title><content type='html'>Rasanya hari itu dia tak mampu tersenyum ataupun berkonsentrasi. Dia hanya berdiri di depan mejanya, memandangi sebuah baki dan pot yang terletak disana—untuk keperluan praktek Herbologinya hari ini. Tak seperti dia yang biasanya selalu tersenyum dan terlihat bersemangat menjalani pelajaran apapun yang disuguhkan sekolahnya. Padahal dia menulis surat di secarik perkamen untuk Zeus sebelum masuk kelas hari ini, berisikan pesan supaya kakak sepupunya itu tidak membolos kelas karena kelas herbologi begitu menarik. Menyemangati orang lain saat diri sendiri tak bersemangat, rasanya munafik. Gadis kecil itu menghela nafas. Memberikan senyum simpul tak bersemangat pada teman-teman yang menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, dia lagi-lagi bermimpi, sosok ayahnya yang sekarat tengah membelai pipinya dengan jemarinya yang penuh darah. Telapak tangannya sendiri penuh dengan darah. Darah ayahnya. Dan kemudian berakhir dengan hembusan nafas terakhir dan teriakan dirinya sendiri yang terbangun dengan keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya. Saat-saat kematian ayahnya menerornya setiap malam. Gadis kecil itu kesal, marah, karena potongan ingatan yang kembali itu tidak membukakan tabir tentang siapa pembunuh ayahnya. Gadis kecil itu menggigit bibir. Berusaha berkonsentrasi mendengarkan Profesor Sprout menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;”Karena kurasa kalian sudah membaca cukup banyak tentang Mandrake, maka aku tidak perlu lagi berbicara panjang lebar akan tanaman yang serupa bayi dengan rupa yang tak terlalu rupawan ini, kan? Kalian hanya perlu memindahkan Mandrake-mandrake tersebut pada pot yang lebih besar setelah pot tersebut kalian isi dengan humus yang telah kusediakan. Namun sebelum memulai, ada baiknya kalian memerhatikan bagaimana caraku melakukannya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mandrake?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Belle sudah membaca cukup banyak tentang Mandrake. Tanaman aneh dengan akar berbentuk bayi jelek seperti tuyul yang menangis dan meronta saat dikeluarkan dari dalam tanah. Konon, tangisan mandrake yang lebih dewasa bisa membunuh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Kenakan penutup telinga kalian sekarang, selagi aku memberi contoh. Semua, tidak terkecuali, nak!”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, dia mengambil penutup telinga dan memakainya rapat-rapat menutupi telinganya. Di saat seperti ini, dia tak ingin berlaku ceroboh dan mencelakai diri sendiri. Tidak disaat dia belum mengetahui siapa pembunuh ayahnya. Jika memang dia ada di sana saat kematian Boris, seharusnya dia melihat dengan mata kepala sendiri wajah pembunuhnya. Gadis kecil itu mendengus lesu, berusaha untuk tidak kembali melamun. Kedua kristal peraknya dia paksa untuk memperhatikan bagaimana Profesor Sprout memberi contoh cara memindahkan mandrake ke dalam pot yang lebih besar. Kelihatannya mudah kalau Profesor Sprout yang melakukannya. Dia pun membuka penutup telinganya ketika Profesor Sprout menjetikkan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;”Nampak mudah memang. Namun jangan lupa untuk berhati-hati menghadapi tangisan serta rontaan mereka yang sama sekali tidak dapat disepelekan. Kuingatkan sekali lagi, bagi mereka yang ngotot melepas penutup telinga di tengah jalan, sebelum kelas ini usai, jeritan mandrake berpotensi besar membuat kalian pingsan di tempat. Untungnya karena tanaman Mandrake ini masih bayi, suara tangisan mereka belum cukup kuat untuk membunuh kalian, tambahnya cukup panjang dan lebar agar para muridnya terhindar dari luka yang tak diinginkan. Sekarang, kenakan lagi penutup kuping kalian. Aku akan memberi isyarat kepada kalian begitu waktu kita habis untuk kelas ini. Nah, ayo mulai sekarang! Aku akan ada di sini untuk memantau kemajuan pekerjaan kalian.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu pun menurut dan memakai lagi penutup telinganya dalam diam. Tak berkomentar atau pun mengeluarkan desah kagum seperti biasanya. Dia hanya ingin menyelesaikan tugasnya dengan cepat dan mencari Zeus. Dia ingin bertanya lebih banyak tentang kejadian hari itu. Tak peduli meski Zeus selalu mengganti topik dan menghindar dari pertanyaan tersebut. Zeus tahu siapa pembunuh ayahnya, tapi anak laki-laki itu bersikeras menutupinya dari Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle mengambil humus yang telah disediakan dan mengisinya ke dalam pot yang lebih besar, yang nanti akan menjadi pot baru untuk mandrakenya. Dan dengan cekatan, gadis kecil itu mencabut mandrakenya dari pot asalnya. Tidak mudah, karena mandrake itu meronta-ronta dan menangis. Wajah mandrake itu lebih jelek daripada yang dia lihat dari buku dengan kepala bagian belakang memanjang, seperti alien. Dengan susah payah, Belle berusaha memasukkan mandrakenya ke dalam pot yang baru. Lengah sesaat ketika melihat Xuxa jatuh pingsan dan mandrake itu menggigit pergelangan tangannya dengan keras. Gadis kecil itu berteriak kesakitan dan spontan melempar mandrakenya sehingga menabrak punggung seseorang di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Heu—&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-2880137312975671939?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/2880137312975671939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/01/herbologi-kelas-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2880137312975671939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2880137312975671939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2010/01/herbologi-kelas-2.html' title='Herbologi kelas 2'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-7379133201188098188</id><published>2009-12-31T19:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-31T20:05:43.749-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Danau 1985'/><title type='text'>Harmonika Gisell</title><content type='html'>Perawakan gadis kecil itu kini sedikit lebih tinggi dari tahun lalu, surai keemasannya yang panjang pun kini dipangkas sebatas bahu—menonjolkan sisi kanak-kanak yang memang masih melekat dalam pribadi seorang Nabelle Marion Elsveta di usianya yang ke-12. Naif, demikian kata orang-orang yang berkomentar tentang dirinya. Polos dan mudah percaya, itulah dia. Takkan ada yang percaya bila kepingan-kepingan masa lalu gadis kecil itu sesungguhnya adalah kepingan-kepingan gelap, hitam, sehitam langit malam. Dia sendiri pun belum mengetahui rahasia di balik masa lalunya yang kini tersimpan begitu rapat dalam memorinya dan tak mampu untuk digalinya sendiri. Ya, kau benar. Ada sihir yang mengikat jauh di dalam benak gadis kecil itu dan belum waktunya untuk diungkapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu sulit untuk tidur. Terlalu malas untuk berdiam di kamar. Boris, &lt;em&gt;dragon cat&lt;/em&gt;-nya sudah tertidur meringkuk dalam kandang kecilnya. Gadis itu kemudian mengambil &lt;em&gt;sweater&lt;/em&gt; hijau mudanya dan mengenakannya di luar &lt;em&gt;mini-dress&lt;/em&gt; putihnya. Berniat untuk berjalan-jalan sejenak di tepi danau, tempat favoritnya di Hogwarts. Tungkai mungilnya yang terbungkus &lt;em&gt;boots&lt;/em&gt; beludru berwarna hitam melangkah santai menyusuri tangga demi tangga kastil, memperhatikan lukisan-lukisan yang sibuk bergerak dan meracau. Langkahnya kini sudah membawanya keluar dari kastil. Angin telah menyapanya, mengayunkan helaian keemasannya dengan lembut. Gadis kecil itu tersenyum, tak berhenti melangkah hingga tiba pada tujuannya—tepi danau hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sana gadis kecil itu duduk dalam diam. Memperhatikan permukaan danau hitam yang tenang tak beriak. Begitu damai, tak seperti hatinya yang masih kalut dengan rasa penasaran tentang masa lalunya. Gadis kecil itu hanya berpura-pura tak peduli di hadapan kakak sepupunya padahal dia begitu ingin tahu. Ingin tahu tentang semua yang terjadi sebelum hari dimana dia terbangun dan melupakan semuanya. Ingin tahu kenapa ingatannya hilang tak berbekas hingga melupakan seseorang yang seharusnya begitu dekat dengan dia. Melupakan setiap kenangan sebelum ulangtahunnya yang ke-7. Namun, jawaban itu tak pernah datang. Sedikit pun tidak. Gadis kecil itu mendesah pelan. Benak mudanya masih belum bisa memahami kerumitan yang ada di balik misteri itu. Belum mampu menerka apa sesungguhnya yang telah terjadi dan kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar, dia mendengar alunan suara harmonika. Sebuah lagu sendu yang mengisi sunyi malam itu. Sebuah lagu yang dimainkan dengan penuh perasaan. Gadis kecil itu memejamkan kedua kelopak matanya, menikmati setiap alunan musik yang mengalir di udara, masuk ke dalam relung hatinya. Sendu memang, tapi damai. Terusik oleh rasa ingin tahu, Belle bangkit berdiri dan melangkah mengikuti arah alunan harmonika itu. Siapa yang memainkannya? Langkahnya terhenti ketika permata kembarnya menangkap satu sosok anak laki-laki yang sangat dikenalnya. Gadis kecil itu tersenyum dan melangkah mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak Chall bisa main harmonika, ya. Yang tadi itu, lagu apa?" Gadis kecil itu menghempaskan bokongnya, duduk di samping Challaza. Jemari kanannya sibuk merapikan poninya, berusaha menutupi tulisan sewarna darah yang memalukan di kening mungilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ahhh, semoga Kak Chall tidak melihatnya!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/571/571112djs7d0vv4i.gif" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu masih sibuk merapikan poninya, dia tak menduga bahwa dia akan bertemu seseorang malam itu sehingga lupa menggunakan ikat kepala untuk menutupi keningnya. Untunglah yang ditemuinya adalah Challaza yang sudah dianggapnya sebagai kakak sendiri. Kalau yang ditemuinya adalah senior jahat seperti prefek ular, bisa habis dia dijadikan bulan-bulanan. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Oh...kau Belle. Ya begitulah. Belle bisa main harmonika juga?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu mengangguk pelan, sebisa mungkin tidak menggerakan poninya. Malu bila tulisan &lt;em&gt;&lt;em&gt;'Saya hanya penyihir muda yang payah dan belum bisa melakukan apa-apa serta masih perlu banyak belajar'&lt;/em&gt;&lt;/em&gt; di keningnya terlihat. Terus terang, tulisan itu membuatnya sangat sedih, rasanya dia seperti seorang penyihir kecil nakal yang tak bisa apa-apa. Padahal kemampuan sihir Belle termasuk bagus dan Belle bukan anak nakal. Gadis kecil itu sadar bahwa memang dia telah berbuat salah dengan menggunakan sihir di luar sekolah, tapi dia melakukan itu untuk membantu juniornya membetulkan payung. Bukan untuk melukai atau mengerjai orang lain. Seharusnya, tante gemuk yang seperti hansip itu bisa memberikan kompensasi dan tidak bertindak semena-mena terhadapnya. Bukankah orang dewasa seharusnya lebih bijaksana? Ah, ya sudahlah. Yang sudah terjadi tak bisa diulang lagi. Belle harus mempersiapkan hati untuk menjalani kehidupan dengan tulisan merah darah di dahinya untuk selamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa. Tidak terlalu jago seperti kakak, sih. Belle lebih menguasai piano dan gitar," ujar gadis kecil itu menjawab pertanyaan Challaza. Malam itu, angin sepertinya bertiup cukup kencang. Sejuk. Tapi angin itu membuat poni tipis si gadis kecil tersibak tanpa sempat dia tutupi. "Ah.." Gadis kecil itu buru-buru meletakkan kedua tangannya menutupi keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Aduh, pasti Kak Chall melihatnya!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Challaza jelas telah melihat jalinan aksara tolol di keningnya itu. Lihat saja bagaimana Challaza mengamati keningnya dengan tatapan menyelidiki. Dan sebentar lagi, kakaknya itu pasti akan bertanya. Siapapun pasti akan ingin tahu soal keningnya itu. Tapi, Belle tak keberatan menceritakan semuanya pada Challaza. Dia masih kesal dan ingin menumpahkan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Err...Belle, itu kenapa da..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Lumayan juga."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu menutup mulutnya kembali ketika seorang anak perempuan tiba-tiba datang mengomentari permainan harmonika Challaza. Belle dengan polosnya terpana melihat sebatang rokok tersemat di sela-sela jari seniornya itu. Dia belum pernah melihat seorang anak perempuan merokok. Teresa bilang, anak perempuan tidak sepantasnya merokok. Selain tidak baik untuk kesehatan, citra seorang perempuan yang merokok biasanya jadi negatif. Gadis kecil itu mengamati di tempat saat Challaza menyapa senior tersebut memperkenalkan diri, kemudian gadis kecil itu memutuskan untuk melambaikan tangan dan tersenyum pada seniornya itu. "Hai. Aku Belle."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Challaza kemudian kembali duduk dan menyandarkan kepala di batang pohon. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Hmm...Belle, kau percaya dengan adanya teman sejati?"&lt;/span&gt; Tiba-tiba Challaza melontarkan pertanyaan yang bagi seorang gadis kecil seperti Belle merupakan pertanyaan yang sukar dijawab. Gadis kecil itu menoleh menatap Challaza dengan ekspresi bingung yang kentara. Saat itulah dia menyadari ada sesuatu yang janggal dari kakaknya. Hidung anak laki-laki itu merah dan iris birunya yang indah terlihat tersaput oleh sesuatu yang bening. &lt;em&gt;Airmata?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak Chall... menangis?" ujarnya lirih. Nada khawatir tersirat dengan jelas dari intonasi suaranya yang lembut. "Kak Chall, tak apa-apa?" Terdiam sejenak. Gadis kecil itu mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Challaza mengenai teman sejati. Keningnya berkerut samar sementara Challaza kembali meniupkan harmonikanya, mengalunkan lagu sendu yang tadi dia dengar. Gadis kecil itu paham, kakaknya sedang sedih. &lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; apakah Belle percaya dengan adanya teman sejati sementara gadis kecil itu tak punya siapa-siapa yang bisa disebutnya sebagai sahabat? Ingatannya tentang teman-teman hanya sebatas kehidupannya di Hogwarts. Sebelumnya, dia tak punya kenangan apapun tentang 'teman'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu menunggu hingga lagu yang dimainkan oleh Challaza usai sebelum akhirnya dia membuka mulut dan menjawab seadanya, "Belle tak tahu soal sahabat sejati, Kak. Belle sebelum datang ke Hogwarts ini belum pernah punya teman sebaya. Ehm—di sekolah ini pun, belum ada yang bisa Belle sebut sahabat. Belle cuma punya banyak sekali kakak. Ada Kak Arshavin, Kak Artois, Kak Raye, Zeus dan... Kak Chall! Hehehe." Gadis kecil itu kemudian memeluk Challaza, dia hanya bisa menghibur dengan memberi sebuah pelukan untuk saat ini. "Kak Chall, jangan sedih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BRUGG!!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu melepaskan pelukannya ketika menyadari ada seseorang yang terjatuh di dekat mereka. Challaza dengan sigap menghampiri gadis itu dan mengangkatnya bersama seorang seniornya di klub drama ke pohon besar tempatnya duduk sekarang. Gadis kecil itu menggeser tubuhnya agar anak perempuan yang pingsan itu bisa dibaringkan dengan nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak Et kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/571/571112djs7d0vv4i.gif" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-7379133201188098188?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/7379133201188098188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/harmonika-gisell.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7379133201188098188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7379133201188098188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/harmonika-gisell.html' title='Harmonika Gisell'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-7979231043984817010</id><published>2009-12-29T08:31:00.000-08:00</published><updated>2009-12-30T03:23:53.637-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hogwarts Express 1985'/><title type='text'>Gerbong 5 : Kompartemen #13</title><content type='html'>Waktu berjalan demikian cepat, bukan? Tak terasa ini sudah tahun kedua bagi Belle menjadi seorang murid Hogwarts—menjadi penyihir. Dulu, di kereta Hogwart's Express ini, Belle bersama Challaza, kakak angkat yang ditemuinya di Leaky Cauldron. Tahun ini, Belle bersama kakak sepupunya. Sungguhan. Belle ternyata punya saudara dan itu berita yang sangat menyenangkan di luar dari kenyataan bahwa Belle lupa tentang kakak sepupunya itu. Yang tak disangka, adik Ms. Leona ternyata tahun ini pun akan masuk Hogwarts, Elliot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle masuk ke dalam kompartemen kosong yang ditemukan oleh Zeus dan langsung mengambil tempat duduk di samping jendela. Tempat favoritnya karena dia bisa melihat-lihat pemandangan dalam perjalanan menuju Stasiun Hogsmeade. Tubuhnya masih lemas tapi perasaannya sudah jauh lebih baik. Lagipula, Zeus berjanji akan membantunya mengingat sedikit demi sedikit tentang masa lalunya. Dari penuturan Zeus, Belle sedikit banyak bisa mengingat sebagian kecil tentang kehidupannya di Kastil Elsveta dulu. Bahwa dia mempunyai banyak teman sesama bangsawan di wilayah Novgorod, Rusia. Bahwa dia sejak berusia 5 tahun sudah pandai menggunakan sapu terbang dan sering mencuri-curi menggunakan sapu terbang milik ayahnya untuk bermain dengan Zeus. Pantas saja saat di kelas terbang, gagang sapu itu terasa demikian akrab dan mudah dikendalikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Sudah merasa lebih baik, Baby Belle?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menoleh, menatap kakak sepupunya sambil tersenyum hangat—senang dengan usapan lembut Zeus di kepalanya. "Sudah. Terimakasih, Zeus. Hehehe." Meski warna rambut Zeus sama seperti prefek ular yang Belle benci, tapi sifat Zeus sangat bertolak belakang dengan orang itu. Zeus sangat baik padanya, sangat memperhatikannya. Apalagi wajah Zeus mirip dengan almarhum ayah Belle. Belle seperti mempunyai seorang kakak kandung sekarang. Boris, si dragon cat, sekarang mendengkur pelan dalam buaiannya. Tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapannya kemudian beralih pada sosok anak laki-laki berambut pirang yang duduk di kursi di hadapannya, Elliot. "Elliot," panggilnya sambil tertawa terkekeh, "Apakah Ms. Leona juga mengajarimu pelajaran tentang etiket dan tata krama di rumah? Kakakmu itu guru yang keras tapi Belle sayang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Permisi masih ada tempat untukku?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, ada seseorang datang. Belle melemparkan senyum pada gadis pirang itu. Calon juniornya. "Halo. Tentu saja masih ada. Silakan masuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Ah, sebenarnya kakak jarang pulang ke rumah. Jadi aku tidak begitu tahu tentangnya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;JLEB.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya Belle salah memberikan pertanyaan pada Elliot. Belle baru ingat kalau Ms. Leona lebih sering berada di rumahnya ketimbang ada di rumah Elliot, bahkan tak jarang Ms. Leona menginap disana. Aduh, Belle bodoh sekali memberikan pertanyaan sedemikian rupa pada Elliot. "Ah, maaf."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Baby Belle, ini coklat dari Papa botak-mu."&lt;/span&gt; Zeus mengulurkan sebuah kotak yang katanya berisi coklat padanya. "Waaah... dari Papa Silver?! Sungguh?!" Gadis kecil itu menerima kotak tersebut dengan gembira tanpa mengetahui bahwa coklat di dalamnya berbentuk kodok dan bisa melompat-lompat persis seperti aslinya. Perasaan bersalah pada Elliot yang tadi ada di hatinya lenyap begitu saja. Dasar anak polos. Belle meletakkan kotak itu di pangkuannya lalu mengajak &lt;em&gt;dragon cat&lt;/em&gt;-nya bicara, "Boris, suka coklat tidak?" Tentu saja bayi kucing yang dikiranya naga itu tidak suka. Boris hanya mengeong pelan, kesal karena tidurnya terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Um, apa kakak Belle tahu tentang penyakit-penyakit di dunia sihir?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;A—apa?! Penyakit dunia sihir?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"A... apa, ya?" gumam Belle sembari menatap pada Elliot. Gadis kecil itu berusaha mengingat-ingat penyakit-penyakit yang mungkin pernah diderita oleh dia dan teman-temannya semasa di Hogwarts. "Hampir sama dengan penyakit muggle, sih. Kecuali kalau kamu salah pakai mantra dan mantra itu berbalik padamu, kadang itu bisa membuat hidungmu jadi panjang. Lalu, kalau salah buat ramuan, bisa-bisa seluruh tubuhmu penuh bisul. Belle cuma tahu itu saja, sih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle baru naik ke kelas dua. Jadi, jangan berharap kau bisa mengetahui banyak hal tentang dunia sihir pada gadis kecil yang bahkan dengan mudahnya percaya bahwa bayi kucing dalam gendongannya itu adalah seekor &lt;em&gt;dragon cat&lt;/em&gt;. Dengan tampang polos, Belle menyunggingkan seulas senyum manis untuk Elliot. Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Permisi—masih ada tempat kosong, kan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, seorang anak laki-laki yang dikenalinya di Diagon Alley masuk ke dalam kompartemen mereka. Anak yang mengira tante hansip gemuk waktu itu sebagai Erumpent. Belle sudah mengecek di buku tentang hewan-hewan sihir. Erumpent itu bentuknya seperti badak! Belle langsung terbahak-bahak saat melihat gambar hewan sihir itu dan membayangkan sosok si tante hansip gemuk. Untung saja, tante erumpent itu tidak melaporkan mereka sehingga sekarang mereka masih bisa naik ke Hogwarts Express. "Hey, Harvey. Masih ada, kok. Masuk saja," ujar gadis kecil itu ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle mengambil kotak coklat dari pangkuannya lalu membuka tutupnya tanpa melihat isinya. Dia mengulurkan kotak itu ke hadapan teman-teman sekompartemen—barangkali ada yang mau makan coklat bersama. "Ada yang mau? Ambil sa—"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AAAAHHHH!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-katanya terputus oleh teriakannya sendiri ketika dari dalam kotak itu berlompatan makhluk-makhluk berwarna coklat. Makhluk yang paling ditakuti oleh gadis kecil itu karena bentuknya yang menjijikan dan berlendir. Demi dagu Merlin yang bengkak penuh bisul. Belle takut sama kodok. Gadis kecil yang ketakutan itu melempar kotak coklat kodoknya ke langit-langit dan meringkuk di kursinya sendiri sambil memeluk Boris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huwaaa—Jauhkan kodok-kodok itu dari Belle!! Zeeeuuussss... itu bukan coklat! Itu kodokkkk! Huwaaaa!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;~*~*~*~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;em&gt;Ya Tuhan.. Ya Tuhan..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle terkejut setengah mati ketika banyak sekali kodok yang berlompatan keluar dari kotak coklat yang dipegangnya. Belle sangat amat takut pada kodok. Dan itu satu-satunya hal yang dia takuti setelah petir. Selain itu, Belle tak takut sama sekali. Tahun ini benar-benar, deh. Dua kali sudah dihadapkan dengan hal-hal yang dia takuti, beruntun pula. Gadis kecil itu tahu bahwa dia tak mungkin menyalahkan Silver yang bermaksud baik memberikan coklat itu padanya. Silver tak tahu bahwa gadis kecil berambut keemasan ini takut setengah mati pada yang namanya kodok. Kalau saja yang melompat-lompat keluar itu bukan berbentuk kodok, pasti saat ini Belle sudah cekikikan menangkapi bersama kakak sepupunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat tahun lalu, Belle sedang bermain pasir di halaman rumahnya sendirian. Ya, Belle tak punya teman bermain selama tinggal di London. Dia lebih suka tinggal di rumah bersama Teresa, Nonna dan Poppa-nya. Jangan lupa Ms. Leona, guru privatnya yang sangat ke-bangsawan-an gayanya. Saat itu Belle sedang mencoba membuat istana pasir yang besar. Dia sudah membawa ember, sekop sampai bebek-bebekkan. Ketika dia sedang asyik bermain, tiba-tiba saja hujan deras turun. Areal kecil berpasir tempatnya bermain seketika berubah menjadi kolam. Belle yang kesal karena istana pasirnya hancur, menangis di tempat. Dan tiba-tiba seekor kodok melompat dan mendarat di wajah mungilnya. Menempelkan lendir yang menjijikan. Belle dengan cepat menepis kodok itu namun seekor kodok lain yang lebih besar datang dan melompat ke arahnya. Setelah itu muncul lagi beberapa kodok. Entah apa yang membuat kodok-kodok itu berdatangan ke arahnya, yang pasti saat itu Belle kecil sangat ketakutan. Wajah para kodok yang seperti monster itu terus terngiang di benaknya, rasa lengket kulit yang menempel di wajahnya pun masih terasa jelas tiap kali gadis kecil itu melihat kodok melompat. &lt;em&gt;Hiiy—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Hey hey, senior Elsveta,"&lt;/span&gt; bisik Zeus tiba-tiba, &lt;span style="color: grey;"&gt;"ada yang bertanya padamu, tuh. Buka mulutmu, ngomong-ngomong."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha?" Siapa yang bertanya? Hap. Sesuatu yang manis dan bergerak-gerak dimasukkan ke dalam mulutnya yang sedang terbuka dengan cepat. Enak. Apa itu? &lt;span style="color: grey;"&gt;"Enak, bukan?"&lt;/span&gt; Belle mengangguk polos. Coklat tentu saja enak. Eh? Coklat? Coklat berbentuk kodok yang tadi? Jijik. Tapi enak. Belle berusaha mati-matian untuk tidak membayangkan bahwa barusan dia makan kodok dengan menatap seorang junior yang tadi bertanya padanya soal asrama sembari merapikan poninya sebisa mungkin untuk menutupi sebaris tulisan berwarna merah darah yang tertera di keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, asrama yang mana pun bagus, kok."                     &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-7979231043984817010?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/7979231043984817010/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/gerbong-5-kompartemen-13.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7979231043984817010'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7979231043984817010'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/gerbong-5-kompartemen-13.html' title='Gerbong 5 : Kompartemen #13'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-4577779802414471213</id><published>2009-12-23T00:05:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T20:56:31.584-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON! (Belle Pov)</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;&lt;em&gt;"Tunggu aku di depan Fleur de Lys, Belle."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang tadi diucapkan oleh sosok besar berkepala botak bersinar yang telah dianggap sebagai Papa oleh gadis kecil bernama Nabelle Marion Elsveta. Gadis kecil bersurai keemasan itu memang sudah kehilangan ayah saat usianya yang ketujuh, jika kau mau tahu. Ayah Belle, Boris, adalah seorang auror hebat yang menjadi korban dalam peristiwa rusuh saat kejatuhan Pangeran Kegelapan. Sosok yang menjadi panutan dan selalu dirindukan oleh Belle. Eh? Kau lebih ingin tahu soal bagaimana Belle bisa menganggap Silver sebagai Papa? Baiklah, simak kisahnya baik-baik karena kisah ini takkan diulangi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahun yang lalu, di Diagon Alley juga, saat Belle pertama kali berkenalan dengan dunia sihir yang sama sekali asing baginya. Gadis kecil itu sedang berjalan-jalan sendirian saat indera pendengarannya yang tajam mendengar beberapa orang sedang membicarakan sebuah hal yang menarik perhatian Belle. Jin! Ya, salah seorang dari mereka menunjuk ke arah Silver dan mengatakan bahwa jika kepala botak Silver diusap, maka akan keluar sosok Jin dari sana. Seperti jin dalam kisah Aladdin yang akan memberikan tiga buah permohonan pada orang yang mengusap lampu tempatnya bersemayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tentu bisa membayangkan apa kira-kira yang diperbuat oleh Belle saat mendengar pernyataan tersebut, kan? Jangan lupa tingkat kepolosan gadis kecil satu ini memang terkadang membuat orang hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum gemas. Belle menghampiri Silver saat itu dan dengan polosnya bertanya apakah dia diperbolehkan mengusap kepala botak milik Silver karena dia ingin memohon sesuatu. Entah bagaimana cara Silver meresponi pertanyaan naif tersebut hingga akhirnya Belle sungguh-sungguh dihadiahi tiga buah permohonan darinya. Dan permohonan pertama yang diajukan Belle adalah keinginan supaya Silver menjadi pengganti Daddy-nya yang sudah tiada. &lt;em&gt;End of story.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janji temu mereka di depan Fleur de Lys kali ini berhubungan dengan permohonan kedua Belle pada Silver. Gadis kecil itu meminta seekor Naga Kerdil untuk dipelihara di Hogwarts. Berbekal ilmu per-naga-an dari Arshavin dan buku Ensiklopedia Naga, Belle akhirnya memutuskan dengan paksa bahwa Naga Kerdil itu bisa dibonsai dengan sihir menjadi sebesar anak anjing. Belle sangat yakin bahwa Papa barunya yang diduga sebagai jelmaan jin pasti mampu membonsai seekor Naga Kerdil. Silver itu super hebat, lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu duduk di sebuah meja berpayung di dekat pintu masuk toko. Heart, gitar pink-nya, diletakkan di kursi sebelahnya. Di tempatnya duduk, harum bunga-bunga iris bisa tercium. Suasana sore itu memang sejuk, tak seterik siang hari. Belle mencetuk-cetukan jemarinya di atas meja—tak sabar menunggu Silver datang membawakan seekor naga untuknya. Hatinya dipenuhi dengan euforia dan kegairahan. Kedua pipinya merona merah karena semangat. Sore itu, Belle mengenakan terusan coklat dengan renda-renda putih, dipadu dengan vest hitam tanpa lengan. Sebuah topi anyaman bertengger manis di kepalanya. Kedua kaki mungilnya mengenakan sandal bertali dengan sol datar. Rambut pirangnya yang biasanya panjang sepunggung, kini telah dipangkas sebatas bahu. Penampilan baru Belle ini entah kenapa malah memperjelas kesan polos pada dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Naga. Aku akan punya seekor Naga! Aku akan memamerkannya pada Kak Arsha nanti.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan menunggu, gadis kecil itu meraih gitarnya dan mulai memetik sebuah alunan lagu. Belle memejamkan mata, mulai terbuai dalam petikan gitarnya dan bersenandung lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Papa, cepatlah datang. I want my dragon.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;OOC:&lt;br /&gt;- Timeline sore sekitar jam 3.30&lt;br /&gt;- &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/3.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Penampilan Belle&lt;/a&gt; - pakaiannya persis spt di foto&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-4577779802414471213?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/4577779802414471213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/4577779802414471213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/4577779802414471213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon.html' title='I Want My DRAGON! (Belle Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-3793205664569052904</id><published>2009-12-23T00:04:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T20:52:23.144-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (SILVER Pov)</title><content type='html'>Silver tersenyum dari dalam toko bunga sambil memandangi sesosok kecil seorang gadis yang tengah menunggu seseorang di meja diluar toko. Didalam Silver sedang menunggu penjual bunga untuk membuat satu &lt;em&gt;bucket&lt;/em&gt; bunga paling indah bagi seorang Silver. Tentu saja bunga mawar yang berwarna merah muda lembut. Dari saku jubahnya, Silver mengeluarkan sebuah kaca berukuran sedang dan ia menatap dirinya sendiri di kaca itu. Seperti biasa, mengecek mata, hidung, mulut, gigi, senyuman, kepala dan keseluruhan badannya. Matanya masih terlihat menyenangkan, hidungnya juga tidak ada &lt;em&gt;mencong&lt;/em&gt; sedikitpun. Mulutnya masih tetap seksi seperti biasa. Giginya tak kalah mengkilatnya dengan kepala botak tanpa rabut sehelai nya itu. Senyuman? Oooh, tak ada yang bisa tahan jika melihat senyumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puuur—fect&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berjongkok dan mengintip kebalik kandang kucing yang sedari tadi ia bawa-bawa. Seekor kucing kecil lucu sedang tidur nyenyak diatas bantal empuk berwarna biru. Kelihatan nyaman sekali bayi kucing itu. Ini tentu saja bukan lah milik Silver karena ia sangat tidak bisa akrab dengan kucing-kucing. Ingat peliharaannya dulu di Hogwarts yang hanya bertahan sampai ia kelas 3? Betul—Si Kucing. Tiada hari tanpa bertengkar, cakar-cakaran dan kejar-kejaran antara ia dan Si Kucing. Sampai pernah wajah tampannya dicakar dengan nistanya oleh Si Kucing tak berperasaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu untuk siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja untuk gadis yang sedang menunggu di luar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;”Ini bunga anda yang sudah saya susun seharga uang yang tadi anda bayarkan,”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silver berdiri bangkit sambil mengangkat kandang kucing nya dengan hati-hati. Ia tersenyum lebar sambil memamerkan gigi mengkilat nan indahnya kepada sang penjual di hadapannya. “Ah—terima kasih. Semoga toko mu tambah laku dengan kedatanganku saat ini,” ujar Silver sambil menerima &lt;em&gt;bucket&lt;/em&gt; bunga dari tangan si penjual. Ia melebarkan kedua tangannya sambil menghirup udara segar yang wangi semerbak bunga-bungaan. “Kepalaku telah memberikan energi positif bagi para bunga-bunga cantik ini,” ujarnya lagi sambil memandang sekeliling ruangan dengan perasaan bangga. “Cao!” Silver berujar sambil melangkahkan kakinya keluar dari toko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt;”Ah. I—iya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo gadis kecil yang manis,” ujar Silver dari belakang Belle. Tangannya memberikan bunga kepada Belle dari sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC: &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/Cute-Animal-09.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Kucing&lt;/a&gt; )&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-3793205664569052904?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/3793205664569052904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3793205664569052904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3793205664569052904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov.html' title='I Want My DRAGON (SILVER Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-8424613108321957646</id><published>2009-12-23T00:03:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T20:55:42.339-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Belle Pov)</title><content type='html'>&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;I will have a tiny winy little dragon&lt;br /&gt;From my papa.&lt;br /&gt;If ya wanna know ow ow.&lt;br /&gt;I will have a tiny winy little dragon&lt;br /&gt;And yes you will wish...&lt;br /&gt;it were yours!&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah lagu riang mengalun dari petikan gitar dan nyanyian Belle yang merdu. Semua yang mendengar pasti bisa memahami betapa girangnya hati si gadis kecil saat itu. Wajahnya penuh dengan senyum seolah-olah gadis kecil itu tak punya masalah. Menunggu bukanlah sesuatu yang menyebalkan bagi si gadis kecil berambut keemasan itu selama Heart, gitarnya, menemani dia. Lagipula, Silver pasti akan segera datang menyusulnya kesana setelah selesai dengan urusannya di Fleur de Lys.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semilir angin bertiup menyelinap di sela-sela surai keemasan Belle yang halus. Cuaca sore itu memang membuat perasaan lebih tenang dan santai. Gadis kecil itu mengulang-ulang nyanyiannya dengan gembira sampai Silver tiba-tiba menyapanya dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Halo gadis kecil yang manis,"&lt;/span&gt; ujar Silver sembari memberikan sebuket mawar merah muda yang sangat indah pada Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Waaah. Indah sekali. Terimakasih, Papa! Belle suka sekali dengan bunga!"&lt;/strong&gt; pekik Belle kegirangan, gadis kecil itu meletakkan kembali gitarnya di tanah dengan disandarkan ke kursinya sendiri, lalu mengulurkan kedua tangannya untuk menerima buket bunga dari Silver. Wajah mungilnya kini terhias dengan semburat kemerahan pada kedua sisinya. Senyum semakin merekah di wajah manisnya. Gadis kecil itu memang sangat menyukai bunga, terutama mawar. Entah darimana Silver mengetahuinya. Belle yang polos itu berpikir bahwa Jin memang sepantasnya tahu segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permata abu-abu mudanya memperhatikan gerak-gerik Silver yang kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Belle, sementara hidung gadis kecil itu menempel pada salah satu mahkota bunga mawar. Sudut matanya membentuk senyuman. Belle ingat salah satu adegan dalam buku ceritanya yang mirip dengan yang sekarang dialaminya. Di dalam buku cerita Belle, situasi seperti sekarang ini disebut dengan kencan. Dan kencan adalah salah satu tahap sebelum anak laki-laki dan perempuan menjadi suami-istri nantinya. Meski gadis kecil itu belum mengerti sama sekali tentang cinta, tetap saja hatinya bahagia. Apalagi cita-citanya ingin menjadi istri Silver di masa datang. Ya, kau benar. Silver bisa dibilang adalah cinta monyet pertama Belle. Hahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Jadi, Pa. Mana naga Belle?"&lt;/strong&gt; ujar gadis itu sambil nyengir—dia sudah tak sabar.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-8424613108321957646?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/8424613108321957646/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8424613108321957646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8424613108321957646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov.html' title='I Want My DRAGON (Belle Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-117495352863833047</id><published>2009-12-23T00:02:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T20:57:34.330-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Silver Pov)</title><content type='html'>Kira-kira bagaimana ya reaksi dari Belle ketika menerima bunga dari Silver? Itu adalah yang pemuda dewasa ini terus pikirkan. Apakah akan bereaksi seperti layaknya gadis-gadis normal yang akan menjerit kegirangan dan lalu bersujud memasrahkan diri kepada Silver. Heu—nice! Atau malah bertingkah seperti anak-anak perempuan abnormal layaknya gadis-gadis pada jaman Silver sekolah dulu? Jadi ingat masa-masa muda. Gadis-gadis zaman Silver sekolah itu adalah tipe gadis-gadis pemalu yang sulit jujur dengan perasaan mereka sendri. Di puji-puji dan diberi hadiah, mereka malah menolak, itu artinya jual mahal. Malah &lt;em&gt;ngeloyor&lt;/em&gt; pergi dan buang muka itu artinya mereka pemalu. Kalau Roxy, langsung menggigit atau menindas, artinya gadis pemalu yang jual mahal dan menutupi perasaannya dengan menghantam Silver. Manis. Manis. Manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt; "Waaah. Indah sekali. Terimakasih, Papa! Belle suka sekali dengan bunga!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah dia normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silver tersenyum lembut ketika melihat gadis kecil itu terlihat bahagia dengan bunga pemberian Silver. Dan tiba-tiba senyumannya menghilang. Ia berbalik dan menatap matahari yang cahaya nya di pantulkan oleh kepala indah Silver. &lt;em&gt;’Mengapa. Mengapa aku merasa sudah sangat tua di umur yang masih sangat belia ini?’&lt;/em&gt; katakana saja itu adalah ratapan singa melas. &lt;em&gt;Back to topic&lt;/em&gt;. Silver bisa melihat dengan jelas semburat merah merona di kedua pipi Belle. Silver terharu, baru pertama kali ada yang begini jujur dengan perasaannya terhadap Silver.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nice, reaksi bagus dari seorang gadis,” ujar Silver sambil mengacungkan ibu jarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini pemuda itu berjalan memutari meja dan duduk tepat di hadapan gadis kecil yang rambutnya berbeda dengan apa yang ia ingat dari tahun lalu. Tapi tak masalah, ia tetap semanis gulali. Jika sudah duduk begini, memang lebih enak sambil minum-minum, supaya ia terlihat lebih keren atau elegan &lt;em&gt; gitu&lt;/em&gt;. Tapi sayang sekali mereka bukan duduk-duduk di kafe melainkan di depan toko bunga. &lt;span style="color: gray;"&gt; "Jadi, Pa. Mana naga Belle?"&lt;/span&gt; Gadis itu terlihat tak sabar dan Silver terdiam selama beberapa detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aaaah! Ya ya, ini dia,” ujarnya sambil menaruh kandang kucing nya keatas meja. Sebenarnya ia agak tidak enak berbohong begini kepada Belle. Tapi apa mau dikata. Naga itu sangat berbahaya meski badannya sekerdil apapun. Mungkin Belle tidak tahu, tetapi batuk atau bersinnya naga bisa menimbulkan percikkan api. Dan juga, Silver yakin binatang semengerikan itu tak akan lulus sensor Hogwarts bila ingin di jadikan sebagai binatang peliharaan. Jadilah Silver memiliki ide untuk sedikit menggunakan keahlian berakting nya. Ia membuka kandang kucing nya dan mengarahkan mulut kandang kepada Belle agar gadis kecil itu bisa melihat bayi kucing kecil lucu didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini adalah naga yang tak biasa,” ujar Silver sambil menggosok kepalanya—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—terlalu keras.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-117495352863833047?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/117495352863833047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/117495352863833047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/117495352863833047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_23.html' title='I Want My DRAGON (Silver Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-1071061673001066946</id><published>2009-12-23T00:01:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:00:23.041-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Belle Pov)</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Dear Papa Silver yang baik,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Papa, Belle sudah memikirkan akan meminta apa untuk permohonan kedua.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Belle seharian menghabiskan waktu di perpustakaan bersama seorang kakak senior yang baik sekali.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Kami membahas tentang Naga dari buku Ensiklopedia Naga. Bukunya tebal sekali, lho!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Belle sampai terjatuh waktu mengambilnya dan kaki Belle terkilir. Hehehe.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Ternyata Naga itu besar dan cantik sekali, ya!! Apalagi Naga Kerdil dengan sayapnya yang mungil.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Belle suka!!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Jadi, untuk permohonan kedua ini, Belle ingin seekor Naga Kerdil yang dibonsai!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Papa pasti bisa kan menyihir Naga itu menjadi kecil seperti anak anjing? Papa pasti bisa.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Soalnya Papa Silver itu kan jelmaan jin yang bisa apa saja.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Jangan lupa, ya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Sampai jumpa di Leaky Cauldron saat tahun ajaran baru!&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;With love,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;&lt;strong&gt;Nabelle M. Elsveta&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:papyrus;font-size:130%;"  &gt;Your future wife (hihi)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Belle masih ingat dengan jelas isi surat yang dia kirimkan lewat burung hantu sekolah sehari sebelum liburan dimulai dan tentu saja dia ingat dengan jelas bahwa dia minta Naga—bukan kucing. Bukan berarti Belle benci kucing, sih. Kucing itu hewan yang lucu, lembut dan manis meski terkadang judes dan semaunya sendiri. Dan tahun lalu Belle berniat membeli seekor kucing Sphynx di toko hewan sihir meski akhirnya membeli dua ekor puffskein karena kucing yang dia inginkan tak dijual disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimik wajah gadis kecil itu terlihat sangat bersemangat ketika Silver membuka kandang yang sejak tadi dibawanya dan mengarahkan mulut kandang itu sehingga Belle bisa melihat seekor—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Naga mungil?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—bayi kucing kecil berbulu abu-abu muda, berloreng hitam dan beberapa bercak putih di wajahnya. Iris mata bayi kucing itu berwarna biru, sebiru langit. Belle tak bisa menyangkal bahwa bayi kucing itu amat sangat lucu. Tapi itu bukan Naga. Senyum di wajah Belle menghilang, meski binar matanya tetap ada karena tertarik dengan si bayi kucing. Gadis kecil itu mendongakkan kepala—memandangi Silver yang kini menggosok kepala botaknya sendiri. Terlalu keras sepertinya karena di kepala botaknya sekarang ada tanda merah. Belle terkikik pelan melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Papa, ini kucing. Bukan naga...," &lt;/strong&gt;ujar Belle pelan. Masa Silver tidak bisa membedakan antara kucing dan naga? Seharusnya Silver jauh lebih tahu daripada Belle, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Ini adalah naga yang tak biasa.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle terdiam sejenak, mencerna perkataan Silver. Kata-kata Silver barusan sepertinya cukup memuaskan bagi seorang gadis kecil yang naif seperti Belle. Dia percaya mentah-mentah pada penjelasan Silver sehingga mulutnya menganga dengan takjub. Mau tahu apa yang ada dalam pikirannya? Ya, dia pikir Silver telah menyihir Naga Kerdil-nya menjadi seekor bayi kucing supaya boleh dibawa ke Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"милый!! прекрасный!! Papa hebat!"&lt;/strong&gt; seru gadis itu kegirangan, &lt;strong&gt;"&lt;em&gt;I have a Dragon Cat&lt;/em&gt;!!"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan Belle memasukkan kedua tangannya dan mengeluarkan bayi kucing itu dari dalam kandang, mendekatkan hidung bayi kucing itu ke hidungnya sendiri. Belle menatap kedua iris biru langit si bayi kucing sambil tersenyum. &lt;strong&gt;"&lt;em&gt;Hello little dragon cat&lt;/em&gt;. Namaku Belle. Mulai sekarang namamu adalah...,"&lt;/strong&gt; terdiam sejenak, &lt;strong&gt;"Boris! Seperti nama Daddy."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mudah bukan membuat Belle percaya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"милый!! прекрасный!! : Awesome, Beautiful&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-1071061673001066946?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/1071061673001066946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_23.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1071061673001066946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1071061673001066946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_23.html' title='I Want My DRAGON (Belle Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-18808945354624561</id><published>2009-12-23T00:00:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:01:17.762-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Silver Pov)</title><content type='html'>Senyumannya tetap ia pasang untuk menutupi wajah khawatirnya. Ia khawatir kalau gadis yang membawa gitar berwarna merah muda itu menciumi kebohongan yang baru saja Silver katakan. Bisa gawat nanti jika gadis itu kecewa dan lalu membenci Silver dan tak ingin lagi melihat Silver. Sungguh, ia tak bisa hidup tanpa wanita. Err—iya dia memang masih kecil, tapi suatu saat tentu akan menjadi wanita bukan? Ia jadi teringat Roxy setiap melihat gitar. Dulu ketika Roxy ulang tahun, Silver pernah memberikan wanita itu sebuah gitar dengan ukiran namanya di gitar itu. Ia jadi penasaran sekarang pun gitar itu masih ada tidak ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Silver mengarahkan mulut kandang tersebut kearah Belle, pemuda ini bisa melihat betapa bersemangatnya Belle menanti-nanti dihadapannya. Mungkin gadis itu kini sedang menerka-nerka kira-kira naga seperti apa yang dibawakan oleh Silver untuknya. Sungguh, pemuda yang sangat mencintai wanita dan pernah bersumpah bahwa tak akan membuat gadis-gadis kecewa ini menjadi agak khawatir. Kalau sampai Belle menangis karena di bohongi, Silver merasa tak lagi pantas berada di dunia ini. Tapi—tidak juga sih. Heu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi Belle berubah. Oh no!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt; "Papa, ini kucing. Bukan naga...,"&lt;/span&gt; Wajah polos Belle terangkat dan memandangi Silver dengan perasaan heran. Silver berusaha menyembunyikan perasaan bersalah nya dengan tersenyum amat sangat lebar dan mengatakan bahwa itu adalah naga yang tak biasa. Lalu Belle terdiam lama sambil menatapi bayi kucing yang sudah tak lagi tertidur. Hening beberapa detik itu serasa hening selama jutaan tahun dan Silver rasanya ingin guling-guling di lantai karena tidak tahan terhadap atmosfer mencekam ini. Hweh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt; "милый!! прекрасный!! Papa hebat!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He? Tadi itu bahasa apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt; "I have a Dragon Cat!!"&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hooo.”Silver takjub melihat kepolosan tingkat dewa dari gadis dihadapannya. Ia percaya bahkan ia mempunyai pemikiran tersendiri tentang tipe &lt;em&gt;naga&lt;/em&gt; itu. &lt;em&gt;Dragon cat&lt;/em&gt;, eh? Bagus juga. Silver ikutan tersenyum riang ketika melihat Belle mengangkat kucing itu dan mengajak nya mengobrol. Perasaan lega kini menyeruak dari dalam diri Silver dan ia pun menghela napas panjang. “Kau suka dia kan? Dia err—sudah terlatih untuk bisa memakan makanan kucing loh. Sungguh err—praktis kan?” ujar Silver lagi. Ia berkata begitu agar Belle tidak repot-repot mencari daging atau makanan naga untuk di berikan kepada Boris nya. Silver memanjangkan tangannya dan menepuk-nepuk pelan kepala Belle kecil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-18808945354624561?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/18808945354624561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_6435.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/18808945354624561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/18808945354624561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_6435.html' title='I Want My DRAGON (Silver Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-1905945714932255689</id><published>2009-12-22T23:59:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:03:07.284-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (ZEUS Pov)</title><content type='html'>Di balik sebuah pohon, di sebuah meja berpayung, seorang bocah laki-laki berambut keperakan nampak tertidur. Tubuh kurusnya bersandar pada sandaran kursi dan kedua kakinya yang panjang dengan santai diletakkan di atas meja. Kedua kelopak matanya yang tertutup menutupi iris kelabu mudanya yang indah. Surai peraknya yang menjuntai sesekali melambai dihembus sang angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus, demikian dia disebut—tengah berkelana kembali ke masa kecilnya di Rusia. Lima tahun lamanya Zeus dirawat dan dibesarkan di kastil Elsveta dan tak sekalipun dia bertemu dengan kedua orangtuanya. Dia tak tahu menahu bahwa Grandpa Elsveta-lah yang melarang kedua orangtuanya datang menemui dia disana. Ya, Zeus tumbuh tanpa mengenal kedua orangtuanya. Lima tahun penting dalam pertumbuhannya dihabiskan bersama keluarga Elsveta, terutama bersama adik sepupu satu-satunya—Nabelle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu, dengan surai keemasan membingkai wajah mungilnya, selalu tertawa riang. Mereka berdua tak pernah terlihat terpisah bahkan mereka berbagi kamar di kastil Elsveta sekalipun telah disediakan kamar masing-masing. Zeus yang sebatang kara mencurahkan seluruh kasih sayangnya sebagai seorang kakak pada Nabelle. Menghormati Boris dan Teresa, kedua orangtua Nabelle seperti orangtuanya sendiri. Kehidupan yang Zeus jalani selama lima tahun itu bisa dibilang adalah kehidupan yang bahagia sehingga dia tak terlalu memikirkan siapa orangtuanya. Sampai suatu hari Christoff yang mengaku sebagai ayahnya datang ke kastil Elsveta bersama dua orang teman sesama pelahap maut, membuat keributan dan membawa duka mendalam bagi penghuni kastil Elsveta dan juga dirinya sendiri. Dia dipisahkan dari adik sepupu satu-satunya dengan paksa. Dibawa pulang ke rumah yang tak dikenalnya. Hidup bersama ibu dan adik yang tak dikenalnya. Asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Jadi, Pa. Mana naga Belle?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran perlahan menyentuh benaknya. Samar-samar terdengar di telinganya, suara seorang gadis kecil yang duduk tak jauh dari mejanya. Belle. &lt;em&gt;Gadis kecil itu bernama Belle?&lt;/em&gt; Kedua kelopak matanya tiba-tiba terbuka. Sadar sepenuhnya. Bocah itu terduduk, menurunkan kedua kakinya ke tanah. Iris kelabunya mencari-cari sumber suara. Dan dilihatnya seorang gadis kecil berambut pirang duduk membelakangi dia, terlihat sedang bersama seorang pria botak yang dipanggilnya Papa. Perawakan gadis kecil itu mirip dengan Baby Belle-nya hanya saja gadis di hadapannya itu lebih tinggi tubuhnya. Tentu saja, lima tahun sudah dia dipisahkan dari adik sepupunya itu. Waktu lima tahun cukup untuk membawa perubahan pada tinggi badan seseorang, bukan? Dirinya sendiri sudah banyak berubah. Namun, gadis kecil di hadapannya itu punya ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Salah orang?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi kecewa jelas terlihat di wajah rupawan si bocah laki-laki. Punggungnya kembali disandarkan di kursi, kepalanya tertunduk. Meski begitu, telinganya tetap mendengarkan percakapan sepasang ayah-anak tersebut. Menarik. Si gadis kecil mengira dia diberikan seekor naga, sebaliknya si ayah terlihat canggung karena hanya bisa memberikan seekor bayi kucing. Segaris senyum terlukis saat dia mendengar nada kecewa si gadis kecil berubah dengan cepat hanya karena sebuah alasan tak masuk akal yang dibuat ayahnya. Naga yang tak biasa, eh? Gadis kecil itu malah menyebutnya dragon cat. Kepolosan luar biasa, sama seperti adik sepupunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata selanjutnya yang diujarkan oleh si gadis kecil pada kucingnya memberikan tamparan keras pada Zeus. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Boris! Seperti nama Daddy."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boris. Hey, itu nama dari ayah Nabelle yang telah tiada. Dan gadis kecil itu juga bilang itu adalah nama &lt;em&gt;'daddy&lt;/em&gt;'-nya. Baby Belle-nya juga menyebut Boris dengan sapaan Daddy. Dia juga sempat mendengar gadis itu berbicara dalam bahasa Rusia. Jadi, siapa si botak yang dipanggil papa kalau gadis kecil itu memang Baby Belle-nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus segera bangkit dari kursinya dan berlari dengan cepat menghampiri meja dimana gadis kecil yang diduganya sebagai Baby Belle berada. Adrenalin terpacu di tubuhnya. Jantungnya berdebar keras. Dia harus memastikan bahwa gadis itu benar-benar adik sepupunya. Dia harus melihat wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baby Belle? Kaukah itu?" ujar Zeus dengan suara keras. Terlalu bersemangat. Bocah laki-laki itu tak menggubris si botak yang mungkin menatapnya dengan bingung. Fokusnya hanya pada si gadis berambut pirang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nama diri yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama ayah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepolosan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perawakan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya mustahil jika kali ini dia salah orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-1905945714932255689?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/1905945714932255689/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1905945714932255689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1905945714932255689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov.html' title='I Want My DRAGON (ZEUS Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-3232656235864166906</id><published>2009-12-22T23:58:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:04:10.719-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Belle Pov)</title><content type='html'>&lt;span style="color: grey;"&gt;“Hooo. Kau suka dia kan? Dia err—sudah terlatih untuk bisa memakan makanan kucing loh. Sungguh err—praktis kan?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini gantian Belle yang ber—&lt;strong&gt;"Hooo..."&lt;/strong&gt;—ria mendengar penjelasan Silver tentang dragon cat-nya. Belle tak menyangka bahwa Silver akan memikirkan sampai sejauh itu. Tadinya dia pikir, dia harus membantu dragon cat-nya berburu mangsa setiap hari. Menurut buku Ensiklopedia Naga, satu ekor naga itu dalam satu hari bisa menghabiskan 10 ekor sapi gemuk! Nah, bagaimana caranya Belle bisa menemukan sepuluh ekor sapi? Memang Boris itu masih bayi, tapi kalau sudah besar nanti, Belle tidak tahu akan tumbuh sebesar apa. Meski bentuknya kucing, tetap saja Boris itu seekor Naga. Dan Naga itu besar! Makannya banyak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Papa hebat! Bagaimana cara melatihnya? Tadinya Belle pikir setiap hari harus berburu sapi untuk Boris, lho!"&lt;/strong&gt; ujar gadis kecil itu bersemangat—masih mencium-ciumi Boris yang mungil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle dengan iseng meniup-niup hidung Boris. Belle ingin membuat kucing itu terbatuk sedikit. Gadis kecil itu penasaran, apakah Boris akan mengeluarkan api jika terbatuk atau tidak. Tapi, Boris hanya mendengus lalu menguap. Kedua mata biru langitnya yang mungil terlihat menyipit sekarang, sepertinya ngantuk. Perlahan Belle mengembalikan Boris kembali ke kandangnya untuk tidur. Mungkin karena disihir menjadi kucing, seekor Naga jadi pengantuk juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hehe. Boris lucu sekali ya, Pa! Belle suka sekali! Tapi, kenapa dia tidak menyemburkan api, ya?"&lt;/strong&gt; ujar Belle sambil tersenyum manis dan kembali melontarkan pertanyaan polosnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Baby Belle? Kaukah itu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Eh? Baby Belle? Aku?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu spontan menolehkan kepalanya ke kiri. Seorang anak laki-laki tampan dengan surai pirang platina telah berdiri di sampingnya dengan ekspresi tak teridentifikasi. &lt;em&gt;Siapa?&lt;/em&gt; Belle mengerucutkan bibirnya, keningnya berkerut. Bingung. Belle tak mengenali anak laki-laki yang rambutnya membuat dia teringat pada prefek ular menyebalkan di Hogwarts itu. Lantas, darimana anak laki-laki itu mengetahui namanya? Bahkan menyebutnya dengan embel-embel Baby segala. Tapi, wajahnya memang terasa familiar. Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kamu siapa? Kok tahu nama Belle?"&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-3232656235864166906?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/3232656235864166906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3232656235864166906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3232656235864166906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_22.html' title='I Want My DRAGON (Belle Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-8693602235840168851</id><published>2009-12-22T23:57:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:04:47.775-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (SILVER Pov)</title><content type='html'>Pernah dengar kalau satu kebohongan akan membawa kepada kebohongan yang lain? Itu nampaknya benar adanya jika melihat kepada situasi yang sedang Silver hadapi sekarang ini. Ia berbohong tentang kucing ini dan ini menimbulkan banyak pertanyaan lain dari si gadis kecil yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Dia itu—ravenclaw ya? Pantas saja. Anak-anak Gryffindor setahu Silver juga mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, namun berbeda dengan Ravenclaw. Para singa itu akan meng&lt;em&gt;explore&lt;/em&gt; sendiri hal itu dengan suatu kegiatan yang terlihat—meski ujung-ujungnya mereka akan merusuh. Dan satu ketakutan lagi setelah kelegaan menghampirinya. Biasanya pertanyaan-pertanyaan itu akan membawa kepada suatu akhir yang justru akan membongkar kebohongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia harus menghentikan pertanyaan Belle!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Err—terdengar seperti cerita &lt;em&gt;action&lt;/em&gt; sekarang. Ehem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt; "Papa hebat! Bagaimana cara melatihnya? Tadinya Belle pikir setiap hari harus berburu sapi untuk Boris, lho!"&lt;/span&gt; gadis kecil itu langsung saja percaya dan pertanyaan polos yang masuk akal nya membuat Silver kaku. Ia masih tersenyum sambil menunjukkan gigi putih kinclong nan mengkilapnya, tapi ia merasa gigi itu rasanya akan rontok sebentar lagi. Untung saja dia memang sudah botak dari sananya, jadi tak perlu khawatir rambut nya akan gugur satu persatu. Silver menggaruk-garuk pelan pipi nya yang kecoklatan selagi otaknya berpikir. Dia benar-benar butuh air minum untuk membantu berbicara dengan lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Err—gampang kok!” ujar Silver sambil mengacungkan ibu jarinya. Tiba-tiba saja dia teringat tentang anak ayam nya yang begitu lahir melihat muka Silver—ketika ia masih kecil—dan langsung mengikuti Silver kemana-mana. Kata ibunya, anak ayam itu menyangka Silver adalah ayahnya karena anak itu lah yang dilihatnya pertama kali. Sampai-sampai ayam itu pun diajari Silver berkaca terus tiap hari. Jadilah ia sama narsisnya dengan Silver. Bila melihat sebuah cermin, pasti akan berhenti dihadpaan cermin itu beberapa lama. “Karena begitu lahir, naga kecil yang manis ini sudah ditaruh bersama seekor kucing betina yang baru saja melahirkan. Jadi dia merasa kucing itu adalah ibunya dan anak-anak kucing lainnya adalah saudara-saudaranya. Secara tak sadar, sikapnya pun menjadi mengikuti kebiasaan kucing,” sesaat ia merasa telah berubah profesi menjadi guru Biologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silver memandangi gadis itu tanpa bisa berkata-kata. Dia asik sekali bermain dengan naga yang sama sekali tidak berbahaya karena itu memang bukan naga. Dengan iseng, Belle meniup hidung Boris. Mungkin ingin melihat api yang menyembur. Tapi sayang sekali, hal itu tak akan terjadi. Silver kembali menggosok kepalanya. [color] "Hehe. Boris lucu sekali ya, Pa! Belle suka sekali! Tapi, kenapa dia tidak menyemburkan api, ya?"[/color] pertanyaan lain muncul. Jika Silver salah menjawab, hancur sudah masa depan indah nan damai. Rasa-rasanya kepala nya tak lagi bersinar indah saking &lt;em&gt;nervous&lt;/em&gt;nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;’Ingat, salah berbicara akan gawat.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu karena—aku telah memantrainya. Tak bisa kukatakan apa mantranya sekarang. Itu mantra—err—orang dewasa! Ya ya,” ujar Silver sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Ia merasa kagum juga dengan dirinya yang bisa mengarang cerita sehebat itu. Tiba-tiba rasa bangganya mengalahkan perasaan takut yang tadi sempat mendominasi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt; "Baby Belle? Kaukah itu?"&lt;/span&gt; Sebuah suara mengganggu acara romantic pemberian hadiah Silver dan Belle. Dengan keanggunan berlebihan, Silver menolehkan kepalanya dan ia menangkap sesosok pria berambut perak dan berkulit putih. Tidak &lt;em&gt;gentle&lt;/em&gt; bagi seorang Silver yang berbadan tinggi dan besar, perpaduan antara keren berotot dan seksi tak tercela. Anak bocah itu masih tak ada tandingannya baginya. Dan tadi dia panggil Belle apa? Baby? Ck ck ck. &lt;span style="color: gray;"&gt; "Kamu siapa? Kok tahu nama Belle?"&lt;/span&gt;Mari kita simpulkan. Belle tak kenal dia siapa, namun dia mengenal siapa itu Belle. Jawabannya adalah, bocah itu stalker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silver berdiri, membuat perbedaan tinggi diantara kedua nya jelas terlihat. Pemuda itu menepuk pundak kecil sang bocah lelaki lalu berbicara dengan suara berat khas orang dewasa. “Hey nak. Kamu stalker ya? Tidak boleh itu,” ujar Silver sambil menggerak-gerakan jari telunjuknya ke kanan dan kekiri. “Sana beli kan aku minum,” Silver melanjutkan sambil menepuk punggung bocah itu. Tak ada maksud apa-apa, hanya saja ia memang benar-benar haus. Tak mungkin menyuruh Belle membeli minum. Dia pergi sendiri sih bisa, tapi meninggalkan Belle berdua dengan bocah itu? Terlalu beresiko. Jadi, memang harus bocah itu yang pergi. Fufufu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-8693602235840168851?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/8693602235840168851/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8693602235840168851'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8693602235840168851'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_22.html' title='I Want My DRAGON (SILVER Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-1830051126033943808</id><published>2009-12-22T23:56:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:05:21.054-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (ZEUS Pov)</title><content type='html'>Gadis kecil berambut pirang itu pun menoleh—bereaksi pada sapaannya yang terlalu bersemangat sebenarnya. Siapapun pasti akan sama bersemangatnya seperti dia jika menemukan seseorang yang telah lama dicari-cari, bukan? Ya, gadis kecil itu menoleh, memperlihatkan wajah mungilnya yang cantik. Wajah yang sangat dikenal baik oleh Debussy muda itu. Wajah seorang gadis yang tumbuh bersamanya selama lima tahun di Kastil Elsveta. Tak banyak berubah. Wajah itu masih penuh dengan senyum, meski sekarang bibirnya mengerucut dan keningnya berkerut bingung. Iris abu-abu mudanya pun masih dengan binar-binar kepolosan dan keceriaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;"Baby Belle. Akhirnya kutemukan kamu. Aku ka—"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;Kamu siapa? Kok tahu nama Belle?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;JEGERRR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; kalau di komik-komik, mungkin reaksi Zeus akan terjengkang ke belakang dengan kedua kaki terangkat ke atas. Tapi, karena ini bukan komik, reaksi Zeus hanya cengo. Mata terbelalak. Bibir terbuka. Tubuhnya kaku beberapa saat. Hatinya mencelos. Mari kita tambahkan musik latar &lt;em&gt;'blang-blang-blang-blang'&lt;/em&gt; dengan nada &lt;em&gt;sol-la-si-do&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si botak yang sedang bersama Belle tiba-tiba berdiri, seolah memamerkan tinggi tubuhnya yang seperti raksasa itu. Dengan kepalanya yang botak dan tubuh berbalon-balon, orang itu tampak seperti err—troll. Dan troll itu menepuk pundaknya. &lt;span style="color: grey;"&gt;“Hey nak. Kamu stalker ya? Tidak boleh itu"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Si... siapa yang stalker?! Aku se—"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai Zeus bicara, troll itu menyuruhnya membelikan dia minum. Pakai menepuk punggung segala. &lt;strong&gt;"Ka... kau. Ahhh, baiklah, baiklah!"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus pun menuruti kemauan si troll botak. Pergi menuju toko es krim dan membeli tiga botol Butterbeer. Bukan berarti Zeus anak yang penurut, dia hanya merasa butuh waktu untuk mencerna keanehan ini. Baby Belle tidak mengenalnya. Apakah gadis kecil itu lupa padanya karena lima tahun tidak bertemu? Zeus dengan geram menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal. Bibirnya mencong ke kanan, mencong ke kiri, bergantian. Dia merasa dicurangi. Dia selama lima tahun tak pernah sekalipun melupakan gadis pirang itu. Bahkan cemas memikirkan bagaimana nasibnya setelah kejadian tragis yang terjadi pada Boris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa yang telah terjadi sebenarnya?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey, Zeus bukan anak laki-laki yang suka berpikir. Dia lebih suka bertanya langsung untuk mendapatkan jawaban yang ingin dia ketahui. Berpikir membuatnya pusing. Apalagi untuk sebuah hal yang aneh seperti ini. Maka, ketika Zeus telah kembali ke tempat di mana Baby Belle dan troll botak berada, dia langsung duduk di salah satu kursi kosong di meja mereka. Bodo amat mereka mau berpikir apa. Dia ingin meluruskan benang kusut di otaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Ini butterbeer-nya. Semuanya 10 galleon. Dan aku bukan stalker. Aku kakak sepupu Belle,"&lt;/strong&gt; ujar Zeus menagih pada si troll. Zeus bukan anak orang kaya, ingat? Zeus tak habis pikir, bagaimana ceritanya sampai si troll botak ini dipanggil Papa oleh Baby Belle-nya. Masa Teresa menikah lagi dengan seseorang yang lebih muda? Memikirkannya saja sudah—&lt;em&gt;hoek&lt;/em&gt;. Setidaknya pilih laki-laki yang tampan seperti Zeus, dong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapannya kini beralih pada Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Baby... ahh, Nabelle Marion Elsveta. Kau sama sekali tak ingat padaku? Aku Zeus Pierre. Putra dari Lucretia Lois Elsveta, adik dari Boris Johann Elsveta. Almarhum ayahmu. Apakah sekarang kau ingat?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus sengaja menyebutkan nama-nama itu dengan lengkap supaya Baby Belle-nya tahu bahwa dia bukan orang asing dan setidaknya bisa memunculkan sedikit ingatan gadis itu terhadapnya. Zeus menopang dagu, mengernyit samar—jemari tangan kirinya bergerak perlahan menyentuh lengan kanannya yang terbalut perban. Menunggu jawaban dari adik sepupunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tak perlu menyebut nama Debussy untuk membuatnya ingat padaku, bukan?&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-1830051126033943808?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/1830051126033943808/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov_22.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1830051126033943808'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1830051126033943808'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov_22.html' title='I Want My DRAGON (ZEUS Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-6545083521595842318</id><published>2009-12-22T23:55:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:06:03.298-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Belle Pov)</title><content type='html'>Belle hanya bisa bengong menatap anak laki-laki tampan itu. Berusaha mengingat-ingat siapa gerangan anak laki-laki itu. Kenapa wajah itu terasa begitu familiar. Bahkan iris matanya sewarna dengan iris mata Belle. Wajah itu. Rasanya Belle pernah melihatnya entah kapan, entah dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle hanya terdiam ketika Silver kemudian berdiri dan menepuk pundak anak laki-laki itu dan menuduhnya sebagai penguntit. Penguntit itu apa, Belle tidak tahu. Silver kemudian malah menepuk punggung anak laki-laki itu dan menyuruhnya membeli minum. Kebetulan, sih. Belle juga haus. &lt;em&gt;Hihi&lt;/em&gt;. Anak laki-laki itu kemudian pergi sambil menggerutu. Entah dia sungguh-sungguh membeli minum atau pergi begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Dia siapa ya, Pa? Wajah itu rasanya Belle pernah lihat. Tapi Belle lupa. Seingat Belle, di London maupun di Rusia tak ada teman sebaya yang Belle kenal. Hmm,"&lt;/strong&gt; ujar Belle lirih sembari menatap Silver dengan ekspresi bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki tampan itu ternyata kembali membawa tiga botol butterbeer. Butterbeer itu enak sekali, lho. Belle sanggup minum berbotol-botol kalau belum kembung. Enak, sih. Rasanya sulit untuk dijelaskan kecuali kau mencobanya sendiri. &lt;em&gt;Hehe.&lt;/em&gt; Melantur. Kembali ke topik. Anak laki-laki itu sekarang duduk di salah satu kursi kosong dan mengaku bahwa dia adalah kakak sepupu Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Memangnya Belle punya saudara?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Baby... ahh, Nabelle Marion Elsveta. Kau sama sekali tak ingat padaku? Aku Zeus Pierre. Putra dari Lucretia Lois Elsveta, adik dari Boris Johann Elsveta. Almarhum ayahmu. Apakah sekarang kau ingat?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki bernama Zeus itu kini menatap Belle yang balas menatapnya dengan mulut ternganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Darimana kamu tahu nama lengkap Belle dan Daddy? Siapa Lucretia Lois Elsveta? Belle tak ingat kalau Daddy punya adik... dan Belle tak ingat kamu, Zeus."&lt;/strong&gt; Pertanyaan pun mengalir keluar dari bibir mungil Belle. Entah kenapa, jauh di dalam hati, Belle merasa bersalah karena tak bisa mengingat siapa anak laki-laki itu. Sekarang Belle hanya ingat kenapa wajah anak itu terasa familiar. Zeus memiliki paras yang sama seperti Boris, almarhum Daddy-nya. &lt;strong&gt;"Wajahmu mirip dengan... Daddy..."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja, Belle merasakan kesedihan yang amat sangat. Hatinya sakit. Sudut matanya memanas. Gadis kecil itu bangkit dari kursinya menuju ke kursi Silver. &lt;strong&gt;"Belle kangen Daddy,"&lt;/strong&gt; ujar gadis kecil itu memeluk Silver. Menangis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-6545083521595842318?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/6545083521595842318/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_5215.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/6545083521595842318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/6545083521595842318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_5215.html' title='I Want My DRAGON (Belle Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-8148319068446186746</id><published>2009-12-22T23:54:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:06:35.983-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (SILVER Pov)</title><content type='html'>&lt;span style="color: gray;"&gt;"Si... siapa yang stalker?! Aku se—"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho! Silver menggeleng, mengisyaratkan bahwa tidak baik berbohong. Sekali lagi Silver melirik Belle dan menangkap wajah tidak tahu apa-apanya. Jelas saja kan kalau Belle memang tidak mengenal pria ini dan pria ini hanya berpura-pura mengenal Belle hanya karena menyukainya. Pasti dia akan memanfaatkan kepolosan Belle dan melakukan tindakan aneh-aneh. Non! Selama ada Silver disini, keamanan para gadis-gadis akan terjamin. Hohoho. Dan lihat perubahan ekspresi anak ini. Dari menolak habis-habisan, sampai akhirnya menuruti perkataan Silver untuk membelikan mereka minuman. Bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengindahkan gerutuan anak lelaki itu, Silver kembali ketempat nya duduk dan memandang wajah manis gadis kecil dihadapannya. Belle masih terlihat bingung. &lt;span style="color: gray;"&gt; "Dia siapa ya, Pa? Wajah itu rasanya Belle pernah lihat. Tapi Belle lupa. Seingat Belle, di London maupun di Rusia tak ada teman sebaya yang Belle kenal. Hmm,"&lt;/span&gt; Belle menatap Silver seakan-akan menuntut jawaban. Silver hanya tersenyum meremehkan lalu mengangkat kedua bahunya. “Sudah kubilang, ia pasti penguntit. Kamu hati-hati ya, akhir-akhir ini banyak anak-anak nakal seperti itu,” ujar Silver sambil menunjuk anak itu dari kejauhan. Memang bukan sifat baik dari seorang dewasa untuk menuduh anak-anak yang tidak-tidak. Tapi ini serius bagi Silver.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian sosok lelaki kecil itu datang dan menaruh tiga Butterbeer di meja mereka. &lt;em&gt;Good job!&lt;/em&gt; Silver tersenyum puas karena anak itu ternyata penurut juga. Maka dari itu ia membiarkan saja anak itu bergabung di mejanya. Siapa tahu jika ia lapar, ia bisa menyuruhnya untuk membeli makanan juga sekalian. &lt;span style="color: gray;"&gt; "Ini butterbeer-nya. Semuanya 10 galleon. Dan aku bukan stalker. Aku kakak sepupu Belle,"&lt;/span&gt; tagih anak laki-laki yang mengaku sebagai kakak sepupu Belle. Silver meneguk Butterbeernya hingga setengah sebelum pada akhirnya membuka dompetnya dan memberinya 10 Galleon. “Ini uangnya. Kakak sepupu? Kamu yakin? Bukan Belle ini mungkin,” ujar Silver panjang. Habisnya kan aneh. Jika ia benar kakak sepupu Belle, bagaimana mungkin gadis kecil ini tidak ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan-akan menjawab pertanyaan Silver tadi, anak yang menyebut dirinya sebagai Zeus Pierre itu membeberkan beberapa nama yang tak dikenal di telinga Silver. Ia hanya menghela napas sambil menggosok kepala botaknya. Ia seperti melihat pertunjukan aneh saja. Dua anak kecil yang seharusnya saling mengenal—jika dilihat dari pengakuan Pierre—namun sang gadis sama sekali tidak mengenal yang lainnya. Kasihan sekali. Mungkin Belle memang melupakanya, yah itu pasti karena anak ini tak punya daya tarik. Coba kalau Silver, ia tak mudah dan tak mungkin di lupakan. Semua orang ingat padanya. Karena apa? Tentu saja karena kepala indahna yang sangat fenomenal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silver tidak begitu memperhatikan pembicaraan mereka berdua, jadi ketika Belle mendekatinya dan menangis dalam pelukannya ia merasa sangat kaget. &lt;span style="color: gray;"&gt; "Belle kangen Daddy,"&lt;/span&gt; terdengar suara Belle. Silver mengerutkan keningnya sambil mengusap kepala gadis kecil itu. Ia berdoa, jangan sampai ada yang melihat adegan ini. Bisa-bisa ia disangka yang tidak-tidak. Dan bisa-bisa ia semakin terkenal dengan gosip-gosip mantap dari mulut siapapun juga yang melihat. Silver menatap Zeus dengan tatapan bertanya. “Apa yang kau lakukan? Lelaki tidak akan pernah membuat seorang gadis menangis,” ujar Silver.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau gadisnya semanis ini. Itu adalah dosa!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-8148319068446186746?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/8148319068446186746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_3782.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8148319068446186746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8148319068446186746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_3782.html' title='I Want My DRAGON (SILVER Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-5218796838200476811</id><published>2009-12-22T23:53:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:07:44.389-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (ZEUS Pov)</title><content type='html'>&lt;span style="color:grey;"&gt;“Ini uangnya. Kakak sepupu? Kamu yakin? Bukan Belle ini mungkin.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja Zeus yakin. Amat sangat yakin. Kalau bukan Belle yang wajahnya sama dan perawakannya sama serta asal-usulnya sama dengan Baby Belle-nya, lantas Belle mana lagi yang adalah adik sepupunya selain gadis kecil pirang yang duduk di sampingnya ini? Meski sudah lima tahun berlalu, wajah gadis kecil itu tidak terlalu banyak berubah. Masih dengan garis kepolosan yang sama dan senyum hangat yang sama. Meskipun sekarang wajah mungil itu dipenuhi dengan sorot kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;&lt;br /&gt;"Darimana kamu tahu nama lengkap Belle dan Daddy? Siapa Lucretia Lois Elsveta? Belle tak ingat kalau Daddy punya adik... dan Belle tak ingat kamu, Zeus."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak laki-laki itu hanya menghela nafas, berusaha mencerna apa yang sesungguhnya terjadi. Baby Belle-nya tidak terlihat berpura-pura lupa tentang dia. &lt;strong&gt;"Tentu saja aku tahu namamu dan Boris karena selama lima tahun aku tinggal bersama kalian. Lucretia adalah ibuku, adik perempuan ayahmu. Mungkin kau tak mengenalnya, beliau diusir dari kastil Elsveta sebelum kamu lahir karena...,"&lt;/strong&gt; Zeus terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya,&lt;strong&gt; "dia telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal di mata Grandpa. Wajar jika kamu tak ingat dengan seseorang yang tak pernah kamu temui sebelumnya."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kenapa aku dilupakan?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Wajahmu mirip dengan... Daddy..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ya, dan wajah ini juga yang membuat Lucretia membenciku, Baby Belle.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah yang semakin hari semakin serupa dengan almarhum Boris. Wajah yang membuat Zeus sendiri tak bisa melupakan adik sepupu satu-satunya itu, terutama setelah kejadian yang menimpa mereka semua di kastil Elsveta lima tahun lalu. Kejadian tragis dan menyedihkan yang merenggut nyawa seorang auror hebat yang adalah ayah dari adik sepupunya itu. Zeus tahu seberapa dekat hubungan Belle dengan ayahnya dan kejadian itu sewajarnya menjadi sebuah tragedi besar, terutama bagi Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Ya. Aku memang mewarisi wajah Boris. Kecuali mata. Kita berdua mewarisi iris kelabu dari Grandpa. Belle... kamu sungguh tak ingat padaku? Sedikitpun?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih menjawab pertanyaannya, Belle bangkit dari tempat duduknya dan memeluk troll botak sambil menangis mengungkapkan kerinduannya pada Boris. Siapa troll botak itu sebenarnya? Kenapa begitu dekat dengan Baby Belle-nya? Anak laki-laki itu terkejut ketika didapatinya sebuah buket bunga tergeletak manis di salah satu bangku kosong di meja itu. Dekat dengan sebuah gitar pink yang diduga milik si gadis kecil. Ada sensasi tak menyenangkan yang kini berdesir di dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Apa yang kau lakukan? Lelaki tidak akan pernah membuat seorang gadis menangis."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Dia teringat pada almarhum ayahnya karena wajahku memang mirip dengan beliau,"&lt;/strong&gt; ujar Zeus singkat. Anak laki-laki itu terdiam. Tampak memikirkan sesuatu yang membuatnya resah. &lt;strong&gt;"Kalian berdua... pacaran?"&lt;/strong&gt; Dan tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur dari bibir Zeus. Keningnya berkerut menatap troll botak itu. Hey, usia mereka setidaknya pasti terpaut 10 tahun! Zeus tak rela jika adik sepupu yang disayanginya jatuh pada tipu daya om-om seperti ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-5218796838200476811?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/5218796838200476811/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov_26.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5218796838200476811'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5218796838200476811'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov_26.html' title='I Want My DRAGON (ZEUS Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-3817528522606962147</id><published>2009-12-22T23:52:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:08:22.550-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Belle Pov)</title><content type='html'>&lt;span style="color: grey;"&gt;"Tentu saja aku tahu namamu dan Boris karena selama lima tahun aku tinggal bersama kalian. Lucretia adalah ibuku, adik perempuan ayahmu. Mungkin kau tak mengenalnya, beliau diusir dari kastil Elsveta sebelum kamu lahir karena...,"&lt;/span&gt; Zeus terdiam sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya, &lt;span style="color: grey;"&gt;"dia telah melakukan sebuah kesalahan yang fatal di mata Grandpa. Wajar jika kamu tak ingat dengan seseorang yang tak pernah kamu temui sebelumnya."&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;Lalu, kenapa Belle tak ingat padamu?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam isakannya, Belle bisa mendengar setiap penjelasan yang keluar dari bibir anak laki-laki yang mengaku sebagai kakak sepupunya itu. Ada rasa tertarik saat mendengar kisah tentang Lucretia. Mengapa wanita itu diusir? Kesalahan apa yang membuat Grandpa tega mengusir putrinya sendiri? Belle menatap wajah anak laki-laki cantik bersurai perak itu, merindukan almarhum ayahnya yang kini seolah terlahir kembali dalam sosok yang lebih muda—masih dalam pelukan Silver yang aman. Isakannya melirih meski butiran-butiran cair yang berkilau masih terlihat mengalir dari sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Ya. Aku memang mewarisi wajah Boris. Kecuali mata. Kita berdua mewarisi iris kelabu dari Grandpa. Belle... kamu sungguh tak ingat padaku? Sedikitpun?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu menggeleng lemah. Sungguh, Belle sama sekali tak ingat tentang Zeus. Aneh memang. Paling tidak, harusnya ada beberapa kenangan tersimpan jika memang anak laki-laki itu pernah tinggal bersamanya di Kastil Elsveta selama lima tahun. Gadis kecil itu memejamkan mata, keningnya berkerut, dia menggigit bibir bawahnya berusaha mengingat meski secuil tentang Zeus. Nihil. Ingatan terjauhnya adalah saat dia terbangun dari tidur dan melihat ibunya tengah menangis setelah menceritakan bahwa ayah Belle telah meninggal dalam tugas. Ingatan-ingatan sebelum itu sama sekali tak ada. Selain beberapa penggalan imaji tentang kenangannya bersama sang ayah dan ingatannya tentang pesan-pesan dan suara sang ayah—yang lain tak ada. Ya, dia bahkan tak mengenali Grandpa dan Granny saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Belle... tak ingat kejadian apapun sebelum Mom memberitahu bahwa Daddy telah meninggal dalam tugas...,"&lt;/strong&gt; ujar Belle lirih. Entah kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar keras. Rasa takut melanda gadis kecil itu saat dia menyadari dia tak punya kenangan masa kecil selain kenangannya dengan almarhum Boris. Apa arti semua ini? &lt;strong&gt;"Belle tak ingat apapun. Sama sekali. Apa saja yang Belle lakukan sebelum hari itu? Belle tak ingat!! Bagaimana bisa?!"&lt;/strong&gt; Gadis kecil itu tiba-tiba histeris. Kedua telapak tangannya bertindihan menutupi bibirnya. Butiran air mata kembali mengalir semakin deras dari sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu tak mendengar pertanyaan Zeus yang terakhir. Benaknya sibuk dengan pikiran dan kekalutannya sendiri. Gadis kecil itu kini baru menyadari, selama ini Mom, Nonna, Poppa, Granny dan Grandpa hampir tak pernah sekalipun menyinggung soal masa lalunya, bahkan Ms. Leona. Setiap kali gadis kecil itu bertanya, mereka selalu berhasil memanfaatkan kenaifan Belle untuk mengubah topik pembicaraan. Mereka bahkan secara tak langsung tidak mengijinkan Belle berlibur ke Rusia. Sebagai gantinya, Granny dan Grandpa yang datang ke rumah mereka di London.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;What's wrong with my past?&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-3817528522606962147?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/3817528522606962147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_6415.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3817528522606962147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3817528522606962147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_6415.html' title='I Want My DRAGON (Belle Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-910266503306735934</id><published>2009-12-22T23:51:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T22:28:25.932-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (SILVER Pov)</title><content type='html'>Izinkan Silver berkomentar. Nampaknya anak laki-laki ini memang bukan sepenuhnya penguntit. Nampaknya ia benar-benar kenal dengan Belle sampai-sampai menceritakan tentang keluarga gadis ini sedemikian detilnya. Belle masih terisak didalam pelukan Silver dan pemuda ini merasa canggung berada di dalam pembicaraan mereka yang seharusnya bersifat pribadi. Belle memang memanggilnya Papa, tapi mereka juga tak bisa dibilang sudah cukup dekat untuk Silver mengetahui hal-hal tentang keluarga Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt; "Dia teringat pada almarhum ayahnya karena wajahku memang mirip dengan beliau,"&lt;/span&gt; adalah jawaban dari Pierre dan itu juga jawaban dari tangisan Belle ini. Tadi Belle yang bingung dan kini Silver yang bingung. Seumur hidupnya ia belum pernah dibawa-bawa dalam masalah pribadi seperti ini. Ia bingung harus melakukan apa. &lt;em&gt;’Ayolah kepala indahku. Kepala pintarku. Kepala yang selalu memberi ide, beritahu apa yang harus kulakukan,’&lt;/em&gt; gumam Silver. Berusaha untuk mentrasfer pikirannya sehingga kepala keramatnya bisa memberikan ide untuk Silver.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt; "Belle tak ingat apapun. Sama sekali. Apa saja yang Belle lakukan sebelum hari itu? Belle tak ingat!! Bagaimana bisa?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sekarang Belle histeris karena tak bisa mengingat apapun. Bahkan ia tak ingat dengan sosok Pierre yang katanya adalah kakak sepupu Belle. Silver tak tahan melihat anak kecil segitu terpojokkan seperti ini. Ada dua hal yang bisa dilakukannya sebagai orang dewasa disini. Dan sebagai orang luar. Pertama, ia menyingkir sebentar dari keduanya dengan alasan membeli makanan atau minuman. Jadi mereka berdua bisa mengobrol hal pribadi lainnya tanpa ada Silver yang menguping. Kedua, meminta Pierre untuk berhenti membahas masalah ini karena Belle akan merasa tersakiti secara psikologis dan mentalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau bahkan ia melakukan kedua nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: gray;"&gt; "Kalian berdua... pacaran?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Apa terlihat seperti itu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang kau katakana, &lt;em&gt;kiddo,&lt;/em&gt;” ujar Silver sambil mengusap sekali kepala botak mengkilatnya. “Tentu saja semua wanita adalah wanita ku,” ujar nya lagi sambil mengacungkan ibu jarinya. Dan itu ia lakukan tanpa sadar alias refleks. Dan sedetik kemudian ia menyesal. Ini bukan saatnya untuk bercanda. &lt;em&gt;’Sialan bocah ini,’&lt;/em&gt; ujarnya dalam hati. Ia kemudian mengusap-usap punggung Belle kecil, berusaha menenangkannya. “Duduk dulu disini. Dan minum butterbeernya,” ujar Silver sambil menepuk bangku disebelahnya dan menyodorkan Butterbeer. Setelah itu ia berdiri dan memandang kearah Pierre dengan tatapan sedemikian rupa. “Aku pergi membeli air mineral dulu. Seperti nya kau membutuhkan itu. Dan mungkin sedikit makanan manis,” ujar Silver kepada Belle tapi ia tetap tidak melepaskan pandangannya dari wajah Pierre.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;’Ikut aku,’&lt;/em&gt; ujar Silver tanpa bersuara dan hanya mengandalkan gerakan mulutnya. Setelah itu Silver berjalan agak jauh dari Belle agar apa yang akan ia sampaikan nanti kepada Pierre tak terdengar oleh gadis kecil yang sedang panik itu. “Kau jangan paksa lagi Belle untuk mengingat hal yang telah terlupa olehnya. Setidaknya lakukan itu dengan perlahan. Itu hanya akan menyakitinya,” ujar Silver. Meski ia tak menaruh kalimat ancaman, tetapi semua yang ia bicarakan tadi penuh dengan nada ancaman. Awas saja jika Belle sampai menulis surat padanya yang berisi Pierre telah membuat tidur anak gadis itu tak nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Silver berjalan menjauhi mereka untuk mencari makanan—sekalian memberikan mereka berdua waktu untuk mengobrol. Yeah mengobrol. Bukan memojokkan gadis kecil itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-910266503306735934?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/910266503306735934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_6274.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/910266503306735934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/910266503306735934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_6274.html' title='I Want My DRAGON (SILVER Pov)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-5996880068992887412</id><published>2009-12-22T23:50:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T09:00:53.482-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Zeus PoV)</title><content type='html'>&lt;span style="color: grey;"&gt;"Belle... tak ingat kejadian apapun sebelum Mom memberitahu bahwa Daddy telah meninggal dalam tugas..."&lt;/span&gt; Gadis kecil itu berujar dengan suara lirih di sela isakan tangisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tak ingat apapun sebelum Teresa memberitahu perihal kematian Boris? Boris meninggal dalam tugas? Apa-apaan? Ceritanya tidak seperti itu...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Belle tak ingat apapun. Sama sekali. Apa saja yang Belle lakukan sebelum hari itu? Belle tak ingat!! Bagaimana bisa?!"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus hanya bisa terpekur ketika Baby Belle-nya histeris karena tak mampu mengingat sedikitpun memori sebelum kematian almarhum ayahnya. Anak laki-laki itu dengan cemas menatap adik sepupu satu-satunya itu. Ingin memeluk tapi ada si troll botak besar yang sedang melakukannya pada Belle. &lt;strong&gt;"Belle... Belle, tenanglah,"&lt;/strong&gt; ujar Zeus sembari menyentuh pundak Belle yang gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapannya beralih pada troll botak yang malah berkata bahwa semua wanita adalah wanita-nya. Omong besar di saat Belle sedang histeris. &lt;em&gt;What the!? &lt;/em&gt;Hampir saja Zeus marah jika troll botak itu tidak segera menyadari kebodohannya sendiri dan mengusap-usap punggung Belle dengan gerakan menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kau tak tahu apa yang terjadi pada Boris? Padahal kau me—"&lt;/strong&gt; ucapannya terpotong oleh gerakan si troll botak yang menyuruh Belle duduk di kursi yang ada di sampingnya dan menyodorkan sebotol butterbeer pada gadis kecil itu. &lt;span style="color: grey;"&gt;“Duduk dulu disini. Dan minum butterbeernya,”&lt;/span&gt; ujar troll botak pada Belle, lalu melemparkan pandangan memperingatkan pada Zeus—membuat anak laki-laki itu mengurungkan niat untuk melanjutkan kata-katanya.&lt;span style="color: grey;"&gt;“Aku pergi membeli air mineral dulu. Seperti nya kau membutuhkan itu. Dan mungkin sedikit makanan manis,”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah gerakan pada bibir si troll botak yang berbunyi&lt;em&gt; 'Ikut aku' &lt;/em&gt;kemudian ditujukan pada Zeus. Tanpa banyak bicara, Zeus bangkit berdiri dari bangkunya. Entah apa yang ingin dibicarakan oleh om-om itu padanya sampai harus menjauh dari Belle. Anak laki-laki itu melangkah mendekati troll botak sambil sesekali menengok menatap Belle yang kini duduk meringkuk di bangkunya. Tatapan gadis kecil itu kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Ada apa?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Kau jangan paksa lagi Belle untuk mengingat hal yang telah terlupa olehnya. Setidaknya lakukan itu dengan perlahan. Itu hanya akan menyakitinya,”&lt;/span&gt; ujar troll botak itu. Akhirnya, sebuah kata-kata yang bermakna mengalir keluar dari bibir orang itu. Membuktikan kedewasaannya yang memang jauh di atas Zeus. Untung orang ini menahan ucapannya yang hampir saja membongkar kenyataan tentang kematian Boris, yang pasti akan menjadi sebuah tamparan keras dan menyakitkan bagi Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Maaf. Sepertinya aku memang terlalu memaksakan keinginanku tadi. Sulit untuk menerima bahwa dia lupa padaku,"&lt;/strong&gt; ujar Zeus sembari menganggukan kepalanya pertanda menyetujui saran dari troll botak, &lt;strong&gt;"Apakah menurutmu dia hilang ingatan?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang terlambat diucapkan karena troll botak itu telah berjalan menjauh darinya. Memberikan kesempatan bagi Zeus untuk menghibur Baby Belle-nya. Menghembuskan nafas, anak laki-laki itu membalikan badan dan melangkah kembali menghampiri Baby Belle-nya. Keadaan gadis kecil itu tidak bisa dibilang baik. Terlihat menyedihkan, malah. Zeus tak sampai hati membongkar kelam masa lalu gadis kecil itu. Perlahan, Zeus duduk di samping Baby Belle-nya. Diulurkan lengannya melingkari pundak kecil Belle, memberikan rangkulan hangat pada gadis kecil yang masih menatap kosong entah kemana. &lt;strong&gt;"Kamu tak perlu memaksakan diri mengingatnya jika memang tak bisa, Baby Belle. Aku janji, aku, kakak sepupumu ini, akan membantumu mengingat perlahan-lahan tentang masa lalumu. Aku akan ceritakan semua yang ingin kamu ketahui."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kecuali tentang kematian Boris.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hatinya, anak laki-laki itu bertekad untuk mencari tahu penyebab gadis kecilnya itu kehilangan ingatannya. Dia tak tahu apa-apa tentang sihir yang bisa menghapus ingatan ataupun penyakit-penyakit psikologis yang bisa menyebabkan hilangnya penggalan-penggalan memori seseorang. Dia tak tahu apa-apa tapi dia akan mencari tahu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-5996880068992887412?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/5996880068992887412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov_3949.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5996880068992887412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5996880068992887412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov_3949.html' title='I Want My DRAGON (Zeus PoV)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-1178862345778121264</id><published>2009-12-22T23:49:00.000-08:00</published><updated>2009-12-27T09:06:19.638-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Belle PoV)</title><content type='html'>Gadis kecil itu hanya diam. Menatap kosong lurus ke depan. Bahkan ketika Silver menyuruhnya pindah ke bangku di sampingnya dan kemudian mengajak Zeus menjauh darinya, gadis kecil itu tidak menyadarinya. Tubuh gadis kecil itu kini meringkuk gemetaran, kedua lengannya memeluk kakinya yang terlipat naik ke atas bangku. Kedua kelopak matanya tertutup, kedua alisnya bertaut. Wajahnya basah oleh bening yang terus mengalir dari sudut matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu memaksa otaknya untuk menggali ingatannya. Berusaha mengingat apa yang terjadi sebelum hari dimana sang ibu memberitahunya perihal kematian Boris. Namun, hanya kegelapan yang menyambut dalam benaknya. Seolah ingatan masa kecilnya dihapus begitu saja. Gadis kecil itu tak mengerti mengapa selama ini dirinya tak sadar bahwa masa lalunya telah terhapus dari ingatannya. Sampai Zeus hadir membeberkan hal-hal yang seharusnya ada dalam ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Daddy, what's wrong with me?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dirasakannya seseorang merangkul tubuh mungilnya. Membuat gadis kecil itu merasa lebih nyaman. Rasa nyaman yang justru membuat isakannya berubah menjadi tangisan. &lt;em&gt;Papa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Kamu tak perlu memaksakan diri mengingatnya jika memang tak bisa, Baby Belle. Aku janji, aku, kakak sepupumu ini, akan membantumu mengingat perlahan-lahan tentang masa lalumu. Aku akan ceritakan semua yang ingin kamu ketahui."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan Silver. Zeus yang merangkulnya. Sama seperti bertahun-tahun yang lalu setiap kali gadis kecil itu menangis. Sayangnya, Belle yang sekarang sama sekali tak ingat tentang Zeus. Hanya kehangatannya yang samar-samar terasa akrab di tubuhnya. Perlahan gadis kecil itu mengangguk lemah. Diangkatnya wajah mungil itu menatap Zeus, kakak sepupunya. Tersenyum lemah. &lt;strong&gt;"Iya. Janji ya."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelah. Berusaha menggali ingatan yang terkubur entah dimana membuat gadis kecil itu kelelahan. Perlahan kesadaran seolah terenggut darinya. Kelopak matanya kembali menutup. Kepalanya terkulai di dada kurus si anak laki-laki.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-1178862345778121264?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/1178862345778121264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_3516.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1178862345778121264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1178862345778121264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-belle-pov_3516.html' title='I Want My DRAGON (Belle PoV)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-247561877292858802</id><published>2009-12-22T23:00:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T01:17:58.269-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Silver PoV)</title><content type='html'>Berjalan kembali menuju toko bunga sambil membawa satu botol air mineral dan coklat kodok. Berharap bahwa Belle tidak takut atau jijik pada kodok, karena coklat kodok ini adalah coklat yang enak menurut Silver. Sayang sekali apa bila seseorang tidak bisa makan coklat ini hanya karena jijik dengan bentuknya. Dan yeah, mereka yang ingin memakan coklat ini tentu saja harus mempunyai ketangkasan dalam menangkap benda yang kabur. Dalam hal ini ya coklat itu sendiri. Ia sengaja memilih coklat kodok agar suasana di toko bunga nanti tak sesuram tadi. Jika ada insiden mengejar-ngejar coklat kodok, pasti bisa membuat gadis kecil itu kembali tertawa. Hal yang paling nikmat adalah apabila kita tertawa terpingkal setelah menangis meraung. Benar, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke—katakan bahwa hari ini Silver kerasukan entah setan siapa. Sikapnya sungguh berbeda dibanding biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silver menghela napasnya. Tak menyangka bahwa akan datang kejadian seperti ini. Ini adalah pertama kalinya menghadapi dan terlibat dalam suatu urusan yang benar-benar tak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Bahkan ia tak bisa menjadi dirinya sendiri didalam situasi ini. Mau tersenyum dan memamerkan gigi nya tidak enak, karena situasi nya sedang serius. Mau narsis juga ujung-ujungnya ia pasti akan diterkam oleh pandangan mematikan. Karena situasinya sedang serius. Jika hal itu ada hubungan nya dengan dirinya sih masih mending, Silver bisa terjun dalam diskusi dan menyelesaikan segalanya. Tetapi ini adalah tentang urusan keluarga mereka. Tentu saja ia tak bisa ikut campur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf Belle jika menunggu lama,” ujar Silver dengan suara beratnya. Berharap bahwa kini Belle sudah tidak berusaha mengingat lagi dan sedang tertawa-tawa dengan bocah bernama Pierre itu. Tetapi yang ditangkap kedua bola matanya adalah, sosok gadis kecil yang sedang bersandar dengan mata terpejam di dada anak laki-laki itu. “Tidur?” tanya Silver. Ia menaruh coklat dan botol minum yang tadi di bawanya keatas meja. Dan dengan tangkas ia mengangkat Belle dan menggendongnya. “Akan kubawa ke Leaky Cauldron,” ujar Silver. Belle terasa enteng di gendongannya. Entah karena Belle yang kurus, atau Silver yang besar. Ia melirik kearah Pierre dan mengedik kea rah botol, coklat, bunga dan gitar milik Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bawa semua barang-barangnya ya,” lanjut Silver sambil berjalan mendahului Pierre.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-247561877292858802?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/247561877292858802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_3316.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/247561877292858802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/247561877292858802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-silver-pov_3316.html' title='I Want My DRAGON (Silver PoV)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-5878301453530135320</id><published>2009-12-22T22:50:00.000-08:00</published><updated>2009-12-28T01:22:08.438-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='I Want My DRAGON'/><title type='text'>I Want My DRAGON (Zeus PoV)</title><content type='html'>&lt;span style="color: grey;"&gt;"Iya. Janji ya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Janji. Aku akan menjagamu seperti dulu, Baby Belle,"&lt;/strong&gt; anak laki-laki itu berbisik pelan di telinga gadis kecil yang kini tertidur sembari bersandar di dadanya. Tak peduli sekalipun gadis kecil itu kini tak lagi mengingat apapun tentang dirinya. Baby Belle tetaplah adik sepupu kesayangannya. Tak ada yang bisa mengubah kenyataan itu. Dengan lembut jemarinya membelai pipi si gadis kecil yang bersemu kemerahan--menghapus air mata yang membasahi wajah mungilnya. Senyum pahit tersungging tipis di wajah anak laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zeus menghela nafas. Kelabunya menatap ke langit yang kini sewarna dengan irisnya. Diperhatikannya gelombang awan-awan putih yang bergerak perlahan menyembunyikan cahaya sang matahari. Teringat kejadian mengerikan di Kastil Elsveta yang hingga kini selalu menjadi mimpi buruk baginya. Dan di saat seperti itu, dia malah dibawa pergi dari sana oleh Christoff brengsek itu. Kehidupannya tak sama lagi sejak hari naas itu. Christoff ditangkap oleh beberapa orang auror dan dibawa ke Azkaban. Desas-desus menyebutkan bahwa ayah sialan itu telah mendapatkan hadiah ciuman dari dementor yang memang pantas untuknya. Kemudian ibunya membawa dia dan Candy, adiknya, kabur ke pinggiran kota London dan hidup pas-pasan disana. Zeus kemudian bergaul dengan anak-anak berandalan di sana. Tumbuh menjadi Zeus yang sekarang. Tegar, pemberontak dan tak suka pada aturan yang mengekang. Meski patut disyukuri, anak laki-laki itu tetaplah seorang anak laki-laki yang bertanggungjawab dan bisa dipercaya--meski hiperaktif dan sedikit konyol. Kelabunya bergulir kembali menatap wajah mungil gadis manis yang terlelap di pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bagaimana dengan kehidupanmu, Baby Belle?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Maaf Belle jika menunggu lama.”&lt;/span&gt; Troll botak itu rupanya sudah kembali membawa sebotol air mineral dan sekotak coklat kodok untuk Belle. Anak laki-laki itu mengangkat telunjuknya dan menempelkannya di bibir, tanda supaya troll botak itu jangan berisik. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Tidur?"&lt;/span&gt; Zeus mengangguk. &lt;strong&gt;"Kelelahan sepertinya."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Troll botak itu kemudian mengangkat si gadis kecil dari pelukan Zeus dan menggendongnya. Seperti gorilla menggendong anaknya. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Akan kubawa ke Leaky Cauldron," &lt;/span&gt;ujar troll botak itu.&lt;span style="color: grey;"&gt; "Kau bawa semua barang-barangnya, ya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malas berdebat meski sebenarnya Zeus tak rela membiarkan troll botak itu yang menggendong Belle. Tapi dia sendiri pun belum tentu kuat menggendong si gadis kecil sampai ke Leaky Cauldron. &lt;em&gt;Have no choice.&lt;/em&gt; Dia sampirkan gitar milik Belle ke punggungnya setelah terlebih dahulu dia masukkan ke dalam case-nya, bunga, botol air dan coklat dimasukkannya ke dalam sebuah kantong coklat besar. Zeus pun berlari menyusul troll botak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Papa, eh?"&lt;/strong&gt; ujar Zeus memberikan cengiran super nakal pada troll botak itu. &lt;strong&gt;"Papa Belle adalah papaku juga. &lt;em&gt;No complaint.&lt;/em&gt;"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;THE END.&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-5878301453530135320?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/5878301453530135320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov_6637.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5878301453530135320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5878301453530135320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/i-want-my-dragon-zeus-pov_6637.html' title='I Want My DRAGON (Zeus PoV)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-7778268652309995452</id><published>2009-12-16T18:06:00.000-08:00</published><updated>2009-12-26T21:17:31.050-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dear Diary'/><title type='text'>Diary Entry #1</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right; font-weight: bold;"&gt;Someday in Autumn 1984&lt;br /&gt;21:00&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dear Diary,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar jam empat sore tadi terjadi sesuatu yang aneh pada diriku. Awalnya, aku sedang membaca surat dari Granny sambil menikmati brownies pemberiannya di atas pohon maple yang besar. Aku tak sangka, aku ternyata masih bisa memanjat! Kalau Ms. Leona dan Mom tahu, mereka pasti akan menceramahiku dengan kuliah tentang tata krama dan etika selama berjam-jam. Untung saja di Hogwarts, mereka tak bisa melihatnya. Karena kejadian selanjutnya pasti akan membuat mereka menambah ceramahnya masing-masing dua jam. Dan itu adalah pilihan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak berencana untuk jatuh, sungguh. Siapa, sih yang cukup bodoh untuk jatuh dari dahan kokoh pohon maple dengan sengaja? Kau tahu, Diary? Saat aku sedang makan tadi, ada seorang gadis seusiaku dari asrama musang yang tak sengaja menerbangkan pita rambutnya yang berwarna perak dan pita itu tersangkut pada ranting pohon maple-ku, bahkan tepat di dahan yang kududuki. Kau tahu, aku ini tak bisa diam saja melihat orang lain kesusahan, apalagi aku merasa aku mampu mengambilkan pita itu untuknya. Jadi, aku merangkak di dahan pohon, merayap perlahan sampai ke ujung hingga aku bisa meraih pita perak yang indah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya, setelah itu aku terjatuh karena ternyata dahan di bagian ujung itu tidak kuat menahan bobotku. Ya, aku terjatuh, Diary. Tidak langsung menghantam tanah karena saat itu ada Kak Arsha yang sedang duduk berteduh di bawah pohon maple-ku dan tubuhku jatuh tepat di kedua kakinya yang sedang bersila. Hanya keningku yang sempat terantuk batu kecil sehingga terluka. Di sana ada beberapa anak lain yang tidak kuingat namanya, hanya Saga yang kukenali selain Kak Arsha, itupun karena dia sekelas denganku. Anak itu cukup menyebalkan, ya. Dia bukannya membantu malah menyindir-nyindir dan menertawakan aku, lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian teranehnya adalah saat Kak Arsha memberitahuku bahwa keningku terluka. Aku mengusap dahiku yang ternyata cukup banyak mengeluarkan darah dan ketika aku menatap telapak tanganku yang sedikit ternoda darah pada dua jemari, tahukah kau apa yang terjadi? Aku seperti mengalami kilas balik, dejavu. Aku melihat kedua telapak tanganku berlumuran darah, banyak sekali dan itu terlihat sangat nyata di mataku bahkan aku bisa mencium bau amisnya. Jelas bukan sekedar gambaran yang terwujud dalam benak semata. Dan pada akhirnya, aku mendengar teriakan keras di sekelilingku. Suara Mom, suara Dad dan suaraku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diary, tahukah kau apa maksud semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah siapa yang berlumuran di tanganku? Dan apa yang sebenarnya telah terjadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang aku ingat adalah telapak tanganku terlihat lebih kecil daripada telapak tanganku sekarang, jadi bila itu sebuah kejadian nyata pastilah terjadi beberapa tahun yang lalu—saat Dad masih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sama sekali tak bisa mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haruskah kuanggap itu sebuah halusinasi belaka karena kepalaku terantuk cukup keras?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, rasanya jawaban itu tak bisa memuaskan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sincerely,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Nabelle M. Elsveta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PS: Kejadian yang diceritakan pada diary ini adalah kisah yang terjadi pada "&lt;a href="http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/6751780/1/"&gt;Half Alive&lt;/a&gt;"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-7778268652309995452?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/7778268652309995452/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/diary-entry-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7778268652309995452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7778268652309995452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/12/diary-entry-1.html' title='Diary Entry #1'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-5168200806456452918</id><published>2009-11-20T21:30:00.000-08:00</published><updated>2009-12-14T20:04:47.715-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Lapangan Quidditch'/><title type='text'>Kelas Terbang</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;Hari ini kelas terbang. Tentu saja, terbang dengan sapu terbang dong. Itu ciri khas penyihir, bukan? Setidaknya, itu yang diketahui oleh gadis kecil berusia 11 tahun itu soal terbang. Terbang itu kelihatannya menyenangkan, jujur saja dia kadang merasa iri dengan kupu-kupu atau burung-burung yang bebas terbang di angkasa menggunakan sayap mereka yang cantik. Pasti rasanya luar biasa jika bisa terbang seperti mereka. Gadis kecil itu belum pernah diajari terbang oleh Kakek Russia-nya maupun oleh almarhum ayahnya. Hal yang aneh karena mereka telah memperkenalkan sihir-sihir dasar pada gadis itu sejak dini, kecuali terbang—membahasnya pun hampir tidak pernah. Bahkan gadis itu juga belum pernah melihat anggota keluarganya yang manapun terbang menggunakan sapu terbang. Mungkin karena mereka tinggal di dunia muggle? Bisa jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya, gadis kecil itu melangkah ringan sembari bersenandung. Kali ini kedua kaki kecilnya mengayun bergantian menuju lapangan Quidditch. Sebuah permainan olahraga dunia sihir yang sepertinya merupakan gabungan dari basket, baseball dan sepakbola milik muggle. Menarik, gadis itu sudah membaca beberapa buku mengenai Quidditch meski ia tidak berminat untuk menjadi atlitnya. Gadis itu tidak punya bakat berolahraga, sih. Terbang saja belum jelas dia bisa atau tidak. Lihat saja nanti apakah dia bisa sukses mengendarai sapu terbang atau malah jungkir balik di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapangan Quidditch sudah berkumpul beberapa teman-teman sekelasnya. Beberapa wajah belum terlalu dia kenal, hanya tahu wajah istilahnya. Sambil lalu ia menyapa satu persatu teman-teman yang ia kenal. Mulai dari Faye, Blackrose, White dan Weasley yang dikenalnya pada insiden jatuh beruntun di Diagon Alley. "Hai, teman-teman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perhatiannya teralih pada sesosok anak perempuan berambut pirang yang sedang asyik berselonjor ria di atas rumput sambil berdandan dan minum jus labu. Malah anak itu hendak berbagi jus labu rupanya. Gadis kecil berambut pirang itu tertawa kecil karena tiba-tiba saja ia teringat pada Orateli. Gadis gonjreng itu belum datang, ya? Lucu juga jika membayangkan Orateli dan anak perempuan ini duduk bersanding berdua. Entah akan beradu mulut atau malah akrab bukan main? Sepertinya mereka bisa cocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey. Sedang piknik?" sapa gadis kecil itu pada anak perempuan yang memang lebih pantas dibilang sedang piknik ketimbang menunggu kelas terbang dimulai.&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;*****&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;Lapangan Quidditch semakin ramai dipenuhi anak-anak tahun pertama yang sibuk berbincang satu dengan lainnya. Beberapa anak terlihat sangat antusias dan tak sabar ingin mencoba pengalaman terbang pertamanya sedangkan beberapa anak yang lain terlihat agak takut dan risih melihat sapu-sapu terbang yang kini berbaris di dekat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle tertawa kecil saat melihat seorang anak perempuan tanpa sengaja terlontar bersama sapu terbang yang dipegangnya—untung saja anak itu tidak apa-apa. Kristal abu-abu mudanya kemudian sibuk memandangi teman-temannya yang asyik mengobrol, tertarik ingin bergabung dan mencoba sapu terbang milik sekolah. Belle benar-benar ingin tahu bagaimana rasanya terbang dengan sapu. Akhirnya gadis kecil itu melangkahkan kaki-kaki kecilnya untuk bergabung dengan teman-teman yang lain setelah terlebih dahulu berpamitan dengan Mortenson yang sepertinya masih asyik berdandan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu pernah bermimpi sedang terbang bersama seekor burung elang. Dia hanya perlu merentangkan tangannya dan tubuhnya melayang begitu saja diangkat oleh sang angin—seperti tokoh Peter Pan. Semilir angin yang menyapu wajahnya saat terbang terasa demikian nyata, rasanya tubuhnya jadi begitu bebas dan ringan. Gadis kecil itu terbang berputar-putar di angkasa bersama sang elang, melakukan roll di udara, menikmati hembusan angin yang meniup helaian rambut pirangnya yang panjang. Benar-benar sebuah mimpi yang menyenangkan meski berakhir dengan mengerikan. &lt;em&gt;Kenapa?&lt;/em&gt; Karena di akhir mimpi itu, tiba-tiba Belle kehilangan kemampuan terbangnya dan terjun bebas dengan sangat cepat ke tanah. Gadis kecil itu terbangun sebelum tubuhnya benar-benar tergeletak dengan nafas terengah-engah dan keringat membanjiri wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengingat akhir mimpi itu, terasa agak menakutkan untuk mencoba sapu terbang. Jantungnya jadi sedikit berdebar-debar. Apalagi dia tak punya pengalaman sama sekali. Seandainya saja dulu orang tuanya memperkenalkan dia dengan sapu terbang, pasti dia takkan merasa sebodoh sekarang. Tapi, hampir semua teman-temannya disini pasti sama seperti dia bukan? Maka dari itu ada kelas terbang, kan? &lt;em&gt;Take it easy, baby&lt;/em&gt;. Lagipula, keinginan gadis kecil itu untuk merasakan terbang secara nyata jauh lebih besar dari rasa takutnya. Memikirkannya saja sudah membuat adrenalin dalam tubuh Belle berpacu cepat. Senyum kembali terlukis di wajah mungilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat, Belle menghampiri anak lelaki berambut merah yang terlihat sedang asyik membahas soal sapu dengan temannya—setelah mengambil salah satu sapu terbang milik sekolah untuk dipakainya. &lt;strong&gt;"Hey, apa kalian pernah mencoba terbang dengan benda ini? Apakah aman? Aku sudah tak sabar ingin mencoba terbang dengannya."&lt;/strong&gt; ujar Belle pada teman-teman di kelompok tersebut sambil mengacungkan sapu terbang di genggamannya. Rasanya masih janggal membayangkan sebuah sapu jelek dengan ranting disana-sini yang biasa digunakan sebagai alat bersih-bersih itu benar-benar bisa membawa dirinya terbang seperti penyihir-penyihir dalam buku dongengnya. Tapi, ini dunia sihir bukan? Apapun bisa saja terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba kristal abu-abu mudanya terpaku menatap ke tempat Madam Hooch berdiri. Ada seseorang yang menghampiri wanita itu, seseorang dengan rambut paling jelek yang pernah dilihatnya, seseorang dengan perilaku paling jahat yang pernah dikenalnya. Mau apa si kakak-tak-berperike-kucing-an itu di sini? Bukankah ini kelas terbang untuk tahun pertama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, sepertinya kelas ini takkan semenyenangkan dugaannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;****&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:11px;"&gt;&lt;em&gt;Well,&lt;/em&gt; anak baik tidak boleh terlalu lama larut dalam kekesalan—itu yang selalu diucapkan Ms.Leona kalau dia sedang kesal. Apalagi ini kelas terbang pertamanya yang seharusnya menjadi kelas yang menyenangkan. Belle menatap prefek Sirius sekali lagi—mendengus lalu membuang muka. Dia takkan biarkan kakak-tak-berperike-kucing-an itu merusak moodnya hari ini. Anggap saja orang itu tidak ada—beres. Pokoknya, hari ini Belle akan bersenang-senang dan terbang melayang bersama sapu layaknya penyihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dialihkannya kembali kedua kristal abu-abu mudanya ke arah Charlie Weasley yang kini sedang berbicara panjang lebar padanya—meresponi sapaannya tadi. Gadis kecil itu menyunggingkan senyum dan mendengarkan setiap perkataan Charlie dengan seksama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;“Belum pernah coba. Dan yah, aku juga. Sepertinya keren. Masalah aman atau tidak, kupikir aman-aman saja kalau sudah bisa menaikinya—” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu mengangguk-angguk. Kalau banyak berlatih, pasti akan cepat mahir, bukan? Lagipula ada Madam Hooch yang pasti akan menjaga keselamatan para murid. Dan juga kedua prefek yang ada di depannya itu. Kalaupun nanti dia mungkin akan butuh bantuan, jangan sampai dia terpaksa minta bantuan pada prefek rambut bulu kucing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;“—atlit Quidditch menghabiskan hidupnya di lapangan dengan sapu dan mereka baik-baik saja. Jadi kurasa ini aman."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Quidditch?&lt;/em&gt; Belle tahu tentang olahraga itu dari buku yang dipinjamnya di perpustakaan, sepertinya itu merupakan olahraga yang menarik dengan enam buah tiang gawang dan empat buah bola terbang ditambah dengan 14 orang pemain. Ingin sekali gadis kecil itu melihat langsung permainannya bahkan mungkin mencoba menjadi salah satu pemainnya. Mungkin saja di kelas hari ini mereka akan belajar sedikit tentang Quidditch. Mudah-mudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;"Kecuali kau sengaja membengkokkannya sebelum digunakan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Oh, please. Orang gila macam apa yang sengaja membengkokkan sapu terbangnya sendiri?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;"Mungkin remnya akan terhalang, dan gasnya menjadi terlalu cepat. Itu baru berbahaya. Atau remnya menjadi berfungsi ekstra, dan gasnya tidak bisa dipakai. Itu berbahaya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rem?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gas?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu memandangi sapu di tangannya dengan tatapan heran. Di sebelah mana ada remnya? Di sebelah mana gasnya? Apakah ranting-ranting mencuat itu merupakan pengganti rem dan gas? Tanpa sadar dia menggigit kuku jari telunjuknya—bingung. Saat gadis itu memutar otak mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri, Charlie meladeni seseorang yang sepertinya pemilik sapu kepleset yang melayang ke arah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;“Kira-kira kapan dimulainya, ya?”&lt;/span&gt; ujar Charlie saat dia kembali mengalihkan perhatiannya dari si pemilik sapu kepleset itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Entahlah,"&lt;/strong&gt; jawab Belle seraya menaikkan kedua bahunya. &lt;strong&gt;"Charlie, memangnya sapu terbang punya rem maupun gas? Yang mana?"&lt;/strong&gt; tanya Belle sambil menunjuk ke batang sapu terbangnya. Ekspresi bingung tergambar jelas di wajah mungilnya lalu melemparkan senyum untuk menyapa seorang anak laki-laki yang baru saja bergabung dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sepertinya tak ada waktu lagi untuk bercakap-cakap dan mencari tahu seputar sapu terbang dalam genggamannya ini karena seorang senior yang juga adalah ketua murid dari asrama Gryffindor telah mengambil alih seluruh perhatian murid-murid kelas satu yang ada di lapangan Quidditch. Akhirnya kelas dimulai juga, pikir Belle tersenyum. Genggamannya pada batang sapu terbang mengeras sesaat sebelum akhirnya dia letakkan di atas hamparan rumput tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Yo, pagi semua. Selamat datang di Kelas Terbang. Aku Nazeline Windstroke, tahun ketujuh, salah satu dari asisten kelas terbang Madam Hooch selain tiga kapten Quidditch lainnya.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ho... jadi kakak-tak-berperike-kucing-an itu kapten tim Quidditch Slytherin?&lt;/em&gt; Belle mengerling sekilas pada Prefek Sirius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Ng—hari yang cerah untuk terbang, kan? Kalau begitu, yang berminat untuk melakukan praktek langsung, ayo mulai. Siap semua? Berdiri di samping sapu masing-masing. Perhatikan gerakan dan kata-kataku. Pelajaran pertama adalah… Rentangkan tangan di samping sapumu—dan katakan, ‘naik!’”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menyimak setiap kata yang diucapkan oleh KM Windstroke, iya dia tahu seniornya itu memiliki surname yang sama dengan Arshavin—mungkin mereka bersaudara, pikir Belle. Tapi sekarang bukan waktunya memikirkan soal hubungan keluarga orang lain, sekarang waktunya untuk belajar terbang. Belle berdiri tegap di samping sapu yang tadi dia letakkan di samping kakinya lalu merentangkan tangan seperti yang dilakukan oleh senior di depannya. Dengan jantung berdebar-debar, Belle mengucapkan, &lt;strong&gt;"Naik!"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang terjadi, sapunya tidak naik ke dalam cengkeramannya. Belle menoleh pada sapu terbangnya dan melemparkan tatapan memohon, &lt;strong&gt;"&lt;small&gt;Kumohon... &lt;/small&gt;Naik!"&lt;/strong&gt; Sapu terbangnya bergetar sesaat di atas rumput sebelum akhirnya melompat ke dalam cengkeraman Belle yang tersenyum puas. &lt;strong&gt;&lt;small&gt;"Thank you, sapu."&lt;/small&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;Bagaimana? Sudah berhasil, semua? Yang sudah berhasil—boleh melakukan praktek selanjutnya. Naik ke atas sapu kalian, dan cobalah untuk mengendalikannya—untuk menukik naik. Ya, terbang. Tidak lebih dari… Hm, lima meter dari atas tanah. Kalian boleh mulai, sekarang. Tunggu apalagi?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Belle meniru gerakan yang dilakukan KM Windstroke, mengangkat sapunya lalu melangkahkan sebelah kakinya sehingga batang sapu itu sekarang melintang di antara kedua kakinya. Waktunya terbang, kawan. Belle menjejakkan kakinya di tanah dan mendorong tubuhnya ke atas sambil berpegangan pada ujung batang sapu yang kini membawanya naik ke langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle terbang! Dia benar-benar terbang dengan sapu terbang seperti penyihir-penyihir yang dibacanya dalam buku cerita. Binar antusias terlihat jelas di matanya saat gadis kecil itu menatap ke bawah dan melihat orang-orang terlihat semakin kecil. Hembusan angin terasa menyusup di sela-sela surai keemasannya. Menyenangkan sekali. Eh? Sepertinya gadis kecil itu terbang terlalu tinggi. Belle memegang erat batang sapu dan memberikan gerakan membelok, sapu itu menuruti kendalinya dan melakukan putaran halus sebelum akhirnya gadis kecil itu mengarahkan sapunya untuk turun kembali ke daratan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Waaahh... terbang itu asyik!"&lt;/strong&gt; ujarnya riang pada teman-temannya saat kembali ke daratan.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-5168200806456452918?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/5168200806456452918/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/kelas-terbang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5168200806456452918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5168200806456452918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/kelas-terbang.html' title='Kelas Terbang'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-6762429476832366724</id><published>2009-11-20T21:28:00.001-08:00</published><updated>2009-12-09T00:12:41.865-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Halaman'/><title type='text'>Half Alive</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;&lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/00-0000.jpg" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(104, 36, 37); text-decoration: none;"&gt;Pakaian Belle.&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="border-width: 0px; background-color: rgb(90, 112, 179); clear: both; color: rgb(90, 112, 179); height: 1px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini saat sarapan di aula besar, Belle mendapatkan kiriman surat dari Nenek Rusia-nya beserta sebuah paket besar dalam kotak berwarna hijau muda—warna kesukaan Belle. Gadis kecil itu belum sempat membuka paket dan membaca suratnya karena kelas dimulai 10 menit setelah sarapan. Karena itulah, Belle menunggu hingga semua pelajaran selesai supaya dia dapat lebih leluasa membaca surat dan membongkar isi paketnya. Gadis kecil itu tak sabar, dia benar-benar penasaran dengan apa yang dikirimkan oleh Nenek Rusianya. Belle suka sekali hadiah dan paket besar itu terlihat seperti hadiah di matanya. Karena itulah, dia berusaha mengerjakan semua tugas-tugas yang diberikan di kelas agar dia bisa cepat kembali ke asrama dan memuaskan hasratnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkahnya tak terhenti meski sesekali berbenturan dengan bahu seseorang saat gadis kecil itu berlari naik ke menara Ravenclaw. Wajahnya penuh dengan senyum. Dia benar-benar sudah tidak sabar untuk membuka kotak hijau muda tersebut. Dia tak peduli pada pandangan orang-orang yang memperhatikan kelakuannya dan malah melemparkan senyum lebar dan sapaan basa-basi pada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata gadis kecil itu berbinar-binar saat kotak besar itu sudah ada di pangkuannya. Jemarinya perlahan merobek kertas pembungkus paket itu dengan rapi—memikirkan kemungkinan untuk menggunakan kertas pembungkus itu sebagai sampul buku. Dengan cepat ia melipat kertas pembungkus yang sudah terlepas sepenuhnya dari kotak kardus coklat yang ada di dalamnya kemudian melihat isi dari kotak itu—sebuah &lt;em&gt;jumpsuit&lt;/em&gt; berbahan katun berwarna hijau muda seperti kertas pembungkusnya, lengkap dengan bando berbentuk pita dengan warna senada. Belle yakin, &lt;em&gt;jumpsuit&lt;/em&gt; itu pasti jahitan Nenek Rusia sendiri. Meski Nenek Rusia masih keturunan bangsawan, beliau sangat mahir menjahit. Beberapa pakaian Belle adalah hasil jahitannya. Nenek Rusia bilang, menjahit dengan metode muggle lebih menantang ketimbang menggoyangkan tongkat sihir. Lucu juga, ya. Banyak orang suka dengan hal yang serba praktis, Nenek Rusia-nya malah terbalik. Gadis kecil itu tersenyum lalu melanjutkan pembongkaran paket tersebut. Di dalam kotak itu ternyata masih ada berkotak-kotak cokelat kodok, sekantong penuh bom kotoran (Nenek Rusia bisa becanda juga rupanya), dan beberapa kotak brownies coklat super lezat buatan Nenek Rusia. Puas membongkar paketnya, Belle menyimpan semuanya itu di kolong ranjangnya setelah menyisakan satu kotak brownies untuk dijadikan cemilannya sembari membaca surat nenek. Gadis kecil itu berniat membacanya di halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat, Belle mengganti jubah Ravenclaw-nya dengan &lt;em&gt;jumpsuit&lt;/em&gt; yang baru saja diterimanya—merapikan rambutnya dan memasang bando hijau mudanya di kepala (memang dimana lagi?). Gadis kecil itu lalu memilih menggunakan sepasang ballet shoes berwarna putih yang manis untuk membalut kaki mungilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;PERFECT—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu membawa keranjang kecil berisi sekotak brownies, sebotol air mineral, sweater putih, Banana, Lemon dan tak lupa surat dari Nenek Rusia dia masukkan ke dalam kantong bajunya. Waktunya untuk berpiknik di halaman. Dengan riang gadis itu mengayunkan kedua kaki mungilnya ke halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca musim gugur memang cenderung dingin, tapi sore itu sepertinya cuaca sedang bersahabat dengan gadis kecil berambut pirang yang sedang melompat-lompat kecil di hamparan karpet hijau sang bumi. Daun-daun berwarna oranye dan coklat berjatuhan bagaikan hujan—menyelimuti beberapa bagian rerumputan yang masih hijau. Gadis itu menghampiri sebuah pohon maple yang cukup tinggi dan besar—berniat untuk berteduh di bawahnya. Namun tiba-tiba sebuah pikiran nakal terbersit di otaknya saat ia menengadah dan melihat bahwa pohon besar itu memiliki dahan-dahan yang kokoh dan mudah untuk dipanjat dan diduduki. Berpiknik di atas pohon sepertinya menyenangkan juga, pikir gadis kecil itu nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, gadis kecil itu meletakkan keranjangnya di dahan tertinggi yang bisa digapainya lalu berpegangan pada dahan tersebut dan menjejakkan kaki kanannya pada sebuah dahan pendek. &lt;em&gt;Hup—&lt;/em&gt;Dipindahkannya lagi keranjangnya ke dahan yang lebih tinggi dan dijejakkannya sekali lagi kaki kanannya, begitu terus-menerus hingga dia sampai di dahan terpanjang di pohon itu—sekitar tiga meter dari atas tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu bersandar pada batang pohon dan menjulurkan kakinya ke bawah, masing-masing di sisi kiri dan kanan. Keranjangnya dia letakkan di depannya. Gadis kecil itu kemudian membuka kotak berisi browniesnya dan mengambil satu potong besar. Perlahan dijejalkannya ke dalam mulut—&lt;em&gt;nyam&lt;/em&gt;—brownies buatan Nenek Rusia memang paling lezat. Setelah itu Belle menepuk-nepuk kedua telapak tangannya, membersihkannya dari remah-remah brownies yang menempel. Jemarinya mengambil surat Nenek Rusia dari dalam keranjang kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat dia menunduk, kristal abu-abu mudanya melihat seorang anak laki-laki menghampiri pohon tempatnya berpiknik dan duduk bersila di bawahnya. Biar saja, pikirnya. Lalu, saat dia membaca surat dari Nenek Rusia yang isinya kurang lebih menanyakan kabarnya dan menceritakan soal kakek Rusia-nya, tak lama terdengar olehnya suara sopran khas seorang perempuan di bawahnya. Rupanya, entitas yang bersantai di bawah bertambah satu orang. Gadis kecil itu mengambil satu lagi potongan brownies dan mengunyahnya sambil meneruskan membaca surat. Tak peduli dengan percakapan yang sedang terjadi di bawahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;'Apakah kau bisa mengikuti pelajaran-pelajaran yang diajarkan di Hogwarts? Sayang sekali kau tak diterima di Gryffindor, Marion. Kuharap kau tidak terlalu bersedih karenanya.'&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu tersenyum dan berbisik perlahan, &lt;strong&gt;"Aku betah disini, Nek. Dan aku sudah tidak sedih soal asrama, aku merasa cocok di Ravenclaw."&lt;/strong&gt; Marion. Sudah lama sekali dia tidak dipanggil dengan sebutan itu. Hanya Nenek dan Kakek Rusia yang memanggilnya dengan nama Marion, katanya itu karena nama tersebut adalah pemberian dari mereka. Panggilan itu membuatnya jadi rindu pada kastil di Rusia. Mungkin liburan nanti, dia akan mempertimbangkan untuk berlibur disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;“Ionatte… Pitaku.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar terdengar olehnya suara sopran yang berbeda dengan yang pertama. Sepertinya semakin ramai saja yang berteduh di bawah pohonnya. &lt;em&gt;Pita, katanya?&lt;/em&gt; Belle menyapukan pandangannya ke sekeliling dan terlihat olehnya sebuah pita perak tersangkut di ranting dahan yang ia duduki sekarang. Gadis kecil itu berpikir sebentar, mampukah dia mengambilkannya? Pita tersebut tersangkut di bagian paling ujung ranting. Apakah bagian depan dahan yang semakin mengecil itu kuat menahan bobotnya? Gadis kecil itu perlahan mengubah posisi duduknya, ia condongkan tubuhnya ke depan dan menaikkan kedua kakinya perlahan ke belakang—pose merangkak. Belle maju perlahan-lahan dengan sedikit gemetar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sedikit lagi, sedikit lagi—&lt;/em&gt;gadis kecil itu menyemangati dirinya sendiri. Ah, sampai. Gadis kecil itu menjulurkan tangannya dan ketika pita perak itu telah ada dalam genggamannya dengan aman, tiba-tiba dahan yang dia duduki berderak keras—patah dengan sukses. Gadis kecil itu tanpa bisa berbuat apa-apa terhempas ke tanah dengan menggenggam pita perak di tangan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BRUKK!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat pandangannya gelap—pingsan beberapa saat, mungkin. Keningnya sakit, sepertinya terbentur sebuah batu kecil yang sedang berjemur di atas rumput saat jatuh tadi. Namun, ada sensasi lain yang aneh. Bagian dada hingga pahanya tidak bersentuhan dengan rumput yang lembab tapi seperti berada di atas sesuatu yang hangat dan empuk. Sambil mengusap keningnya yang terluka, gadis itu membuka kelopak matanya. Rupanya dia terjatuh tepat di atas pangkuan seseorang yang sedang duduk bersila di bawah pohon! Gadis kecil itu perlahan menggerakkan tulang lehernya, menatap si pemilik kaki bersila dengan wajah memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kak Arshavin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Beberapa saat yang lalu dia masih berada di atas dahan pohon, menikmati brownies pemberian nenek sembari membaca surat dari pengirim yang sama sambil memandangi langit. Dan sekarang tubuhnya tertelungkup di atas kaki seseorang yang dikenalinya sebagai Kak Arshavin si kakak-minim-ekspresi. Permata abu-abu mudanya kini menatap pada langit yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Kau…” &lt;/span&gt;ujar Arshavin dengan alis bertaut. Ekspresi keterkejutan yang sangat-sangat minim seperti biasanya, khas seorang Arshavin Windstroke. Belum sempat Arshavin melanjutkan kata-katanya, seseorang telah datang memotong kalimat yang masih tertahan di bibir Arshavin dengan kalimat panjang bernada menyindir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Daripada terdiam seperti itu, kenapa kau tidak cepat bangun saja dan meminta maaf karena sudah menimpa seseorang, hm?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle perlahan mengarahkan pandangannya pada si pemilik suara yang rupanya adalah teman setingkat dan se-asrama dengannya, Saga. Keningnya berkerut sesaat sebelum kemudian gadis kecil itu memberikan cengiran malu sebagai tanggapan atas kalimat tersebut, cengiran yang kemudian menghilang seiring dengan rentetan pertanyaan lanjutan dari sosok yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Atau mungkin, kau berniat berlama-lama merepotkan yang kau timpa, hm?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini Saga melemparkan senyum meledek ke arahnya. Membuat Belle serta merta memonyongkan bibirnya—cemberut. &lt;em&gt;Coba saja kau jatuh dari atas pohon sepertiku. Apa kau bisa cepat-cepat bangun dengan kepala sakit begini?&lt;/em&gt; Belle bergumam kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Gadis itu hanya terjatuh.” &lt;/span&gt;ujar Arshavin pada Saga sembari mengangkat tubuh Elsveta dari pangkuannya dengan sebuah rangkulan singkat. Belle kini duduk bersandar pada pohon yang telah menjadi saksi bisu kecerobohan dan kenekatannya tadi. Dipandangnya Arshavin dengan tatapan berterimakasih. Setidaknya kata-kata Arshavin menandakan bahwa dia tidak merasa direpotkan oleh Belle sehingga gadis itu bisa bernafas lega. Kak Arshavin memang baik hati, pikir gadis kecil itu, tersenyum senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, seorang gadis kecil yang diyakininya sebagai pemilik pita perak dalam genggamannya datang menghampiri dengan wajah bersalah. Membuat Belle dengan spontan tersenyum lembut pada gadis itu. Suara &lt;em&gt;'ngiiing'&lt;/em&gt; dalam kepalanya yang masih sakit membuat Belle tak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh gadis yang kini mengulurkan tangan kepadanya itu. Entah meminta maaf atau berterimakasih, Belle tak tahu. Perlahan, Belle mengulurkan pita perak di tangannya ke atas telapak tangan gadis musang itu. "Jangan sampai terbawa angin lagi, ya. Aku tak menjamin bisa mengambilkannya lagi untukmu," ujar Belle bergurau agar si gadis musang merasa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirasakannya Arshavin yang duduk di sampingnya bangkit berdiri membuat beberapa helai rumput kecil berjatuhan ke sisi Belle. Langitnya menatap pada kening mungil Belle, &lt;span style="color: grey;"&gt;“Keningmu terluka, Nona.”&lt;/span&gt; Informasi mengalir dari bibir sang langit dan lagi-lagi tanpa ekspresi baik di wajah ataupun pada intonasi suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh," ujar Belle sembari mengusap bagian keningnya yang tadi berciuman dengan batu. Dilihatnya cairan merah kental menempel di sepanjang jari-jarinya saat dia mengangkat kembali jemarinya. Darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja gadis kecil itu merasa mual ketika sensasi seperti &lt;em&gt;de javu&lt;/em&gt; melanda benaknya. Dia merasa pernah mengalami kejadian yang sama saat memandang telapak tangannya. Sedetik dilihatnya telapak tangan itu berlumuran darah, sedetik kemudian hanya jari-jarinya yang ternoda dengan warna merah gelap tersebut. Bau amis darah imajiner tiba-tiba memenuhi indera penciuman Belle. Dan sekali lagi telapak tangan itu berlumuran cairan merah gelap. Rona wajah Belle memucat seperti kertas. Gadis kecil itu tak paham dengan apa yang sedang terjadi padanya. Dia yakin tak pernah melihat hal seperti itu sebelumnya. Tatapan kedua permata kembar Belle tetap terpaku pada telapak tangannya saat sedetik kemudian jeritan ketakutan melengking dari bibir mungil sang elang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AAAAAAAAAAAAAAAAH..."                     &lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-6762429476832366724?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/6762429476832366724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/half-alive.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/6762429476832366724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/6762429476832366724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/half-alive.html' title='Half Alive'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-3144703335889342763</id><published>2009-11-20T21:27:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T21:28:07.601-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Menara - Kandang Burung Hantu'/><title type='text'>Om, ganteng deh. Jangan ya :)</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 18px; "&gt;Siang itu Nabelle cepat-cepat melangkah menuju menara. Bukan—dia bukan hendak kembali ke asrama Ravenclaw, tapi dia menuju kandang burung hantu. Untuk apa? Tentu saja untuk mengirim surat melalui burung hantu milik sekolah. Gadis kecil itu belum pernah mencoba mengirim surat dengan perantara hewan bernama burung hantu itu, rasanya aneh sekaligus menegangkan. Kata Nenek Rusia, sih, suratnya pasti akan sampai ke tangan penerima yang dituju. Lebih akurat ketimbang menggunakan pos muggle. Hari itu dia ingin mengirim surat balasan pada Nenek Rusia, sekaligus mengucapkan terimakasih atas kiriman paket browniesnya yang luar biasa nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidungnya spontan berjengit saat langkah pertamanya memasuki ruangan yang berbau khas burung hantu. Tidak lebih parah dari bau bom kotoran tapi tetap saja bau yang tidak enak, meski dalam beberapa saat indera penciumannya mulai terbiasa dengan aroma khas itu. Jujur saja, Belle belum pernah masuk ke sana dan tidak tahu yang mana burung hantu milik sekolahnya. Setahu Belle, di ruangan itu hampir semuanya adalah burung hantu milik murid-murid Hogwarts. Gadis kecil itu memperhatikan satu persatu burung hantu yang ada disana. Salah satu burung hantu berwarna seputih salju tiba-tiba ber-&lt;em&gt;uhu&lt;/em&gt;-ria tepat di dekat lubang telinganya. Membuatnya terlompat kaget. Dipelototinya burung hantu usil itu dengan kedua kristal abu-abu mudanya. &lt;strong&gt;"Nakal, ya! Awas nanti paruhmu Belle kasih lem UHU biar kamu nggak bisa ber-uhu-uhu lagi.&lt;/strong&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruangan itu benar-benar berisi dengan begitu banyak jenis burung hantu. Ada yang besar, ada yang kecil dan ada tiga yang besar seperti manusia. &lt;em&gt;Eh, itu sih manusia beneran.&lt;/em&gt; Belle mengamati ketiga sosok itu dari jauh. Dua dari tiga &lt;del&gt;burung&lt;/del&gt; orang disana dikenalinya. Salah satunya adalah senior Cornwell yang magang di toko es krim, yang pernah menjenguknya di Hospital Wing. Satu lagi adalah si 'om' yang memberikan pelajaran menggambar tak jelas di kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Sungguh, si 'om' itu wajahnya sungguh aneh bin ajaib—&lt;em&gt;nyentrik&lt;/em&gt;. Semakin dilihat, wajah 'om' itu semakin mirip dengan&lt;em&gt;banshee&lt;/em&gt; yang digambarnya di kelas PTIH. Yang satu lagi, Belle tak kenal. Seorang gadis cantik yang sepertinya adalah seniornya di Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara ketiga orang tersebut. Satu-satunya gadis yang ada di sana terlihat sedang marah-marah pada om &lt;em&gt;banshee&lt;/em&gt;yang malah terlihat acuh tak acuh. Sedangkan senior Cornwell terlihat kebingungan memandangi mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jangan-jangan sedang terjadi pertengkaran berebut sang gadis? Wah, rupanya di Hogwarts pun ada kisah cinta yang rumit seperti ini.&lt;/em&gt; Sepertinya, si gadis itu pacarnya Senior Cornwell yang sedang selingkuh dengan si om &lt;em&gt;banshee&lt;/em&gt;. Atau, Senior Cornwell dan om &lt;em&gt;banshee&lt;/em&gt; sedang bermesra-mesraan di sini lalu tertangkap basah oleh si gadis? Makanya gadis itu marah-marah! &lt;em&gt;Tsk—&lt;/em&gt;benar-benar di luar dugaan. Padahal Belle cukup menyukai Senior Cornwell, lho. Tapi kalau ternyata hatinya lebih memilih seseorang seperti om &lt;em&gt;banshee&lt;/em&gt;, lebih baik Belle menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Surat. Suratnya masih digenggamnya. Hampir saja dia lupa dengan tujuan awalnya kemari gara-gara sinetron live di depannya. Tapi, dia kan tidak tahu yang mana burung hantu milik sekolah. Akhirnya, Belle memutuskan menghampiri ketiga sejoli (?) itu untuk mengganggu sebentar. Setelah urusannya selesai, Belle akan pergi, kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Permisi. Burung hantu milik sekolah yang mana, ya? Belle mau kirim surat."&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-3144703335889342763?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/3144703335889342763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/om-ganteng-deh-jangan-ya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3144703335889342763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3144703335889342763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/om-ganteng-deh-jangan-ya.html' title='Om, ganteng deh. Jangan ya :)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-5122247956138688556</id><published>2009-11-20T21:26:00.001-08:00</published><updated>2009-11-20T21:26:53.037-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Ruang Bawah Tanah'/><title type='text'>Kelas Ramuan Pertama</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 18px; "&gt;Pelajaran hari ini adalah Ramuan yang diadakan di salah satu ruang bawah tanah. Cuaca di sini lebih dingin daripada di atas, membuat Belle sedikit menggigil saat menjejakkan kakinya ke dalam ruang kelas. Gadis kecil itu memandangi seisi ruangan, menurutnya ruangan itu menakutkan tapi yang lebih membuatnya jijik adalah sederetan tabung-tabung berisi binatang-binatang yang diawetkan di sepanjang dinding. Belle berusaha untuk tidak memperhatikan pemandangan mengerikan itu meskipun sulit. Gadis kecil itu mengambil tempat duduk agak di tengah supaya dia tidak terlalu dekat dengan mayat-mayat binatang yang menjijikan. Belle suka binatang dan melihat binatang-binatang dalam keadaan diawetkan seperti itu sedikit membuatnya kesal. &lt;em&gt;Masa, sih kami harus membuat ramuan menggunakan binatang-binatang itu?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle mengalihkan pandangannya, menatap Profesor Snape yang sepertinya memang bagian dari tempat itu. Belle belum pernah melihat seseorang dengan tatapan mata sedingin dan sekosong itu—seolah-olah dirinya bisa melihat sebuah lorong gelap di dalamnya. Entah apa yang membuat si Profesor menjadi seseorang yang terlihat seperti itu. Seseorang terbentuk dari apa yang pernah terjadi di masa lalunya, itu yang selalu dikatakan Teresa kepadanya. Namun, gadis kecil itu tak berniat menanyakan apa pun soal masa lalu si profesor. Biar orang lain saja yang lebih dekat dengannya yang mengambil tugas tersebut. Tugasnya sekarang adalah belajar dan memperhatikan apa yang dikatakan oleh Profesor Snape.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu harus benar-benar memperhatikan karena suara si profesor begitu pelan, nyaris seperti berbisik. Profesor Snape memberikan peringatan untuk datang tepat waktu dan memperhatikan saat ia menerangkan pelajaran, mengerjakan semua yang dia perintahkan dan kalau melanggar—detensi akan menjadi hadiahnya. Gadis kecil itu mengangguk pelan seolah Profesor Snape akan merasa lebih senang jika dia melakukan hal itu. Tenang saja, Belle anak yang tepat waktu dan penurut jika memang perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Profesor Snape menjelaskan tugas untuk pelajaran ramuan hari ini. Dia ingin para murid membuat Ramuan Penyembuh Bisul. Gadis kecil itu mendengarkan dan mencatat apa yang dikatakan oleh Profesor Snape di atas perkamennya supaya tidak terjadi kesalahan saat dia mencoba membuat ramuan. Duri landak harus dimasukkan setelah memindahkan kuali dari atas api. Gadis itu menggarisbawahi catatannya menandakan bahwa bagian itu adalah yang terpenting. Buktinya Profesor Snape sampai repot-repot menegaskan segala. Profesor Snape mengeluarkan tongkat sihirnya dan tiba-tiba saja di atas meja telah ada peralatan serta bahan-bahan ramuan yang diperlukan. "Wow."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu segera mulai mengerjakan tugasnya dengan sedikit bingung. Dia belum pernah memasak sendiri tanpa didampingi ibunya. Mudah-mudahan saja semuanya berjalan dengan baik. Gadis kecil itu menyalakan api untuk memanaskan kuali lalu merebus siput tanduknya sementara ia menimbang jelatang kering dan bubuk taring ular. Kemudian Belle mencampurkan jelatang kering dan bubuk taring ular ke dalam kuali bersama rebusan siput tanduknya. Asap hijau berbau asam dan suara desis keras memenuhi ruangan kelas itu. Belle mengernyitkan hidung, berharap dia membawa penyumbat hidung kemari. Perlahan gadis kecil itu mengangkat kualinya dari atas api dan ia letakkan di atas tatakan kain di atas meja. Dia menunggu sebentar lalu memasukkan campuran yang terakhir ke dalam ramuannya—duri landak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ramuan bau seperti ini bisa mengobati bisul?&lt;/em&gt; Belle memandangi hasil kerjanya yang kini berwarna hijau. Dia suka warna hijau, tapi hijau yang ditatapnya sekarang entah kenapa terasa menjijikkan. Mudah-mudahan saja dia melakukan prosedur yang diminta Profesor Snape dengan benar. Dan semoga saja ramuan di hadapannya ini benar-benar menjadi Ramuan Penyembuh Bisul dan bukannya Ramuan Penyebab Bisul. Gadis kecil itu duduk kembali di kursinya, menunggu yang lain selesai membuat ramuannya masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-5122247956138688556?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/5122247956138688556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/kelas-ramuan-pertama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5122247956138688556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5122247956138688556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/kelas-ramuan-pertama.html' title='Kelas Ramuan Pertama'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-8258603447178720468</id><published>2009-11-18T08:14:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T21:26:22.522-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Dedalu Perkasa'/><title type='text'>Event Halloween Ball part 3</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span"   style="color: rgb(79, 72, 51);   border-collapse: collapse; line-height: 18px; font-family:Tahoma, Arial, sans-serif;font-size:11px;"&gt;Gadis kecil itu sebenarnya masih ingin menikmati dansanya dengan pangeran imajiner dan bayangan ayahnya. Rasanya lebih nyaman daripada harus berdansa dengan orang asing yang tidak dikenalnya. Tak peduli meski pasangan-pasangan yang lain saling mencari, Belle lebih suka disini. Dia memang tidak begitu betah dengan keramaian. Tapi karena kini di hadapannya ada seorang anak laki-laki dengan kemeja putih beraksen dasi model pita, dilengkapi coat hitam panjang dan topeng hitam—dengan terpaksa keasyikannya dihentikan sementara. Jika disapa harus menjawab, begitulah yang diajarkan Ms. Leona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"Illusory prince and dad?"&lt;/span&gt; anak lelaki itu mengulangi jawabannya dengan heran. &lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"Two people at once, eh? That's good; you must be an expert in dancing, if I may guess?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa pertanyaan yang berupa ulangan dari jawabannya itu sedikit membuat Belle malu. Ya, anak lelaki itu pasti menganggapnya sudah gila sekarang—tanpa sadar tangan kanannya menggaruk pelan pipinya yang tidak gatal, grogi. Berdansa sendirian dengan pangeran imajiner dan bayangan ayahnya memang menyenangkan hatinya tapi pasti terlihat aneh di mata orang lain. Belle tahu itu. Tapi, ya sudahlah. Sudah terlanjur mau bagaimana lagi. Parahnya lagi, ternyata anak lelaki yang menangkap basah dirinya sedang melakukan hal bodoh tersebut ternyata adalah pasangan dansanya. Lengkaplah sudah. Rasanya ingin sekali Belle melompat ke dasar Danau Hitam dan bermain-main dengan tuan gurita raksasa. Bayangkan saja, anak laki-laki itu malah tertawa saat dia menyodorkan kertas bernomor 85 tersebut. Untung saja wajahnya tertutup separuh, dengan tulus Belle berterimakasih pada topeng yang menyelamatkan harga dirinya. &lt;strong&gt;"Mereka bergiliran, kok—I mean, my illusory prince and my dad. Dan aku tidak terlalu ahli berdansa karena pasangan dansaku selama ini hanya almarhum Daddy dan kakekku. But, I like to dance,"&lt;/strong&gt; jawab Belle sambil tertunduk malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"By any chance, do I know you, Miss?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak karena satu-satunya anak laki-laki bermata belang yang Belle kenal adalah Kak Thanatos yang ganteng sekaligus seram. Belle bergidik mengingat kejadian saat Pesta Awal Tahun, tatapan matanya itu lho—menusuk. Seram sekali hingga membuat gadis kecil itu melakukan hal bodoh dengan—ah, lupakan. Hal memalukan seperti itu tak perlu dibahas. Sekarang yang terpenting adalah meladeni pasangan dansa yang ada di hadapannya ini. Mudah-mudahan anak laki-laki itu tidak terlalu lama menganggapnya sebagai gadis gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"No, Sir. We haven't met before,"&lt;/strong&gt; jawab gadis itu sembari menyunggingkan senyum. Kali ini, dia takkan mempermalukan dirinya lagi, &lt;strong&gt;"Keberatan kalau aku ambil minuman dulu? Aku agak haus."&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:Tahoma, Arial, sans-serif;color:#4F4833;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-size: -webkit-xxx-large; line-height: 18px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:Tahoma, Arial, sans-serif;color:#4F4833;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-size: -webkit-xxx-large; line-height: 18px;"&gt;&lt;b&gt;*****&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:Tahoma, Arial, sans-serif;color:#4F4833;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-size: -webkit-xxx-large; line-height: 18px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"   style="font-family:Tahoma, Arial, sans-serif;color:#4F4833;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; font-size: -webkit-xxx-large; line-height: 18px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: 11px; font-weight: normal; "&gt;Pasangan dansanya sepertinya tipe orang yang acuh tak acuh dan itu membuatnya agak sedikit rileks. Gadis itu kini menggenggam segelas cairan berwarna semerah darah, meneguknya perlahan dan memuaskan kerongkongannya yang sejak tadi terasa kering. Sekarang, Belle merasa lebih segar. Indera pendengarannya tiba-tiba menangkap suara ribut-ribut yang berasal tak jauh darinya. Gadis kecil itu dengan cepat membalikkan tubuhnya dan memperhatikan beberapa senior yang terlibat dalam keributan tersebut. Ada satu wajah yang tak disukainya disana yang sepertinya telah memotong poin dari asrama Gryffindor. Gadis itu menggeleng perlahan lalu melangkah kembali ke tempat pasangannya berada dan dia tidak menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristal abu-abu mudanya mencari-cari sosok tersebut dan akhirnya melihatnya sedang mendekati sebuah piala dengan bentuk pegangan seperti naga di dekat gramafon. Anak laki-laki itu memasukkan sesuatu ke dalam piala tersebut yang kemudian memantulkan cahaya api biru membakar sesuatu yang dimasukkan olehnya. Gadis kecil itu bertanya-tanya dalam hati, untuk apa gerangan anak laki-laki tersebut melakukan hal itu. Ini pesta pertamanya di Hogwarts, wajar bila dia tak tahu teknis tentang pesta disana. Anak laki-laki tersebut sekarang sedang melangkah kembali ke tempatnya sambil tersenyum kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"So, enjoying the ball, yet? Have you vote for the Queen and King of the Ball?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, jadi untuk memilih Raja dan Ratu Pesta, toh. Belle mengangguk-angguk pelan lalu menatap pasangannya dengan senyum,&lt;strong&gt; "Tidak terlalu menikmati, sejujurnya. Aku tidak terlalu suka keramaian. Dan belum, aku belum memilih siapapun. Karena aku hampir tidak kenal siapa-siapa yang kurasa cocok menjadi pilihan."&lt;/strong&gt; Gadis itu terdiam, berusaha mengingat-ingat siapa yang sudah dia kenal dan cocok untuk menjadi Raja dan Ratu Pesta. Gadis itu kembali menggeleng, &lt;strong&gt;"Rasanya aku tidak akan memilih tahun ini."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia takkan di detensi hanya karena tidak memasukkan pilihannya, bukan? Seandainya dia sudah mengenal banyak orang disana, dia akan lebih mudah memilih. Tapi untuk saat ini, gadis kecil itu benar-benar tidak tahu harus memilih siapa. Ah! Tiba-tiba di kepalanya seolah ada lampu menyala. &lt;strong&gt;"Oh, aku tahu!"&lt;/strong&gt; Gadis itu cepat-cepat menulis di atas perkamen dan berlari mendekati piala besar, melemparkan perkamen yang sudah dilipat-lipat ke dalam nyala api biru yang membakarnya. Kemudian gadis itu berlari kembali ke tempat pasangannya berada. Rasa hangat karena berlari menjalari tubuhnya yang sejak tadi kedinginan, membuat pipi gadis kecil itu berwarna kemerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hm,"&lt;/strong&gt; gadis kecil itu menatap pasangan dansanya, perlukah ia mengajak anak laki-laki itu berdansa? &lt;strong&gt;"Kau mau berdansa?"&lt;/strong&gt; tanya gadis kecil itu akhirnya meski ia sudah ingin cepat-cepat pergi dari tempat yang semakin bising itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;big&gt;&lt;strong&gt;TEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEETTTT!&lt;/strong&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara terompet yang memekakkan telinga tiba-tiba terdengar tepat setelah gadis kecil itu menyelesaikan kalimatnya. Dan instruksi di langit menyebutkan bahwa mereka harus berganti pasangan. Gadis itu menatap pasangannya dengan wajah miris, &lt;strong&gt;"Ups, kurasa waktunya sudah habis. Maaf kau jadi tak sempat berdansa. Kurasa aku akan meninggalkan tempat ini, terlalu bising. Kalau kau mau ikut, terserah."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu mengayunkan kakinya, meninggalkan pasangan dansanya di belakang dan keluar melalui gerbang masuknya tadi. Dia lelah. Tempat yang terlalu bising memang melelahkan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-8258603447178720468?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/8258603447178720468/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/event-halloween-ball-part-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8258603447178720468'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8258603447178720468'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/event-halloween-ball-part-3.html' title='Event Halloween Ball part 3'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-2069980534455698275</id><published>2009-11-18T01:58:00.000-08:00</published><updated>2009-11-18T02:01:03.635-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Perpustakaan'/><title type='text'>The Tale of Macturian</title><content type='html'>&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 18px; "&gt;&lt;strong&gt;Nama&lt;/strong&gt; : Michika Matsukaze&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Status&lt;/strong&gt; : Anak pelayat dari Jepang&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Umur&lt;/strong&gt; : 3 tahun&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Foto-foto&lt;/strong&gt; : &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/1243573293.jpg" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(104, 36, 37); text-decoration: none; "&gt;Penampilan Michika&lt;/a&gt; || &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/1677362958.jpg" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(104, 36, 37); text-decoration: none; "&gt;Michika nyengir&lt;/a&gt; || &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/1677363017.jpg" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(104, 36, 37); text-decoration: none; "&gt;Ekspresi Michika&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keterangan&lt;/strong&gt; : mencari papa mama yang tersesat, kalau sedang tidak bicara selalu menggembungkan pipi seperti &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/1677362897.jpg" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(104, 36, 37); text-decoration: none; "&gt;ini&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr style="background-color: rgb(90, 112, 179); border-top-width: 0px; border-right-width: 0px; border-bottom-width: 0px; border-left-width: 0px; border-style: initial; border-color: initial; clear: both; color: rgb(90, 112, 179); height: 1px; "&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center; "&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;&lt;em&gt;"Michika."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Siapa Michika?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;&lt;em&gt;"Kamu."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Bukan. Aku Nabelle."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;&lt;em&gt;"Bodoh. Ini dunia mimpi dan sekarang namamu Michika!"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Siapa Michika?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;&lt;em&gt;"Seorang anak pelayat dari Jepang."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Oh, boleh juga jadi gadis Jepang yang manis sesekali."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;&lt;em&gt;"Umurmu tiga tahun dan kamu sedang tersesat di dalam istana."&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Jangan bercanda. Ini mimpiku, terserah aku dong?"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;&lt;em&gt;"Jangan banyak cingcong. Sana cari orangtuamu!"&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disinilah dia sekarang, di sebuah ruangan super besar entah terdiri dari berapa ribu tatami yang berbulu dengan banyak sekali orang-orang berdiri di depannya. Semuanya terlihat seperti raksasa dalam penglihatan bocah kecil berusia tiga tahun itu—menyeramkan ih. Papa dan mama yang mengajaknya kesini, sekarang entah ada dimana. Mungkinkah mereka tersesat? Michi harus mencari mereka kalau begitu. Padahal sejak turun dari pesawat terbang tadi, Michi terus-terusan menggandeng mereka supaya mereka tidak menghilang. Ternyata ukuran tubuh Michi yang kecil kontet nan lucu itu tidak efektif menjadi penjaga orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah kecil itu menyapu seluruh ruangan dengan permata hitam pekatnya, berusaha mencari-cari dimana papa dan mamanya berada. Seharusnya tidak jauh dari sana, bukan? Kaki-kaki kecilnya yang dibalut kaos kaki putih berenda-renda dan sepatu mungil berwarna pink mengayun perlahan—kepalanya tetap tengok kiri kanan dengan pipi menggembung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Ga' keyiatannnn,"&lt;/strong&gt; seru bocah kecil itu sambil &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/1677362899.jpg" target="_blank" rel="nofollow" style="color: rgb(104, 36, 37); text-decoration: none; "&gt;memonyongkan bibirnya&lt;/a&gt;—kesal. Semua orang terlihat seperti tiang listrik baginya. Yang terlihat jelas hanya celana atau roknya saja. Setiap kali menengadah yang terlihat hanya bagian bawah dagu dan dua lubang hidung yang mengundang untuk dicolok dengan jari mungilnya. Bocah kecil itu mendengus kesal—pipinya semakin digembungkan. Dia kembali berjalan berputar-putar di tempat yang sama—meski merasa sudah berjalan sangat jauh dan lama sekali. Sesekali dia memanjat kursi yang cukup rendah dan berdiri di atasnya mencari-cari sosok yang mirip dengan papa dan mamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah kecil itu bingung, untuk apa orang-orang sebanyak ini berada di satu ruangan. Membuatnya semakin susah mencari papa dan mamanya yang tersesat. Bagaimana kalau mereka nanti menangis mencarinya? Kasihan, kan. Michi nanti jadi harus susah payah menghibur mereka supaya berhenti menangis. Melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah kecil itu tiba-tiba berhenti di depan meja yang penuh dengan kue-kue kecil, menatap dengan terpesona dan setitik liur mengintip di sudut bibirnya. Dia langsung lupa akan tugasnya mencari papa dan mamanya. Dengan kedua kaki mungilnya dan sedikit bantuan tangannya, dia memanjat menaiki sebuah kursi yang ada di dekat meja tersebut.&lt;em&gt;Hup—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—kini kue-kue itu bisa dengan mudah diambilnya. Dengan girang diambilnya sebuah kue penuh krim strawberry dan langsung dilahapnya dengan rakus. &lt;strong&gt;"Eny'aakk..." &lt;/strong&gt;Wajah lucunya itu kini belepotan dengan krim strawberry. Dia mengambil lagi sebuah kue dengan lapisan selai coklat tebal yang terlihat sangat menggiurkan. &lt;em&gt;Hap—&lt;/em&gt;kue itu dengan sukses masuk ke mulutnya dan menambah noda di wajah dan tentu saja di tangannya. Dia melahap kue-kue itu satu persatu dengan wajah sangat bahagia. Namanya juga anak-anak. Setelah perutnya kenyang, dia teringat lagi pada papa dan mamanya. Bocah kecil itu segera turun dari kursi tempatnya berdiri tadi sambil menjilati jari-jarinya yang penuh krim dan kembali melangkah mencari papa dan mamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"Meonggg"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Meong? 'ucing? Michi cuka!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba indera pendengarannya menangkap suara seekor kucing dan sekali lagi, lupalah dia pada tugasnya. Bocah kecil itu menoleh ke arah suara dan melihat beberapa orang besar sedang berkumpul disana. Dua laki-laki yang ada disana berambut hitam dan tampak seperti papanya dari belakang. Bocah kecil itu juga melihat seekor kucing tengah digendong-gendong bergantian oleh mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Papa main sama 'ucing?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michi dengan riang berlari dengan langkah-langkah yang mungkin terlihat goyah di mata orang dewasa—ke arah orang yang diduga adalah papanya. &lt;em&gt;Pluk&lt;/em&gt;. Dengan cepat bocah kecil itu memeluk erat kaki salah satu dari kedua lelaki itu yang dianggap paling menyerupai papanya. Wajah dan tangannya yang belepotan dengan sukses menodai celana orang itu. &lt;strong&gt;"Papa! Michi mau! 'ucing! Michi mau 'ucing!"&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-2069980534455698275?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/2069980534455698275/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/tale-of-macturian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2069980534455698275'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2069980534455698275'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/tale-of-macturian.html' title='The Tale of Macturian'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-7837776549094886476</id><published>2009-11-16T08:44:00.000-08:00</published><updated>2009-11-16T08:45:58.944-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Dedalu Perkasa'/><title type='text'>Event Halloween Ball part 2</title><content type='html'>Malam semakin menunjukkan dirinya. Bulan pun semakin terang bercahaya menghiasi langit malam bersama bintang-bintang. Memberikan cahaya yang menaungi para manusia yang tengah berpesta di hamparan bumi hijau. Cahayanya berpadu dengan cahaya dari lentera-lentera berwajah seram yang terbuat dari labu, memberikan warna hangat—mengalihkan hawa dingin yang mulai terasa menusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri, pangeran, pesta dansa dan istana. Semua itu sekarang tersaji di Hogwarts. Bagi anak-anak gadis seusia Nabelle, hal tersebut adalah sebuah kesenangan tersendiri. &lt;em&gt;Every girls wannabe a princess, wanna be treat as a princess.&lt;/em&gt; Dan tanpa adanya seorang pangeran, sebuah dongeng takkan pernah terasa lengkap. Kakinya masih bergerak seirama dengan musik, berdansa waltz dengan seorang pangeran imajiner. Gadis kecil itu tumbuh dalam lingkungan bangsawan sehingga ia akrab dengan pesta dansa, meski pasangan dansanya selama ini adalah ayah dan kakeknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu tak ambil pusing dengan sekelilingnya yang mungkin saja menatap dirinya dengan pandangan aneh. Dia terus berdansa dan mulai bersenandung mengikuti irama yang keluar dari mulut sang gramofon. Setidaknya mereka takkan mengenali wajahnya yang tertutup topeng. Pikirannya mulai melayang pada pesta-pesta dansa yang dihadirinya di kastil Russia milik kakeknya. Saat-saat berdansa dengan almarhum ayah yang masih begitu dirindukannya. Bagaimana sang ayah akan menggendongnya begitu lagu selesai diputar dan memberikannya kecupan yang berarti ia sudah harus tidur—sementara para orang dewasa melanjutkan pestanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;&lt;small&gt;&lt;em&gt;Langkahkan kakimu seirama dengan musik, Belle—&lt;/em&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;em&gt;Yes, Daddy.&lt;/em&gt;&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;&lt;small&gt;&lt;em&gt;—jangan kaku. Santailah dan biarkan musik mengalir di tubuhmu.&lt;/em&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;em&gt;Okay. Like this?&lt;/em&gt;&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah yang selalu dikatakan sang ayah padanya pada awal-awal dia belajar berdansa. Ayahnya dengan sabar mengajari dia hingga mahir berdansa. Setidaknya untuk ukuran anak-anak seperti dia saat itu. Takkan pernah dia lupakan bahwa sang ayah akan menghadiahinya pelukan erat bila dia berhasil menguasai teknik dansa yang beliau ajarkan. Memang bukan hadiah berupa materi, namun jauh lebih berharga dari benda apapun yang ada di bumi. Terutama sejak kematian sang ayah. Hadiah-hadiah itu tentu takkan mungkin lagi didapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah kakinya sedikit berantakan sekarang. Rasa rindu yang amat dalam tiba-tiba menguasai benaknya untuk kesekian kalinya. Gadis kecil itu menengadahkan wajahnya ke langit, memandangi bintang-bintang. Gadis itu tersenyum kecil pada salah satu bintang yang bercahaya paling terang dan menggumamkan kerinduannya dalam bisikan lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Dancing with the invisible man, Miss?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara berat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala gadis kecil itu bergerak turun, tatapannya kembali menatap lurus sebelum kemudian ia menolehkannya pada asal suara yang menyapanya. Satu sosok tinggi bertopeng tengah menatap dirinya. Suasana yang remang-remang cukup membuat apa yang tampak di hadapannya menjadi sedikit misterius dan seram. Anak lelaki itu memiliki warna bola mata yang berbeda sehingga membuat gadis kecil itu sempat mengira kalau yang berdiri di hadapannya adalah Thanatos. Tapi anak lelaki ini lebih pendek dari Thanatos dan matanya yang satu berwarna coklat, bukan biru. Rambutnya juga tidak pirang. Gadis itu menyunggingkan seulas senyum manis pada anak lelaki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Yes. With my illution prince and my dad."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu kemudian mengambil nomor undiannya dari kursi yang tadi didudukinya—beruntung tak ada orang yang duduk di sana sehingga menghilangkan nomornya. Lalu ia menyodorkan kertas berisi nomor undian itu pada anak lelaki di hadapannya. 85.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Apakah nomorku sama denganmu?"&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-7837776549094886476?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/7837776549094886476/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/event-halloween-ball-part-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7837776549094886476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7837776549094886476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/event-halloween-ball-part-2.html' title='Event Halloween Ball part 2'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-7744402415931369289</id><published>2009-11-14T07:10:00.000-08:00</published><updated>2009-11-15T22:11:06.978-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Dedalu Perkasa'/><title type='text'>Event Halloween Ball</title><content type='html'>Akhirnya hari ini tiba juga. Pesta dansa pertama gadis kecil itu selain pesta-pesta keluarga Russia-nya. Jujur saja, gadis kecil itu sangat bersemangat. Ibunya telah mengirimkannya gaun pesta yang sangat cantik berwarna dominan hijau muda ditambah sedikit warna kuning dan putih. Di pinggang kanannya disematkan bunga buatan dari kain yang mempermanis gaun tersebut. Ibunya juga mengirimkan dia sepasang sepatu berwarna hijau muda yang cocok dengan gaun tersebut. Nah, yang paling keren adalah satu koper kecil penuh dengan bunga anggrek putih dan alat-alat penata rambut yang telah diberi sihir oleh ibunya sehingga saat gadis itu mengucapkan "&lt;em&gt;dandan&lt;/em&gt;", peralatan tersebut akan bergerak sendiri untuk menata rambutnya. Kalau dilihat-lihat keseluruhan gaunnya itu seperti kostum Tinker Bell. Pas sekali dipakai oleh gadis itu. Membuat rambut pirangnya terlihat semakin cerah dan permata abu-abu mudanya lebih hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah rambutnya selesai dijalin oleh peralatan ajaib itu, gadis kecil itu terlihat seperti putri dari negeri dongeng. Dia tersenyum sendiri melihat bayangannya di depan cermin. Seandainya yang jadi pasangan dansanya malam ini adalah Prefek Artois, pasti dia akan sangat senang. Tapi, semua orang akan pakai topeng hari ini, akan susah baginya untuk menebak yang mana Kak Artois. Kecuali keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Serahkan pada Merlin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu berjalan santai dari kastil menuju lokasi pesta, Dedalu Perkasa. Tempat itu menakutkan, pas sekali untuk Pesta Halloween. Sejujurnya, gadis kecil itu sedikit takut kesana. Makanya hingga detik ini, hanya tempat itulah yang belum diinjaknya. Setidaknya malam ini disana akan ada banyak orang dan pasti akan aman-aman saja. Sekarang gadis kecil itu sudah berdiri di depan dua pilar dengan replika labu dari kaca—pintu masuk ke tempat berlangsungnya acara. Gadis itu memandang ke dalam area yang dikelilingi tali. Takjub melihat banyak orang dengan gaun-gaun indah dan topeng-topeng yang cantik. Beberapa tampak agak menyeramkan. Gadis itu kemudian menghampiri replika labu dan mengambil sebuah nomor undian yang akan menentukan siapa pasangannya hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Nomor 85.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa ya kira-kira anak lelaki dengan nomor yang sama dengannya? Bagaimana cara mereka saling bertemu nanti di tengah keramaian seperti ini. Gadis itu melangkah masuk ke dalam. Menyaksikan beberapa orang yang sepertinya adalah para Prefek sedang berdansa. Tiba-tiba seseorang menyenggol gadis itu sehingga hampir terjatuh. Orang itu bukannya minta maaf, malah berlalu begitu saja. Tempat pesta semakin padat. Suara musik yang mendayu begitu keras membuatnya agak sulit mendengar. Tiba-tiba saja, gadis itu merasa sangat kecil. Kecil—dan rapuh. Apa yang tadinya terlihat sebagai kerumunan orang-orang yang seperti karnaval, kini tampak seperti gerombolan yang mengancam. Seorang anak laki-laki menabraknya lagi. Membuat gadis kecil itu semakin kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kak Artois. Aku mau Kak Artois.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu tahu, tak mungkin mencari sang prefek di tempat seramai itu—di balik topeng pula. Gadis kecil itu cepat-cepat melangkah ke sebuah sudut yang agak sepi. Duduk di sebuah kursi yang ada di sana—memejamkan matanya sesaat. Bodoh, kenapa tiba-tiba dia merasa ketakutan seperti itu. Orang-orang yang ada disini adalah orang-orang yang sama yang selalu dilihatnya sehari-hari. Gadis kecil itu menyapu sekeliling tempat pesta dan melihat di sampingnya ada seorang anak laki-laki yang perawakannya mirip dengan prefek yang ia cari-cari sejak tadi. Tanpa sadar, tangannya telah menarik lengan kemeja laki-laki itu dan menyapanya. Berharap orang itu benar-benar orang yang ia cari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kak Artois?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Musik mengalun lembut memenuhi seluruh area pesta, memanjakan telinga setiap insan yang menghargai musik. Semakin banyak orang-orang bertopeng yang datang bergandengan dengan pasangannya. Banyak juga anak-anak seusianya mencari-cari pasangan mereka dengan bingung di balik topeng-topeng mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dia hanya duduk diam di sebuah kursi di sebuah pojok yang tak begitu terlihat—menikmati alunan lembut dari sang gramofon. Gadis kecil itu enggan berbaur dengan keramaian yang memang tak begitu disukainya. Kak Artois sudah pergi meninggalkan dia dengan sebuah kata maaf kemudian menghampiri sosok seorang gadis di dekat gerbang masuk—menggandengnya ke tengah dan mereka kini berdansa dengan pasangan-pasangan prefek lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristal abu-abu mudanya terus memperhatikan kedua pasangan yang terlihat begitu nyaman bersama itu. Gadis kecil itu bisa melihatnya dari gestur yang ditunjukkan oleh sang prefek saat menggandeng dan memeluk gadisnya. Di matanya, kedua orang tersebut terlihat seperti Pangeran dan Putri dalam buku-buku dongengnya. Dia tersenyum kecil melihat gestur sang prefek yang menjadi begitu rileks di dekat gadisnya. Dalam diamnya, gadis kecil itu mendoakan kebahagiaan kedua sejoli itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, dia tak tahu apa-apa soal cinta. Benak mudanya masih belum bisa mencerna segala partikel rumit yang terkandung dalam sebuah kata cinta. Yang dia tahu hanyalah, dia menyayangi sang prefek lebih dari seorang kakak tapi itu juga tak bisa disebut sebagai cinta. Beda dengan rasa sayangnya pada Challaza atau Rayearth. Mungkin karena momen yang dilewati gadis itu bersama sang prefek telah mengubah pandangannya terhadap sesuatu yang besar dalam hidupnya. Ya, dia bisa menerima keberadaannya di Ravenclaw berkat seorang Artois muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia masih bisa merasakan kehangatan lindungan yang diberikan oleh sang prefek saat menggendongnya dari danau menuju Hospital Wings, dia masih ingat semua kata-kata yang diucapkan Artois muda kepadanya. Dia masih ingat semuanya dan hal itu membuat dia semakin menghormati dan menyayangi sang prefek. &lt;em&gt;Spesial&lt;/em&gt;. Mungkin itu kata yang tepat untuk menjelaskan arti seorang Artois muda bagi Belle kecil.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bosan. &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu tak tahu siapa pasangannya yang memegang nomor undian 85, dia juga tak berniat mencari. Dia masih asyik memperhatikan sang prefek kesayangannya berdansa. Perlahan gadis kecil itu berdiri—meletakkan nomor undiannya di atas kursi yang tadi ia duduki dan tanpa sadar mengikuti gerakan kedua sejoli yang sedang dilihatnya. Gadis kecil itu berdansa dengan 'pangeran' ilusinya sendiri. Sedikit berharap yang ada dalam pelukan sang prefek adalah dirinya. Dengan gemulai, kedua kakinya melangkah mengikuti irama musik, berputar dengan gerakan yang lembut. Setidaknya, rasa sepi dan bosan yang tadi ia rasakan sedikit menguap. Tidak buruk juga berdansa sendirian.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/NABELLEFASHION.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Penampilan Belle hari ini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-7744402415931369289?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/7744402415931369289/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/event-halloween-ball.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7744402415931369289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7744402415931369289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/event-halloween-ball.html' title='Event Halloween Ball'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-4200629303599580171</id><published>2009-11-13T23:20:00.001-08:00</published><updated>2009-12-18T07:51:19.702-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Perpustakaan'/><title type='text'>Berburu Naga Kerdil</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;NABELLE&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dragon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryuu.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu betapa besar rasa ingin tahu gadis kecil bernama Nabelle Marion Elsveta ini terhadap makhluk sihir yang disebut Naga? Iya, naga yang ada di buku-buku dongeng anak-anak dan juga di film-film kartun. Naga yang gagah, besar dan bisa menyemburkan api itu. Sangat besar. Yeah, sangat besar rasa ingin tahu gadis itu. Terutama sejak ia mengetahui bahwa di dunia sihir benar-benar ada naga sungguhan, gadis kecil ini seringkali bermimpi bertemu dengan naga. Ditambah lagi, saat dia membeli tongkat sihirnya di Diagon Alley, dia mendapat tongkat sihir dengan inti nadi Naga Kerdil. Sampai saat ini pun, gadis kecil itu sungguh penasaran dengan wujud asli seekor Naga Kerdil. Dia pikir semua naga itu besar seperti dinosaurus. Tapi ternyata ada yang kecil juga. Benar-benar seperti ayam. Ada yang besar dan ada yang kate—meski ukurannya nggak beda-beda jauh, sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Seharusnya Naga Kerdil itu lebih besar dari Pod—Miniatur Naga milik senior Devin. Mungkin seukuran anak anjing?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, saat ini gadis kecil itu kini berada di balik rak-rak buku tinggi di perpustakaan Hogwarts. Perlahan-lahan menyusuri barisan buku-buku dengan jemari kurusnya. Astronomi Populer, Ramalan Bintang, Cara Membuat Ramuan Cinta (?), Sejarah Quidditch. Kedua permata kembarnya sibuk mencari-cari buku yang mengisahkan tentang naga yang tak juga berhasil dia temukan. Perpustakaan itu sangat luas. Penuh dengan ratusan rak buku yang besar-besar. Gadis itu jadi ragu, bisakah ia menemukan rak yang penuh dengan buku tentang naga hari ini juga? Dia tak tahu dimana rak yang tepat berada, meski sudah bertanya pada petugas perpustakaan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu belum hendak menyerah. Meski ia cukup kesulitan untuk melihat judul-judul buku pada bagian atas rak. Seperti perpustakaan pada umumnya, di sana juga disediakan tangga beroda untuk memudahkan mereka yang hendak mengambil buku pada rak bagian atas. Gadis itu perlahan memanjat tangga tersebut. Penasaran hendak mengambil sebuah buku tebal berwarna merah di atas sana. Debu menyambutnya begitu tiba di atas. Permukaan punggung buku itu dilapisi debu yang cukup tebal, pertanda tak banyak orang yang meminjamnya. Gadis itu membersihkan buku tersebut dengan sapu tangannya. Kini terlihatlah goresan tinta emas yang tertulis disana. Ensiklopedia Naga. Ah! Ini buku yang ia cari-cari. Demi Merlin, akhirnya dia berhasil menemukannya. Dengan bersemangat, ia menarik buku tersebut keluar dari rak. Berat, keras, buku itu sepertinya terjepit begitu kuat oleh buku-buku lain di sampingnya. Gadis itu menggunakan kedua tangannya dan menarik buku tersebut sekuat tenaga. &lt;em&gt;PONG!&lt;/em&gt; Berhasil. Buku itu kini ada di tangannya. Tak disadarinya bahwa berat buku itu membuat pijakannya di tangga jadi tak seimbang. Buku itu mengayun ke bawah, mendorong tubuh gadis itu ke belakang tanpa bisa ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GUBRAKKK!!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu terjatuh dan dengan sukses membenturkan kepalanya pada rak buku di belakangnya. Semoga saja tidak membuat buku-buku disana terjatuh atau tamatlah riwayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Ouch"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku tebal yang tadi diambilnya terlempar mengenai kaki seseorang. &lt;em&gt;Ups, maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;ARSHAVIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Demi setiap potong diksi yang pernah mengalir, demi setiap perkamen yang pernah bertoreh deret-deret kalimat pewadah ilmu, dan demi setiap momen ketika konversasi serupa kenangan berarti dengan &lt;em&gt;seseorang&lt;/em&gt;, aroma di sana terlalu ia kenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arshavin Windstroke menyusuri lapisan ubin yang kental dengan selimut debu, melayangkan pandang sesekali pada kubik-kubik segi panjang berpetak teratur yang di dalamnya berpucukkan sampul-sampul tebal penuh sepuhan pengetahuan, lalu pandangan sewarna langit musim panas itu berpaling sejenak pada jendela berbingkai kayu di sampingnya. Terlalu banyak detik yang tersisa di balik lapisan transparan itu, rupanya. Sejauh lapisan teduh itu memandang, senja masih sangat jauh. Mungkin tertidur pada permukaan garis horizon yang samar-samar terpetakan langit, mungkin bahkan sudah mengintip di sisi bawah jendela dan sedang menunggu momen paling tepatnya untuk muncul tiba-tiba. Tidak peduli, sebenarnya. Kerlingan saja yang menjadi pembatas gesturnya, sampai garis imajiner yang tadinya bertumbukkan dengan permukaan mengilap jendela berbingkai eboni tersebut dibelokkan, kembali pada jalurnya semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lurus, dan masih menjumpai sepi yang sama. Karena ini bukan tempat dimana kau bisa melontarkan canda dan kikikan ringan, karena ini bukan lahan stereotip tempat kau bisa mengisi perut ataupun mencurahkan pikiran secara verbal di antara sepuluh kepala, maka kebanyakan menghindarinya. Cukup manusiawi, memang. Lalu, apakah itu berarti bahwa yang memilih untuk menatah diri di dalamnya telah kehilangan insting kemanusiaannya? Tidak. Sama sekali tidak. Ini hanya masalah pilihan. Ada jutaan probabilitas yang tersedia untuk satu menit saja waktu luang, dan di antara tebaran tersebut, sang Windstroke muda memilih perpustakaan sebagai opsi tunggalnya. Terlampau sering. &lt;em&gt;Ha&lt;/em&gt;. Entah apa ia membutuhkan cibiran ataupun rangkai pujian atas pemikiran bersudut pandang sempitnya itu, Arshavin memilih untuk mengalihkan atensinya pada alasan ia berada di sini. Langkahnya terajut lagi setelah membuang beberapa detik untuk memilih arah, ia kini menetapkan destinasinya pada suatu spot yang berjarak tiga rak dari tempatnya berdiri. &lt;em&gt;Random&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua detik ia terdiam, lalu kelopak matanya terpicingkan turun. Namun bukan karena menjumpai kebosanan di sana, bukan karena ia sedang bertumbukkan dengan momentum serupa anomali adegan. Itu, adalah perwakilan dari ekspresinya. Ya. Kakinya yang mendapatkan peran utama, sekarang—menerima bongkahan tambahan yang resmi membuat langkahnya terhenti dan alisnya berjengit. &lt;em&gt;Tsk&lt;/em&gt;. Roman wajah yang samar menjengahkan emosi itu refleks berpaling pada benda asing yang tiba-tiba tersungkur ke arahnya tersebut, alisnya berkerut lebih dalam. Sebuah buku. Ketebalannya hampir mencapai setengah penggaris, sampulnya menjadi penarik selanjutnya bagi tubuh sang Ravenclaw muda sehingga ia kini merunduk; memungutnya, namun sebuah suara yang dilatari sopran khas anak perempuan membuat mata biru langitnya berpindah haluan. Erat-erat, ia menjumpai satu sosok asing di hadapan. Rambutnya pirang, tubuhnya kecil mungil, penanda lintangan usia yang terpaut jauh. Junior, mungkin. Sang pelaku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas buku ini tidak turun dari langit ataupun tersesat dari peraduan sebenarnya. &lt;em&gt;Benar?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ha&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arshavin perlahan menggamit buku yang sudah menghabiskan detik-detik bersama buaian dingin lantai itu, menggamitnya erat selagi langkah pendeknya membawa tubuh berlapis jubah yang lisnya sebiru laut tersebut menuju satu titik; yang masih tersungkur berlatarkan sampul buku berbagai warna. Hitungan detik, ia tiba. Berhadapan. Aliran darah kehidupan milik sang Windstroke muda masih dingin di balik nadi, deras dalam kekonstanan yang membosankan bagaimanapun jenis emosi yang terwujud dalam otaknya, dan telapaknya yang kurus terulur perlahan dalam sekon selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Berdiri, Nona&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam benak, semua itu ternyatakan. Ia tidak terlalu pintar membuang-buang aksara, sayang sekali.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;em&gt;NABELLE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-style: normal; border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;Terakhir kali Belle terjatuh seperti ini adalah saat dia sedang belajar keseimbangan dengan Ms. Leona. Tiga buah buku tebal diletakkan di puncak kepalanya dan dia diharuskan turun dari tangga tanpa membuat buku-buku tersebut terjatuh. Pelajaran yang sangat sulit, bukan karena gadis kecil itu tidak mampu, tapi lebih karena bobot buku-buku yang diletakkan di kepalanya itu terlalu berat. Sepertinya Ms. Leona lupa bahwa Belle saat itu masih seorang bocah berusia 9 tahun. Alhasil, bukan hanya bukunya saja yang terjatuh—Belle pun dengan sukses ikut terjatuh bersama buku-buku tersebut, menggelinding sampai ke dasar tangga. Ajaibnya, gadis kecil itu sama sekali tidak terluka. Namun kali ini, Belle tidak seberuntung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapisan debu yang berjatuhan bersama buku-buku korban bencana jatuhnya Belle itu membuat gatal indera penciumannya. Belle bersin beberapa kali sebelum akhirnya debu-debu itu tidak lagi menghujani dirinya. Bintang-bintang imajiner berputar-putar saat gadis kecil itu mencoba membuka mata, seolah-olah kedua matanya ditempeli kaleidoskop yang berputar-putar tanpa akhir. Belle mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya, sebelah tangannya bergerak memegang belakang kepalanya yang terbentur keras. Jemari kurusnya mengusap bagian kepalanya yang sakit, sebuah benjolan yang cukup besar kini hadir di disana memberikan rasa nyeri yang cukup membuat senewen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Sssh..."&lt;/strong&gt; Gadis itu mendesis saat jemarinya tak sengaja menyentuh benjolnya. Puncak benjolannya itu sepertinya terluka, jemarinya merasakan sedikit lembab disana. Benar saja, ada sedikit noda darah di ujung telunjuknya saat ia melihatnya. Sial. Dia pasti terlihat sangat konyol dengan buku-buku menyelimuti bagian atas tubuhnya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tap tap tap—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—indera pendengarannya menangkap suara langkah kaki di dekatnya, semakin lama semakin dekat. Gadis kecil itu mengarahkan kristal abu-abu mudanya pada sosok pemuda yang kini berdiri di hadapannya dalam diam. Entah pemuda itu memang irit bicara atau memang bisu. Belle tidak tahu dan tidak hendak berkomentar. Apalagi dia mengulurkan tangan pada Belle. Itu artinya dia berbaik hati mau menolong, bukan? Gadis itu berasumsi kalau pemuda di hadapannya itu pasti adalah seniornya di Ravenclaw. Setidaknya dia merasa pernah melihatnya dan juga ada lis biru di jubahnya. Perlahan, gadis itu menyambut uluran tangan kurus seniornya itu. Mencoba menumpukan berat badan pada pegangan tangannya dan perlahan menapakkan kaki kanannya untuk berdiri. Hanya satu detik sebelum rasa nyeri yang amat sangat tiba-tiba menyerang kaki kanannya dan membuatnya berjengit kesakitan lalu kembali jatuh terduduk dengan wajah pucat. &lt;strong&gt;"Kakiku sepertinya terkilir."&lt;/strong&gt; Gadis kecil itu menatap pemuda di hadapannya dengan senyum miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kakak tahu tentang naga?"&lt;/strong&gt; Gadis kecil itu akhirnya memutuskan untuk membuka pembicaraan untuk memulihkan suasana kaku yang aneh antara mereka. Jari telunjuknya menunjuk pada buku-tebal-penyebab-bencana di genggaman sang senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;ARSHAVIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Seperti serbuk bunga yang kali ini memilih untuk mengubur diri sampai musim mereka tiba, debu-debu di sana seakan beralih fungsi menjadi tebaran lembut tersebut. Ringan. Berpendar keemasan saat diterpa cahaya matahari dan mulai menghiasi udara sebagai tembok rapuh, mencari sudut-sudut kosong kayu jendela yang belum terjamah, mengikuti setiap langkah yang menyisir mereka dalam satu derap saja, dan bersikap begitu lemah ketika helaian dingin udara kembali memeluk butir-butirnya. Ruangan bersudut empat ini, sama. Disepuhi seremoni gemerlap yang familiar, dengan eksistensi pararelnya yang terlampau sempurna, merambati penglihatannya perlahan. Ya. Arshavin Windstroke dapat melihat sungai keemasan milik debu mulai berulir dan menjalin suatu pola anyaman di atas pucuk kepala sang gadis, melatari penuh-penuh keberadaan dua orang dengan jubah bersepuh warna biru yang masih terpakukan dalam pemikiran masing-masing—mengiringi lamunan, yang mungkin sama-sama tak berujung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desibel-desibel suara di sekitarnya seolah kehilangan kemampuan untuk mengujarkan tugas mereka, sehingga hanya denging-denging milik sunyi yang ia jumpai dalam pemikiran satu arahnya. Bukan. Memang bukan waktunya ia terpaku dan mengulurkan tangan hanya karena refleks yang enggan bekerja sama. Ini juga bukan waktu yang tepat untuk menebarkan simpati tanpa alasan. &lt;em&gt;Seharusnya&lt;/em&gt;. Dan alisnya turut naik perlahan setelah tangan sang gadis menggenggam telapaknya; mempertanyakan gaya tarik yang tiba-tiba memperkuat diri dan membuat punggungnya ikut turun secara refleks. Benaknya mencibir sejenak, tepat ketika ia berlutut di hadapan gadis berambut pirang itu, sedikit merasakan tautan rasa tak nyaman karena lagi-lagi pemikiran realisnya terseret pada sirkumtansi merepotkan yang tak pernah ia harapkan. &lt;em&gt;Ck&lt;/em&gt;. Arshavin menarik telapak tangannya yang sempat menggenggam jemari mungil gadis Ravenclaw tersebut, sudut mata biru langitnya membaca deret kecil nama yang tertera pada jubah milik sosok di hadapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Nabelle Elsveta&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terkilir?” Kini frekuensi suara seolah mulai bermunculan kembali, saling tumpang tindih dalam ketergesaan yang berlebih, menghidupkan lagi pelataran di sana bersamaan dengan tutur kata datar milik sang Ravenclaw muda. Mata biru langitnya menatap lurus Elsveta sesaat, sampai kata-kata selanjutnya terdengar menerabas udara bersama intonasinya yang enggan berubah. “Bangkit dan cari Madam Pomfrey, kalau begitu.” Bibirnya terkatup rapat setelah kalimat tanpa nada itu. Dan yang Arshavin lakukan selanjutnya hanya mengulurkan buku bersampul keras yang sedari tadi ia genggam, bersiap untuk bangkit kembali sampai sebuah pertanyaan membuat lutut itu tetap bertumbukan dengan permukaan dingin lantai perpustakaan. Menahannya, dan tanpa sadar mata sewarna langit musim panas itu kini terpicingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“…Naga?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu gumaman pelan. Tatapan Arshavin kemudian berpindah pada sampul buku yang sedari awal ia genggam, memindai foil keemasan yang mematri judul tebal di sana—dan dua kakinya perlahan bersila di depan Elsveta. Ada dua frasa yang tanpa sadar ia batinkan dalam pikirannya, sebelum pada akhirnya sang Windstroke muda mengangkat dagu dan kembali menatap binar abu-abu muda milik sang junior yang bermahkotakan surai pirang tersebut. Ensiklopedia Naga. &lt;em&gt;Ha&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebegitu ingin tahunya—sampai mencelakakan diri sendiri?”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;em&gt;NABELLE&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Senior di depannya ini sepertinya tipe anak laki-laki yang irit bicara dan irit berekspresi—mungkin juga irit bergerak. &lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;—setidaknya itulah yang ditangkap oleh pikiran polos seorang gadis kecil bernama Nabelle Marion Elsveta itu. Sedari tadi Belle amati, senior bernama Arshavin Windstroke itu hanya mengangkat alisnya perlahan tanpa ekspresi, mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri lalu berlutut di hadapannya. Permata biru langitnya yang indah itu pun seolah segan menuturkan kalimat-kalimat yang mengalir dari sungai hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Terkilir?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan seperti itu seharusnya diucapkan dalam ekspresi penuh kecemasan, bukan? Bukan dengan nada datar seperti yang keluar dari bibir senior di hadapannya ini. Apalagi yang terjatuh adalah seorang anak perempuan mungil berambut pirang berombak seperti boneka ini &lt;small&gt;&lt;em&gt;*narsis plakk*&lt;/em&gt;&lt;/small&gt;. Permata biru langitnya menatap Belle sesaat sebelum kemudian menyuruhnya bangkit dan mencari Madam Pomfrey—masih dengan nada datar yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Huff—berdiri dibantu kakak saja aku tak mampu. Apalagi mencari Madam Pomfrey?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu menghela napas dan hanya tersenyum menatap seniornya, kristal abu-abu mudanya membalas tatapan sang biru langit seolah ingin mengatakan ketidakmampuannya melakukan apa yang diusulkan pemuda itu. Lagipula, dia masih ingin menyelidiki isi dari buku yang kini ditatap oleh senior Arshavin—Ensiklopedia Naga. Pemuda itu perlahan duduk bersila di depan Belle. Duduk berarti dia bersedia menemani Belle mencari info tentang Naga, bukan?&lt;em&gt; Hore—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Sebegitu ingin tahunya—sampai mencelakakan diri sendiri?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cengiran di wajah gadis kecil itu semakin lebar sekarang meski ekspresi senior Arshavin masih tetap datar-datar saja saat menanyakan soal keingintahuannya itu. Belle yakin—meski wajah senior Arshavin seperti orang kram—senior Arshavin adalah orang yang memiliki kehangatan yang tulus. Buktinya dia tidak meninggalkan Nabelle sendirian di tengah tumpukan buku-buku dan debu. Diam-diam gadis kecil itu bersyukur yang ada di hadapannya sekarang bukanlah senior jahat seperti prefek ular rambut bulu kucing itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belle memang ingin tahu tapi tak berniat mencelakakan diri sendiri, kok. Bagian terjatuh itu tidak termasuk dalam rencana, Kak," ujar Belle panjang lebar dengan mata berbinar-binar, "Kakak tahu tidak, naga itu hewan sihir yang luar biasa gagah. Buktinya, di dongeng-dongeng dalam buku-buku cerita muggle, naga selalu dikisahkan sebagai hewan keramat atau pahlawan. Selama ini, Belle kira naga itu tidak benar-benar ada, lho. Sampai akhirnya Belle diberi tongkat sihir dengan inti nadi Naga Kerdil Islandia ini." Gadis kecil itu mengacungkan tongkat sihirnya dengan kebanggaan yang jelas terlihat di binar matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tongkat sihir kakak, intinya apa? Sesuatu dari Naga juga? Kakak pernah melihat Naga secara langsung, tidak? Jinak atau tidak? Bisa ditunggangi seperti di dalam dongeng?" Pertanyaan mengalir bertubi-tubi dari bibir mungil si pemilik surai keemasan. Harap maklum, Belle benar-benar terobsesi dengan naga dan segala keajaibannya. Tanpa sadar, gadis kecil itu semakin mencondongkan wajahnya mendekati wajah senior Arshavin dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;ARSHAVIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Segenggam debu terasa menyebar dan menyaputi bayangan di sekitarnya, dengan tendensi yang biasa menggelitik beberapa indera penciuman para awam, namun ia tidak. Sudah cukup terbiasa dengan jutaan mikroskopis itu, Arshavin menghela nafasnya ringan; seolah ia sedang berada pada suatu sirkumtansi dimana hanya ada oksigen sebagai atmosfer utama, sedikit menyesap lagi bau apak jamur yang bercampur dengan bau khas kertas kekuningan di sana sementara matanya masih lurus menatap sang lawan bicara. Biru langit itu menggulir naik sejenak pada detik selanjutnya, teralihkan oleh anyaman keemasan yang terbentuk pada udara di atas mereka. Sungai debu itu kemudian terkoyak oleh sepoi tipis bentukan angin musim gugur, membuat tebaran-tebarannya hinggap pada ujung bahu dan terserpihkan sedikit di balik surai kecokelatannya, membawa serta atensinya untuk turun kembali saat binar mata cemerlang menghujani penglihatan Ravenclaw muda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening. Arshavin hanya menanggapi penjelasan Elsveta dengan satu anggukan yang nyaris terlihat sama samarnya dengan kisik angin di sekitarnya, tidak terlalu peduli dengan bahan pembicaraan awal mereka yang bahkan sudah mulai membuyar di dalam sudut pengingat pada otaknya. Entahlah. Ia bahkan tidak tahu alasan mengapa langkahnya terhentikan dan bersila pada lantai yang debunya mulai menyamarkan garis pemeta ubinnya, yang jelas biru langit itu terpakukan absolut pada sampul tebal di dalam rengkuhan tangan. “Buku ini… milikmu?” kata-kata tanpa nada mulai bertemperasan menimpa frekuensi hening yang melingkupinya, ia mendengarkan setiap penjelasan sang gadis yang tiba lebih dulu—rupanya semua, memang bermuara di titik yang sama seperti judul berfoil perak di hadapan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hm. Taring naga hitam Swedia.” Ia menarik kasual serutan kayu hitam dari balik saku jubahnya, mengibaskannya singkat di hadapan Elsveta dan menaruh lintingan berkilap itu di sampingnya dengan tatapan yang berpindah cepat; kembali pada bentangan deret-deret kecil tulisan dalam genggaman. Menelusurinya, membalik halaman-halamannya begitu ia sampai pada catatan kaki. “Keberadaan Naga selalu dijaga, dalam sangkar yang kuat, juga dalam penangkaran yang ditangani banyak ahli. Tidak akan mudah untuk kau jumpai.” Ada ilustrasi yang terpindai oleh matanya ketika jemarinya membalik helaian rapuh buku tersebut. Tangan Arshavin terhenti di sana. Ya. Naga hijau Wales, sisiknya seperti nama yang ia sandang, sementara percik api tergambarkan mulus melewati moncongnya yang tajam. Taring kecil disaputkan tinta sang pelukis dengan detil yang cukup menakjubkan, impresi anggun digambarkan sempurna lewat sapuan cat yang membentuk sepasang sayap lebar pada punggung naga tersebut. Tanpa sadar pandangan antusias lolos pada binar beku itu, walau redup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini. Spesies paling jinak, yang paling ramah terhadap manusia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arshavin mengangkat dagunya, menyadari binar antusias yang lolos lebih kentara dari mata abu-abu Elsveta, dan mendorong sedikit buku tersebut ke sisi sang gadis Ravenclaw. “Tidak bisa kau tunggangi, tentu saja. Seramah apapun naga ini, ia akan menghabisimu dalam satu tarikan nafas—jika kau menyentuh satu inci saja sisiknya.” &lt;em&gt;Ha&lt;/em&gt;. Mungkin juga, sebagai metode penghilangan nyawa paling efisien, mengingat satu cakar naga saja bisa mencabik jantungmu sampai otot-otot terkecilnya. Hm, apapun. Sang Windstroke muda menarik ujung dari halaman buku itu, menyingkapnya hingga halaman lanjutan terpampang. Ada suntikan rasa ingin tahu yang membuat pemuda berambut cokelat itu terus mengikatkan tatapan pada helaian yang ujungnya sudah mulai menguning tersebut. Rinai datarnya kembali mengudara, dengan sorotan lurus yang masih tertunduk pada bentangan sarat tulisan dan ilustrasi di sela-sela jemarinya. “Bukan pahlawan seperti dalam dongeng-dongeng tak-berdasar itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia, Ravenclaw muda yang kini mendapati benaknya sedang mengulas satu garis senyum skeptis, mulai &lt;em&gt;mematahkan mimpi&lt;/em&gt;. Yang memang tak pernah ada. Tak &lt;em&gt;seharusnya&lt;/em&gt; ada. &lt;em&gt;Benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;*****&lt;br /&gt;NABELLE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang di dunia manapun, baik itu dunia sihir ataupun dunia muggle, tempat yang diberi label perpustakaan selalu merupakan tempat yang tenang dan sunyi. Itu sebabnya, banyak anak murid yang memanfaatkan ketenangan tersebut untuk belajar atau sekedar membaca buku. Meski lebih banyak lagi yang memilih opsi tambahan dari manfaat sebuah ketenangan; untuk beristirahat dan memejamkan mata—sebut saja, tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di sebuah sudut di dalam perpustakaan besar milik sekolah sihir Hogwarts, dua orang anak elang terlihat sedang asyik membahas sesuatu di tengah serakan buku-buku yang berdebu. Si pemuda dengan jalinan aksara bertuliskan Arshavin L. Windstroke pada jubahnya tengah memangku sebuah buku besar yang tebal. Buku itu terbuka lebar, memperlihatkan berbagai informasi dan lukisan beragam jenis Naga di dunia. Gairah membuncah dari gerak tubuh pemuda itu meski ekspresinya sedatar batu pualam. Sementara si gadis kecil—Nabelle—dengan mata berbinar dan gestur yang jelas menunjukkan antusiasme, sibuk melontarkan pertanyaan demi pertanyaan pada pemuda yang duduk bersila di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu tak jarang mengeluarkan desah kekaguman setiap kali halaman demi halaman buku tersebut dibalik oleh jemari Arshavin—memperlihatkan lukisan sosok Naga yang selalu membuat gadis kecil itu terpesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Buku ini milikmu?"&lt;/span&gt; Arshavin melontarkan pertanyaan dalam nada datar yang akhirnya tenggelam begitu saja dalam rentetan pertanyaan beruntun dari si gadis kecil. Seolah dalam kepala gadis kecil itu hanya ada Naga, Naga dan Naga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Hm. Taring Naga Hitam Swedia,"&lt;/span&gt; ujar Arshavin kemudian, menanggapi pertanyaan Belle mengenai inti tongkat sihirnya. Dikibaskannya tongkat berkayu hitam itu di hadapan kristal abu-abu muda Belle yang masih berbinar semangat, lalu meletakan tongkat hitam tersebut di sampingnya. Sorot abu-abu muda si gadis kecil dengan bersemangat mengikuti ke mana tongkat hitam tersebut diletakkan dan memantekkan pandangannya kesana sembari tetap menyimak untaian kalimat yang mengalir dari bibir sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan, gadis kecil itu meletakkan tongkat sihir miliknya yang berwarna putih di hadapan tongkat hitam Arshavin—menyentuhkan ujung tongkatnya dengan ujung tongkat hitam si pemuda. Gadis kecil itu tertawa renyah—entah apa yang ada dalam pikirannya. Bisa kau tebak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Ini spesies paling jinak, yang paling ramah terhadap manusia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atensinya seketika teralih pada halaman yang ditunjuk oleh Arshavin. Kristal abu-abu mudanya menangkap satu sosok bersisik hijau yang anggun dan menakjubkan disana. Terpesona dengan sayap lebar yang begitu indah pada punggung makhluk ajaib tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hm, terlalu besar untuk dipelihara, Kak," ujar Belle menimpali. "Apakah bisa ditunggangi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arshavin mendorong sedikit buku tersebut ke sisi Belle, seolah menyadari keinginan si gadis kecil untuk melihat lebih jelas. Risih dengan posisi duduk mereka, Belle beringsut pelan—menggeser kakinya yang terkilir untuk memindahkan posisinya ke samping Arshavin lalu menarik buku tersebut ke hadapan mereka. "Begini lebih nyaman bacanya, kan." Gadis kecil itu tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya pada sosok tanpa ekspresi di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Tidak bisa kau tunggangi, tentu saja. Seramah apapun naga ini, ia akan menghabisimu dalam satu tarikan nafas—jika kau menyentuh satu inci saja sisiknya. Bukan pahlawan seperti dalam dongeng-dongeng tak berdasar itu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle terdiam menyimak kata demi kata yang tertutur dari bibir Arshavin—mulutnya ternganga. Nada antusias sejenak terdengar dari intonasi suara pemuda itu meskipun samar—membuat Belle tersenyum lebar sekalipun kalimat akhir sang biru langit mematahkan mimpinya. Sedikit. Bukan Belle jika hal sepele seperti itu saja membuatnya sedih atau kecewa berlebihan. Gadis itu menghela nafas sambil menatap lukisan Naga bersisik hijau tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang sekali, ya. Padahal Belle ingin mencoba terbang dengan menunggang Naga, lho. Pasti akan terlihat keren! Oh ya, Belle pernah baca buku tentang seorang pengurus Naga. Orang itu hebat sekali ya, berani berdekatan dengan Naga yang begitu besaaaarrr," ujar Belle panjang lebar sembari merentangkan kedua tangannya ke atas untuk menunjukkan besarnya ukuran Naga dalam imajinasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu terdiam sesaat, membiarkan angin yang berhembus masuk dari jendela di dekatnya mengayunkan surai keemasannya. Belle teringat pada sesuatu yang tiba-tiba terbersit di benaknya, alasan sesungguhnya mengapa gadis kecil itu bisa berada di ruangan tersebut bersama dengan Ensiklopedia Naga yang membuatnya terkilir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ahhh.. berarti Belle tak bisa meminta hadiah Naga pada papa Silver Claymer, dong," gumamnya dengan volume cukup keras sambil menggigit ujung jari telunjuknya. Keningnya sedikit berkerut. Perlahan sorot abu-abu mudanya kembali menatap kristal biru langit di sampingnya dengan ekspresi penasaran. Gadis kecil itu memonyongkan bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak Arshavin, memangnya tak bisa ya, Naga dibonsai seukuran anak anjing?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seringai nakal nan polos kini terlukis di wajah mungil yang dibingkai oleh surai keemasan itu, menanti jawaban dari pemuda berwajah datar di hadapannya. "Hehe."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ARSHAVIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Pada akhirnya, ia memang menikmati jengkal tipis kontemplasi itu. Setiap helaian buku yang tersibak oleh jemarinya menjadi pusat dari atensinya yang sebenarnya nyaris terlihat kosong karena dominasi tatapan biru redupnya, suaranya yang seolah kehilangan determinasi untuk sekedar mengungkapkan ekspresi bahkan kadang meloloskan sedikit antusiasme lewat paparan kata yang sedikit bernada. Tadi, keganjilan tersebut menyeruak. Dan masih. Arshavin Windstroke setidaknya masih memiliki cukup alasan untuk tetap berada di sana, mengesampingkan fakta bahwa tujuan awalnya terlupakan sempurna, namun paparan ilustrasi dan deret-deret kecil penjelasan di bawah kotak bersepuh warna klasik yang menguntai gambar berbagai entitas bersisik kokoh, dengan sukses menjadi pengikat bagi langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tirai debu masih menjadi dinding kasat mata yang rapuh di antara jarak pandang sang Windstroke muda. Kilap-kilapnya seperti tercerabutkan dari bola cahaya matahari yang jauh mengawang di atas kepala mereka; menyepuhkan titik-titik sewarna emas di udara, lalu jatuh perlahan, memeluk garis-garis ubin yang dingin sementara pandangannya tak melintangkan perhatian yang berarti akan itu semua. Sejak awal mungkin ia memang tidak pernah peduli. Seperti apa pelataran yang tertangkap sorot biru langitnya, atau seperti apa garis senja yang mengintai di balik jendela sekarang—keberadaannya di perpustakaan, terlingkupi oleh deret-deret eboni yang dibentuk sebagai rak hitam bersaput debu dan terjejali penuh oleh literatur pada sekat-sekatnya, dengan buku bersampul kulit tebal dalam genggaman, seolah sudah lebih dari cukup untuk membuat rantai perhatiannya terbelitkan untuk jam-jam yang tak-terhitung. &lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;. Ini memang bukan perpustakaan keluarganya yang beratapkan kubah sihir dan dijejali oleh enam puluh tiga bahasa pengiring di balik raknya. Tidak ada jilid tebal perkamen yang menjabarkan hasil penelitian Ptolemy dalam bahasa Yunani, tidak ada helai kekuningan yang di dalamnya berpatri rapalan mantra pemanggil entitas sihir dan ilustrasi &lt;em&gt;pentacle-pentacle&lt;/em&gt; berseni. Sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, justru kenihilan dari sesuatu yang biasa baginya—pada akhirnya akan menciptakan sesuatu yang baru, benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kali ini, warna hitam, ekor-berduri Hungaria, jemari Arshavin tertahan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin kau bisa menunggangi Naga—” ia masih tidak sendiri, suara itu kini berada di sampingnya dan menjadi salah satu pusat interaksi sang pemuda, sementara tatapannya bergeming pada inci-inci sepuhan kuas yang membentuk roman klasik dari hentakan sayap besar; membingkai punggung kokoh dari sang Naga hitam dalam ilustrasi. “—kalau kau bersama-sama dengan pengurus Naga. Hmn, entahlah. Kurasa memang seharusnya mereka yang paling kompeten di bidang itu.” Kadang kenaifan Elsveta membuatnya mencibir dalam hati, sekaligus tak lebih berarti untuk mengenyahkan atensinya terhadap pertanyaan-pertanyaan sang gadis. Ketidaktahuan membuat Arshavin ingin menyelesaikannya… seperti ketika naïf mendominasi konversasi, atau seperti ketika kebodohan menggelegakkan darah di ujung telinganya—&lt;em&gt;ha&lt;/em&gt;, yang berlaku dalam sirkumtansi kali ini, juga deret-deret waktu selanjutnya, adalah pernyataan pertama; &lt;em&gt;tentu&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di…bonsai?” Jeda. Kata diuntai dengan tingkat kecepatan pengejaan yang terdegradasi, benaknya menggulirkan sarkastik yang lebih pekat dari apapun ketika tanda titik mengakhiri, sementara rahangnya di luar sana hanya mengeras ketika pada akhirnya sang Ravenclaw muda mengangkat kepalanya dan kembali menatap Elsveta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening untuk detik-detik yang terasa sangat mikro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naga itu berbeda dengan anak anjing, Nona.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pada fragmen selanjutnya, sebuah senyuman tipis lolos, memecahkan beku dalam roman wajah Arshavin Windstroke sejenak, sebagai manifestasi paling samar dari setiap apresiasi dangkalnya terhadap kepolosan sang gadis. Ya. Kau akan menemukan jarak yang tipis antara penghinaan dan sedikit penghargaan, sekarang. Entah memakai dasar macam apa, benaknya tak ingin berputar-putar lebih lanjut untuk sekedar menganalisis sesuatu yang singgah hanya sepersekian detik dalam ceruk pemikirannya itu. &lt;em&gt;Hmph&lt;/em&gt;. “Kurasa, makhluk sihir tidak akan pernah bisa digugat oleh apapun.” Garis yang membingkai letupan api milik Naga ekor-berduri itu kini menjadi arah tatapannya lagi. Lalu, spasi kosong pada udara menyeruak pelan, yang kemudian merantai dengan gumamnya sendiri. “Tapi—tanyakan pada kenalanmu saja, Claymer itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;NABELLE&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Tahu tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak membaca dan menonton kisah dongeng anak-anak sepertinya membawa dampak pada kehidupan nyata. Atau, dongeng tersebut justru diambil dari kenyataan yang ada sehingga mereka saling berkaitan? Mungkin opsi yang kedua adalah yang paling masuk akal, dongeng itu hasil karya manusia, bukan? Fantasi-fantasi itu seharusnya berasal dari khayalan manusia yang berakar dari kejadian-kejadian nyata. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti saat ini, pemandangan yang tersaji di hadapan si gadis kecil Elsveta membuatnya teringat pada sebuah adegan dalam dongeng-dongeng yang menghadirkan pangeran tampan di dalamnya. Gadis itu tak menyangka bahwa pertanyaannya mengenai kemungkinan seekor Naga dibonsai malah membuat pemuda di hadapannya tersenyum. Memang hanya sebuah senyuman tipis tapi senyum itu berhasil memberikan ekspresi pada wajah tampan Arshavin yang biasanya terlihat datar. Ditambah lagi dengan titik-titik debu yang berkilau tertimpa sinar sang raja cahaya, beterbangan di antara kedua entitas muda itu dan membuat ilusi pada pandangan Belle sehingga gadis kecil itu melihat wajah Arshavin dikelilingi cahaya yang hangat saat tersenyum. Sekelilingnya terasa sunyi tiba-tiba, indera pendengarannya seolah ditulikan selama beberapa detik. Tanpa sadar, gadis kecil yang naif itu ternganga dalam pesona selama beberapa saat sebelum kemudian dia menyunggingkan senyum lebar dan serta merta memberi pelukan singkat pada pemuda di hadapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kakak kalau tersenyum terlihat seperti Pangeran!" ujarnya kemudian masih dengan senyum lebar. "Belle suka kakak, deh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu melontarkan pujian spontan yang begitu saja tersirat dalam benaknya tanpa memikirkan reaksi dan pendapat dari si pemuda atas tingkah lakunya barusan. Belle hanya melakukan apa yang dia inginkan secara spontan. Lagipula, siapa yang tak suka dipuji ataupun diberi pelukan hangat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu kembali mengalihkan perhatiannya pada halaman buku yang kini menunjukkan lukisan seekor Naga dengan sisik keemasan dan bertubuh montok dengan tinggi kira-kira dua kali ukuran tubuh manusia dewasa. Sayap kecil yang terlihat timpang dengan ukuran tubuhnya melekat di punggung Naga tersebut. Kedua kristal kembarnya memperhatikan untaian aksara yang tertulis rapi di atas lukisan tersebut, Naga Kerdil Islandia. Belle sekali lagi terpesona, jemarinya menelusuri bentuk tubuh sang Naga dalam lukisan dan menatap penuh rasa kagum. Perlahan bibirnya bergerak menggumamkan terimakasih pada sang Naga yang mungkin saja telah memberikan nadi untuk tongkat sihirnya. "Terimakasih, Tuan Naga Kerdil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan kedua kristal kembarnya kini kembali menatap langit milik Arshavin dengan binar-binar kepuasan. Dikecupnya sekilas pipi kiri si pemuda yang duduk di sampingnya sebagai ucapan terimakasih karena telah menemani dirinya lalu membisikkan sebaris kalimat naif yang bagi si gadis kecil adalah sebuah rahasia besar yang selalu disimpannya dalam hati, "Karena kakak sudah berbuat baik padaku, Belle beritahu sebuah rahasia. Silver Claymer itu bukan cuma kenalan Belle. Kalau Belle sudah besar nanti, Belle mau jadi istrinya. Kakak jangan bilang siapa-siapa, ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan wajah memerah, gadis kecil itu menutup buku tebal bersampul merah yang sejak tadi menjadi pusat atensi dirinya dan Arshavin. Belle ingin meminjam buku itu dan membacanya lagi di kamar, nanti. Hari kini sudah mulai petang, waktu makan malam sebentar lagi tiba dan Belle tak mau terlambat ke Aula Besar. Apalagi dia harus terlebih dahulu ke tempat Madam Pomfrey untuk mengobati kepala dan kakinya yang terkilir. Sekali lagi, gadis kecil itu menatap pada Arshavin, "Kak, tolong bantu Belle ke tempat Madam Pomfrey, ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;ARSHAVIN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sebuah pelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pelukan singkat menjadi awal dari perubahan roman ekspresinya yang kini sedikit memaparkan keterkejutan samar. Senyumannya menjadi citraan yang buram hanya dalam beberapa detik. Arshavin Windstroke sekarang hanya tercenung dalam kontemplasinya yang hampir tergoyahkan ketika lingkupan hangat dari lengan Elsveta menyelimuti sisi lehernya. Dan selanjutnya, yang terbentang di sana selain tirai debu dan bau apak perkamen adalah hening. Ia tidak membalas apapun. Ia tidak menunjukkan reaksi apapun selain katupan bibir yang melekat rapat dan mata biru langitnya yang memicing lambat. Dua tangannya masih menggenggam sisi tebal dari buku ensiklopedi yang kini tergolek kaku di antara lengan kurusnya, sementara sang gadis Ravenclaw melontarkan sebuah… pujian, mungkin. Atau semacam itu. Apapun. Ravenclaw muda itu tidak mengerti. Tidak ingin mengerti dan peduli, namun mau tak mau ia mengangguk samar tepat ketika rengkuhan tersebut menyingkir dari tubuhnya. Masih ada jeda-jeda yang tak ingin menjelaskan, masih ada rangkaian kata yang enggan menyingkir dari ujung lidahnya, sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang sang Windstroke muda sama sekali tidak mendapatkan alasan apapun untuk menjabarkan setiap motif dari tindakan suatu entitas bernama wanita. Tidak pernah. Seperti kali ini, seperti ketika sebuah rasa suka terucapkan dan seolah melekat dalam membran telinganya…entahlah. Ia tidak mampu menemukan apapun yang menjadi alasan dari kata-kata Elsveta itu, sehingga pada akhirnya Arshavin hanya terdiam. Memilih untuk turut memindai lembaran-lembaran yang kini sudah berganti tuan—Elsveta terlihat memancarkan sebentuk atensi yang cukup pekat ketika jemarinya singgah pada suatu titik. Naga Kerdil Islandia; inti utama dari sang tongkat berwarna putih yang masih bersentuhan dengan tongkatnya. Literatur itu asing. Dan rasa asing dalam ketidaktahuan, entah sejak kapan, selalu membuat Arshavin berusaha beberapa kali lebih keras untuk mengatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hogwarts berbeda dengan jejaring berdebu yang biasa ia jumpai pada sebuah ruangan yang lengkung atapnya berkubahkan langit seperti di kantor utama Blackhawk. Ia tidak menemukan sepuhan buku yang memuat jampi terlarang dan pengikat jin yang kuat di sini. Ia tidak pernah menemukan judul-judul berbahasa selain Inggris, ia tidak pernah menemukan deret-deret beraksara mungil yang memuat teori dasar penciptaan roh dan sebangsanya—dan baginya itu bukanlah suatu kekurangan. Ada hentakan buku yang mengatur diri seolah punggungnya bersaputkan sayap imajiner, ada rangkaian teori yang menjadi dasar dari suatu sejarah para penyihir dan berisi faham-faham ringan bercetak rapi—selalu ada sesuatu yang bisa ia ambil dari ilmu pengetahuan itu sendiri. Mungkin hari ini, juga. Sama. Selalu seperti itu, bagaimanapun sirkumtansinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya masih tersita pada lembaran yang memuat ilustrasi bersaput warna kuning keemasan itu, stagnan seolah merajut garis yang tidak terpatahkan, sesekali siluet jemari Elsveta tertangkap oleh mata biru langitnya ketika ia menurunkan dagunya, dan sebuah sentuhan pada pipinya menjadi satu-satunya alasan bagi Arshavin untuk mengangkat kepalanya perlahan. Lagi-lagi. Lagi-lagi sebuah sensasi yang familiar menauti perasaannya. Membuatnya teringat dengan seseorang; seseorang yang juga pernah mendaratkan kecupan pada suatu hari bersalju. Ya. &lt;em&gt;Salju&lt;/em&gt; itu sendiri. &lt;em&gt;Tsk&lt;/em&gt;. Matanya kembali memicing walau tak kentara, roman wajahnya tak berubah saat sebuah bisikan tiba dan menerpa gendang telinganya. Pikirannya jauh, menerabas keping yang mulai rapuh dalam ingatan. Pudar. Keping itu berwarna putih, hampir kelabu, dihiasi percik-percik secitra kapas yang jatuh dari langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sudah lama&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mm-hm. Baiklah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu. Hanya itu jawaban paling nyata dari sang pemuda yang teriring bersama anggukan tipisnya. Arshavin perlahan meluruskan dua kakinya yang sudah cukup lama tertekuk. Beberapa detik kemudian ia sudah berdiri tegak, sedikit menepis beberapa debu mikroskopis yang singgah pada spasi-spasi hitam jubahnya. Lalu dagunya turun, terarah tepat pada sang sumber suara yang meminta bantuan. Ensiklopedi bersampul megah sudah tersegel oleh lingkupan lengan Elsveta. Seolah hari ini berakhir dengan bunyi kertas yang saling bertumpuk, namun tidak. Sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan satu tangan kemudian terulur sebagai respon. Hampir identik, dengan suatu fragmen acak, ketika awal dari sebuah narasi digulirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayo.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;FIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-4200629303599580171?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/4200629303599580171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/berburu-naga-kerdil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/4200629303599580171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/4200629303599580171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/berburu-naga-kerdil.html' title='Berburu Naga Kerdil'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-138224806066074360</id><published>2009-11-12T08:28:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T20:56:10.571-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Halaman'/><title type='text'>Another Universe versi preman</title><content type='html'>OOC: &lt;a href="http://www.flagshipfancydress.co.uk/ekmps/shops/flagshipenterp/images/80-s-tattooed-punk-rocker-costume-3018-p.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Penampilan Belle yang Funky&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar sang surya hari ini begitu cerah. Menyinari setiap pepohonan, danau, halaman, rumah kaca dan seluruh benda yang ada di kawasan Hogwarts tercinta. Hari ini entah kenapa Nabelle Marion Elsveta merasa sangat luar biasa funky. Luar biasa keren. Luar biasa kuat. Luar biasa seksi. Khusus untuk hari ini saja, dia tak mau dipanggil Belle—kurang gahar dan funky, aw. Panggil dia hari ini Lady Nabelle—tidak lebih tidak kurang. Tahu tidak, sinar sang surya yang begitu cerah hari ini pasti karena sang surya begitu iri hati pada dirinya yang lebih hot, funky dan eksis serta GAHAR. Atau mungkin sang surya jatuh cinta padanya? Lihat saja betapa dirinya terlihat demikian keren dan seksi, helai-helai rambut pirangnya ditutup dengan wig bergaya punk yang modis—jelas akan membuatnya jadi pusat perhatian selama satu hari ini. Siapa saja akan terpana melihat dirinya. Setiap pasang mata—tak terkecuali akan terarah padanya. Oh ya, permen karet untuk dikunyah-kunyah tak boleh terlupa. Hap—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lady Nabelle melangkah dengan anggun namun tegap dan gagah—khas putri mafia, mulutnya sibuk mengunyah permen karet dengan gaya paling funky yang dia bisa. Perhatikan gaya berjalannya yang gagah, bahkan lebih seksi dan menggoda ketimbang para ratu sejagat yang perlu berlomba melenggak-lenggok tak jelas untuk diakui kecantikannya. Tindakan yang bodoh, bukan? Dia sih tak perlu susah-susah berlomba, sang surya saja telah mengakui kecantikannya, keseksiannya, keganasannya dan memberikan kehangatannya untuk memeluk tubuhnya saat ini. Hari yang cerah seperti ini tak boleh disia-siakan. Mejeng harus dilaksanakan. Itu penting bagi kemajuan bangsa dan negara Britania Raya! Budayakan mejeng! Budayakan seksi! Budayakan Lady Nabelle yang hari ini demikian funky! Siapa yang akan mencicipi keganasan seorang Lady Nabelle hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis funky itu mengambil cermin di dalam tasnya, bercermin dan tersenyum memandang kecantikannya. Diceknya polesan eye shadow warna perak di kelopak matanya. Funky. Sekali lagi lipstik merah tua dipoles di bibir ranumnya. Seksi. Tak ada bibir seseksi bibirnya. &lt;em&gt;Miawrr.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bibirku seksi&lt;br /&gt;Itu terbukti&lt;br /&gt;Dari caramu&lt;br /&gt;melihat aku&lt;br /&gt;Aw Aw Aw&lt;br /&gt;Ooh Ooh Ooh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, mau tahu bagaimana penampilan Lady Nabelle si super funky, super seksi dan super segalanya itu hari ini? Dia mengenakan kaos ketat sewarna kulit dengan motif tato sampai ke ujung kaki. Ditambah dengan bikini berbahan kulit warna hitam dan rok pendek kulit yang senada. Jika tak diperhatikan baik-baik, bisa-bisa kau mengira seluruh tubuhnya sungguh-sungguh ditato. Tak lupa dia memakai sebuah choker hitam berduri perak dan gelang dengan motif sama seperti chokernya. Kaki indahnya dibalut sepatu boots kulit hitam selutut dengan aksen tali-tali. Benar-benar funky. Dia merasa seperti seorang putri mafia hari ini. Ya, tak ada yang lebih funky dari dirinya. Tak lupa dia membawa sebuah pistol mainan yang terlihat seperti sungguhan untuk mentotalitaskan penampilannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar terdengar sebuah suara yang sedang bernyanyi. Lirik lagu yang membuat Lady Nabelle yang funky sedikit bernjengit. Siapa gerangan yang menyanyikan lagu jelek seperti itu? Gadis itu memutar tubuhnya dengan gerakan paling preman sedunia dan kristal abu-abu mudanya menangkap satu sosok manusia berkelamin adam dengan rambut paling jagung dari jagung-jagung yang pernah dilihatnya. Oh, dia senior yang membantu dirinya mengambilkan barang dan yang turut menemaninya di Hospital Wings. Salah satu dari penggemar fanatiknya, sudah pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis funky itu melangkah dengan gerakan slow motion ke arah pemuda berambut jagung yang masih asyik bernyanyi. Ya, dia ingat. Nama senior itu Calvin Cornwell. Gadis itu menggosok ujung hidungnya dengan gaya paling funky yang pernah ada. Gadis itu menyandarkan sikunya di bahu sang senior.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hey, senior,"&lt;/strong&gt; sapanya dengan nada khas preman, &lt;strong&gt;"Boleh juga suaranya. Aku ikutan nyanyi, dong. Boleh duduk dipangkuanmu, kan?"&lt;/strong&gt; Gadis funky itu mengendikkan kepalanya sambil mengangkat dagu Calvin dengan ujung pistol yang ia bawa. Menuntut persetujuan. Kemudian dia menyentuhkan bibirnya di ujung telinga pemuda itu dan meniupnya perlahan—menggodanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Lady Nabelle tahu saat ini tak ada yang lebih funky dan seksi dari dirinya. Lihat saja orang-orang yang kini mulai berdatangan, semua pakaiannya biasa-biasa saja. Tak ada yang se-funky dirinya dan itu adalah sebuah kenyataan paling funky di dunianya yang funky. Hidup FUNKY!! Lady Nabelle yakin orang-orang itu semua berkumpul disini berbondong-bondong karena melihat kekerenan dirinya. Lihat penampilanku yang jauh lebih keren dari Lady Rocker manapun, lebih emo dari emo-emo manapun di bumi. &lt;em&gt;Miawrr—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali di hadapannya saat ini ada seseorang yang tak bisa menghargai sesuatu yang funky seperti dirinya—meski pemuda berambut jagung itu mengatakan dirinya cantik. Bah. Penggemar katanya. Mereka bertepuk tangan hanya sebagai kamuflase saja, sesungguhnya yang mereka inginkan adalah Lady Nabelle si ratu funky. Mana pantas jagung berjubah hitam menggelar konser. Ya kan? Hohoho. Si bodoh itu malah mundur menjauh saat ujung pistolnya dia tempelkan di dagunya yang bodoh. Dasar tak tahu diuntung. Bisa mendapat ciuman dari Lady Nabelle sudah merupakan keberuntungan besar! Sshh—samar-samar di udara tercium bau aneh saat sang jagung bergerak cepat. &lt;em&gt;Cih. Bau ketek rupanya&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Masa bodoh dengan penggemar, aku tak mau dipangku dengan laki-laki bau ketek macam kamu! Dan jangan sebut aku Belle. Panggil aku LADY NABELLE nan Funky. Oye!"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ada seorang lelaki tampan dengan kristal biru langit datang mendekat memberi tepuk tangan dan pujian buat si jagung bodoh itu—menyuruhnya nyanyi lagi. Oh, please. Jangan buat dia semakin GE-ER. Belum lagi ada yang berteriak BRAVO BRAVO menyakitkan gendang telinga. Mudah-mudahan saja jeritan itu ditujukan padanya, jika tidak, siap-siap saja ditembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila. Semakin ramai. Semua kagum pada ke-funky-an seorang Lady Nabelle. Bahkan salah seorang temannya, Clive, berjualan bakso? Apa pula itu bakso. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Wow, Belle! Sejak kapan kau kencan dengan Tuan Ular ini? Es kelapa mudanya?"&lt;/span&gt; Cih! Berkencan dengan si bau ketek? No. No. Bisa mengurangi ke-funky-an dirinya. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Belle... itu pacarmu, ya? Belle jahat, ih. Masa tidak pernah memperkenalkan pacarmu padaku,"&lt;/span&gt; LHO! Kali ini Faye. Dasar kembar. Pemikirannya sama saja. Dengan geram, dia mendengus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lady Nabelle berkacak pinggang, menatap sinis dua orang kembar di hadapannya. &lt;strong&gt;"Panggil aku Lady Nabelle! Mengerti? Dan asal kalian tahu, laki-laki bau ketek berambut jagung seperti itu, bukan selera seorang yang Funky seperti diriku! Camkan itu."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu datanglah seorang raksasa buta sebelah yang pernah menolongnya dari danau sedang membaca buku tebal. Hari gini belajar? Oh, Lady Nabelle merasa harus menyelamatkan lelaki itu. Hitung-hitung balas budi. Langkah kakinya dengan tegas mengayun mendekati objek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kakak Jose,"&lt;/strong&gt; ujarnya seraya merebut buku di tangan sang prefek dengan genit,&lt;strong&gt;"sekarang bukan waktunya belajar. Have fun, baby. Have fun. Do you know what's the meaning of HAVE FUN?"&lt;/strong&gt; Gadis funky itu mencetuk-cetukan ujung pistolnya di dagu tuan raksasa. Siapa suruh punya badan tinggi begitu. Lady Nabelle sudah pakai boots dengan heels setinggi 20cm saja masih tidak sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba kini banyak gelembung sabun di sekelilingnya. Saatnya melakukan pesta yang sesungguhnya!! Sebodo dengan orang-orang kutu buku, sebodo dengan para penjual bunga. Mereka semua harus ikut berpesta dengan Lady Nabelle. Sebodo dengan anak berbibir robek, salahnya sendiri salah minta tanda tangan. Yang lagi berantem, ayo berdamai. Kita berpesta. Oye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis funky itu mengambil sebuah tape mini buatan muggle berwarna hitam dari saku rok pendeknya—menekan tombol &lt;em&gt;play&lt;/em&gt; dan terdengarlah musik hingar bingar. Volume disetel maksimum. Oke—Dangdut Remix!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Ayo semua, mari kita berpesta. Goyangkan pinggul ikuti irama bersama Lady Nabelle yang paling funky sejagat raya!!"&lt;/strong&gt; Gadis itu berteriak sekeras-kerasnya agar semua mendengar suaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Para penonton…&lt;br /&gt;Bapak-bapak, Ibu-ibu, semuanya&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lady Nabelle menggoyangkan pinggulnya, kemudian berjalan menghampiri Arshavin yang tengah digoda gadis lain—menarik lengan Arshavin dan mengedip mengajaknya ikut bergoyang. &lt;strong&gt;"Ayo, ganteng. Kita guncang dunia dengan goyangan pinggul paling HOT abad ini."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Jangan heran kalau Belle sedang goyang&lt;br /&gt;Rada panas, agak seksi&lt;br /&gt;Ma’afkanlah…&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis funky itu memutar-mutarkan pinggulnya sambil perlahan berjongkok dan berdiri kembali—ngebor, saudara-saudara. Dirinya tahu, kok. Dia itu funky, dia itu seksi, dia adalah pusat perhatian. Dia adalah bintang yang sebenarnya. Bukan si Calvin. &lt;em&gt;Miawrr—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Para penonton…&lt;br /&gt;Bapak-bapak, Ibu-ibu, semua yang ada disini&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu berteriak lagi memanggil seseorang yang nampak hendak buat ribut seiring dengan kedatangannya. &lt;strong&gt;"Hey, kakak yang menenteng sepatu roda. Daripada kamu merusuh, lebih baik temani aku ngebor ah!"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Dari itu Belle goyang&lt;br /&gt;agar semuanya senang&lt;br /&gt;Bagi yang kurang berkenan&lt;br /&gt;melihat Belle bergoyang&lt;br /&gt;jangan marah, MEREM SAJA…&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Yihaaa—ayo semua jangan malu-malu. Kita goncang halaman hari ini. Miawrr—"&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-138224806066074360?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/138224806066074360/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/another-universe-versi-preman.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/138224806066074360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/138224806066074360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/another-universe-versi-preman.html' title='Another Universe versi preman'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-7580070805518541413</id><published>2009-11-12T01:18:00.001-08:00</published><updated>2009-11-12T01:23:18.992-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Halaman'/><title type='text'>Another Universe (MENGGILA MODE)</title><content type='html'>Sinar sang surya hari ini begitu cerah. Menyinari setiap pepohonan, danau, halaman, rumah kaca dan seluruh benda yang ada di kawasan Hogwarts tercinta. Hari ini entah kenapa Nabelle Marion Elsveta merasa sangat luar biasa lebai. Luar biasa cantik. Luar biasa seksi. Khusus untuk hari ini saja, dia tak mau dipanggil Belle—kurang seksi, aw. Panggil dia hari ini Lady Nabelle—tidak lebih tidak kurang. Tahu tidak, sinar sang surya yang begitu cerah hari ini pasti karena sang surya telah jatuh hati pada dirinya. Lihat saja betapa sinarannya membuat dia terlihat demikian anggun, helai-helai rambut pirangnya bercahaya kemilau—lebih indah daripada milik model-model dalam iklan shampoo. Sang surya juga membuat kulitnya hari ini terlihat begitu indah. Seperti mutiara yang mahal dengan semburat warna pink yang sehat. Oh, ya. Semua orang pasti akan iri melihat dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lady Nabelle melangkah dengan anggun. Perhatikan gaya berjalannya yang cantik, bahkan lebih seksi dan menggoda ketimbang para ratu sejagat yang perlu berlomba untuk diakui kecantikannya. Tindakan yang bodoh, bukan? Dia sih tak perlu susah-susah berlomba, sang surya saja telah mengakui kecantikannya dan memberikan kehangatannya untuk memeluk tubuhnya saat ini. Hari yang cerah seperti ini tak boleh disia-siakan. Mejeng harus dilaksanakan. Itu penting bagi kemajuan bangsa dan negara Britania Raya! Budayakan mejeng! Budayakan seksi! Budayakan Lady Nabelle!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis seksi itu mengambil cermin di dalam tasnya, bercermin dan tersenyum memandang kecantikannya. Sekali lagi lipstik merah dipoles di bibir ranumnya. Seksi. Tak ada bibir seseksi bibirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bibirku seksi&lt;br /&gt;Itu terbukti&lt;br /&gt;Dari caramu&lt;br /&gt;melihat aku&lt;br /&gt;Aw Aw Aw&lt;br /&gt;Ooh Ooh Ooh&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, mau tahu bagaimana penampilan Lady Nabelle si super seksi, super cantik dan super segalanya itu hari ini? Dia mengenakan &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/13862_173371373606_160463663606_277.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;kaos putih tipis&lt;/a&gt; dengan aksen permata di bagian garis dadanya. Kerah melintang dari bahu kiri ke dada kanannya. Membuat pundak kanannya yang seksi bebas dari balutan katun. Celana jeans biru muda super seksi melengkapi penampilannya. Tak lupa dia memakai seuntai kalung perak, anting-anting perak berbentuk ketupat dan bangles emas dengan aksen hitam. Kaki indahnya dibalut sepatu &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/10629_101543266529635_1000002188752.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;high-heels&lt;/a&gt; dengan motif Dalmatian. Sedangkan rambut indahnya dibiarkan tergerai lepas. Gelombang alaminya jelas membuat iri banyak kaum sejenisnya. Ya, tak ada yang lebih indah dari dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar terdengar sebuah suara yang sedang bernyanyi. Lirik lagu yang membuat Lady Nabelle sedikit bernjengit. Siapa gerangan yang menyanyikan lagu jelek seperti itu? Gadis itu memutar tubuhnya dengan gerakan paling anggun sedunia dan kristal abu-abu mudanya menangkap satu sosok manusia berkelamin adam dengan rambut paling jagung dari jagung-jagung yang pernah dilihatnya. Oh, dia senior yang membantu dirinya mengambilkan barang dan yang turut menemaninya di Hospital Wings. Salah satu dari penggemar fanatiknya, sudah pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis seksi itu melangkah dengan gerakan slow motion ke arah pemuda berambut jagung yang masih asyik bernyanyi. Ya, dia ingat. Nama senior itu Calvin Cornwell. Gadis itu mengibaskan rambut pirangnya dengan gaya paling seksi yang pernah ada. Mulan Jameela kalah telak.  Gadis itu menyentuh pundak seniornya dengan ujung jari seksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, Kak Calvin," sapanya. Oh ya, suara yang keluar dari bibir ranumnya jelas adalah suara paling seksi yang pernah ada, "Sendirian aja, sih? Ikutan nyanyi, dong. Boleh duduk dipangkuanmu, kan?" Gadis itu mengerjap-ngerjapkan mata seksinya—menggoda Calvin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-7580070805518541413?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/7580070805518541413/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/another-universe-menggila-mode.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7580070805518541413'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/7580070805518541413'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/another-universe-menggila-mode.html' title='Another Universe (MENGGILA MODE)'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-795044476675364795</id><published>2009-11-12T00:16:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T00:19:24.515-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Halaman'/><title type='text'>Orkes Dangdut Keliling</title><content type='html'>Pada suatu pagi di hari libur, seorang gadis kecil berambut pirang tengah berjalan dari arah danau hendak kembali ke kastil. Biasa, dia habis menikmati ketenangan pagi disana bersama gitar kesayangannya—Heart. Tubuhnya hari ini dibalut dengan &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/12765_1197276146194_1657207612_1201.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;gaun chiffon berwarna pink yang lembut&lt;/a&gt; sedangkan kakinya dibalut &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/SY-319-2-pink.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;sepatu manis&lt;/a&gt; berwarna senada. Rambut pirangnya yang panjang berombak dibiarkannya tergerai dengan diberi jepit kecil berbentuk hati pada bagian kanan keningnya. Aura tenang terpancar dari gadis manis itu. Senyum tersungging tipis di wajahnya. Saat gadis itu menyusuri lorong kastil, permata abu-abu mudanya menangkap secarik perkamen putih dengan tinta pink tertempel di dinding. Perlahan, kedua kaki mungil gadis itu melangkah mendekati dinding tersebut. Pengumuman apa gerangan? Dengan penuh minat, gadis itu membacanya. Tak lama sebuah senyum lebar tersungging indah di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dior! Rupanya dia sungguhan membuat kelas dandan! Tunggu, ya. Aku segera kesana.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu ingat, Dior pernah mengatakan soal ini padanya di kelas Herbologi. Melanjutkan sesi dandan di Diagon Alley bersama gadis gonjreng itu pasti akan sangat menyenangkan. Daripada melewatkan hari libur dengan kegiatan tak jelas, lebih baik ikutan kegiatan yang jelas-jelas akan menyenangkan. Gadis kecil itu setengah berlari meletakkan Heart di kamar dan kembali menghambur ke halaman. Sedikit terengah-engah karena asrama Ravenclaw terletak di menara kastil. Kristal abu-abu mudanya mencari-cari di mana gerangan Dior mengadakan acara kecilnya itu. Roknya melambai ditiup angin sejuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau tahu kenapa anak perempuan suka berdandan? Simpel saja. Supaya mereka tampak lebih cantik dan lebih segar. Berdandan itu menyenangkan lho. Efek positifnya juga membuat lebih percaya diri. Belle suka sekali dengan gaya Dior, tapi agak terlalu heboh kalau Belle yang bergaya seperti itu. Belle suka dandanan minimalis, tidak terlalu tebal. Asal membuat wajah terlihat lebih cerah sudah cukup. Tapi itu tidak menutup hatinya untuk tahu lebih banyak soal dandan dari Dior. Lagipula tidak ada ruginya menambah pengetahuan sekaligus menambah teman. Girl's stuffs. Munafik kalau orang-orang mencibiri mereka yang suka berdandan. Karena jelas, orang-orang lebih suka melihat orang yang penampilannya rapi ketimbang yang berantakan tak terurus. Dandan kan bukan melulu memoles-moles warna di wajah. Perawatan kulit, wajah dan rambut juga termasuk, lho. Memangnya mau berdekatan dengan perempuan yang rambutnya ketombean? Tidak mau, kan? Jadi, jangan komplain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Itu Dior. Sedang sibuk mendadani diri dan mengaca di sebuah meja batu yang telah ditaplaki dengan kain berwarna pink. Mencolok memang, serba pink di tengah-tengah hamparan hijaunya rerumputan. Syal bulu yang dipakainya lucu sekali. Belle sendiri juga sama pinky-nya. Gadis itu segera melangkah menghampiri Dior, melambaikan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hey Dior! Aku sudah baca pesanmu di lorong kastil. Akhirnya kamu jadi juga mengadakan acara ini,"&lt;/strong&gt; ujar Belle tersenyum dan menghempaskan bokongnya di salah satu tempat duduk batu di samping Dior. Nampaknya baru dia yang datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Ah, hai, hello ladies, mari kita berdandan dan berbagi gosip bersama. Dijamin kau akan menjadi cantik jelita"&lt;/span&gt;, tukas Orateli sembari meletakan kaca serta sisirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle tersenyum riang mendengar celoteh temannya itu. Kemudian ia memandangi bermacam-macam alat kosmetik yang sudah disediakan Dior di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;Shall we begin?&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-795044476675364795?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/795044476675364795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/orkes-dangdut-keliling.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/795044476675364795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/795044476675364795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/orkes-dangdut-keliling.html' title='Orkes Dangdut Keliling'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-6902659615876936871</id><published>2009-11-11T08:41:00.001-08:00</published><updated>2009-11-19T22:02:38.896-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Danau'/><title type='text'>Unperfect</title><content type='html'>Gadis kecil itu kembali melangkah ke tempat yang telah memberinya banyak memori selama di Hogwarts —Danau. Memang, gadis itu belum terlalu lama ada disana, tapi kesan dan kenangan yang tersimpan di benaknya cukup untuk membuatnya merasa ada di rumah. Kaki-kaki mungilnya yang terbalut boots berwarna coklat muda mengayun perlahan, kedua tangannya ia kaitkan di balik punggungnya. Seperti biasa, senandung selalu terdengar mengalun dari bibir mungilnya. Kejadian apa lagi yang akan ia alami sekarang di tempat ini? Ia belum tahu. Semoga saja kali ini adalah kejadian yang menyenangkan seperti saat ia berhasil merapalkan sebuah mantera dan membuat sebuah batu kecil melayang sesaat. &lt;em&gt;Wingardium Leviosa, eh?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu kini berdiri di tepi danau, kristal abu-abu mudanya sibuk memandangi riak-riak air yang sesekali terbentuk oleh dedaunan yang berjatuhan dari pohon. Musim gugur —indah. Riak-riak air itu bila dibandingkan dengan kehidupan, mungkin bisa diartikan sebagai problema atau masalah yang terkadang datang dalam kehidupan seseorang —tak peduli siapa dirimu. Takkan pernah ada kehidupan yang selalu tenang dan damai—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Life is unperfect—&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—sama seperti permukaan danau hitam yang kini ia pandangi, terkadang timbul riak yang mengganggu ketenangannya sesaat sebelum kembali tenang. Bagaimana dengan kehidupannya sendiri? Jelas, ia pun tak terhindarkan dari riak tersebut. Riak besar maupun riak kecil telah dialami oleh gadis kecil itu. Riak terbesarnya adalah saat ibunya memberitahukan kenyataan bahwa ayahnya telah meninggal karena pelahap maut. Sebuah riak yang mengambil waktu cukup lama mengganggu di permukaan hati gadis itu. Tapi, riak tersebut kini telah hilang —berganti dengan ketegaran dan ketenangan yang menguatkan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu kemudian teringat pada pelajaran yang ia pelajari siang tadi. Sejarah Sihir. Menarik. Pelajaran yang sangat menarik dan menggugah minatnya untuk mengajukan pendapat dan juga pertanyaan. Dan kini, ada sebuah pertanyaan baru terbersit di benaknya. Apabila tak ada yang namanya penyihir, apakah dunia ini akan berbeda? Atau sebaliknya, jika tak ada muggle, apakah dunia ini akan lebih damai? Apakah ayahnya masih akan ada di sisinya saat ini? Gadis itu menghela nafas —merapatkan jaket yang ia kenakan ke tubuhnya. Itu adalah sebuah pertanyaan yang sia-sia, bukan? Sebuah pertanyaan yang takkan ada jawabannya. Karena pada kenyataannya, penyihir dan muggle telah ada. Dan kenyataan bahwa dirinya sendiri adalah satu insan yang tercipta sebagai buah cinta dua kaum tersebut. Layakkah dirinya mempertanyakan hal tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristal abu-abu mudanya kemudian menangkap sebuah sosok yang sedang terbaring dalam pelukan bumi hijau —terlihat menikmati semilir angin sejuk di sore hari ini sambil menatap langit. Sepertinya menyenangkan. Gadis itu perlahan menghampiri si bocah yang ternyata se-asrama dengannya. Lis biru pada jubahnya yang memberitahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, sedang menikmati bumi?" sapa gadis berambut pirang itu lembut —kemudian ia turut membaringkan tubuhnya di atas pelukan bumi hijau di samping bocah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Begitulah...paling tidak masih bisa menikmati horizon biru dibandingkan hitam..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seulas senyum mengikuti kata-kata yang terucap dari bibir bocah lelaki yang berbaring di samping Belle. Gadis kecil itu memperhatikan sulaman nama pada jubah si bocah—&lt;em&gt;Kirya Zelganus&lt;/em&gt;. Nama yang unik. Belle balas tersenyum pada Zelganus, &lt;strong&gt;"Namaku Nabelle. Kau boleh panggil aku Belle, Zelganus."&lt;/strong&gt; Gadis itu merasa perlu menyebutkan namanya karena saat itu dia tidak mengenakan jubahnya. Demi kesopanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelukan bumi hijau terasa begitu lembut melindungi tubuhnya. Jemarinya bergerak lembut mengusap karpet rumput yang dingin dan sedikit lembab. Wajahnya menatap ke atas, senyum tersungging tipis dan matanya terpejam. Perlahan gadis kecil itu menghirup udara dingin yang menyejukkan saluran pernafasan dan paru-parunya—segar. Kelelahannya hari ini terasa menguap bersamaan dengan dihembuskannya udara dari bibir mungilnya. Kelopak matanya perlahan terbuka, mengijinkan kristal kembar abu-abu mudanya mengintip keindahan langit sore berwarna biru kelam itu—sebuah warna hangat yang diberikan bumi untuk penghuninya. Langit yang demikian luas selalu membuatnya merasa sangat kecil, membuatnya bisa merasakan keberadaan satu sosok maha kuasa yang konon ada di atas sana memperhatikan perilaku manusia. Pribadi seperti apakah yang telah menciptakan segala keindahan yang memanjakan kristalnya di bumi ini? Lagi-lagi, sebuah pertanyaan tanpa jawaban terbersit dalam benak gadis kecil itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle memandangi beragam bentuk awan yang menghiasi sang langit satu persatu. Kebanyakan awan-awan tersebut berbentuk seperti gula-gula kapas yang manis dan berbentuk seperti bulu domba yang tebal dan hangat. Tertawa kecil saat menemukan bentuk-bentuk awan yang menurutnya konyol dan aneh. Lalu sebentuk awan menarik perhatiannya, gadis kecil itu mengulurkan kedua tangannya ke atas—menggabungkan jempol kanan dan telunjuk kanan dengan pasangan kirinya membentuk sebuah frame jemari. Belle memperhatikan dengan seksama, hendak memastikan bentuk awan itu benar-benar seperti dugaannya. &lt;em&gt;Teddy Bear&lt;/em&gt;. Gadis itu tertawa saat dugaannya benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit itu demikian damai. Awan-awan seolah bersatu padu menghiasi sang langit dengan ketenangan. Sosok sang bulan pun mulai terlihat mengintip di balik salah satu awan di atas sana. Tanda bahwa malam akan segera datang menyambut manusia. Sebuah kedamaian yang terasa timpang bila kembali memikirkan apa yang terjadi di masa lalu antara kaum penyihir dan muggle. Padahal mereka sama-sama manusia, kenapa harus saling membinasakan? Bukankah perbedaan justru membuat bumi semakin indah dan tidak monoton? Tak bisakah manusia belajar dari bumi? Manusia seharusnya menelaah satu persatu makna yang terkandung pada bumi seperti &lt;em&gt;'riak-riak air'&lt;/em&gt; contohnya. Berjuta-juta perbedaan yang dimiliki bumi justru membuat bumi menjadi sesuatu yang indah, bukan? Bayangkan jika di bumi hanya ada satu macam pohon, satu macam bunga dan satu jenis binatang? Membosankan bukan. Apalagi jika hanya ada satu jenis manusia dengan wajah dan perawakan yang sama persis. Oh, itu akan sangat mengerikan. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Zelganus,"&lt;/strong&gt; panggilnya pelan, &lt;strong&gt;"Bumi itu luar biasa, ya."&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;****&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; border-collapse: collapse; line-height: 18px; "&gt;Bumi itu luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kristal abu-abu muda milik gadis itu masih terkunci ke langit, masih memandangi sang awan berbentuk &lt;em&gt;Teddy Bear&lt;/em&gt;. Meskipun pikirannya tak lagi terarah sepenuhnya ke sana. Gadis kecil itu menarik sudut-sudut bibirnya membentuk segaris senyum sembari menghirup oksigen masuk kembali ke dalam organ kembarnya. Kedua tangannya kini ia letakkan kembali di atas surai-surai hijau milik sang bumi, perlahan digerakkan punggung tangan di atasnya menikmati sensasi tekstur rumput yang lembab di kulitnya. Gadis kecil itu menutup kedua kelopak matanya—menajamkan indera pendengarannya. Suara gemerisik daun-daun yang tertiup angin lembut, suara benturan daun yang berguguran ke permukaan air, suara ikan-ikan kecil yang melompat ke atas permukaan danau lalu menyelam masuk kembali ke air kini terdengar begitu jelas di telinganya—mengirimkan gelombang yang menenangkan ke seluruh tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The earth is perfect—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right; "&gt;&lt;em&gt;—but humanity is NOT&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi itu luar biasa, ia telah diciptakan dengan begitu sempurna oleh satu pribadi maha dahsyat yang tak terlihat di atas sana. Sebuah ironi yang seringkali menjadi perlawanan dalam nurani manusia yang bertanya-tanya apakah pribadi tersebut sungguh ada. Sesungguhnya, bukankah hal itu tak perlu menjadi sebuah tanya? Seharusnya sang ego itu bisa dengan mudah terpuaskan dari tanya tersebut jika manusia mau berdiam dan memandangi alam seperti yang dilakukan Belle saat ini. Pribadi itu jelas nyata terlihat dan terdengar lewat segala keindahan melalui seluruh panca inderanya. Pribadi tak terlihat yang menjaga dan melindungi segala yang ada di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"Tidak,"&lt;/span&gt; tanggap Zelganus, &lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"Dunia sedang sekarat..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu perlahan membuka kembali kelopak matanya, mengarahkan kristal abu-abu mudanya ke arah bocah lelaki di sampingnya. Kedua matanya tertutup, entah apa yang sedang ada dalam pikiran Zelganus—pernyataannya membuat si gadis kecil penasaran. Gadis kecil itu memiringkan tubuhnya ke arah sang bocah lelaki dan menopangkan siku tangannya ke tanah sementara telapak tangannya memegangi leher jenjangnya yang bersandar disana. Gadis kecil itu tersenyum, hendak membuka mulutnya untuk bertanya pada bocah itu ketika satu sosok lain datang menghampiri mereka dan membuat Zelganus terbelalak terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128); "&gt;"Hai. Boleh gabung?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menggerakkan tulang lehernya sehingga wajahnya kini bersirobok dengan si pemilik suara. Seorang bocah laki-laki dengan tongkat sihir bercahaya di genggamannya. Belle melihat lis kuning pada jubah bocah itu dan memberikan senyuman serta anggukan pelan sebagai tanda bahwa dia mengiyakan jawaban dari Zelganus untuknya. Bumi terbuka untuk siapa saja, tak terkecuali. Gadis kecil itu kemudian berbaring kembali menatap sang langit yang semakin gelap. Bulan sudah hampir memunculkan diri sepenuhnya, kerlip bintang samar-samar tertangkap di kristal abu-abu mudanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu menghela nafas perlahan kemudian kembali menatap Zelganus. &lt;strong&gt;"Kau tahu, Zelganus? Dunia tak pernah sekarat. Pernah dengar tentang prinsip Gaia? Prinsip itu mengajarkan bahwa Bumi kita adalah suatu badan yang tidak akan membiarkan dirinya sendiri mati. Bumi tidak bisa dihancurkan oleh kebodohan, ketidakpedulian, dan kekejaman umat manusia. Bumi akan menyerang balik. Bumi menjaga dirinya tetap sehat dan seimbang dengan mengubah kondisi untuk mengimbangi dampak dari perbuatan manusia yang melemahkannya. Bumi bisa menolong dirinya sendiri. Tugas kita adalah untuk hidup berdampingan dengan Bumi. Dan sayangnya, sebagian besar manusia tidak menyadari itu. Mereka malah sibuk mengurusi perbedaan antara manusia yang seharusnya menjadi sebuah bagian dari keindahan Bumi. Penyihir dan muggle sama-sama manusia, bukan? Seandainya saja orang-orang di masa lalu itu bisa menarik garis lurus itu dan menghargainya. Bukannya malah bermusuhan dan berperang. Mungkin sekarang tak ada perseteruan berarti antara penyihir dan muggle dan tak ada pengkotak-kotakan status darah yang tidak masuk akal itu."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan dua sosok bocah di pinggir danau sepertinya menarik perhatian bocah-bocah lain yang mungkin ingin menikmati bumi. Satu bocah laki-laki Hufflepuff telah bergabung dan kini datang lagi seorang bocah perempuan singa yang dikenalnya sehari setelah Pesta Awal Tahun. Perkenalan aneh yang membahas soal berburu monster danau dan duyung yang berakhir dengan sebuah tinju dari lengan kecilnya ke hidung seorang prefek ular. Belle tertawa kecil lalu mengangkat tubuhnya untuk duduk sambil memeluk kedua lututnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hai, Glad. Kami hanya sedang berbincang-bincang sambil menikmati bumi. Ingin bergabung?"&lt;/strong&gt; ujar Belle sembari melempar senyum pada sang gadis singa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-6902659615876936871?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/6902659615876936871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/unperfect.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/6902659615876936871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/6902659615876936871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/unperfect.html' title='Unperfect'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-5478602490447008321</id><published>2009-11-10T22:17:00.000-08:00</published><updated>2009-11-12T03:15:23.801-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Kebun'/><title type='text'>Money Tree?</title><content type='html'>Hari ini hari Minggu, Minggu artinya libur dan libur artinya tak ada kegiatan sekolah —intinya, hari ini dia bebas. Dia ingin menjelajahi Hogwarts lagi karena masih begitu banyak tempat yang belum dia kunjungi saking besarnya sekolah ini. Malahan, tempat yang tidak pernah terpikir untuk dia kunjungi —Hospital Wing, sudah dikunjunginya tepat satu hari setelah Pesta Awal Tahun. Ironis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil berambut pirang itu merapikan rambutnya sambil mematut diri di depan cermin. Hari libur juga berarti hari bebas berpakaian! Gadis itu sangat suka mengenakan pakaian-pakaian yang manis. Bosan sekali jika setiap saat harus mengenakan seragam sekolahnya yang berupa jubah hitam dengan lis biru ala Ravenclaw. Tidak modis sama sekali meski tetap terlihat manis, sih kalau dia yang pakai. (*narsis —dijitak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, sekarang sudah jam 5 sore ya. Sebaiknya dia memakai baju yang agak tebal untuk menjaga kehangatan tubuhnya dan celana jeans panjang. Dia tak berani pakai celana pendek kalau cuaca dingin. Setelah sibuk membongkar-bongkar koleksi pakaiannya, akhirnya gadis kecil itu memilih mini dress dengan bahan wol berwarna coklat muda dan memakai topi sebagai pelengkap. Gadis itu sedang malas mendandani rambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dua ekor puffskein di kantong —Banana di kantong kiri dan Lemon kantong kanan, gadis itu siap menjelajah. &lt;em&gt;Hogwarts, here I come!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu berlari-lari kecil, keluar dari kastil, melewati halaman dan danau, melewati Rumah Kaca —langsung menuju kebun. Dia belum pernah melihat-lihat kebun milik Hogwarts. Katanya, disini murid-murid diperbolehkan menanam apa saja. Sayangnya, gadis itu tak punya pengalaman bercocok tanam. Jadi, dia hanya berniat untuk melihat-lihat. Sambil berjalan, gadis kecil itu bersenandung dengan riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Senang —riang&lt;br /&gt;Hari yang kunantikan&lt;br /&gt;Aku mau jelajahi Hogwarts—&lt;br /&gt;—berkelana berpetualang—&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyiannya terputus saat manik abu-abu mudanya menangkap sosok seseorang sedang berjongkok setelah mencangkul di kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Eh! Ada yang sedang menanam sesuatu di sana!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kedua kaki mungil itu mengayun bergantian mendekati sosok seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua darinya sedang asyik menanam sesuatu sambil tersenyum lebar dan menggoyangkan tongkat sihirnya. Belle memperhatikan dengan tertarik, apa gerangan yang ditanam senior itu hingga membuatnya demikian senang? Dia ingin tahu dan ingin ikut bergabung —hitung-hitung belajar bercocoktanam. Kemudian senior tersebut mengeluarkan sebuah kantung kulit kecil dari balik celana panjangnya —bergemerincing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Eh? Memangnya ada bibit yang berbunyi seperti logam?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dari dalam kantung kulit itu, sang senior mengeluarkan beberapa keping—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;GLEK! Are you kidding me?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—galleon! Tepatnya empat keping uang emas dunia sihir yang kini tergeletak di atas hamparan tanah. Dan tak lama kemudian, senior tersebut melempar satu keping galleon ke dalam lubang yang telah dibuatnya dengan sihir lalu menutupnya dengan tanah dan menyiramnya dengan air dari tongkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Orang itu menanam galleon?!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penasaran, gadis itu melangkah semakin dekat pada senior tersebut. Langkah demi langkah membunuhi jarak antara mereka berdua. Di dunia sihir bisa menanam pohon uang? Seingatnya, Teresa tak pernah bicara soal itu. Apakah ini sihir jenis baru? Kalau iya, pasti itu sangat luar biasa. Dia harus melihatnya dari dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu kini telah berdiri di samping anak lelaki yang sudah hendak melempar galleon kedua. Gadis itu berjongkok dan menatap anak lelaki itu dengan mimik heran yang tidak dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memangnya —&lt;em&gt;itu&lt;/em&gt; bisa tumbuh, Kak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Gadis mungil itu masih terheran-heran dengan kegiatan yang sedang dilakukan senior bermata hijaunya itu. Ada yang bilang, istilah untuk orang yang mata duitan itu mata hijau. Kalau melihat apa yang sedang dilakukan orang di sampingnya ini, mungkin istilah itu memang tepat. Orang bermata hijau adalah orang yang mata duitan sampai-sampai terpikir untuk menanam galleon di kebun sekolah. Di dunia muggle, tindakan tersebut bakal dianggap gila dan pastinya kakak bermata hijau di depannya ini dengan segera dilarikan ke rumah sakit jiwa. Belle tidak tahu, sih bagaimana dengan dunia sihir. Tapi seandainya galleon memang bisa ditanam, buat apa ada Bank Gringgots? Buat apa kakak-kakak seniornya capek-capek magang di Diagon Alley saat liburan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Sst. Jangan berisik, nanti dia ngambek, Nona,"&lt;/span&gt;desis kakak-mata-duitan itu sembari mengangkat telunjuknya ke depan mulutnya. Kakak itu kemudian tersenyum menjawab pertanyaan Belle yang meragukan tindakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini mulut Belle tanpa sungkan-sungkan menganga, matanya melotot selebar-lebarnya. Memandang sepasang mata hijau yang ternyata lebih polos dari dirinya itu—terpana. &lt;strong&gt;"Me... memangnya uang bisa ngambek?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Intinya adalah,"&lt;/span&gt;kakak-mata-duitan itu menghela napasnya sebentar, sebelum melanjutkan kalimatnya yang terpotong,&lt;span style="color: grey;"&gt;"percaya."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal. Memang dia pernah mendengar tentang kata 'percaya' atau juga disebut 'iman' yang bisa memindahkan gunung, membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin. Rasa percaya mendatangkan keajaiban. Tapi percaya pada sesuatu seperti uang bisa tumbuh menjadi pohon sama saja seperti percaya bahwa suatu hari almarhum ayahnya akan hidup kembali dan memeluk dirinya. Nonsense. Belle melemparkan cengiran miris pada pemuda di sampingnya itu, &lt;strong&gt;"Hehe. Oke, kak."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Memang apa yang anda tanam Senior?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle memalingkan muka ke arah seorang anak gadis sebayanya yang ikut berjongkok di samping kakak-mata-duitan, tentu saja di sisi yang berlawanan dari dirinya. Belle kan bukan makhluk halus. Wajah gadis itu pernah dikenalnya saat di Leaky Cauldron. Emma Page, yang bertengkar dengan nona-rambut-wortel-berkacamata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hai, Emma! Lama tak bertemu,"&lt;/strong&gt; sapa Belle ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, kakak-mata-duitan menarik tangannya dan meletakkan sekeping galleon di atas telapak tangannya dan ia melakukan hal yang sama pada Emma. &lt;em&gt;Now what? &lt;/em&gt;Belle menatap galleon di telapak tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Nah, nah, bagaimana kalau kalian ikut mencobanya?" &lt;/span&gt;Kini pemuda itu mengambil sisa satu koin yang ada di atas permukaan tanah. &lt;span style="color: grey;"&gt;"Ingat berbagi ya kalau kalian panen nanti, hahaha--,"&lt;/span&gt;lanjut pemuda itu seraya melempar koin terakhir ke dalam lubang yang masih terbuka di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well, well, menyuruhku ikut melakukan hal bodoh? Maaf saja, Kak.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penasaran, Belle mengangkat kepingan galleon itu ke atas kepalanya. Kata Mom, untuk melihat apakah uang ini palsu atau asli ada tiga langkah yang harus dilakukan. Dilihat, diraba dan diterawang. Oke, dilihat sudah. Diraba, sudah. Diterawang, juga sudah. Tak ada satu sisi pun dari keping galleon ini yang memiliki kemungkinan untuk mengeluarkan akar yang nantinya akan menjadi pohon. 100% takkan tumbuh. Gadis itu tiba-tiba teringat kalau di kantongnya masih ada sisa kacang segala rasa. Diam-diam, gadis itu memasukkan galleon-nya ke kantong—setelah terlebih dahulu mengeluarkan seekor puffskeinnya lalu dengan cepat mengambil sebutir kacang segala rasa warna emas, memasukkannya ke dalam tanah dan buru-buru menimbun lubang di hadapannya dengan tanah sebelum perbuatannya dilihat oleh dua orang di sampingnya. Lebih baik menanam kacang segala rasa daripada menanam galleon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu tersenyum puas lalu menatap kakak-mata-duitan sambil tersenyum lebar,&lt;strong&gt;"punya Belle pasti tumbuh. Belle percaya, kok."&lt;/strong&gt; Gadis itu terkekeh pelan sambil mengelus-elus timbunan tanah miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Galleon tak bisa tumbuh jadi pohon. Itu jelas. Bagaimana dengan kacang segala rasa? Sepertinya juga tak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sekarang di antara penanam galleon dan penanam kacang segala rasa, siapa yang lebih bodoh?&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;OOC : &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/RGY093-Rp190000-.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Penampilan Belle Hari ini&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-5478602490447008321?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/5478602490447008321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/money-tree.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5478602490447008321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/5478602490447008321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/money-tree.html' title='Money Tree?'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-3029249751809731105</id><published>2009-11-10T01:23:00.000-08:00</published><updated>2009-11-11T02:08:01.496-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Sejarah Sihir Tahun Pertama'/><title type='text'>Kelas Sejarah Sihir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvkxjBxrl_I/AAAAAAAAA-M/GikTTvdY_Mw/s1600-h/6152_sobieski_leelee_06.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 209px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvkxjBxrl_I/AAAAAAAAA-M/GikTTvdY_Mw/s320/6152_sobieski_leelee_06.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402403705849616370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran ketiga yang akan diikuti oleh gadis kecil itu adalah Sejarah Sihir. Sejarah, subjek yang tidak terlalu dikuasai oleh gadis kecil berambut pirang itu. Pasalnya, gadis kecil ini cukup pelupa. Dia tidak terlalu berbakat dalam mengingat atau menghapal, apalagi soal-soal yang berhubungan dengan tahun berapa ada kejadian apa dan lain-lain. Karena itulah, hari ini si pemilik kristal abu-abu muda itu membawa cukup banyak lembaran perkamen untuk mencatat apa saja yang akan dijelaskan di kelas nanti. Berharap pelajaran tersebut tidak terlalu sulit, mengingat kelas PTIH ternyata hanya memberi tugas menggambar. Memang ada, sih rasa ingin tahu gadis itu mengenai kejadian-kejadian masa lalu soal dunia sihir. Meski dia dibesarkan di lingkungan pureblood hingga usianya menginjak 7 tahun, tetap saja sihir bukanlah sesuatu yang terlalu akrab untuknya. Demi Merlin, berikan dia ingatan yang lebih baik hari ini, please.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu memasuki kelas dan segera mengambil tempat duduk di samping Faye. Akhirnya bertemu juga dengan anak itu lagi. Sejak masuk Hogwarts, mereka berdua rasanya belum sempat bertemu. Oh, satu kali di kelas PTIH yang juga digabung seperti kelas ini, sayangnya belum sempat mengobrol terlalu banyak. Belle melemparkan senyum pada temannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Selamat pagi anak-anak! Aku akan memperkenalkan diri. Aku Binns yang akan mengajar Sejarah Sihir---&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Weks. Gurunya hantu?!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle terkesiap dan sedikit berjengit karena kaget. Dia masih membiasakan diri melihat hantu-hantu transparan yang berkilau berseliweran di dalam kastil Hogwarts. Bukannya takut, hanya saja terasa aneh melihat sosok-sosok tembus pandang itu. Dunia sihir memang unik ya. Guru PTIH-nya mirip sama banshee dan sekarang guru Sejarah Sihir justru hantu sungguhan. Belle menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal -bingung. Terima sajalah. Anak itu kemudian menata perkamennya dengan rapi di atas meja, mengeluarkan pena bulunya dari dalam tas dan bersiap-siap menyimak dan mencatat pelajaran hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Tahun-tahun awal ini menceritakan tentang dua kelompok yang memilih dua jalan yang berbeda, yaitu penyihir dan non-penyihir atau biasa disebut dengan Muggle. Para penyihir tinggal berdampingan dengan para Muggle selama berabad-abad. Tidak pernah terjadi suatu masalah serius diantara keduanya. Di Mesir Kuno, misalnya. Para penyihir disana dihormati oleh anggota masyarakat Muggle."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian ini Belle pernah dengan dari kakek Russia-nya. Bahwa dulu muggle dan penyihir hidup berdampingan dengan damai. Memang seharusnya begitu, kan? Buat apa hidup dengan permusuhan. Apa yang menyebabkan muggle dan penyihir memisahkan diri? Belle kembali mendengarkan. Gadis kecil itu mulai menunjukkan ketertarikan pada pelajaran tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Tapi pada suatu waktu, kedua kelompok tersebut mulai memisahkan diri karena Muggle mencurigai penyihir menggunakan kekuatannya untuk menguasai lalui menghancurkan dunia-nya. Para penyihir disiksa dan dianiaya oleh Muggle-muggle tersebut."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Demi ketek bisulan Merlin. Kenapa para muggle bisa-bisanya berpikir pendek seperti itu dan sampai hati menganiaya kaum penyihir?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu semakin tertarik dan ingin tahu lebih banyak. Tak habis pikir bahwa kejadian seperti itu pernah sungguh-sungguh terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Saat permusuhan dan peperangan makin meningkat, empat penyihir yang dianggap paling kuat memutuskan membentuk sekolah dimana mereka bisa mengajarkan dan melatih penyihir muda tentang sihir, jauh dari campur tangan Muggle. Dengan begitu, Hogwarts didirikan sebelum awal dari masa millenium."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pena bulu yang dipegang gadis kecil itu terus sibuk berdansa dengan irama yang cepat. Mencatat setiap kata-kata yang meluncur mulus dari bibir transparan hantu tua tersebut. Mulai memahami alasan didirikannya Hogwarts. Mereka tetap ingin mendidik penerus mereka tanpa diketahui oleh para muggle yang berpikiran pendek dan negatif tentang dunia sihir. Mungkin itu memang pilihan yang terbaik, pikir Belle menganggukan kepala. Dengan itu mereka bisa dengan nyaman belajar tanpa takut dikejar-kejar dan dianiaya muggle, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Perang diantara dua kelompok tersebut terus bertambah parah dari tahun ke tahun. Dan sekitar tahun 1600 sampai 1700, penyihir mengambil tindakan untuk menyingkirkan Muggle dari komunitas sihir. Namun pada tahun-tahun terakhir, beberapa penyihir mencoba menghentikan permusuhan antara Dunia Muggle dengan Dunia Sihir dan mempersatukannya kembali...”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mengambil tindakan untuk menyingkirkan Muggle dari komunitas sihir? Tindakan seperti apa? Lalu untuk apa mempersatukan kembali sesuatu yang mungkin bisa mengulang tragedi yang sama? Bukankah itu sia-sia?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle tanpa sadar memonyongkan bibir dan mengerutkan kening --menepuk-nepuk ujung pena bulunya ke dagu. Dia sedang berpikir keras dan sedikit bingung. Dan tiba-tiba gadis di sampingnya mengacungkan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Profesor? Faye Azursky dari Gryffindor. Bukannya penyihir itu, yah, bisa sihir? Kenapa bisa disiksa dan dianiaya muggle?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertanyaan bagus. Belle juga penasaran, tuh.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Walker, yang seasrama dengannya ikut bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Yang ingin saya tanyakan berkaitan dengan pertanyaan Nona Azursky, apakah ada efek dari penyiksaan penyihir oleh para muggle yang saya pikir—&lt;br /&gt;—sedikit lebih lemah dan tidak berdaya dibandingkan penyihir? Dan apakah keempat pendiri tersebut lebih mendukung perdamaian antara muggle dan penyihir, atau mendirikan Hogwarts justru untuk lebih mengekslusifkan penyihir?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Mengekslusifkan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle ikut berdiri. Tidak terlalu setuju dengan pertanyaan Walker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elsveta, Ravenclaw. Saya rasa tujuan Hogwarts didirikan lebih dengan tujuan untuk melindungi komunitas sihir dan tetap mendidik generasi muda mereka tanpa perlu takut atas ancaman penganiayaan dari para muggle, Walker. Ini hanya pendapat saya saja,sih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian seorang anak lain yang tadi mengaku bernama Leland Kent turut menambahkan,&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Kurasa ada faktor kecemburuan besar dari para muggle karena Penyihir bisa sihir. Come on, aku saja senang setengah mati, er... penasaran lebih tepatnya, begitu aku tahu kalau dunia Lord of The Rings itu ada! Jadi, kembali ke topik. Empat penyihir ini berniat melatih para penyihir. Itu bagus. Penyihir bisa disiksa, kurasa aku pernah membaca dimana yang aku sendiri sudah lupa, kalau ternyata bahkan Penyihir itu malah senang dirinya di siksa, kind of psiko maybe. Sampai ada satu era di abad pertengahan kalau tidak salah, para penyihir memutuskan untuk menyembunyikan sihir. Mungkin mereka tidak tahan dengan tingkah para muggle? Santai, yang kelahiran muggle santai saja yah, aku juga setengah muggle kok. Dan kurasa, pemikiran mengeksklusifkan penyihir itu menarik. Mereka pada awalnya tidak menerima muggle, bukan? kalau begitu prinsip awal didirikannya sekolah ini adalah mendidik penyihir untuk menjadi tentara perang melawan muggle?" &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Penyihir senang disiksa? Ide darimana itu? Mana ada orang yang tahan dianiaya? Apalagi bagian terakhir, dididik untuk menjadi tentara perang melawan muggle? Sungguhkah?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maaf saya memotong lagi," ujar Belle sambil menatap ke arah Leland, "Saya tidak tahu menahu soal penyihir senang disiksa, jadi saya takkan berkomentar soal itu. Tapi, kurasa tak mungkin sekolah ini didirikan untuk menjadikan kita tentara perang. Apalagi melawan muggle. Bukankah tadi Profesor bilang bahwa pada tahun-tahun terakhir beberapa penyihir mencoba menghentikan permusuhan antara Dunia Muggle dengan Dunia Sihir dan mempersatukannya kembali? Jadi, kurasa itu tak mungkin. Benar kan, Profesor?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak lagi mengeluarkan pendapatnya atas pertanyaan Faye,&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Maaf Miss. Azursky. Menurut saya, bukan salah kaum penyihir jika tak mau melawan. Setiap orang menyukai perdamaian. Seperti halnya yang dijelaskan Profesor, saya dapat menangkap maksud penyihir itu sendiri. Mereka hanya menginginkan hidup aman dan berdampingan dengan Muggle. Namun, Munggle melakukan salah persepsi saat mengetahui sebagian dari mereka penyihir, mereka yang tak punya kekuatan malah dengan liciknya menyerang penyihir. Seharusnya mereka mempertanyakan guna dari ilmu itu sendiri. Lagipula, apa yang namanya Muggle tidak patut disalahkan dalam hal ini? Penyihir bukanlah pokok utama permasalahan, tetapi Muggle yang tidak berpikir matang, itu masalahnya. Oleh karena itulah sangat sulit bagi penyihir untuk hidup berdampingan dengan Muggle karena pada intinya penyihir tidak pernah memiliki niat mengusik Muggle, tetapi Muggle-lah yang mengusik kaum Darah-Murni."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle mengangguk-angguk. Pendapat anak lelaki itu masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya setuju dengan pendapatmu, err... mister?" bingung karena tak tahu nama anak itu, "memang jika mendengar dari penuturan Profesor Bins, yang tertangkap pertama kali adalah awalnya semua ini adalah kesalahan Muggle. Namun, kita juga tak boleh melakukan stereotype pada para muggle. Karena dalam tiap komunitas pasti ada yang baik dan yang jahat --begitupun dalam komunitas penyihir. Contohnya saja Kau-Tahu-Siapa. Namun, ada pertanyaan yang sejak tadi mengusik pikiran saya, Profesor. Tadi Anda bilang bahwa sekitar tahun 1600 sampai 1700, penyihir mengambil tindakan untuk menyingkirkan Muggle dari komunitas sihir dan pada tahun-tahun terakhir mereka berusaha menghentikan permusuhan dan mempersatukannya kembali. Yang ingin saya tanyakan, tindakan seperti apa yang dilakukan oleh komunitas penyihir untuk menyingkirkan muggle? Dan untuk apa mempersatukan kembali sesuatu yang mungkin bisa mengulang tragedi yang sama? Bukankah itu sia-sia? Tidakkah keadaan seperti sekarang lebih baik? Muggle yang bisa menerima sihir dan mempunyai bakat sihir saja yang diperbolehkan belajar di Hogwarts dan berbaur dengan komunitas sihir tanpa mencampur seluruh komunitas muggle, terutama mereka yang antipati terhadap kaum penyihir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit terkejut dengan ketertarikannya pada pelajaran itu, Belle kembali duduk sambil menunggu jawaban dari pertanyaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Kelas menjadi semakin ramai, satu persatu anak berusaha mengungkapkan pendapatnya dan saling bertukar pertanyaan. Menarik. Kelas yang begitu interaktif dan menyenangkan. Tak seperti hari-harinya di London yang hanya belajar berdua dengan Ms. Leona --guru privatnya. Tanpa teman-teman sekelas, tentunya interaksi seperti ini tak mungkin terjadi. Belle bersemangat memperhatikan teman-temannya asyik mengajukan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Lalu saya juga ingin menanggapi pertanyaan Miss Elsveta tentang Muggle dan Penyihir yang hidup berdampingan. Saya pernah mendengar tentang yang namanya Kementrian Sihir kalau tidak salah, dan kalau tidak salah lagi mereka yang mengatur tentang peraturan perundangan agar Muggle dan Penyihir dapat hidup berdampingan dan mencegah terjadinya masalah. Sekian pendapat dari saya. Terima kasih.. mungkin ada yang mau menambahkan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis memberikan pendapatnya atas pertanyaan yang Belle ajukan. Belle menoleh ke arah gadis itu, Semanovska eh? --melemparkan senyum berterimakasih meski itu bukan jawaban yang diinginkan oleh gadis kecil tersebut. Dia tahu bahwa kedamaian yang sekarang terjadi adalah berkat usaha dari Kementrian Sihir dan dia sangat menghargai itu --menganggap situasi saat ini justru adalah situasi terbaik bagi pihak penyihir dan juga muggle. Mungkin Semanovska salah persepsi tentang pertanyaan Belle? Gadis kecil itu pun berbisik pada Semanovska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, aku tahu soal itu. Hanya saja jika mendengar dari penuturan Profesor Binns --seolah-olah pihak penyihir hendak mengembalikan kehidupan seperti dulu lagi. Benar-benar terbuka antara muggle dan penyihir --singkatnya benar-benar berdampingan dan bebas melakukan sihir di depan para muggle. Bukan seperti saat ini, dimana hanya muggle-muggle tertentu yang mengetahui keberadaan komunitas sihir. Mengerti maksudku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Benar. Sejarah adalah sejarah —sudah berlalu dan tak mungkin diperbaiki kecuali ada seseorang disini yang menguasai sihir waktu. Tapi, tetap saja penuturan Profesor Binns yang singkat dan tidak mendetail memancing rasa ingin tahu para bocah-bocah kelas satu —termasuk dirinya sendiri. Bukankah ada bagian dari sejarah itu yang masih berlaku dan berlanjut sampai hari ini? Hogwarts adalah bagian dari sejarah tersebut, bukan? Bukan berarti gadis kecil itu akan mengingat keseluruhan detail-detail kecil dari pelajaran tersebut —tidak, ingatannya lemah. Catat itu. Tapi setidaknya poin-poin penting akan tetap terpatri dalam ingatannya sedemikian rupa. Gadis kecil itu ingin tahu —ingin tahu lebih banyak lagi tentang dunia yang kini dijajakinya. Dunia yang telah memperlihatkan begitu banyak keajaiban —yang telah memanjakan indera penglihatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"—Namun.. kira-kira apa yah alesan sebagian penyihir dahulu yang berniat mempersatukan Muggle dan Penyihir tanpa batasan-batasan? Apakah agar mereka dapat bebas memakai sihir di dunia muggle.. atau agar mereka ingin di akui keberadaannya karena lelah menyembunyikan semua itu.. atau mereka ingin membalaskan dendam ke bangsa Muggle memakai kekutan mereka atau malah sebaliknya mereka ingin memakai sihir mereka untuk membantu kaum Muggle dan memperbaiki pandangan para Muggle terhadap mereka? itu hanya kemungkinan-kemungkinan yang terpikirkan olehku, just saying."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis bernama Semanovska itu kembali menuturkan pendapatnya —kini hanya pada Nabelle. Rupanya, pemikiran Semanovska tak jauh berbeda dengan dirinya —itu membuat Nabelle merasa senang. Ini akan menjadi diskusi yang menyenangkan —sepertinya. Gadis itu dengan bersemangat mengangguk-angguk pada penuturan Semanovska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, ya Semanovska. Aku juga memikirkan hal yang sama. Tapi kurasa bukan untuk tujuan balas dendam pada bangsa muggle karena banyak penyihir juga berasal dari bangsa itu, kan. Kurasa kemungkinan yang terakhir kamu sebut itu yang menjadi alasannya. Memperbaiki citra penyihir di mata kaum muggle non penyihir, which is kind of impossible —&lt;em&gt;I think&lt;/em&gt;. Dan juga, mungkin salah satu alasan mereka ingin kembali mempersatukan Muggle dan Penyihir adalah —&lt;em&gt;Kau-Tahu-Siapa&lt;/em&gt;. Bagaimana kalau kita tanyakan langsung pada Profesor?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis berambut pirang itu kemudian mengacungkan tangannya kembali setelah memberi kedipan sekilas pada Semanovska.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Profesor, apakah alasan penyihir-penyihir tersebut ingin mempersatukan kembali Muggle dan Penyihir itu —ada hubungannya dengan &lt;em&gt;Kau-Tahu-Siapa&lt;/em&gt;? Sekarang setelah &lt;em&gt;dia&lt;/em&gt; jatuh, apakah keinginan tersebut masih akan dipertahankan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu duduk kembali —melemparkan cengiran lebar pada Semanovska.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-3029249751809731105?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/3029249751809731105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/kelas-sejarah-sihir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3029249751809731105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/3029249751809731105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/kelas-sejarah-sihir.html' title='Kelas Sejarah Sihir'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvkxjBxrl_I/AAAAAAAAA-M/GikTTvdY_Mw/s72-c/6152_sobieski_leelee_06.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-29056244481576194</id><published>2009-11-09T06:33:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T01:22:02.525-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas PTIH Tahun Pertama'/><title type='text'>Hasil Karya Belle -Om Banshee-</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/Svgo3IIqixI/AAAAAAAAA-E/syAwaWfiFj0/s1600-h/leelee2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 243px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/Svgo3IIqixI/AAAAAAAAA-E/syAwaWfiFj0/s320/leelee2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402112680572652306" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Itu akan menjadi kelas keduanya di Hogwarts! Kata orang-orang, guru PTIH tahun ini nyentrik. Memangnya tahun lalu, gurunya beda ya? Lalu, kenapa guru yang sekarang disebut-sebut sebagai nyentrik? Belle tak habis pikir, sungguh. Sambil menyisir rambut pirangnya yang bergelombang indah, Belle menatap ke luar jendela. Tak benar-benar memandang ke luar karena pikirannya sibuk memikirkan hal ini dan hal itu. Masih seputar guru nyentrik PTIH, tentu. Maklum, Belle tidak benar-benar memperhatikan apa yang terjadi saat Pesta Awal Tahun. Saat itu Belle masih terlalu shock dengan keputusan si Topi Seleksi yang kumal namun memang jenius itu. Ditambah lagi, insiden tabrakannya dengan kakak-penjual-bunga-bermata-belang yang konon bernama Light itu. Bayangkan, Belle di pelototin! Wajar, sih. Belle membuat kakak-penjual-bunga-bermata-belang itu benjol sekaligus dua! Saking bingungnya, saat itu Belle dengan panik mengecup kedua benjol di kepala Light lalu langsung kabur begitu saja. Nah, sekarang mengerti kan kenapa Belle tidak tahu apa-apa soal guru baru dan segala tetek bengeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hmm --pitanya pakai warna apa yah?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat, jari-jarinya menyisir isi kotak pitanya. Mencari-cari pita yang pas untuk dipakai dengan jubah hitamnya. Tak banyak pilihan. Kalau pakai warna pink atau kuning, kurang match dengan jubah hitam dan emblem biru gagaknya. Akhirnya, jari lentiknya berhenti di sebuah pita mungil berwarna putih. Tersenyum puas --Belle memasangkan pita itu di sisi kiri kepalanya. Menghiasi rambut pirangnya yang bersinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki mungil Belle yang dibalut boots berwarna senada dengan pitanya, melangkah menyusuri tangga-tangga dan koridor menuju lantai satu --lokasi kelas PTIH berada. Gadis kecil itu mengira-ngira, menerka-nerka, seperti apa kelasnya akan berlangsung? Apakah akan seperti kelas Herbologi yang meminta murid-muridnya membuat serangkaian data mengenai tanaman sihir? Atau mereka akan diajari praktek mantera untuk bertahan terhadap sihir hitam? Belle sama sekali tidak punya ide atau bayangan soal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Ini dia kelasnya. Gadis kecil itu mengintip ke dalam, melihat-lihat isi kelasnya. Rupanya sudah ada beberapa siswa yang datang. Untung dia tidak terlambat. Jarak dari asrama Ravenclaw ke kelas PTIH tidak dekat lho! Dari menara sampai ke lantai 1! Kenapa disini tidak disediakan jalan pintas untuk mempercepat, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Hai, Om senang kau masuk kelas,”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om? Kenapa ada om-om di kelas ini? Belle menatapnya dengan cengiran bingung. Apa dia gurunya? Sepertinya sih, iya. Soalnya dia ada di meja guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai juga, Om. Belle juga senang masuk kelas," balas Belle lirih. Terpana menatap wajah "om" tersebut yang menor dengan make-up. Make up? Kenapa om-om pakai make up? Belle mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap si "om" dari kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jangan-jangan aku salah lihat? Mungkin si om itu habis berantem lalu memar. Makanya terlihat seperti dandan dari sini.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle melangkah perlahan, takut-takut ke arah "om" itu. Memandangi wajahnya dari jarak dekat dengan sangat seksama. Bukan memar. Belle memandangi pipi "om" itu yang berwarna kemerahan seperti ditampar. Mengusapnya pelan dengan telapak tangan mungilnya. Saat ia pandang kembali telapak tangannya, ada rona kemerahan disana. Wow. Si "om" pakai blush on?! Om atau Tante, nih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Om itu laki-laki atau perempuan, sih? Kok dandan?" tanya Belle polos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat anak itu menanti jawaban, namun yang diterimanya sama sekali tidak memuaskan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“belajar yang rajin ya, mungkin suatu saat nanti kau bisa jadi penyihir hebat seperti Om.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu melongo, menelan ludah dengan gerakan slow motion. Penyihir hebat? Banci jadi-jadian seperti dia ini penyihir hebat? Apa kata dunia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Nah, berondongku yang manis. Tugas kalian sekarang adalah, menggambar makhluk sihir hitam-makhluk kegelapan,” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggambar? Bukannya ini kelas pertahanan terhadap ilmu hitam? Jangan-jangan aku salah kelas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Di meja Om ada setumpuk pena bulu dengan tinta warna-warni kalau kalian butuh,"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ya sudahlah. Turuti saja maunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ba --baik, om," jawab Belle cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu buru-buru berbalik arah setelah mengambil sebuah pena bulu dengan tinta hijau dari meja "om" tersebut. Bisa gila kalau terlalu lama menatap wajahnya. Sungguh, Belle tidak bohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle segera mencari kursi terdekat dan mulai memikirkan hendak menggambar apa. Dia tidak begitu tahu banyak tentang makhluk kegelapan. Dan saat ini dia benar-benar tidak punya ide harus menggambar apa. Gadis kecil itu kembali menatap wajah "om" yang ternyata memang nyentrik itu --berusaha mencari inspirasi dari setiap lekukan wajahnya. &lt;strong&gt;TRING!&lt;/strong&gt; Belle benar-benar mendapat inspirasi! Sekarang Belle tahu harus menggambar apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat, pena bulunya berdansa di atas perkamen. Membentuk garis-garis yang kemudian berubah menjadi gambar makhluk kegelapan yang citranya agak mirip dengan "om" itu. Gadis itu menggambar sambil terkekeh --geli sendiri dengan pikirannya. Benar-benar mirip "om", batinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu melangkah cepat menuju "om" itu dan menyerahkan hasil karyanya dengan bangga. Dia berhasil menggambar sesuatu yang mirip dengan guru di kelas tersebut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nih, om. Belle sudah selesai menggambar. Bagus kan gambarnya? Mirip banget sama om, makanya waktu melihat wajah om, Belle langsung teringat sama makhluk satu ini. Mudah-mudahan om suka," ujar Belle polos sembari menyunggingkan senyumnya yang paling manis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://36oh.net/dust/banshee.gif" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Hasil Karya Belle -Om Banshee-&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle segera kembali ke tempat duduknya. Senyum tersungging di bibirnya. Dia yakin gambarnya pasti disukai oleh "om" itu. Habisnya mirip, sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Sejujurnya, gadis bermanik abu-abu muda itu sedikit bingung dengan kelas ini. Namanya Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Tapi, kenapa dia dan teman-temannya malah disuruh menggambar? Apakah dengan menggambar, ada satu atau dua sihir hitam yang bisa ditangkal? Kalau iya, sih --tak jadi masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis berusia 11 tahun itu sudah menyelesaikan gambarnya dan hendak kembali ke tempat duduknya setelah menyerahkan pada "om" profesor. Mencoba memecahkan teka-teki angka yang tertulis di papan tulis. 20 angka itu jumlah yang lumayan, lho.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;2176114&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan dia memikirkan jawabannya. Mencoba memecahkan misteri tersembunyi dari urutan angka tersebut. Apakah itu sebuah simbol untuk menulis nama? Nama si "om" itu saja Belle tidak tahu. Jika dipaksa dibaca sebagai huruf, yang terbaca adalah Ritgiia. Sebuah kata-kata yang sepertinya tak punya arti khusus. Mana mungkin itu jawabannya, kan? Manik abu-abu mudanya menangkap tiga sosok yang dia kenal, Faye dan kakak kembarnya serta Blackrose. Si Blackrose itu masuk Slytherin, ya? Tak diduga, padahal orangnya cukup sopan dan tidak terlihat jahat. Memang sih, auranya agak-agak kelam. Baru saja Belle hendak menghampiri mereka ketika tiba-tiba didengarnya sebuah jeritan khas seorang perempuan yang sepertinya pernah ia dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"KYAAAA, po-poniku, po-poniku ru-RUSAAAK.... Kenapa keriting begini????",&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Dior? Ya ampun, kenapa dengan poninya?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya gadis itu memutuskan untuk menghampiri Dior alih-alih ketiga teman lamanya. Habis, Dior terlihat membutuhkan seseorang untuk membuatnya sedikit tenang. Masa berteriak-teriak di tengah pelajaran? Kalau Ms. Leona melihat kejadian ini, Belle yakin 100% kalau guru privatnya itu akan menasehati Dior berjam-jam dan menguliahi dia tentang tata krama dan sopan santun serta tetek bengeknya. Saat sedang melangkah, Glad sudah lebih dulu sampai di tempat Dior. Menanyakan hal yang sama seperti yang ingin dia tanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Eh? Ada apa dengan ponimu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dior? Kenapa histeris begitu? Ada yang bisa kubantu?" tanya Belle --kemudian menoleh ke arah Glad, "Hai, Glad. Kamu tahu tidak nama guru PTIH kita yang &lt;em&gt;nyentrik&lt;/em&gt; itu?"&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-29056244481576194?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/29056244481576194/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/hasil-karya-belle-om-banshee.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/29056244481576194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/29056244481576194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/hasil-karya-belle-om-banshee.html' title='Hasil Karya Belle -Om Banshee-'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/Svgo3IIqixI/AAAAAAAAA-E/syAwaWfiFj0/s72-c/leelee2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-1762078770941529380</id><published>2009-11-08T21:04:00.000-08:00</published><updated>2009-11-20T21:29:46.516-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Halaman'/><title type='text'>It's Fun, huh!?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvejRV9WgcI/AAAAAAAAA98/uc645n4zzUM/s1600-h/Leelee_Sobieski_dec2_04.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 242px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvejRV9WgcI/AAAAAAAAA98/uc645n4zzUM/s320/Leelee_Sobieski_dec2_04.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401965796401775042" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia. Makhluk yang sangat rumit. Tingkah laku dan pikirannya tak bisa ditebak. Demikian pula dengan perasaannya. Setuju? HARUS. Contohnya saja Nabelle. Seorang gadis kecil yang dibesarkan dalam lingkungan high class, yang terbiasa berlaku tenang dan anggun dalam segala hal bahkan dalam berbicara. Sejak menginjak dunia yang disebut sebagai dunia sihir, tingkah lakunya agak sedikit berubah. &lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;, mungkin itulah Nabelle yang sesungguhnya. Apa adanya, polos dan sedikit nekat. Melompat ke danau hitam untuk menyelamatkan seekor kucing milik orang lain jika tidak bisa disebut nekat, apa dong? Menendang seorang prefek ular dan kemudian meninjunya plus memaki-makinya juga tak bisa disebut tidak nekat. Benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian kejadian yang penuh kenangan selama di Hogwarts membuatnya betah dan lupa pada kesedihannya yang lalu. Ia kini merasa bahwa memang Ravenclaw-lah tempat yang paling cocok untuknya. Topi Seleksi memang tak pernah salah. Jujur, Belle terkesan sekali. Sambil bersandar pada sandaran sebuah bangku kayu yang terletak di depan sebuah pohon di tengah halaman Kastil Hogwarts, ia memainkan kakinya membentuk lingkaran-lingkaran cukup besar di permukaan salju dengan ujung sepatu bootnya. Banana dan Lemon bergelundung di tengah-tengah lingkaran buatan itu. Sedikit gemetar --kedinginan mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menyandarkan kepalanya ke batang pohon, menatap langit musim dingin yang begitu berkilauan. Manik abu-abunya berbinar tertimpa sinarnya. Gadis itu tersenyum kecil, seolah ia bisa melihat seseorang yang ia kasihi berada nun jauh di sana. Tidak --kali ini gadis itu tidak lagi menangis. Gadis kecil itu sudah sepenuhnya memahami dan bisa menerima kenyataan bahwa ayahnya takkan pernah kembali di sisinya. Lagipula, dari surga, ayahnya telah mengirimkan begitu banyak pengganti "ayah" dan "kakak" untuknya. Tak seperti biasanya, kali ini Heart --gitar kesayangannya, tidak dibawanya. Cuaca terlalu dingin, jari jemari mungil gadis itu terasa kaku untuk bermain gitar di halaman. Jadi, ia tinggalkan gitarnya di kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu membentur pohon yang menjadi sandaran bangku yang ia duduki. &lt;strong&gt;DUAKH!&lt;/strong&gt; Belle terkesiap dan spontan berdiri. Mengintip dari balik pohon. Mengira-ngira apa yang menabrak pohon tersebut. Sesuatu yang berwarna merah putih dan bulat! Tiba-tiba sesuatu itu tertawa dan langsung menutup mulutnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Santa Claus?!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle memiringkan kepalanya, bingung. Ia memicingkan matanya, merasa mengenali sosok gempal tersebut. Ah! Ziggy, rupanya. Sahabat Chall, orang yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri. Sepertinya Ziggy tidak melihat dirinya karena tiba-tiba anak bertubuh gempal tersebut bersembunyi di balik pohon dan mengintip. Belle mengikuti arah pandangannya. Eh? Itu kan si kakak jutek di Toko Lelucon? Mau apa Ziggy mengintipi kakak itu? Gadis itu diam saja, mengamati. Dan dalam hitungan detik, Ziggy melemparkan sesuatu ke arah kakak jutek. Apaan? Bola salju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu menunggu jawabannya terlalu lama karena setelah tiga suara ledakan yang cukup besar, terciumlah bau yang sangat tidak enak. Membuat Belle mengernyit dan buru-buru menutup hidungnya. BOM KOTORAN!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Itu hadiah dari ku, Kak Elenaly bom kotoran yang cantik!”&lt;/span&gt; Belle mendengar Ziggy bergumam sambil terkekeh di balik pohon besar. Si bodoh itu tak sadar bahwa di balik pohon itu juga, ada seorang gadis manis yang terheran-heran menatap dirinya. Main salju pakai bom kotoran? Seru juga sepertinya. Gadis itu teringat bahwa dia pernah membeli dua buah bom kotoran dari toko lelucon. Ya, dilayani oleh kakak jutek yang menjadi korban pelemparan Ziggy kali ini. Gadis kecil itu segera merogoh tas putihnya, mencari-cari bom kotoran yang diingatnya ada di dalam tas tersebut. ADA! Saatnya kalian berdua menjalankan tugas, wahai bom kotoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera gadis kecil itu berlari ke arah kakak jutek. Entah kenapa, nalurinya berkata untuk berada di pihak kakak jutek. Woman intuition, maybe?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kak!! Orang itu yang melemparimu!! Si Kak Ziggy!!" seru Belle sambil berlari dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah pohon di mana Ziggy bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terengah-engah saat tiba di hadapan kakak jutek --terengah-engah karena berusaha menahan nafas saking baunya tempat itu sekarang, Belle menyodorkan sebuah bom kotoran pada kakak jutek itu. Yang satu lagi, untuk Belle pakai. Siapa tahu dibutuhkan di saat kritis. Ya, nggak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pakai ini, Kak. Balas dia!!" ujar Belle tersenyum lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Demi daster bulukan Merlin. Demi bisul bernanah Merlin yang nyaris pecah. Belle benar-benar tidak habis pikir dengan senior berwajah manis yang ada di hadapannya ini. Gadis kecil itu sudah melakukan kebaikan dengan memberitahu dia bahwa pelaku pengeboman bau tersebut adalah Ziggy yang bersembunyi di balik pohon. Bahkan Belle dengan murah hati membagi satu bom kotoran miliknya untuk senior tersebut. Alih-alih ucapan terimakasih dan senyuman, Belle malah dihadiahi dengan gertakan kesal dan sebuah lirikan sinis yang tak cocok bertengger di wajah manisnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Ah berisik! Kau mau menyuruhku mengebom pohon besar itu dan membayangkannya sebagai Ziggy,eh? Apa kau gila!?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuh, kan. Belle bahkan disebut gila oleh senior jutek yang sepertinya bernama Elenaly(?). Jika mempertimbangkan orang yang menyebut nama tersebut adalah Ziggy yang kelihatannya punya hobi aneh dengan menambahkan imbuhan -ly di belakang setiap nama orang—contohnya saja Kak Challaza yang dipanggil dengan Challaly dan Kak Devin menjadi Devinly—bisa dengan mudah disimpulkan bahwa kakak jutek di hadapannya ini bernama Elena, tanpa imbuhan -ly. Belle yakin, orang yang juteknya seperti Elena takkan suka dipanggil dengan sebutan Elenaly. Gadis kecil itu terkekeh kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kak Elenaly yang manis, di sana benar-benar ada Kak Ziggy. Pohonnya besar, makanya Kak Ziggy yang bundar-bundar itu bisa bersembunyi di baliknya dengan aman,"&lt;/strong&gt; ujar Belle membalas gertakan Elena. Jangan kira Belle takut digertak, ya. Gadis kecil itu sedikit mengernyit karena bau bom kotoran melekat pada tubuh kakak jutek itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elena kemudian merapalkan mantra ke tubuhnya sendiri dan bau kotoran tersebut dalam sekejap menghilang. Belle bisa bernapas lega sekarang. Scourgify, ya? Bertambah satu lagi mantra yang Belle tahu. Kapan-kapan ia ingin mencoba merapalkannya. Siapa tahu ia beruntung seperti saat merapal Wingardium Leviosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Elena berdiri sambil berkacak pinggang di hadapan Belle—memasang tampang sangar yang benar-benar tidak pas di wajahnya. Meski seram juga, sih. Mau gertak apa lagi, nih? Jangan-jangan dia mencurigai Belle yang melempar bom kotoran? Tuh, kan benar. Salah Belle juga menghampiri Elena begitu saja dengan membawa bom kotoran pula. Wajar saja kalau dia jadi dicurigai sebagai sang pelaku. Mudah-mudahan Ziggy tidak kabur dan tetap berada di balik pohon besar itu. Dan sepertinya memang demikian, karena tiba-tiba perhatian Elena beralih ke pohon tersebut dan kemudian berjalan mendekat kesana. Belle mengikuti gadis itu dari belakang, merasa ada sesuatu yang seru akan terjadi setelah ini. Belle tak mau ketinggalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Kau—“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;“Tadi itu kerjaan kau kan, bocah gendut sialan!”&lt;/span&gt; seru Elena sambil melempar satu bola salju yang tadi dipegangnya kearah Ziggy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Hore. Perang bola saju kotoran dimulai!&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;*****&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-family: Tahoma, Arial, sans-serif; font-size: 11px; font-style: normal; border-collapse: collapse; line-height: 18px; "&gt;&lt;em&gt;Keren!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu kata itulah yang terbersit kala gadis kecil berjaket beruang coklat itu melihat lemparan bola salju milik Elena masuk tepat ke mulut Ziggy, dia sempat terkejut karena mengira di dalam bola salju itu terdapat sebuah bom kotoran—untungnya saja tidak ada. Entah apa yang akan terjadi jika benar-benar ada bom kotoran disana, rasanya sulit untuk dibayangkan atau lebih baik tidak usah dibayangkan sama sekali. Terlalu mengerikan. Mungkin akan menyebabkan bau mulut permanen pada korbannya? Siapa yang tahu. Gadis kecil itu terheran-heran ketika melihat Ziggy malah menuangkan cairan berwarna merah ke mulutnya yang penuh dengan salju dan mengecap-ngecapkan mulutnya. Demi Merlin—dia bawa-bawa sirup di dalam tas? Benar-benar anak laki-laki yang aneh, batin Belle. Tapi sepertinya enak juga, pasti rasanya seperti es serut dengan lapisan sirup manis yang sering dibuatkan ibunya tiap musim panas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syuung—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syuung—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syuung—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syuung—&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja suara timpukan bola salju beruntun terdengar lagi di telinganya. Dilempar oleh Ziggy pada seorang gadis berambut gelap yang tidak dikenalnya dan sekali lagi pada Elena. Belle sempat berpikir, apakah Ziggy menyukai Elena? Makanya dia begitu iseng menimpuki seniornya itu dengan bola salju dan bom kotoran. Banyak sekali anak-anak lelaki yang menyembunyikan rasa sukanya pada seseorang dengan berbuat iseng pada orang yang disukainya. Setidaknya, itu yang dia baca di novel-novel fiksi. Tak lama, Ziggy menghilang entah kemana. Mungkin kembali menjadi bola dan menggelinding ke suatu tempat untuk bersembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu merasa bahwa tak lama lagi dirinya pun akan menjadi sasaran timpukan si bundar berbaju santa claus itu. Dia cepat-cepat berlindung di balik pohon tempat ia duduk tadi—mengeluarkan sarung tangan berbulu dari kantong jaketnya. Kedua puffskeinnya bergelundung ke arahnya dengan gemetar kedinginan. &lt;strong&gt;"Ya, ampun. Aku lupa sama sekali bahwa aku kemari bersama kalian!"&lt;/strong&gt; Gadis kecil itu buru-buru mengantongi kedua puffskeinnya dalam jaketnya yang hangat—menepuk-nepuknya perlahan sambil menggumamkan kata maaf. Kemudian Belle mulai mengambil segumpal salju dan membulatkannya dengan kedua tangannya, dia membuat cukup banyak bola salju untuk mulai berperang. Bom kotorannya masih tersimpan di dalam tasnya, belum berniat ia gunakan sekarang. Dan benar saja, tak lama kemudian Ziggy mulai menimpuki dia dengan bola salju—berwarna merah(?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syuung—&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;DUARRR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meleset. Belle terkekeh di balik pohon. Memencet hidungnya karena bau bom kotoran lagi-lagi memenuhi udara. &lt;em&gt;Cih! Dasar Ziggy-manusia-bom-kotoran!&lt;/em&gt; Belle menggembungkan pipinya dengan ekspresi kesal yang dibuat-buat—sebenarnya gadis kecil itu sangat senang. Dia belum pernah bermain seperti itu dengan teman-teman sebayanya, sih. &lt;em&gt;Awas! Kubalas kau!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syuung—&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;DUARRR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola salju kotoran kedua tiba-tiba meledak lagi di belakangnya. Hampir saja mengenai Belle saat ia berdiri hendak melempar balasan, untung saja gadis kecil itu dengan sigap berjongkok. Tak sia-sia Belle belajar berpedang sejak kecil. Gerak refleksnya jadi terlatih dengan baik. Gadis kecil itu akhirnya dengan bersemangat memasukkan sebuah bom kotoran ke dalam bola salju dalam genggamannya. Cengiran lebar tersungging mantap di wajahnya, kristal abu-abunya berkilat karena semangatnya. Gadis kecil itu berdiri dan mengintip dari balik pohon. Tangannya sudah bersiap melempar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syuung—&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;DUARRR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ih! Si bundar itu punya berapa banyak bom kotoran, sih? Sepertinya sejak tadi tidak habis-habis. Baunya luar biasa, tahu? Belle mendengus gemas. Apalagi si bundar itu mencampur bola saljunya dengan saos tomat. Baunya jadi semakin busuk saja. Untung saja tiga lemparan beruntun itu tidak satupun mengenai Belle. Dia kan belum boleh merapal mantra &lt;em&gt;Scourgify&lt;/em&gt; seperti Elena. Bisa repot kalau dia terkena timpukan si bundar yang maha harum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, tiba-tiba gadis itu merasakan desakan keras dari dalam hatinya untuk melepas jaket beruangnya dan meletakkannya di atas bangku panjang yang tadi ia duduki—Banana dan Lemon aman berlindung dalam kantong jaket yang hangat itu. Gadis kecil itu menggigil kedinginan karena dia hanya mengenakan dress coklat muda yang tidak terlalu tebal dengan celana panjang berwarna senada. Kali ini gadis itu harus melemparkan balasan pada si bundar. Dia tarik tangan kanannya ke belakang lalu sekuat tenaga mendorongnya ke depan, melemparkan sebuah bola salju berisi bom kotoran ke arah si bundar.&lt;em&gt;Syuuut—&lt;/em&gt;Gadis itu tersenyum puas dan berharap lemparannya tepat sasaran. Namun tiba-tiba—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Syuung—&lt;/em&gt; &lt;strong&gt;DUARRR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemparan keempat dari si bundar tanpa diduga melesat langsung mengenai kening Belle yang mungil—membuat gadis kecil itu terjungkal ke belakang tanpa bisa ditahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Brukk.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini gadis kecil itu terkapar di atas selimut es yang dingin luar biasa dengan wajah merah penuh cipratan saos tomat yang berasal dari bola salju si bundar. Rambut pirangnya pun tak luput menjadi korban. Bau yang luar biasa itu kini tercium begitu dekat dengan hidungnya, membuatnya merasa mual dan ingin muntah. &lt;em&gt;Demi Merlin, pencipta bom kotoran sepertinya memang sinting.&lt;/em&gt; Belle mengelus-elus keningnya yang terkena lemparan sambil mengernyit. Bisa-bisanya dia lengah seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu perlahan berdiri sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang penuh salju, mengusap wajahnya agar bersih dari cipratan saos tomat. Kemudian dia melangkah hendak menghampiri Elena—ingin minta di-&lt;em&gt;scourgify&lt;/em&gt;. Namun, baru satu langkah diambil, kaki kecil itu berhenti—mematung. Wajah gadis kecil itu tiba-tiba mengeras ketika melihat siapa yang sudah ada disana, berdiri di samping Elena dengan tatapannya yang melecehkan. Kristal abu-abu mudanya mengunci pandangannya pada sosok lelaki tinggi berambut pirang-platina. Prefek Sirius. Mau apa kakak-tak-berperike-kucing-an yang pernah menyebutnya 'bego' itu disini? Kelopak mata gadis kecil itu menyipit, menatap lurus ke arah Prefek Sirius tanpa menyembunyikan rasa tidak sukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah! Tiba-tiba saja gadis itu mendapatkan sebuah ide cemerlang. Dia harus memanfaatkan keadaannya yang berlumuran saos tomat dan bau kotoran ini untuk mengerjai Prefek Sirius. Kini cengiran nakal terlukis di wajah mungilnya dengan sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Siap!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lari!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle berlari dengan cepat ke arah Prefek Sirius, memeluknya erat dan cepat-cepat menggosok-gosokan wajah dan rambutnya ke tubuh bagian depan anak lelaki itu, entah di perut, entah di dada, gadis kecil itu tidak peduli. Yang penting, niatnya tersampaikan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-1762078770941529380?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/1762078770941529380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/its-fun-huh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1762078770941529380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/1762078770941529380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/its-fun-huh.html' title='It&apos;s Fun, huh!?'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvejRV9WgcI/AAAAAAAAA98/uc645n4zzUM/s72-c/Leelee_Sobieski_dec2_04.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-6237850997179335778</id><published>2009-11-07T07:12:00.001-08:00</published><updated>2009-11-09T05:21:17.014-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Danau'/><title type='text'>Halaman - Tek Dunk: MAU PETASAN?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvWOmuEbmCI/AAAAAAAAA90/0JYs5v7p1XA/s1600-h/s13104.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 260px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvWOmuEbmCI/AAAAAAAAA90/0JYs5v7p1XA/s320/s13104.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401380123953567778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelap tertidur. Si gadis kecil yang baru saja sembuh dari demamnya. Sambil memeluk kedua puffskeinnya, tertidur pulas. Bermimpi tentang teman-teman barunya yang menyenangkan di Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sesuatu yang berbunyi keras mengganggu tidur Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DOR… DOR… DOR!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bom?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu langsung terduduk di kasurnya. Kedua puffskeinnya terlempar. Teman-teman sekamarnya terlihat tidak terganggu dengan suara itu. Belle yang kebingungan segera mengenakan jaket beruangnya dan berlari menuju arah suara bising itu berasal --halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja gadis itu menemukan sang pelaku pengeboman halaman Hogwarts. Orang itu terlihat lebih tua darinya, sedang sibuk memasang petasan-petasan kecil di dahan pohon bersama seorang anak perempuan yang pernah dilihatnya saat Pesta Awal Tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sedang apa mereka? Main petasan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menatap kedua orang tersebut dari kejauhan. Masih ragu, mereka sungguhan sedang bermain atau memang berniat membombardir Hogwarts? Oke --pilihan yang kedua itu mustahil karena mereka melakukannya dengan gembira. Jadi, tak ada salahnya Belle ikutan, kan? Mereka harus mau mengajak Belle main. Toh mereka yang sudah membuat Belle terbangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle belum pernah main petasan. Sungguh. Belle hanya melihatnya di televisi. Petasan itu permainan yang menyenangkan. Sayang sekali ibunya tak mengijinkan dia membeli petasan dengan alasan Nonna dan Poppa sudah tua. Suara petasan tak sehat untuk jantung mereka. Ya sudah, apa boleh buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle segera berlari menghampiri kedua orang itu. Penuh semangat karena tak sabar ingin mencoba permainan yang sudah lama ia idamkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, Kak!! Belle mau ikutan main, dong!! Oh iya, kenalan dulu. Namaku Nabelle, panggil saja Belle," seru Belle pada kedua orang itu --nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OOC : &lt;a href="http://i628.photobucket.com/albums/uu3/hibari_yuki/BERUANGCOKLAT.jpg" target="_blank" rel="nofollow"&gt;Jaket Beruang Belle&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;____________________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DOR DOR DOR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Waaahhh.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petasan-petasan itu keren. Jauh --jauuuuh lebih keren daripada petasan-petasan buatan muggle yang Belle lihat di televisi!! Way way far!! Manik abu-abu muda gadis kecil itu sibuk bergerak ke kiri dan ke kanan --memperhatikan satu persatu petasan dan kembang api meledak di udara. Ada yang ledakannya berbentuk monyet, ada yang berbentuk pelangi, ada yang berbentuk kupu-kupu dan masih banyak lagi. Petasan sihir memang tiada bandingannya!! Belle yakin, kalau muggle melihat apa yang ia lihat sekarang, mereka bakalan melotot sampai matanya keluar dari kelopak --boing-boing menggelantung di spiralnya. Benar-benar bagaikan bumi dan langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;"Heiy bocah, kalau mau ikut ambil petasannya dan jangan merengek",&lt;/span&gt; tukas kakak yang punya petasan ketus, sepertinya dia sedang sibuk bermain sambil membangunkan temannya yang masih tertidur pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ih, galak banget, Kak. Mom bilang, kalau disapa orang harus menyapa balik. Kan, Belle tadi memperkenalkan nama, kakak juga harus. Itu baru namanya sopan santun," ujar Belle --memonyongkan bibirnya pada pemuda berparas Israel itu, sambil mengambil beberapa petasan yang terlihat menarik untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petasan beruang yang mirip seperti jaketnya hari ini. Petasan kodok --ah nista. Buru-buru Belle melemparnya kembali ke dalam kotak. Petasan kupu-kupu --pasti cantik. Tak sabar Belle hendak menjajal pengalaman pertamanya membakar petasan, saudara-saudara! Gadis kecil itu tidak tahu cara memainkannya, sih. Jadi, dia terpaksa harus minta pengajaran dan tutorial dari si kakak galak --pemilik petasan sihir abrakadabra-luar biasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GUBRAK!&lt;br /&gt;GUBRAK!&lt;br /&gt;GUBRAK!&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba sebuah pemandangan unik terhampar di hadapan Belle, menghibur kedua permata abu-abu mudanya sesaat sebelum ia menyadari bahwa ia harus segera bergerak. Bergerak untuk menolong, jelas. Suara gubrak yang heboh barusan itu adalah hasil dari berguling-gulingnya seorang anak perempuan yang mendarat dengan posisi wajah menghantam tanah tepat di dekat kaki Belle. Pasti sakit itu, Kak. Belle juga pernah mencium lantai kayu di Leaky Cauldron yang bau apaknya amit-amit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Sa—sakit,” &lt;/span&gt;rintihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle dengan segera berjongkok di samping anak itu --menutul-nutul kepalanya, memastikan anak itu masih sehat. Mimik wajahnya antara merasa kasihan, cemas sekaligus menahan tawa. Mungkin saat itu mimik wajah Belle berubah-ubah dengan cepat? Siapa yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, kamu baik-baik saja? Sedang main apa? Sedang pura-pura jadi trenggiling ya?" tanya Belle polos pada anak perempuan malang itu, "Kamu tahu trenggiling kan? Binatang yang badannya keras itu. Dia bisa menggulung badannya lalu berguling-guling untuk bergerak seperti bola. Lucu banget deh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya, daripada kamu lecet-lecet dan berakhir di pangkuan Madam Pomfrey, lebih baik ikutan main petasan dengan kami!" ujarnya lagi --kali ini gadis kecil itu mengulurkan tangannya untuk membantu gadis-trenggiling itu berdiri&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-6237850997179335778?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/6237850997179335778/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/halaman-tek-dunk-mau-petasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/6237850997179335778'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/6237850997179335778'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/halaman-tek-dunk-mau-petasan.html' title='Halaman - Tek Dunk: MAU PETASAN?'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvWOmuEbmCI/AAAAAAAAA90/0JYs5v7p1XA/s72-c/s13104.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-2743206041643730415</id><published>2009-11-06T21:31:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T21:33:49.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kastil Hogwarts - Klub Musik'/><title type='text'>Registrasi Klub Musik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvUGrrzXbtI/AAAAAAAAA9s/Y5_aTeYcDUo/s1600-h/Leelee_Sobieski1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 151px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvUGrrzXbtI/AAAAAAAAA9s/Y5_aTeYcDUo/s320/Leelee_Sobieski1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401230675663089362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik. Apa yang kau pikirkan saat berbicara tentang musik? Ada yang bilang kalau musik itu bisa jadi memori untuk mengenang sesuatu yang berkesan dalam hidup, baik itu manis ataupun pahit. Ada yang bilang musik itu terkadang bisa mengungkapkan kata hati manusia yang tersembunyi. Ada juga yang bilang bahwa musik adalah sebuah ungkapan hati manusia yang tak sanggup terucapkan. Lalu bagimu, apa arti musik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang gadis kecil bernama Nabelle, musik adalah bagian dari dirinya. Musik adalah luapan segala emosi yang berkecamuk di jiwanya. Musik adalah sebuah media baginya untuk berbicara, untuk melepaskan segala keruwetan dalam benaknya. Tanpa musik, dirinya tidak utuh. Alunan senandung lembut kerap hadir di lembah-lembah imajinasi gadis kecil itu. Saat alunan itu dilantunkan dalam melodi kesedihan maka ia menghadirkan kenangan silam di saat gundah dan putus asa. Tapi jika dilantunkan pada saat hati senang, maka musik menghadirkan kenangan silam di saat damai dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik sanggup membuat segala kegelisahan memenuhi tulang rusuk dan menghadirkan seribu duka. Tapi ia juga bisa berupa susunan kata kata ceria yang segera menguasai kalbu kita, lalu menari riang disela tulang rusuk, menghadirkan seribu bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang ia mampu memaksa tetesan airmata menyeruak dari kelopak mata. Namun ia juga mampu menghadirkan simpul senyuman yang keluar perlahan dari gerakan lembut sepasang bibir indah, sebagai isyarat rasa senang bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak bisa disangkal, musik demikian berpengaruh pada gejolak emosi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki kecil Belle melangkah menyusuri kastil Hogwarts. Lantai demi lantai ia lewati. Ingin tahu lebih banyak tentang sekolahnya itu. Ada yang bilang bahwa di sekolah ini ada klub musik dan Belle berniat untuk melihat-lihat kesana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai tujuh, dimana kini gadis itu berpijak. Kembali menyusuri koridor Hogwarts yang penuh keajaiban. Masih terheran-heran dengan foto-foto bergerak di dunia sihir. Dan kemudian, indera pendengarnya menangkap petikan senar gitar yang manis. Dengan sendirinya, kedua kaki kecil itu melangkah ke arah lantunan musik berasal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini di hadapannya ada sebuah pintu dengan plakat bertuliskan klub musik. Suara petikan dan kini bertambah dengan nyanyian itu berasal dari balik pintu ini. Perlahan, gadis itu membuka pintu dan masuk ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternganga sesaat ketika melihat beragam alat musik ada di ruangan tersebut. Menanti untuk dimainkan oleh musisi-musisi berbakat. Dan di pojok ruangan itu, terdapatlah sebuah instrumen musik yang membangkitkan kerinduan terdalam si gadis kecil. Sebuah grand piano yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menghampiri seorang senior yang nampaknya adalah si pemetik gitar dan yang menyanyi barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, Kak. Lagu yang barusan indah sekali. Hm... aku boleh memainkan grand piano itu?" sapa Belle sembari melirik ke arah grand piano di pojok ruangan sesekali.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-2743206041643730415?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/2743206041643730415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/registrasi-klub-musik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2743206041643730415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/2743206041643730415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/registrasi-klub-musik.html' title='Registrasi Klub Musik'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvUGrrzXbtI/AAAAAAAAA9s/Y5_aTeYcDUo/s72-c/Leelee_Sobieski1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-8814910874081829239</id><published>2009-11-06T00:26:00.000-08:00</published><updated>2009-11-10T02:37:09.994-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Herbologi tahun Pertama'/><title type='text'>Kelas Herbologi - Ravenclaw &amp; Slytherin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvPd9Y1bsYI/AAAAAAAAA8g/1bJIzBOAVDI/s1600-h/avatar+cadangan+belle+marion+elsveta.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 100px; height: 100px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvPd9Y1bsYI/AAAAAAAAA8g/1bJIzBOAVDI/s320/avatar+cadangan+belle+marion+elsveta.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400904424855679362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11;"  &gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Herbologi. Ilmu tentang tanaman. Kelas pertama Belle di sekolah sihir yang mengagumkan itu. Tubuhnya masih sedikit demam, tapi gadis itu bersemangat untuk segera masuk ke kelas. Ingin tahu seperti apa pelajaran di sekolah sihir seperti Hogwarts. Dan ini bisa dibilang pertama kalinya gadis itu benar-benar bersekolah!! Jadi, gairahnya terasa 2 kali lipat lebih banyak. Selama ini, gadis itu hanya bersekolah di rumah. Privat dengan Ms.Leona.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Semua barang-barang yang menurutnya perlu dibawa sudah dia masukkan ke dalam tas selempang putihnya. Perkamen, pena bulu, buku dan tongkat sihir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil merapikan rambutnya dan memandangi bayangan dirinya di kaca, pikiran gadis kecil itu terus berjalan. Dia membayangkan bagaimana rasanya menulis dengan pena bulu di atas perkamen. Kuno sekali tapi sepertinya mengasyikan. Oh, samar-samar dia ingat pernah menandatangani sebuah kontrak sihir dalam mimpinya dengan pena bulu di atas perkamen. Tapi, itu kan mimpi. Sekarang nyata, lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu menguncir dua rambutnya dan memasang pita berwarna biru pada ikatannya. Senada dengan aksen biru di syal seragam Ravenclaw-nya. Hari ini dingin dan Belle masih belum sehat betul. Syal itu cukup membuatnya merasa hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil bersenandung kecil, gadis itu segera berjalan keluar dari kamarnya menuju kelas Herbologi di Rumah Kaca No. 1. Belle jadi teringat rumah kaca di Diagon Alley. Toko bunga Fleur de Lys. Belle melihat beberapa anak Slytherin yang dia kenali ada di kelas yang sama. &lt;em&gt;Oh, kelasnya digabung dengan Slytherin?&lt;/em&gt;. Gadis itu segera masuk ke dalam kelas, menyapa Blackrose saat melewatinya. Mendekati Orateli yang sedang asyik berkaca, &lt;strong&gt;"Kamu yang tercantik"&lt;/strong&gt;, demikianlah ujar gadis kecil itu pada teman sekaligus guru dandannya yang tanpa sengaja ia &lt;del&gt;temukan&lt;/del&gt; kenal di toko es krim di Diagon Alley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia melangkah menuju tempat duduk di sebelah anak laki-laki yang sepertinya sama-sama di Ravenclaw (Orson, red). Lalu, duduk manis dan siap mendengarkan pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hai, aku Nabelle Marion Elsveta. Ravenclaw. Kau boleh panggil aku Belle,"&lt;/strong&gt; sapa Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor yang akan mengajar kelas Herbologi namanya Pomona Sprout. Tubuhnya tambun dan wajahnya mengingatkan gadis itu pada nenek muggle-nya. Sambutan dari Profesor tersebut begitu ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;"Tetap semangat hari ini? Tentu saja. Nah, sebelum kita mulai bercengkerama dengan tanah dan tanaman, aku ingin tahu sesuatu. Apa ada di antara kalian yang tahu Herbologi itu apa? Tidak? Baiklah. Herbologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tanaman, baik tanaman sihir atau bukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wah... ada tanaman sihir juga? Keren..&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu menegakkan duduknya, penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;"Hampir semua tanaman, terutama tanaman sihir memiliki khasiat tersendiri. Khasiat yang dimiliki oleh tanaman-tanaman ini, baik sihir maupun non-sihir, biasanya digunakan sebagai bahan ramuan. Herbologi mempelajari bagaimana cara merawat tanaman-tanaman tersebut, ciri-ciri fisiknya, beracun atau tidak, serta apa kegunaannya,"&lt;/span&gt;sambil berbicara, sang profesor mengayunkan tongkat sihirnya ke arah sekotak kapur, dan sebatang kapur melayang menulis sendiri di papan tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wow... praktis sekali! Belle harus minta diajari melakukannya!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor gemuk itu kemudian menulis beberapa topik di papan tulis. Tugas yang harus dikerjakan hari ini. Belle memperhatikan dengan bersemangat dan mencatat yang tertulis di papan ke perkamennya. Dengan pena bulu, lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;BEBERAPA TANAMAN SIHIR&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskusikan ciri-ciri fisik, manfaat atau karakteristik dari tumbuhan di bawah ini:&lt;br /&gt;Aconyte&lt;br /&gt;Echinaceae&lt;br /&gt;Eucalyptus&lt;br /&gt;Dittany&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;"Baik, aku mengizinkan kalian mengamati langsung tanaman-tanaman tersebut yang sudah tersedia dan tersebar di berbagai pojok rumah kaca ini. Hanya mengamati, jangan menyentuh. Buka buku kalian, dan bandingkan antara tanaman yang kalian temukan dengan apa yang ada di buku. Buatlah kelompok dan diskusikan perbedaan—jika ada."&lt;/span&gt;ujar Profesor itu lagi sembari menunjuk ke empat sudut rumah kaca. Rumpun Aconite ada di sudut utara, rumpun Echinaceae di sudut timur, pohon Eucalyptus di sudut selatan dan rumpun Dittany di sudut barat, ada Dittany of Crete dan White Dittany.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung Belle sudah membaca buku-buku yang dia beli di Diagon Alley. Sehingga dia tidak bingung lagi mendengar nama-nama tanaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Aku sekelompok denganmu, ya,"&lt;/strong&gt; ujar Belle pada anak laki-laki di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, gadis kecil itu mengikuti langkah partnernya ke sudut utara dan berjongkok di depan rumpun Aconite. Belle mengintip apa yang ditulis oleh partnernya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hey, bentuk bunganya seperti topi runcing biarawan, ya. Pantas saja tanaman ini disebut juga sebagai monkshood,"&lt;/strong&gt; ujar Belle pada partnernya --tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Kudengar tanaman ini bisa digunakan sebagai bagian dari minyak untuk memijat nyeri sendi, tapi jika tertelan atau terserap pada luka di kulit, minyak itu bisa mematikan,"&lt;/strong&gt; ujar Belle menambahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Oh ya, aconite juga merupakan makanan untuk sebagian spesies Lepidoptera. Akarnya menjadi bahan dari racun Nepal yang disebut bikh, bish atau nabee. Beberapa jenis Aconite juga digunakan sebagai racun pada anak panah. Dan katanya, di dunia sihir, tanaman ini terkenal sebagai bahan utama ramuan untuk membantu para manusia serigala supaya tetap berhati manusia saat bertransformasi. Ternyata manusia serigala juga benar-benar ada, ya di dunia sihir. Menakjubkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*~*~*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Orson sibuk mencatat semua informasi yang tersembur dari bibir mungil Belle dengan cekatan. Anak itu nampak senang karena rupanya Belle memberi tambahan yang berguna untuk tugas Herbologi hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Hi, namaku Esmail, Esmail D White. Siapa namamu?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka dapat partner tambahan. Belle tersenyum mendengar sapaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Hi. Aku Nabelle, Nabelle M. Elsveta. Kau boleh panggil aku Belle."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;"Maaf, kau tampak sedikit demam. Apa kau baik-baik saja?" &lt;/span&gt;ujar anak itu lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketahuan?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah.. ketahuan juga, ya. Aku sudah dirawat oleh Madam Pomfrey kemarin malam, kok. Aku sudah lebih baik sekarang, meski masih agak demam," ujar Belle seraya tersenyum lembut pada Esmail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Orson mengajak mereka untuk mengamati rumpun Echinaceae. Sambil berjalan ke arah tanaman itu, Belle membolak-balik buku herbologinya, mencoba mencari tambahan informasi untuk melengkapi catatan dari Esmail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hm... Echinaceae tumbuh di area kering dan mekar di musim panas. Orson, kau catat ini, ya," ujar Belle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;dl&gt;&lt;dt&gt;Quote:&lt;/dt&gt;&lt;dd&gt;&lt;br /&gt;&lt;/dd&gt;&lt;/dl&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Spesies dari Echinacea adalah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  * Echinacea angustifolia - Narrow-leaf Coneflower Echinacea angustifolia - Narrow-daun Coneflower&lt;br /&gt;  * Echinacea atrorubens - Topeka Purple Coneflower Echinacea atrorubens - Topeka Purple Coneflower&lt;br /&gt;* Echinacea laevigata - Smooth Coneflower, Smooth Purple Coneflower Echinacea laevigata - Smooth Coneflower, Smooth Purple Coneflower&lt;br /&gt;  * Echinacea pallida - Pale Purple Coneflower Echinacea pallida - Pale Purple Coneflower&lt;br /&gt;* Echinacea paradoxa - Yellow Coneflower, Bush's Purple Coneflower Echinacea paradoxa - Kuning Coneflower, Bush Purple Coneflower&lt;br /&gt;* Echinacea purpurea - Purple Coneflower, Eastern Purple Coneflower Echinacea purpurea - Purple Coneflower, Coneflower Purple Timur&lt;br /&gt;  * Echinacea sanguinea - Sanguine purple Coneflower Echinacea sanguinea - Sanguine ungu Coneflower&lt;br /&gt;  * Echinacea simulata - Wavyleaf Purple Coneflower Echinacea simulata - Wavyleaf Purple Coneflower&lt;br /&gt;  * Echinacea tennesseensis - Tennessee Coneflower Echinacea tennesseensis - Tennessee Coneflower&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Manfaat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;* Merangsang sistem kekebalan tubuh dan menangkal infeksi.&lt;br /&gt;* Beberapa suplemen echinacea dapat memiliki beberapa sifat antitumor&lt;br /&gt;* Dapat digunakan untuk mengobati gigitan ular, antraks, dan untuk menghilangkan rasa sakit.&lt;br /&gt;* Beberapa spesies echinacea, terutama E. purpurea , E. purpurea, E. angustifolia , and E. angustifolia, dan E. pallida , ditanam sebagai tanaman hias di taman. Mereka mentolerir berbagai kondisi, mempertahankan dedaunan menarik sepanjang musim, dan berkembang biak dengan cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tambahan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;* Anak di bawah usia 12 tahun tidak direkomendasikan menggunakan Echinaceae sebagai obat.&lt;br /&gt;* Siput memakan tanaman ini.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku dapat tambahan segitu," ucap Belle nyengir pada kedua partnernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;*****&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Hijau. Hijau. Hijau. Oke, dengan sedikit warna-warna cerah seperti pink, putih dan kuning tentunya. Warna hijau mendominasi rumah kaca, memberikan efek sejuk meski hari demikian panas. Namun, kelas ini semakin ramai. Rasanya jadi semakin sumpek dan pengap. Kepala gadis kecil itu terasa semakin sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sabar gadis kecil itu memperhatikan Orson menyalin ulang semua data yang telah dikumpulkan olehnya dan juga Esmail. Menambahkan sedikit info yang mungkin terlewatkan oleh anak laki-laki tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai sudah tugas mereka. Tinggal mengumpulkannya pada Profesor Sprout dan mereka bebas. Mungkin sebaiknya setelah ini dia kembali ke Hospital Wing --tidur sampai kondisinya pulih kembali. Dia tak mau ambil resiko jatuh pingsan lagi seperti saat di Danau kemarin. Lebih banyak istirahat, lebih cepat sembuh dan gadis itu bisa mengikuti pelajaran-pelajaran selanjutnya tanpa diganggu demam dan sakit kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau diingat-ingat, sudah dua kali gadis kecil itu terserang demam. Kali pertama saat di Leaky Cauldron dia sampai terjungkal dari tangga. Untung saja saat itu ada Challaza yang langsung membopongnya kembali ke kamar dan ibunya datang pada pagi harinya mengobati dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ah, Mom. Betapa Belle merindukanmu. Juga Nonna dan Poppa. Ms. Leona juga.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, gadis kecil itu tidak ingin cepat-cepat pulang ke rumah karena di Hogwarts dia mendapatkan banyak pengalaman baru dan teman-teman baru. Di sini jauh lebih menyenangkan daripada di rumah. Banyak teman-teman yang sebaya dengan Belle. Gadis kecil itu jadi lebih ekspresif sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: grey;"&gt;“Aku mau memejamkan mata sejenak, kalau kalian tidak keberatan,”&lt;/span&gt; gumam Orson pelan, kemudian bergumam sedikit lagi, &lt;span style="color: grey;"&gt;“terima kasih atas bantuan kalian.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belle menatap Orson dan menyunggingkan seulas senyum padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tak keberatan. Aku juga mau kembali ke hospital wing sekarang, aku butuh tidur supaya demamku tidak kembali meninggi," balas Belle, kemudian menatap Esmail, "Aku duluan ya, teman."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11;"  &gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6077693976780833028-8814910874081829239?l=nabellemarion.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nabellemarion.blogspot.com/feeds/8814910874081829239/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/kelas-herbologi-ravenclaw-slytherin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8814910874081829239'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6077693976780833028/posts/default/8814910874081829239'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nabellemarion.blogspot.com/2009/11/kelas-herbologi-ravenclaw-slytherin.html' title='Kelas Herbologi - Ravenclaw &amp; Slytherin'/><author><name>Orinthia Lee</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04560971336226725947</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvFQBV9wb3I/AAAAAAAAA7w/SHU8Znomz_w/S220/IMG2094A.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvPd9Y1bsYI/AAAAAAAAA8g/1bJIzBOAVDI/s72-c/avatar+cadangan+belle+marion+elsveta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6077693976780833028.post-1819433297544767159</id><published>2009-11-05T00:51:00.000-08:00</published><updated>2009-12-11T04:41:02.312-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Danau - On a Rollercoaster Ride'/><title type='text'>On a Rollercoaster Ride</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(0, 0, 238);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_JhWa11vHPzY/SvKSlgiPzwI/AAAAAAAAA8Y/gv_eSQQVy0Q/s320/leelee-sobieski-photos_7L.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 218px;" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5400540076257038082" border="0" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;OOC: Timeline 1 hari setelah Pesta Awal tahun 1984, sore menjelang malam&lt;br /&gt;&lt;hr style="border-width: 0px; background-color: rgb(90, 112, 179); clear: both; color: rgb(90, 112, 179); height: 1px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;There's too many question&lt;br /&gt;And too many strings&lt;br /&gt;And it won't keep there selves tied&lt;br /&gt;I'm on a rollercoaster ride&lt;br /&gt;It feels like I'm&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt; lying next to a ghost at night&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan itu memang terasa seperti waktu kita naik di atas rollercoaster. Kadang di atas, kadang di bawah dan kadang jungkir-balik. Yang berbeda adalah dalam kehidupan, kita takkan pernah tahu kapan saatnya kita akan berada di atas atau di bawah dan atau jungkir-balik. Kadang terjadi perlahan-lahan dengan tahap demi tahap, butuh waktu lama untuk naik kembali ke atas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt; Kadang terjadi sedemikian cepatnya dalam satu kedipan mata. Namun, efek yang diterima dalam jiwa manusia tak jauh berbeda. Emosi, lagi-lagi dipermainkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;Saat menerima surat pengumuman dari Hogwarts, Belle berada di atas. Euforia akan kebahagiaan meliputi seluruh relung jiwanya. Tawa dan senyum seakan tak ingin lepas dari bibir mungilnya. Saat berada di Leaky Cauldron, perlahan-lahan rollercoaster yang Belle naiki mulai turun ke bawah. Ibunya mendadak tak bisa menemani dia lalu kejadian-kejadian yang membuat dia kebingungan karena tak tahu harus berbuat apa. Ketakutan karena hanya sendirian. Panik karena tak mengerti apa yang sedang dilakukannya. Semua itu terasa tak terlalu berat karena di waktu yang sama, gadis kecil itu berkenalan dan mendapat banyak teman baru bahkan tiga orang kakak laki-laki (bukan kandung).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;&lt;br /&gt;Rollercoaster itu&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt; perlahan mulai menanjak naik. Gairah yang dirasakan Belle saat menerobos palang menuju peron 9 3/4, menaiki Hogwarts Express bersama teman-temannya dan bertemu miniatur naga milik Devin, perjalanan dari Stasiun Hogsmeade sampai ke Kastil Hogwarts hingga suasana baru yang ajaib di Aula Besar membuat semangat gadis itu kembali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;&lt;br /&gt;Dan saat sang Topi Seleksi yang agung dengan seenaknya memutuskan asrama untuknya. Rollercoaster Belle tiba-tiba menukik dengan tajam. Tanpa persiapan. Berakhir. Berakhir sudah kehidupan yang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt; sudah diimpikan oleh gadis kecil itu. Harapan yang ditanamkan oleh kedua orangtuanya pupus seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, gadis kecil itu kehilangan pijakan. Dia tak mengerti hal-hal yang rumit. Dia masih belum bijaksana. Dia hanya inginkan keinginannya terkabul. Berada di tempat yang dia inginkan. Di tempat yang menurutnya bisa memberikan rasa aman dan nyaman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;Dia tahu, Ravenclaw bukan tempat yang buruk. Dia tak keberatan berada disana. Toh, beberapa teman yang ia kenal pun ada di asrama gagak itu dan mereka ramah. Tapi saat ini, Belle hanya ingin menangis. Meluapkan semua yang selama ini terganjal di hati, egonya. Entah kenapa, gadis itu merasa bersalah pada almarhum ayahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;&lt;em&gt;Dad, maafkan Belle..&lt;br /&gt;Belle bukan singa seperti Dad dan Mom&lt;br /&gt;Belle seekor gagak hitam...&lt;br /&gt;Belle tak bisa jadi seperti Dad...&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;Gadis itu duduk bersandar di sebuah pohon yang menghadap ke danau. Sambil memeluk kedua kakinya, ia menangis hingga kelelahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:11px;"  &gt;Dan dalam tangisnya, gadis kecil itu tertidur.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-size:medium;" &gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;Zavala C. Artois&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;img src="http://209.85.117.197/12414/65/0/a3027521/avatar-3027521.jpg" style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 100px; height: 100px;" alt="" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:11px;"&gt;Koordinat yang sama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kaki terhenti seiring dengan suara isakan janggal jauh di depan, terpisah jarak antara si bujang tanggung dengan anak manusia—entah siapa—yang sedang menangisi diri sendiri. Menghela nafas dalam, Zavala—nama bujang tanggung itu—melangkah mendekat, tidak cukup dekat untuk menyadari apakah anak manusia itu dikenalnya atau tidak, namun cukup dengan untuk tahu bahwa dia ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak bisa. Entah, apapun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;span style="font-family:'times new roman';"&gt;"Kalau cewek nangis, itu karena ada yang ingin dikatakan, tapi tidak bisa. Makanya nangis."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cucu hawa itu membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu, dua, tiga langkah lebar, membunuh jarak diantara dua anak manusia itu. Menggaruk lehernya—agak bingung—Zavala berjongkok di depan anak manusia itu, dan serta-merta menyadari siapa nona yang sedang bersedih itu, sekaligus mengetahui kenapa dia menangis. Masalah sepele, menurut si bujang tanggung, namun pemikiran si gadis rupanya seratus delapan puluh derajat berbeda. Tersenyum kecut, suasana Pesta Awal Tahun itu terlintas lagi di kepalanya, bagaimana beberapa wajah murung tampak di meja gemblengan Eyang Rowena itu, kelihatan benar sangat kecewa dengan tempat tinggal barunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'times new roman';"&gt;&lt;big&gt;R a v e n c l a w.&lt;/big&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang salah ya, dengan itu? Apa reputasi asrama itu di khalayak non-Hoggies begitu rendah sehingga dunia akan berakhir jika keturunan mereka masuk Ravenclaw? —uh well, persetan deh. Zavala &lt;em&gt;mah&lt;/em&gt; korban malseleksi; yang secara tidak sengaja dinobatkan menjadi salah satu pemegang kendali di asrama itu—kalau kau bisa melihat tembus pandang, ada lencana P besar di sakunya, &lt;em&gt;emoh&lt;/em&gt; dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di hadapan si gadis, membelakangi kanvas bening yang menjadi saksi bisu kegilaan segerombol bocah labil yang mencari kesenangan dan dengan bodohnya berenang di akhir musim gugur, memandang lurus, seakan tidak memedulikan si gadis, pandangan menghujam, menembus eksistensi si gadis, menatap pohon yang menjadi sandaran si domba kecil; oak. Mendengus mengingat kejadian dimana Lukewarm memeluk pohon itu, lalu jeritan-jeritan ketika tubuh-tubuh kecil meluncur nista ke dalam danau, membuat seorang Zavala Artois menderita radang paru-paru sepanjang semester. Lalu bayangan Oswald hawa yang menangisi apapun-masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia Zavala berpusat di tempat itu, sumpah. Seperti carousel, berputar di tempat yang sama, selalu ada kejadian tak terduga di tempat itu. Koordinat yang sudah terhafal di luar kepala. Tempat potongan-potongan mozaik kehidupannya bertebaran, menyimpannya dalam-dalam di tanah coklat dan kanvas bening yang memlagiat langit diatas. Saksi bisu yang merekam setiap jengkal kejadian berharga untuknya—tempat yang sama berharganya dengan Ruang Rekreasi asrama panji biru dan gerbong 3 kompartemen 8. Semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan, Quaffle, dan—&lt;em&gt;hujan&lt;/em&gt;. Hujan beneran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bangun;" mengguncang tubuh juniornya itu pelan, Zavala melepas jubahnya, menudungi bocah perempuan itu dari hujan. Segera saja t-shirtnya basah perlahan seiring dengan hujan yang semakin deras. "Woi, bangun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diangkatlah si bocah, dibawa ke pohon yang lebih teduh.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:medium;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;STEVEN ANDERSON&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;&lt;img style="width: 130px; height: 165px;" src="http://www.teenidols4you.com/blink/Actors/drew_tyler_bell/TI4U_u1137686702.jpg" /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:11px;"&gt;Danau hitam yang hitam. Kehitaman danau itu membuat danau itu terlihat seperti tak berujung bagi anak kecil ini. Tanpa dibandingkan oleh luasnya danau pun, Steve sudah tergolong kecil. Sejak tadi sore sekitar jam 3, Steve sudah duduk menghadap danau hingga sekarang, sore menjelang malam. Dari mulai sekelilingnya ramai dengan murid-murid Hogwarts yang bermain, bertengkar, menggila hingga menjadi sepi tanpa ada suara. Berjam-jam ia duduk tanpa suara sambil memandang danau kadang langit. Ia tak bicara sama sekali karena ibunya menghilang dari sisi nya. Ibunya tak di perkenankan ikut masuk kedalam kastil. Namun, tetap saja kadang-kadang sosok wanita cantik itu muncul dikamarnya atau diruang rekreasi ketika Steve sedang sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steve berjam-jam memandangi danau bukan karena ia tertarik dengan danau Hogwarts dengan segala kisah dan legendanya. Akhir-akhir ini susah sekali membuat Steve merasa tertarik terhadap sesuatu didunia nyata. Ia mempunyai hal-hal yang disukai dan yang menarik minatnya hanya didalam kepalanya. Didalam kepalanya yang kecil, terbentang luas dunia ciptaan anak laki-laki kecil ini. Segala yang ia inginkan ada disitu. Ayahnya, ibunya, teman-teman, makanan enak, buku-buku dan lain sebagainya. Cukup duduk, diam dan menerawang, Steve sudah bisa berbaur didalam aktifitas imajinasinya. Membuat bocah tak berekspresi ini menunjukkan senyuman kecil dan kadang tawa geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;TES&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TES&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetesan air membasahi ubun-ubun kepalanya dan menariknya paksa ke dunia nyata. Tatapan Steve kini tak kosong lagi. Pemandangan indah yang dipenuhi dengan orang-orang kesayangannya kini menghilang digantikan oleh lukisan alam berupa danau hitam luas yang terlihat sepi, padahal banyak makhluk didalamnya. Steve mendongak keatas. Daun-daun di pohon besar tempatnya bernaung bergoyang-goyang karena terkena tetesan air. Sekali lagi beberapa tetes air menabrak wajahnya. Steve melirik ke arah langit dan barulah ia sadar bahwa sekarang sudah menjelang malam. Ia teringat peraturan yang melarang semua siswa dan siswi Hogwarts berkeliaran dimalam hari. Tanpa mengindahkan hujan yang semakin deras dan tubuhnya yang sudah mulai kebasahan, Steve bangun dan berjalan kearah kastil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untung Mom tidak ikut ke danau,” gumamnya sendiri. Tak ingin ia melihat Momnya kebasahan. Diujung matanya, ia melihat sesosok anak laki-laki yang pastinya lebih tua darinya sedang melakukan sesuatu. Steve terdiam ditengah hujan. Rambutnya lepek karena basah dan begitupula baju lengan panjangnya. Pandangannya terarah ke sesosok anak yang sedang menggendong seorang gadis perempuan. Steve tahu gadis itu. Ia melihatnya ketika acara seleksi asrama. Satu asrama dengannya. Ia memperhatikan anak laki-laki itu memindahkan sang gadis kecil ke bawah pohon. Steve mendekati mereka tanpa suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hujan. Nanti basah,”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:medium;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;NABELLE M. ELSVETA&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;em&gt;Tidurlah buah hatiku&lt;br /&gt;Matahari t'lah lama bersembunyi&lt;br /&gt;Pejamkanlah matamu&lt;br /&gt;Malaikat Tuhan besertamu&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dad?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;em&gt;Damai dan sejahtera&lt;br /&gt;Iringi tidurmu&lt;br /&gt;Esok matahari berseri kembali&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Daddy?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;em&gt;Tidurlah buah hatiku&lt;br /&gt;Malaikat Tuhan bersertamu&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dia membuka matanya. Hendak melihat sang pemilik suara yang begitu familiar di telinganya. Suara yang begitu dirindukannya. Suara yang selalu meninabobokan dirinya sampai suatu hari sang pemilik suara direnggut dari kehidupan begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manik abu-abu mudanya berbinar cerah melihat seseorang yang ada di hadapannya. Benar-benar sosok yang selama ini dirindukannya. Kedua lengan gadis kecil itu langsung terulur memeluk erat sosok itu. Sang ayah sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak berani gadis kecil itu berkedip. Takut bila sosok yang ada di hadapannya ini kembali hilang dalam ketiadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daddy... Daddy sudah pulang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu hanya diam dan tersenyum lembut padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daddy habis darimana? Belle kangen..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu mengelus kepala gadis itu perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daddy nggak akan pergi lagi, kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu mengecup ringan keningnya dan memeluknya erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa Daddy nggak jawab pertanyaan Belle?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu menatap gadis kecilnya dengan tatapan sedih. Seolah ia ingin bicara namun ada sesuatu yang menghalanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kecil itu mulai menangis. Tak mengerti dengan sikap sang ayah yang begitu dia kasihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daddy... tadi Daddy bernyanyi untuk Belle, kan? Kenapa sekarang Daddy diam saja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu hanya diam. Mengelus pipi gadis itu dengan kerinduan yang mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;"Bangkitlah, manis. Maafkan Daddy tak bisa menemanimu lebih lama,"&lt;/span&gt; ujar sang ayah akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan sosok itu mulai transparan hingga akhirnya hilang. Meninggalkan si gadis kecil sekali lagi dalam linangan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why, Daddy? Why?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: center;"&gt;*****&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raga si gadis kecil yang tertidur meneteskan air mata. Mengundang tanya bagi mereka yang ada di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, gadis itu tetap tertidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah enggan untuk bangun.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;CALVIN CORNWELL&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;&lt;img src="http://209.85.117.197/12414/65/0/a3032877/avatar-3032877.jpg" /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;Tahu bagaimana caranya agar tidak kecewa? Jangan berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calvin sudah banyak mendengar cerita orang yang kecewa karena harapannya tidak terpenuhi. Memang, manusia tanpa harapan seperti orang tanpa tujuan hidup. Manusia tanpa keinginan seperti boneka yang dipaksa bergerak-gerak untuk hidup, seperti kayu yang mengapung tanpa arah mengikuti arus sungai. Namun, suatu keinginan didapatkan karena ada yang tidak mendapatkan. Karena seorang pemenang hadir karena ada pihak yang kalah. Karena seorang pemimpin ada karena ada yang ia pimpin. Maka ketika engkau berada di posisi sebagai seorang yang tidak mendapatkan, maka kau sedang mendapatkan bagian sebagai salah seorang aspek dalam hidup. Sebagai orang yang kalah. Sebagai orang yang kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sungguh, apakah meracau bisa membuatmu menjadi orang yang berhasil? Apakah rasa kecewa bisa membuatmu lepas dari posisi sebagai orang yang kalah? Silahkan kalau kau ingin mengemis-ngemis rasa iba, memberi alasan ini itu dan menempatkan posisi sebagai orang yang malang. Berkata betapa sedihnya dirimu karena menjadi orang yang tidak beruntung. Maka ia akan tertawa-tawa kecil dalam hati, memerhatikan kau masih punya dua mata yang normal, satu hidung yang normal, helaian rambut yang normal, dan semua-semua yang lengkap bahkan kau masih bisa tidur dua kali di kasur yang empuk dan makan pagi, siang, sore dengan normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, sekarang ia yang meracau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintik-rintik, tetesan hujan membasahi helaian pirangnya sebelum semakin deras. Hogwarts adalah tempatnya berada dan pelajaran sihir kelas tiga bukan hal yang mudah untuk dilupakan. Tangannya mengambil Willow 28,3 sentinya dari balik jubahnya, mengarahkan pada dirinya sendiri—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Impervius!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—dan senyuman terbentuk di mulutnya ketika ada sesuatu tembus pandang yang menghalangi air itu menyentuh dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia menatap tetesan air yang tidak mengapai dirinya itu, teringat ketika orang menganalogikan hujan dengan kesedihan. Ah, itu terlalu banyak melihat drama. Hujan hanyalah hasil dari awan-awan yang saling bertemu dan membesar, dan karena langit di atas sana begitu dingin, maka uap-uap itu membeku dan berubah wujud menjadi tetesan air. Hujan hanyalah awan yang berubah bentuk—setidaknya, itu yang ia ingat dari pelajaran sekolah dasar di dunia muggle. Dan lucunya, hujan sangat berguna untuk orang-orang yang memiliki kebun dan tidak ingin repot-repot menyiram tanamannya. Hujan juga membuat anak-anak kecil tertawa riang karena bermain air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, siapa yang bilang hujan identik dengan kesedihan? Tidak ada? Oh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia berjalan dengan santai karena tidak perlu khawatir dengan masalah basah. Sempat berpendar pada sosok seorang lelaki dan seorang gadis, serta lelaki yang menghampirinya. Sedikit terbentuk dalam dirinya kalau mungkin itu kumpulan orang-orang yang ingin bermain hujan, maka rasa penasaran menggelitik dirinya untuk menghampiri tiga sosok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Prefek Artois, ada apa dengan gadis itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bola coklatnya mengerling sejenak pada sosok gadis yang sepertinya ia kenal, tetapi mungkin hanya perasaannya. Mata itu beralih pada junior yang tidak ia kenal, senyuman terbentuk di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, basah? Lupa ini dunia sihir, Nak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melirik pada sang prefek, wajah tanpa dosa ia tampilkan. Oh ya, ia masih di bawah mantera, kalau kau mau tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Butuh bantuan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengeluarkan tongkat sihirnya—bukan untuk pamer, hanya ingin membantu. Serius.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;Zavala C. Artois&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:x-large;" &gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;font-size:11px;" &gt;Goblok banget sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencabut Reed-nya setengah enggan, Zavala menodongkan tongkat berinti taring drakula itu ke gadis yang masih terlelap di tangkupan tangan kirinya, merapal 'impervius' pelan, sekarang sama sekali tidak berniat untuk membangunkannya. Detik berikutnya tongkat Reed itu sudah tertodong ke arah pemiliknya, sementara si bujang merapalkan impervius juga pada dirinya sendiri. Menghela nafas, Zavala duduk di bawah pohon itu, menyenderkan raga yang jiwanya masih melanglang buana tanpa ribaan jelas ke dunia lain; entah apa yang dimimpikannya dalam tidurnya yang terlampau pulas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bego, sekali lagi, bego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;span style="font-family:'times new roman';"&gt;“Hujan. Nanti basah,”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Yaiyalah&lt;/em&gt; basah—dikata kalau hujan bisa kenyang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zavala menghela nafas pelan, meneleng malas ke arah sumber suara—bocah. Setengah basah, tatapannya kosong seperti menembus semua objek yang ada di hadapannya—seperti... Objek itu tidak pernah ada. Kosong. Dalam. Sekali lagi diraihnya tongkatnya yang sudah menggeletak di sisinya, merapal impervius untuk ketiga kalinya sore itu, mengarahkannya lurus ke domba kecil jantan dengan gerak-gerik aneh itu. Dia seperti hidup di dunia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip Zavala—&lt;em&gt;dulu&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Sedang apa?"&lt;/strong&gt; bertanya dengan nada minim intonasi, bujang Italia itu memandang malas ke arah anak baru itu; hm, Ravenclaw, yes? Sepertinya wajah pucat dengan tatapan kosongnya itu terselip diantara bocah yang dikirimkan topi seleksi maha kumal itu ke asrama pimpinan Flitwick itu. Mungkin lo ya; Zavala pelupa, ingat? &lt;strong&gt;"Sekarang jam berapa, mister? Tidakkah seharusnya junior sepertimu sudah bersiap makan malam?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yeah, yeah; junior sepertimu, boy? Oh iya, Zavala prefek sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggeliat malas, bujang tanggung itu memindahkan posisi tidur si cucu hawa yang masih terlelap di sisinya—dan baru sadar ada tetes air jatuh dari arah mata si gadis. Hujan? Tidak, Zavala masih ingat betul imperviusnya tadi berhasil—bocah Italia itu cukup berbakat dengan pelajaran yang menggunakan tongkat. Satu kemungkinan, bocah yang kalau tidak salah bernama Elsveta itu menangis. Yeah. Tuhan, kenapa Zavala sering terjebak dalam situasi seperti ini, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggir danau, acara tangis-tangisan tidak jelas rujukannya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;"Heh, Elsveta, bangun."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'times new roman';"&gt;Mampus, air matanya makin deras saja.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;"Woi, hujan nih."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:'times new roman';"&gt;Masih bergeming juga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;span style="font-family:'times new roman';"&gt;“Prefek Artois, ada apa dengan gadis itu?”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—dan bagaimana dia tahu Zavala seorang prefek, hm? Pembaca pikiran? Seingat Zavala, lencana keemasan itu bahkan belum pernah disematkan dibagian manapun pakaiannya, entahlah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah, Cornwell. Pundung mungkin. Dan terima kasih atas tawarannya, aku sudah berhasil menyelesaikannya."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Whatever. Kalau dalam janga waktu sepuluh menit masih belum bangun, Zavala bertekad untuk menggotongnya saja ke dalam kastil. Sudah mulai gelap—walaupun hujan, Zavala tetap tahu, titik—dan perutnya keroncongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapar, men.&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:medium;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;b&gt;STEVEN ANDERSON&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;font-size:100%;"  &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;font-size:11px;" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-size:11px;" &gt;Kakak itu mengarahkan tongkatnya ke arah dirinya sendiri dan Steve masih tetap memperhatikannya dalam diam dan dalam taburan tetes hujan. Tak terjadi apa-apa pada kakak itu. Tetapi setelah Steve lihat lagi, dirinya tak terkena air hujan. Setelah itu ia mengarahkan tongkatnya kepada gadis yang sedang menangis. Steve mengeritkan keningnya ketika melihat gadis itu. Berusaha mempertajam penglihatannya yang kadang kabur karena air hujan yang turun semakin deras. Gadis itu menangis atau yang mengalir itu air hujan? Begitu banyak pertanyaan muncul di otak Steve hanya karena melihat satu objek saja, membuatnya tak menyadari bahwa kakak dihadapannya sudah mengacungkan tongkat sihirnya kearah Steve. Ingin kaget tapi tak bisa. Steve hanya memejamkan matanya sebentar ketika ia ditabrak oleh mantra yang dilafal oleh kakak itu. Seketika itu juga, ia tak merasakan air menabrak tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sayang sekali—“ gumamnya kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Sedang apa?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steve menatap mata kakak laki-laki itu dengan dalam. Bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan. &lt;em&gt;‘Sedang akan ke kastil,’&lt;/em&gt; hati dan otaknya menjawab namun sepertinya penyampaian informasi dari otaknya menuju mulutnya tidak berjalan dengan mulus sehingga anak ini masih tetap terdiam dan terkena pertanyaan yang lain. &lt;span style="color:gray;"&gt;"Sekarang jam berapa, mister? Tidakkah seharusnya junior sepertimu sudah bersiap makan malam?"&lt;/span&gt; kakak itu bertanya lagi dan Steve kali ini berusaha untuk menjawab. “Habis—bermain. Akan ke kastil, tapi kakak dan dia ada disini,” ujarnya singkat sambil menunjuk gadis yang sedang terlelap itu. Tak semua yang ingin diungkapkannya bisa di katakannya. Hanya satu kalimat itu yang sanggup keluar. Semoga kakak itu mengerti.&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Heh, Elsveta, bangun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woi, hujan nih."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;’Bukan. Bukan begitu cara membangunkannya.’&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia maju selangkah untuk melihat gadis yang kakak itu panggil dengan nama Elsveta. Lagi-lagi sama seperti ketika di Leaky Cauldron, Steve menganalisa sendiri dan berasumsi bahwa gadis cantik itu bernama Elsveta. “Els—veta,” Steve membaca nama gadis itu tanpa bisa mengontrol suaranya. Jadi ia terdengar seperti memanggil gadis itu padahal ia berniat untuk bergumam. Ia melirik kearah kakak itu yang kini sedang berinteraksi dengan seorang anak laki-laki lain yang sudah bergabung dengan mereka. Anak laki-laki itu memanggil nya dengan sebutan &lt;em&gt;Prefek Artois&lt;/em&gt;. “Prefek—Artois,” lagi-lagi Steve memanggil padahal hanya ingin membiasakannya dilidahnya saja. &lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah, Cornwell. Pundung mungkin. Dan terima kasih atas tawarannya, aku sudah berhasil menyelesaikannya."&lt;/span&gt;Meskipun prefek Artois berkata begitu, bagi Steve tidak kelihatan bahwa ia sudah berhasil menyelesaikannya. Tangis Elsveta masih mengalir deras dan ia belum berhasil membangunkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kecil ini maju melewati Prefek Artois lalu berjongkok di hadapan Elsveta. Ia memegang tangan gadis itu yang dingin karena tadi terkena hujan. “Elsveta,” panggilnya pelan. Lalu perlahan ia menempelkan kedua tangannya di kedua pipi gadis itu. “Elsveta,” sekali lagi ia memanggil dengan perlahan dan lembut. “Bangun—“ Steve masih menempelkan kedua tangannya di pipi gadis cantik itu. Steve mengadopsi cara ini dari Mom nya ketika dulu ia masih bisa berinteraksi fisik dengan wanita cantik itu. Jika pagi hari tiba dan Steve masih tergeletak dikasur, ibunya akan duduk dikasurnya lalu menempelkan kedua tangannya di pipi Steve lalu memanggilnya dengan lembut. Cara itu selalu berhasil membuat anak laki-laki ini membuka matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pipinya panas," gumamnya karena perlahan ditangannya menjalar rasa panas yang datang dari pipi gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:16px;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-size:130%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:16px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;b&gt;Calvin Cornwell&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-weight: normal;font-size:11px;" &gt;Oh ya, sebentar lagi makan malam, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calvin melirik sejenak pada prefek Ravenclaw yang sesungguhnya tidak terlalu dikenalnya itu. Dia memang tidak sadar waktu sudah berlalu cukup lama. Masalah Ketua Murid lelaki dan guru PTIH yang baru membuat anak lelaki itu tidak sadar waktu—terutama masalah Ketua Murid. Maksudnya, seharian ini ia berpikir di pinggir danau (berlebihan, sih. Dari siang) bagaimana caranya ia dapat bertahan hidup pada masa yang ia nilai sebagai zaman kegelapan dengan pemimpin tirani dan segala peraturannya yang mungkin semena-mena. Yang mungkin ada perbudakan. Bahkan ia sampai bertanya sana-sini soal siapa saja prefek yang aktif &lt;em&gt;terutama&lt;/em&gt; dari Ravenclaw mengingat siapa tahu ada oknum-oknum raja nista itu yang melaporkan kesalahan kecilnya dan membuat hidupnya di Hogwarts menjadi neraka. Dan ia mengutuk detensi. Tiga tahunnya bersih tanpa itu, mengapa harus ada pada tahun ini? Eh, itu artinya ia harus bersikap baik kepada prefek Artois, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama-sama.” Tersenyum ramah tanpa dosa sambil memasukkan tongkatnya. Maksudnya, kapan Calvin tidak menampilkan ekspresi itu, hm?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, ia tidak tahu prefek itu sedang bertugas atau tidak karena ia tidak mengenakan lencananya (apakah lencana itu bukti bahwa seorang prefek sedang bertugas? Tidak, bukan?). Pandangannya ia alihkan ke gadis itu. Tertidur, menangis pula. Sebentar, makin lama nampak ia tahu gadis ini, padahal bukan junior seasramanya. Tadinya sempat terlintas kalau lelaki tingkat lima itu melakukan sesuatu yang membuat gadis ini sampai tertidur menangis (sedikit berpikir bisa dijadikan ladang &lt;em&gt;blackmail&lt;/em&gt;, maksudnya untuk menghindari detensi dari orang yang bersangkutan). Namun, mengingat rambut pirang dan wajah itu—&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nampaknya gadis itu memang sering menangis, Prefek. Mungkin gadis itu mengalami suatu masalah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling-paling masalah kecil. Maksudnya, waktu ia magang di toko es krim gadis itu sempat nyaris menitikan air mata karena menjatuhkan barang-barang. Ya, silahkan menangis. Silahkan kalau itu membuatmu lega atau memang refleks dan kebiasaan. Silahkan kalau memang ingin memancing rasa simpati orang dengan itu (maksudnya, di toko es krim. Sekarang gadis itu sedang tidur, pasti tidak sadar). Silahkan kalau ingin menyesali perbuatanmu, atau menyesali apa yang kau dapatkan, atau sekedar mengutuki dirimu sendiri—silahkan. Calvin bukan dirimu dan tidak punya hak untuk melarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hal itu tidak bisa mengubah apapun, Nona. Kecuali kau bertindak setelah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yah, perempuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, Calvin tidak sensitif dengan perempuan, malah ia menyukai kaum hawa itu (ia normal, Demi Merlin). Namun, ia tidak suka perempuan yang cengeng. Menangis, &lt;em&gt;fine&lt;/em&gt;—wajar. Lelaki juga bisa menangis. Sering-sering menangis? Aih, bukannya memancing simpati Calvin, lebih membuat ia jenuh dengan itu, lho. Kesannya manja. Calvin benci perempuan manja, ia suka perempuan yang mandiri. Namun, ia juga tidak suka perempuan garang, ia lebih suka perempuan yang lemah lembut, anggun, dan pengertian. Jadi curhat, dia. Maaf, ya, kalau seleranya tingkat tinggi. Cantik juga harus, lho—yang ini paling relatif kalau Calvin bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok, selesai curhatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya mengerling sejenak ke anak lelaki yang nampak punya masalah bicara (maksudnya, kata-katanya hanya sepotong. Gugup, mungkin? Atau memang bawaan lahir? Nah, kalau ini Calvin benar-benar iba dari lubuk hati—ia cukup &lt;em&gt;paranoid&lt;/em&gt;, soalnya) membangunkan gadis yang ia baru ketahui bernama Elsveta itu, sama seperti prefek tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benarkah?” Kali ini ia sentuhkan tangannya pada pipi gadis itu sejenak. “Benar. Demam, mungkin. Madam Pomfrey?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna coklatnya kini melihat pada sang lelaki yang menggendong gadis itu, wajahnya sedikit ia buat cemas. Sungguh, malang sekali kau, Prefek. Harus punya junior (gadis itu Ravenclaw, bukan?) yang cengeng dan merepotkan seperti ini. Izinkan Calvin memberi rasa iba padamu dalam batin karena ia sedikit yakin kau tidak membutuhkannya secara lisan, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambah lagi, malang sekali kau harus di bawah komando sang Ketua Murid tirani itu. Atau kau menikmatinya, Prefek?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:16px;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-size:130%;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:16px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Nabelle M. Elsveta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-weight: normal;font-size:11px;" &gt;Gadis itu mencari-cari, namun sang ayah tak juga ia temukan. Ia berusaha berteriak sekeras-kerasnya namun tenggorokannya seolah tersumbat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba ia berada di rumahnya di Russia. Di hadapannya terlihat replika dirinya dan kedua orangtuanya sedang tertawa-tawa merayakan ulang tahunnya yang ke-6. Mereka meniup lilin ulangtahun itu bersama-sama setelah replika dirinya itu memejamkan mata sejenak --membuat permohonan. Replika dirinya itu duduk di pangkuan sang ayah, dipeluk dan diberi ciuman di keningnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangannya kini diselimuti kegelapan yang sehitam malam pekat. Melindunginya dari segala gangguan dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenangan yang biasa ia sukai itu kini membuatnya kesepian. Kemana sang ayah pergi? Kenapa ia datang jika akhirnya pergi lagi meninggalkan dirinya? Gadis kecil itu terisak. Ia merasakan ketidakadilan. Gadis-gadis lain bisa berjalan-jalan bergandengan dengan ayahnya, kenapa ia tidak? Ia masih ingin tidur dalam pelukan hangat dan buaian ayahnya. Ia masih ingin dimanja. &lt;em&gt;Dad, nyanyikan aku sebuah lagu lagi...&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;"Bangkitlah, manisku. You are who you are. No matter where you are now. I always be there in your heart,"&lt;/em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt; suara itu kembali berdengung di telinganya dan menghilang secepat datangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kesadarannya mulai kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu merasakan sesuatu yang dingin menempel pada kedua pipinya. Samar-samar mendengar beberapa orang berbicara. Suara anak laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;"Bangun..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Elsveta..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bangun..."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Siapa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 128, 128);"&gt;"Pipinya panas."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa dingin yang menempel pada pipinya hilang, tak lama sesuatu yang lebih besar dan hangat menyentuh pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pipiku kenapa?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(153, 153, 153);"&gt;“Benar. Demam, mungkin. Madam Pomfrey?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah suara yang berbeda dari sebelumnya berdengung di telinga kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span&gt;&lt;em&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;Demam? Aku? Madam Pomfrey?&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu kini bisa merasakan dia ada dalam pelukan seseorang. Agak basah, tapi hangat. Siapa yang memeluknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Daddy?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan gadis itu membuka matanya. Rasa sakit menderanya, kepalanya pusing. Ia menolehkan kepala ke arah seseorang yang sedang memeluk dirinya yang terbaring. Pandangannya masih buram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dad?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu kata yang terucap dari bibir mungil itu sebelum ia memeluk pinggang seseorang yang ia pikir ayahnya --menempelkan wajahnya ke perut orang itu. Ia tak menyadari 2 sosok lain yang ada di dekatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dad, jangan tinggalin Belle lagi... Kepala Belle sakit...," ujarnya lemah --terisak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:16px;"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;Zavala C. Artois&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-weight: normal;font-size:11px;" &gt;Menit pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk bersila sembari memainkan jemari kurus bercetuk-cetuk malas diatas paha, Zavala hanya terdiam dan menunggu, setengah niat. Iris chesnut dalamnya memandang kosong kearah riak-riak hasil tabir transparan yang mengalir lembut dari langit tanpa putus, menabrak ke kanvas bening yang terhampar tepat diarah jam dua belas si bujang tanggung, menampilkan sepilas bayang-bayang. Kira-kira dua meter dari tempatnya duduk sekarang, tepat di tepi danau; seorang gadis pirang dengan senyum yang familiar, duduk berdampingan dengan seorang bocah kurus berambut jabrik yang menyodorkan permen ke si gadis. Lalu hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit berangin, dan intensitas hujan terasa meningkat, entah hanya perasaan Zavala, atau prefek baru itu merasa tidak enak akan satu hal yang akan terjadi beberapa waktu ke depan; tidak hari ini, mungkin besok, lusa, bulan depan? Entah. Maniknya bergulir malas ke arah dua cucu Adam—masih bocah; salah seorang dari mereka bahkan seorang domba kecil—mendiskusikan soal panas tubuh si cucu hawa yang masih tergeletak. Pipi panas, tubuh panas; Madam Pomfrey. Perlukah? Menghela nafas, bujang tanggung itu menggeser posisi tubuhnya sedikit. Dan racauan si Sumurjagung soal masalah dan perempuan. Yeah, perempuan. Cengeng, mungkin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit kelima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;asdfghjkl. Apaan &lt;em&gt;dad&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi helaan nafas berat terlepas dari sistem pernafasannya, dan tanpa pikir panjang Zavala langsung berdiri, memapah cucu Hawa yang baru saja terbangun dan memanggilnya Dad, memeluknya sambil meracau soal Dad, jangan pergi dan kepala sakit.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;"Jangan khawatir. Aku disini."&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt; berbisik pelan, miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Cornwell, dan... Siapapun namamu, ke kastil. Sekarang. Cepat."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak pernah setegas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakanlah itu salah satu bagian dari tugasnya sebagai prefek baru asrama Eyang Rowena itu—walau sebenarnya Ia tidak begitu yakin juga kalau lencana berukir P besar itu menjadi haknya; salah kirim mungkin terjadi, no?—tapi well, kalau sudah soal asrama dan jam malam, serta ada yang sakit, mengingat Hogwarts sedang dalam era Headboy Schwensteiger ft. Headgirl Windstroke, apapun bisa terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Zavala tidak ingin kejadian seperti saat kelas satu terulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brengsek. Menit kedelapan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:11px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:11px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;b&gt;STEVEN ANDERSON&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51); font-weight: normal;font-size:11px;" &gt;Tangan Steve masih menempel di pipi Elsveta dan irisnya yang berwarna biru masih menatap lekat kearah gadis berambut pirang itu. Menunggu reaksi dari gadis yang tertidur seperti orang mati dihadapannya. Bayangkan saja, dari tadi sudah kena hujan, terkena mantra serta suara berisik gadis ini tetap bergeming dan terus mengalirkan air matanya. Ah—air mata. Sudah lumayan lama Steve tidak menangis. &lt;span style="color:gray;"&gt;“Benarkah?”&lt;/span&gt; seorang anak lelaki pirang yang sedari tadi sudah bergabung dengan mereka melontarkan pertanyaan yang bersifat memastikan. Steve meliriknya dan mengangguk kearah anak yang di panggil Cornwell oleh Prefek Artois tadi. Kali ini tangan Cornwell hendak menyentuh pipi Elsveta dan Steve perlahan melepaskan tangannya dari pipi gadis itu. Membiarkan Cornwell memastikan keadaan Elsveta dengan tangannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;“Benar. Demam, mungkin. Madam Pomfrey?”&lt;/span&gt; ujar Cornwell dengan nada meminta pendapat kepada mereka semua yang berada di sekeliling itu dan secara tidak langsung terlibat dengan kejadian di bawah siraman hujan ini. Steve mengangguk sekali lalu melempar pandangan kepada Prefek Artois untuk mengetahui pendapatnya. Namun belum sempat Prefek itu mengangguk atau menggeleng atau bahkan berkomando—he is a perfect after all—gadis Elsveta itu membuka matanya perlahan dan menarik perhatian Steve. Steve yang berada disamping gadis itu melihat gerak-geriknya. Nampaknya mata nya belum terbuka sepenuhnya. Maksudnya, belum sepenuhnya ia mencerna apa yang sedang terjadi disekelilingnya. “Atau jangan-jangan tidak sadar—“gumam Steve dengan perkataan yang terpotong. Lalu selang 2 detik, bocah lelaki itu meneruskan kalimatnya, “—kalau ini danau dan hampir malam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Dad?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;”Mom?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana Mom? Dad, mana Mom?”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;DEG!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaikan Dejavu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;"Dad, jangan tinggalin Belle lagi... Kepala Belle sakit...,"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;”Mom tidak akan meninggalkan aku lagi kan?”&lt;br /&gt;“Janji ya,”&lt;br /&gt;“Aku suka senyuman Mom,”&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:gray;"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;’Tidak masalah meski Mom tak pernah berbicara satu patah katapun sejak kejadian itu. Tak penting meski tak pernah lagi berinteraksi fisik.Yang penting Mom selalu ada disisi ku dan selalu memberikan senyuman cantiknya.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elsveta memeluk Prefek Artois yang sedang menggendongnya. Memanggil prefek itu dengan sebutan &lt;em&gt;Dad&lt;/em&gt;, Steve tidak berkata apa-apa. Steve tidak mencemooh gadis itu yang seperti nya salah orang karena Steve tahu gadis itu sedang &lt;em&gt;kacau&lt;/em&gt;. Dan juga Steve mengerti perasaan gadis itu. Tak biasanya seorang yang memiliki penyakit seperti Steve mengerti perasaan orang. Bahkan sering kali Steve tidak mengerti maksud yang ingin disampaikan oleh orang lain. Tetapi dalam hal ini berbeda. Ia pernah berada di posisi gadis itu. Ia &lt;em&gt;pernah&lt;/em&gt; kehilangan ibunya satu kali. Tetapi sekarang sudah tidak kehilangan lagi. Ibunya selalu berada disampingnya kapan pun ia mau. Ya, kapan pun ia mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steve bisa melihat Prefek itu berbisik kepada Elsveta namun ia tak bisa mendengar apa yang ia bisikkan. Jadi Steve masih tetap berjongkok disitu sambil memandang keduanya yang kini terlihat seperti sedang berpelukan. &lt;span style="color:gray;"&gt;"Cornwell, dan... Siapapun namamu, ke kastil. Sekarang. Cepat."&lt;/span&gt; prefek itu mengkomando mereka. Steve berdiri sambil berkata kepada prefek itu. “Aku—Steven Anderson,”ujarnya. Yeah—tak yakin juga Prefek itu akan peduli. Meski sudah diperintah seperti itu, bocah laki-laki itu tak bergerak. “Ke Pomfrey bersama—“ ujarnya sambil menunjuk Elsveta dengan ekspresi datar. “—kubantu,”lanjutnya lagi. Yah sebenarnya tak yakin juga apakah ia bisa membantu. Namun jika ada masalah seperti ini sebaiknya mereka bersama-sama kan. Siapa tahu ditengah jalan terjadi sesuatu dengan Elsveta atau Prefek itu, jika ada orang lain yang bersamanya pasti akan lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Steve menunggu langkah dan perintah selanjutnya dari sang Prefek.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:x-large;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:georgia;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);"&gt;CALVIN CORNWELL&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:11px;"&gt;Cinta, kalau kau bicara tentang itu, apa yang ada di bayanganmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang lebih sering mengaitkan dengan kekasih, dua orang yang saling mencintai, bertepuk sebelah tangan, ciuman, pelukan, blablabla. Sayangnya, Calvin belum pernah benar-benar merasakan hal itu. Dan ia bukan termasuk orang yang percaya hal itu. Para kekasih yang saling memadu perasaan itu hanyalah bahan tertawaannya. Berkata saling mencintai, ingin memiliki, tidak ingin terpisah, melakukan apa saja demi memerjuangkan cinta mereka, dan berbagai hal lainnya yang menurut Calvin bisa luntur perlahan-lahan. Para muda-mudi menurutnya kadang agak sedikit buta. Kadang tidak bisa membedakan antara cinta dan suka. Kadang tidak bisa membedakan antara mengasihi dan menyalurkan nafsu. Jadi, kalau kau datang pada Calvin dan mengatakan kau mencintainya dan ingin memilikinya, maka Calvin akan terkikih dalam hati karena sulit baginya untuk percaya hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada cinta yang ia percayai, saat ini hanya satu baginya: cinta kedua orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya atau tidak, ia menganggap itu sebagai suatu kasih sayang yang murni. Sebagai suatu cinta yang tidak menuntut. Mungkin orang tuamu meminta sesuatu padamu—menjadi anak yang baik, sekolah baik-baik, dan lain sebagainya, tetapi menurut Calvin permintaan itu tidak sepadan dengan apa yang Calvin dapatkan. Kasih yang mereka berikan begitu tulus, dan karena mereka tidak pernah menuntut berlebihan pada Calvin, maka anak lelaki berambut pirang itu semakin ingin untuk berbuat sesuatu untuk mereka. Semakin ingin membalas kasih mereka. Ia sayang mereka, sungguh. Amat sayang dengan mereka. Cintanya pada mereka mungkin tidak sepadan dengan cinta yang mereka berikan pada Calvin sejak lahir, tetapi setidaknya mereka adalah orang yang paling Calvin sayangi di muka Bumi ini, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kalau kau bicara tentang orang tua, itu adalah topik yang sedikit sensitif untuk anak lelaki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika gadis itu mengeluarkan kata ‘Dad’ dari mulutnya, ia agak tercengang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matanya ia terkejap beberapa kali, melihat ke arah gadis yang memohon itu. Apakah gadis itu rindu pada ayahnya? Apakah ayahnya pergi jauh? Refleks ia menelan ludahnya, tiba-tiba bibirnya jadi kelu. Maksudnya, kalau masalahnya seperti itu ia amat memaklumi kalau gadis itu menangis. Oh, tolong, mungkin kalau Calvin seorang perempuan mungkin ia akan menitikan air mata. Ah, tetapi tidak. Calvin bukan anak yang cengeng. Pandangannya hanya sedikit menggelap, terdiam melihat gadis itu. Prefek Artois mungkin berusaha menenangkannya—ah, ia dan anak lelaki ini harus ke kastil, sebaiknya ia menurut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ngomong-ngomong&lt;/em&gt;, entah kenapa ia jadi ingin bertemu kedua orang tuanya, padahal musim panas kemarin mereka bertiga sempat berjalan-jalan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk pelan ke arah seniornya. Ketika ia baru ingin angkat kaki, anak lelaki bernama Anderson itu menawarkan diri untuk membantu gadis itu pergi ke madam Pomfrey. Ia menghela nafas pelan. Sungguh, Calvin salut dengan kemuliaanhatimu untuk membantu, tetapi maaf kalau kenyataan menolak keinginanmu yang tulus, Nak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Andersen,” ia menghela nafas, “sebaiknya kita kembali ke Kastil. Rasanya Prefek Artois bisa melakukannya sendiri, dan apabila kamu turut mengantar, justru itu akan membawa masalah. Maksudnya, ini sudah malam dan sebentar lagi waktunya makan malam. Tugas prefek salah satunya untuk memastikan murid yang bisa hadir untuk hadir, bukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak yakin, sih. Calvin juga tidak tahu banyak tentang tugas prefek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau setidaknya murid biasa tidak berkeliaran di malam hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seharusnya ia sudah kena detensi. Untunglah kejadian Elvesta membuat prefek itu &lt;em&gt;mungkin&lt;/em&gt; tidak ingin mempermasalahkan hal ini. Tangannya sedikit menepuk di bahu anak lelaki itu, berusaha membuat senyum ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya kita ke kastil dulu dan kurasa hal itu sangat membantu prefek Artois. Mungkin nanti kita bisa menjenguknya kalau agak baikan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calvin baik? Tentu. Sejak kapan Calvin jahat? Ia memang suka meracau sana-sini, tetapi sungguh, ia anak baik. Dan membantu pun rasanya percuma, mereka tidak bisa melakukan apa-apa untuk menyembuhkan gadis itu. Serahkan pada prefek Artois dan Madam Pomfrey, baik? Tidak perlu bersikap sok baik (atau benar-benar baik) kalau misalnya itu hanya membawa masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menunggu anak lelaki itu untuk bergerak—kalau masih tidak mau, ia akan menyeretnya. Atau mungkin membiarkannya. Maksudnya, siapa anak lelaki itu dan siapa Calvin? Dan siapa gadis di gendongan itu dan siapa Calvin?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujannya tambah deras, &lt;em&gt;ngomong-ngomong&lt;/em&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:100%;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:11px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51); font-weight: bold;"&gt;NABELLE M. ELSVETA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;Those happy hours I spent with you&lt;br /&gt;That lovely afterglow&lt;br /&gt;Most of all I miss you so&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Your sweet caresses, each rendezvous&lt;br /&gt;Your voice so soft and low&lt;br /&gt;Most of all I miss you so&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Daddy... jangan tinggalin Belle,"&lt;/strong&gt; gadis itu terus meracau, antara sadar dan tidak. Demamnya semakin meninggi. Keringat mulai menampakkan diri di permukaan kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali benak gadis itu terlempar ke masa lalu. Saat ia bersama orangtuanya pergi ke sebuah taman hiburan. Di sana si kecil Belle yang baru berusia 5 tahun entah bagaimana terpisah dari kedua orangtuanya. Tersesat. Tubuh mungilnya terhalang oleh orang-orang yang besar di matanya. Ia tak bisa menemukan orangtuanya. Tangis pun merebak. Dan tak lama, sang ayah menemukannya. Menggendong dan menciumnya dengan linangan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:grey;"&gt;"Jangan khawatir. Aku disini."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Dad?&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan lembut di telinganya membuat gadis kecil itu tenang. Ayahnya ada di sampingnya, setidaknya itu yang ada di pikiran anak itu sekarang. Dia tak lagi sendirian. Perlahan, anak itu menyenandungkan lagu dalam suara yang lemah, tersendat-sendat. Isi hati yang selama ini ia pendam pada sang ayah yang begitu ia kasihi. Berusaha ia tumpahkan segala rindu yang telah memenuhi di hatinya --nyaris meluber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Papa, can you hear me?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Belle mendengarmu, Dad--&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Papa, can you see me?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Belle tak bisa melihatmu.&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Papa, can you find me in the night?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Temukan Belle seperti saat di Taman Hiburan dulu, Dad--&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Papa, are you near me?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;I need you, Daddy--&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Papa, can you hear me?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Papa, can you help me not be frightened?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Belle takut. Belle mau Daddy disini--&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Looking at the skies, I seem to see a million eyes&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Which ones are yours?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(terdiam)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Samar-samar, gadis kecil itu teringat pada suatu malam saat gadis kecil itu kembali menuntut kehadiran sang ayah, ibunya pernah bercerita. Mereka yang telah meninggal tidak sungguh-sungguh pergi meninggalkan mereka yang masih hidup di dunia. Raganya mungkin sudah tak dapat dilihat tapi roh mereka berubah menjadi bintang-bintang yang gemerlap di langit malam --serupa ribuan mata yang memperhatikan orang-orang yang mereka kasihi di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Yang mana bintangmu, Dad? Tunjukanlah dirimu padaku--&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Papa, please forgive me&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Try to understand me&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Maafkan Belle. Maaf--&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Papa, don't you know I had no choice?&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="display: block; text-align: right;"&gt;&lt;em&gt;Tahukah Dad, Belle tak bisa memilih tujuan yang ingin Belle pilih--&lt;br /&gt;Maaf dan jangan tinggalkan Belle lagi--&lt;br /&gt;Please..&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba gadis itu terdiam. Matanya kembali terpejam. Semburat pink di pipinya kini hilang sama sekali --wajah mungil gadis kecil itu kini pucat seperti kertas. Lengan yang sejak tadi memeluk anak lelaki yang ia kira ayahnya kini terkulai lemas --jatuh menjuntai ke tanah. Kegelapan kembali menyelimuti benak si gadis --memerangkap kesadarannya. Kesadarannya perlahan menghilang. Dengung samar terdengar sesaat di telinganya kemudian hilang sama sekali dalam ketiadaan. Gadis kecil itu pingsan.&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-size:11px;" &gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);"&gt;&lt;img src="http://sl.glitter-graphics.net/pub/439/439857hze1vgnqaz.gif" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Zavala C. Artois&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;Oh, &lt;em&gt;please.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:times new roman;"&gt;Mau jadi &lt;em&gt;knight in shining armor&lt;/em&gt;, tuan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buliran chestnutnya terpejam lamat-lamat, pening. Pening dengan segala tanggung jawab yang terpapar, berputar-putar dan tertawa mengejek dalam batinnya. Tiba-tiba sistem alat gerak bagian atasnya serasa tidak ada, serasa kebas, terlalu terbeban dengan anak manusia yang terkulai lemas di papahan kedua tangan kurusnya. Ujung matanya mengerling ke arah dua cucu Adam yang masih saja berkeras-kepala dan tetap diam, salah satunya dengan &lt;em&gt;polos&lt;/em&gt;nya merespon dengan ingin membantu. Oh, pernahkah Zavala beritahu kalau dia sangat benci orang yang keras kepala? Yeah, kalau kau ingin tahu, bujang tanggung itu bahkan membenci dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit kesepuluh. Habis sudah kesabaran si bujang tanggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teserah saja jika ingin ikut ke Madam Pomfrey, tapi—"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zavala menghela nafas, mengatur emosinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"—cepat ke kastil. Sekarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah'ah, jika Zavala berkata sekarang, &lt;em&gt;domba&lt;/em&gt; manis, artinya benar-benar sekarang. Sepasang sneakers putihnya yang sudah menemaninya sepanjang hidupnya itu mulai melangkah meninggalkan koordinat yang sudah dihapalnya diluar kepala, setengah berlari untuk membawa anak tahun pertama dalam papahannya itu ke tempat yang lebih baik sebelum terjadi sesuatu yang lebih gawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panas, ngomong-ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan, bukan suhu udaranya, tapi suhu tubuh bocah yang terkulai lemas dalam papahannya. Mendengus, bujang tanggung itu hanya bisa membiarkan seluruh tubuhnya tersiram air hujan, membiarkan tetes demi tetes tabir langit itu membasahi setiap jengkal tubuhnya. Membiarkan rambutnya yang semula mencuat tidak beraturan ke atas menjadi turun, dan tetes air yang sempat singgah ke rambut coklat gelapnya itu menetes perlahan melewati pelipisnya, jatuh ke pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;—imperviusnya gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertegun, pandangan matanya yang semula memandang lurus bermanuver ke gadis dalam papahannya, memastikan apakah mantra yang semua dirapalnya pada raga gadis itu berhasil atau tidak. Tidak, cucu Hawa itu bisa terbilang cukup kering. Langkahnya berhenti, memandang raga dua cucu Adam di belakangnya, masih bergeming. Matanya memicing, memperhatikan anak tahun pertama yang sempat Ia mantrai dengan mantra yang sama; kering. Menghela nafas lega, Zavala tersenyum tak kentara. Setidaknya hanya dirinya yang basah. Setidaknya dua domba kecil itu tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menit ketiga-belas, dan mereka belum beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"AKU. BILANG. SEKARANG."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyalak ke dua bocah yang belum juga mulai berjalan dari koordinat tempat mereka berdiri tiga menit yang lalu, melempar tatapan tajam pada dua junior yang terpaut jarak cukup jauh darinya itu. Sekilas, prefek baru itu merasa ingin tidak pernah ada disitu, ingin membuang lencana prefeknya, ingin tidak pernah bertemu dengan dua domba kecil itu, ingin tidak ada di Hogwarts, ingin pulang, ingin mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ef-yu-si-kei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin begini perasaan senior Qualfrey dalam mengatur semua bocah itu? Merasa bertanggung-jawab jika domba-domba kecil yang tersesat adalah anak asramanya? Merasa malu jika yang membuat kesalahan memiliki lis biru seperti pada seragamnya? Membuang muka, Zavala beranjak, membawa Elsveta secepatnya ke kastil.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="border-collapse: collapse; line-height: 18px;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(79, 72, 51);font-size:11px;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(90, 112, 179);font-family:Tahoma,Arial,sans-serif;" &gt;&lt;span class="Apple-style-span
